
Malam sebelumnya di restoran, Falcon kalang kabut mencari keberadaan Liana. Christopher yang tak tau apa yang sedang terjadi, hanya mengikuti ketua gangster itu dan mencoba mencari tau.
“Hei, Falcon. Apa yang terjadi?” tanya Christopher, yang sedari tadi berlari di belakang Falcon.
Tiba-tiba, pria itu berbalik dan menghadap ke arah Christopher, membuat sang wartawan mendadak menghentikan langkah nya
“Ini bukan urusanmu. Sebaiknya Anda kembali saja. Biar aku yang mengurus masalah ini!” seru Falcon.
Dia kembali berbalik dan berlari keluar, bahkan sebelum Christopher sempat kembali bertanya padanya.
“Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa dia begitu panik?” gumam Christopher.
Sementara di luar restoran, Falcon berlari menyeberangi jalan dan menghampiri mobilnya. Dia mengetuk kaca mobil yang kemudikan Nine dengan keras, hingga sang tangan kanan itu segera membuka pintunya.
“Ada apa, Bos?” tabya Nine.
“Lilian menghilang! Apa kau tidak melihat hal yang mencurigakan sejak tadi?” tanya Falcon.
“Menghilang? Tapi, dari tadi tidak ada yang mencurigakan sama sekali, Bos,” seru Nine.
“Apa?!” teriak Falcon.
Pria itu kesal bukan main dan menyerang anak buahnya itu. Dia mencengkeram kerah baju Nine dengan keras, lalu membenturkan punggungnya ke badan mobil.
“B*doh! Sejak kapan kau jadi ikut-ikutan tumpul seperti ini? Tidak becus. Hanya menjaga seorang gadis saja tidak bisa. AAARRRRGGHH!” maki Falcon.
Dia menghempaskan begitu saja cengkeramannya dan membuat Nine terhuyung ke belakang.
Nine nampak mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Cepat temukan kakak ipar ... Ehm... Maksudku Nona Wu sekarang!” seru Nine.
Falcon melotot padanya hingga Nine harus meralat panggilannya pada Liana. Pemimpin geng Jupiter itu tampak berkacak pinggang sambil terus mondar mandir tak tenang di tempatnya.
Tak berselang lama, sebuah panggilan masuk ke ponsel Nine. Pria berperawakan tinggi tegap itu pun segera menerima panggilan tersebut.
“Halo,” sapa Nine.
Dia terlihat tengah mendengarkan sesuatu dari seberang sambungan.
“Baiklah. Kami akan ke sana,” ucap Nine.
Sambungan pun dimatikan.
“Kita menemukannya. Mereka membawa Nona Wu ke sebuah gudang tua di area perbukitan di selatan negara bagian A, dekat dengan Heaven Forest,” tutur Nine.
Falcon pun segera naik ke mobil, sedangkan Nine masih berdiri di tempatnya. Pria itu pun menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah sang anak buah.
__ADS_1
“Sedangkan apa kau? Cepat kita ke sana!” seru Falcon kesal.
“Baik, Bos,” sahut Nine.
Dia pun ikut masuk ke dalam mobil dan kembali duduk di kursi kemudi. Falcon memintanya untuk membawa si kuda besi itu dengan kecepatan tinggi.
Si ketua gangster itu begitu khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada Liana. Sebelumnya, dia bahkan tak pernah sepanik ini, bahkan untuk anak buahnya yang sudah seperti keluarga sendiri. Namun kini, untuk Liana yang bukanlah apa-apa baginya, Falcon merasa begitu cemas dan ketakutan.
Kepanikan benar-benar terlihat jelas di wajah pria yang terkenal bengis dan sadis itu. Nine pun sampai dibuat terperangah melihat ekspresi dari bosnya.
Berkali-kali, Nine melihat raut wajah Falcon dari balik kaca spion, dan dia pun tak habis pikir dengan sikap Falcon saat ini.
Hah! Benar-benar. Jangan-jangan yang dibilang si germo itu benar, batin Nine.
Dia melajukan mobil Maybach hitam itu dengan kecepatan penuh membelah jalanan lengang di area perbukitan selatan negara bagian A. Jika ke selatan lagi, maka akan terlihat jembatan penghubung antar pulau yang sempat menjadi viral karena kasus Damian.
Perbukitan selatan terpisah menjadi dua bagian, dan di tengahnya terdapat sebuah hutan lebat bernama Heaven Forest.
