
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 48
(Memancing)
...•...
...•...
"Hey bodoh!" ucapnya.
Sontak Rizky terkejut saat suara itu muncul, ia menoleh ke belakang dan tambah syok karena tawanannya telah berhasil melepaskan diri.
"Hah? Gimana bisa?" ujar Rizky kaget.
Velove tersenyum menyeringai lalu maju ke depan dan mencekik leher Rizky dari belakang serta mengancam pria itu dengan pecahan kaca di tangannya.
"Lepasin gue atau lu akan mati!" ucap Velove.
Tentu saja Rizky panik dan kesulitan untuk fokus menyetir mobilnya karena ia terus dicekik serta diancam oleh gadis itu, akhirnya mobil itu mulai oleng dibuatnya.
"Heh, cepet lu injek rem nya! Gue gak mau sampe mati konyol gara-gara lu nyetir mobil gak bener!" ujar Velove masih mencekik leher Rizky cukup kuat.
"Kalo lu mati, bukan karena salah gua! Tapi lu sendiri yang cari mati, orang lagi nyetir malah diancam kayak begini..." ucap Rizky sedikit pelan karena ia sulit berbicara akibat cekikan dari Velove.
"Maksud lu apa?" tanya Velove saking polosnya sampai kata-kata begitu aja gak ngerti.
"Lepasin dulu cekikan lu baru gua bisa nyetir dengan benar, lu gak mau mati kan?" ujar Rizky.
__ADS_1
Velove terdiam memikirkan perkataan Rizky, jujur ia tidak ingin mati disana tapi juga takut kalau melepaskan Rizky dirinya malah sulit lepas dari sana.
"Oke," ucap Velove singkat kemudian melepaskan cekikan nya, ia kembali ke tempat duduknya di belakang lalu membiarkan Rizky fokus menyetir agar tak menabrak.
"Sekarang lu injek rem nya cepet! Gue mau bebas dari sini dan balik ke rumah, lagian lu mending lepasin gue deh daripada nantinya bakal berurusan sama bokep gue! Asal lu tau ya bokap gue itu penjahat kelas kakap yang gak akan segan-segan hajar siapapun!" ujar Velove mengancam Rizky.
Namun, justru ancaman Velove membuat Rizky senang dan berusaha mengorek informasi lebih tentang mafia tersebut.
"Oh ya? Emangnya kejahatan apa aja yang udah dilakuin sama bokap lu, sampe lu bisa bilang kalo bokap lu itu penjahat kelas kakap?" tanya Rizky memancing Velove untuk mengatakan semua kejahatan papanya.
Velove malah terdiam, sebenarnya ia juga tidak tahu apa yang sudah dilakukan papanya.
"Ya banyak deh pokoknya, kalo gue sebutin satu-satu cuma buang-buang waktu aja!" jawab Velove mengeles.
"Ah masa sih banyak? Gue gak percaya, apalagi bokap lu itu udah tua bangka tadi aja turun dari mobil harus pake tongkat dulu! Mana bisa orang setua dia ngelakuin banyak kejahatan?" ujar Rizky senyum-senyum licik.
"Heh jangan sembarangan lu bilang bokap gue tua! Gitu-gitu dia mafia yang banyak dicari!" ucap Velove terpancing dan akhirnya mengatakan hal yang diinginkan Rizky, walau belum sepenuhnya.
"Alah sok-sokan ngaku-ngaku punya bokap mafia, kalo halu itu jangan ketinggian! Mending yang realistis aja misal papaku adalah seorang pelaut...." ujar Rizky menertawakan Velove.
"Heh! Songong banget lu ngetawain bokap gue, sekali lagi gue ingetin sama lu cepet berhenti dan bebasin gue! Lu masih sayang kan sama nyawa lu?" ujar Velove.
Velove pun menoleh ke belakang dan benar saja sudah tidak terlihat lagi mobil-mobil yang tadi mengejar mereka, ia langsung cemas dan memiliki niat untuk mengancam Rizky lagi.