Tempat yang akan dituju kedua pria itu adalah salah satu sisi perbukitan tersebut yang dekat dengan Heaven Forest, dan dulu sempat di bangun sebuah pabrik kertas yang kini telah terbengkalai.
“Apa kau bisa cepat sedikit? Sejak kapan kau berkendara seperti keong?” cecar Falcon, karena merasa kecepatan mobil itu terlalu lambat.
Nine hanya mendengus kesal mendengar ocehan dari bosnya itu.
“Ini sudah kecepatan penuh, Bos,” sahut Nine.
Nine hanya bisa memutar bola matanya melihat tingkah Falcon yang benar-benar berbeda saat ini.
Beberapa saat kemudian, mereka telah tiba di area pabrik terbengkalai itu. Nine mengarahkan mobilnya langsung ke sebuah gudang, yang berada di bagian belakang area tersebut.
Beberapa mobil pengawal yang sebelumnya mengikutinya ke Golden City pun ikut menuju ke tempat itu.
Falcon langsung melompat keluar mobil sesaat setelah roda berhenti. Nine pun segera menyusul bosnya masuk ke dalam, dan memberikan aba-aba kepada anak buah lainnya agar tetap berjaga di depan.
Kini, hanya Falcon dan Nine yang masuk ke dalam untuk menemui Mike yang diyakini Falcon telah menculik Liana.
Gudang itu begitu gelap dan berdebu. Sangat sulit mendapatkan udara segar di sana. Di ujung lorong, mereka melihat sebuah cahaya lampu dan beberapa pria tengah berdiri di depan sebuah ruangan.
Falcon meradang, terlebih karena melihat seseorang yang sangat dikenalnya, tengah duduk berjongkok sambil menyesap sebatang rokok dengan santainya bersama Mike, pria yang diperintahkan untuk menculik Liana.
Pria itu pun mempercepat jalannya dan berteriak memanggil nama orang tersebut.
“Long!” panggilnya.
Long yang berada di ujung sana pun seketika menoleh, dan berdiri menyambut kedatangan bosnya.
Namun, Falcon seketika menyerangnya dengan sebuah pukulan.
__ADS_1
BUUUUUUGGGGG!
Long pun terjatuh. Belum sempat dia bangun, Falcon kembali meraih kerah bajunya dan seolah ingin mencekik sang tangan kirinya itu.
“Kurang ajar! Jadi, kau yang sudah bekerja sama dengan Mike untuk menculik Lilian?” terka Falcon yang sudah diliputi amarah.
Long terlihat kesulitan bicara karena lehernya terasa tercekik. Dia hanya bisa menepuk-nepuk lengan bos besarnya sambil melirik ke arah Nine.
Namun, Nine justru mengedikkan bahunya seolah tak peduli.
Long merasa kesal, dengan wajah yang sudah sangat memerah akibat cengkeraman Falcon. Melihat itu, Nine pun hanya bisa menahan tawanya, dan mencoba membagi rekannya itu bicara.
“Bos, sebaiknya kau dengarkan dulu perkataannya,” seru Nine.
Namun, Falcon tak mau mendengar. Dia semakin kuat meremas kerah baju Long.
“Katakan di mana Lilian! CEPAT KATAKAN!” teriak Falcon.
Tanpa bisa berkata, Long pun hanya mampu menunjuk ke sebuah ruangan yang berada di belakangnya.
Falcon pun menghempaskan Long, hingga pria itu terhuyung ke belakang dan hampir jatuh. Untung saja, ada Mike yang berada di belakangnya dan mencegah Long terjungkal ke tanah
Sedangan Falcon, pria itu langsung menerobos masuk ke dalam. Matanya membulat saat melihat Liana yang berada di dalam sana, dalam kondisi baik-baik saja.
Gadis itu sedang duduk dan seketika bangun, saat pintu dibuka dengan begitu kasar. Dia pun menoleh dan melihat jika Falcon datang dengan wajah yang sangat kacau.
“Kau? Kenapa di...,” ucap Liana terhenti.
Falcon maju dan langsung memeluk tubuh kecil Liana. Nafasnya terasa memburu dengan detak jantung yang begitu tak beraturan.
Pelukan itu terasa hangat dan begitu erat, dan Liana hanya bisa membantu di dalamnya.
.
.
.
.
Up lagi bestie 😘nungguin yah?😁
next bab siang lagi ya😊
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1