Akan tetapi, tiba-tiba Rizky menginjak pedal rem secara mendadak... ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang cukup sepi.
"Akhirnya lu mau nurut juga, kalo begini gue pastiin papa gak akan habisin lu tenang aja!" ujar Velove tampak senang mengira jika ia telah dibebaskan oleh Rizky.
Velove hendak turun dari mobil itu, ia membuka pintu lalu menurunkan kakinya ke jalanan dan menutup kembali pintu mobil itu.
Rizky senyum-senyum saja di dalam mobil itu memperhatikan Velove yang sudah berada di luar, tampaknya ia memiliki rencana untuk menangkap kembali gadis itu.
"Lu pikir semudah itu bisa lepas dari gue?" gumam Rizky menyungging senyumnya.
****Bugh****... dengan cepat Rizky memukul tengkuk gadis itu dari belakang, sontak Velove yang tak siap langsung terjatuh pingsan di pelukan Rizky.
__ADS_1
"Sayang sekali gadis secantik kamu harus menjadi anak dari seorang mafia terbesar di negara ini, maafkan saya!" gumam Rizky.
Rizky pun menggendong tubuh Velove ala bridal style dan membawanya ke dalam mobilnya, kali ini menaruh Velove di kursi depan agar gadis itu tak bisa berbuat macam-macam lagi kepadanya.
...•••...
Disisi lain, Reno mengunjungi makam mendiang istrinya yakni Rosa bersama putri kecilnya siapa lagi kalau bukan Tania kecil.
Mereka hanya pergi berdua karena Anggi serta Darma sedang ada urusan, walaupun begitu tampak Tania kecil sangat bahagia bisa kembali mengunjungi makam mamanya.
"Assalamualaikum Rosa...." ucap Reno mengucap salam saat sampai di dekat makam Rosa, ia berjongkok disana memegang nisan istrinya itu.
"Hai mama, apa kabar? Aku sama papa dateng lagi loh buat jenguk mama, pasti mama seneng kan kita berdua dateng kesini?" ucap Tania kecil yang menggemaskan itu berjongkok juga di samping papanya.
Reno hanya tersenyum ketika putrinya berkata seperti itu, ia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Tania kecil saat ini.
"Sayang, kita taburin bunganya yuk ke atas makam mama! Papa yakin mama kamu pasti makin seneng kalau kita taburin bunga di makamnya...." ucap Reno memeluk putrinya.
"Oke pah," ucap Tania kecil sambil tersenyum lalu membuka plastik berisi bunga-bunga yang tadi mereka beli di toko dekat makam.
Tentu saja mereka langsung menaburkan bunga di atas makam Rosa seraya memanjatkan doa kepada mendiang istri sekaligus ibunda bagi mereka berdua.
"Semoga mama bahagia ya disana, tunggu kedatangan aku sama papa nanti! Kita bisa sama sama lagi deh di surga...." ucap Tania kecil.
Mendengar itu, tiba-tiba saja Reno merasa tersentak hatinya... ia semakin rindu dengan mendiang istrinya dan hendak bertemu lagi dengan Rosa walau itu tak mungkin.
Setelah selesai mendoakan Rosa, Reno pun mengajak Tania kecil pulang karena bunga yang mereka beli juga sudah habis ditaburi semuanya ke atas makam.
"Sayang, kita pulang yuk! Biarin mama istirahat yang tenang disini, nanti kapan-kapan lagi kita jengukin mama lagi ya...." ucap Reno.
"Iya pah, dadah mama aku sama papa pergi dulu ya! Tapi mama jangan sedih, kan kita bakal balik lagi nanti kesini...." ucap Tania kecil melambaikan tangannya ke arah makam.
"Pinter kamu!" ucap Reno mencubit gemas hidung Tania kecil. "Yaudah yuk kita pulang!" sambungnya kemudian bangkit menggandeng tangan putrinya.
Reno masih memandangi makam mendiang istrinya yang sangat ia rindukan itu, untuk yang terakhir kalinya ia mengucapkan selamat tinggal pada sang istri disana.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...