Preman Cantik

Preman Cantik
{SEASON 2} Episode 428 (Beli cincin)


__ADS_3

...HALO LAGI GUYS!...


...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...


..."PREMAN CANTIK 2"...


...~~~...


#PREMAN CANTIK S2 EPS. 371


(Beli cincin)


...•...


...•...


Melihat Reno tengah memapah tubuh Lyota keluar dari rumah, Anggi serta Darma dan Tania kecil pun merasa heran sekaligus penasaran. Mereka mendekat ke arah Reno dan bertanya langsung pada pria itu apa yang terjadi dengan Lyota.


"Mah, mama kenapa mah? Mama sakit?" ujar Tania kecil panik.


"Iya Ren, Lyota kenapa?" sahut Anggi.


"Eee mama sama Tania jangan panik dulu ya! Lyota cuma kurang enak badan aja kok, ini aku mau bawa dia ke rumah sakit buat dicek!" ucap Reno.


"Oh gitu, apa yang kamu rasa sayang?" tanya Anggi sembari memegangi wajah Lyota yang tampak pucat itu.


Dengan menahan rasa mual nya, Lyota pun menguatkan diri untuk menjawab pertanyaan sang mama agar tak membuat mama dari suaminya itu merasa kecewa.


"Aku ngerasa pusing sedikit sama mual, mah! Paling cuma sakit ringan aja!" jawab Lyota.


"Hey, kamu gak boleh ngeremehin gitu ah! Udah biar Reno bawa kamu ke rumah sakit ya? Ayo Ren, cepat kamu periksakan istri kamu ke rumah sakit! Mama khawatir Lyota kenapa-napa, apalagi mukanya pucat sekali loh ini Ren!" ucap Anggi.


"Iya mah, aku tahu kok! Yaudah, Reno permisi dulu ya? Tania sayang, jangan sedih ya! Mama kamu baik-baik aja kok!" ucap Reno.


Tania kecil manggut-manggut dengan ekspresi wajah sedihnya.


Reno pun mencium tangan Anggi serta Darma secara bergantian, lalu kembali memapah tubuh Lyota yang sudah sangat lemas itu ke dalam mobil untuk segera dibawa menuju rumah sakit.


Setelah Reno dan Lyota pergi, Tania kecil yang masih sedih itu bertanya pada Omanya karena ia sangat khawatir pada kondisi Lyota yang tadi terlihat seperti orang yang tengah sakit.


"Oma, opa, mama bakal baik-baik aja kan?" tanya Tania kecil.


"Iya sayang, mama gak akan kenapa-napa kok! Kamu jangan sedih lagi ya, ingat tadi kata papa kamu!" ucap Anggi menenangkan cucunya.


"Tapi, mama Lyota gak akan pergi selamanya kayak mama Rosa kan, Oma?" ujar Tania kecil.


Mendengar pertanyaan dari Tania itu, membuat Anggi serta Darma kebingungan. Mereka tahu betul perasaan Tania yang khawatir akan kehilangan sosok mamanya lagi, Anggi pun langsung berjongkok dan memeluk Tania dengan erat.


"Enggak kok sayang, kamu tenang aja ya! Kamu gak boleh nangis! Kita sama-sama kasih doa buat mama Lyota ya?" ucap Anggi.


"Iya Tania sayang, insyaallah dengan begitu pasti mama Lyota bakal baik-baik aja! Tania harus selalu doain mama Lyota dan mama Rosa juga, terus Tania juga gak boleh sedih!" sahut Darma.


"Hiks hiks iya Oma, opa!" ucap Tania kecil terisak.


Akhirnya Anggi membantu menyeka air mata di wajah cucunya itu, ia tak mau ada kesedihan lagi yang dirasakan Tania.




Singkat cerita, Lyota telah selesai diperiksa oleh dokter dan Reno pun langsung bertanya pada dokter tersebut mengenai kondisi istrinya, ia sangat cemas dan panik melihat Lyota yang tampak pucat.


"Dok, gimana kondisi istri saya? Dia baik-baik aja kan dok?" tanya Reno cemas.


"Tenang ya pak! Bu Lyota tidak mengalami sakit atau hal buruk lainnya kok, justru seharusnya bapak berbahagia sekarang ini!" jawab dokter itu.


"Berbahagia? Ma-maksud dokter?" tanya Reno heran.


"Iya pak, selamat ya! Ibu Lyota ini sedang mengandung anak dari bapak, usia kandungannya sudah memasuki minggu kedua! Mungkin rasa mual dan pusing yang dirasakan Bu Lyota, itu adalah efek dari kehamilannya!" jelas dokter itu.


"Apa dok? Istri saya hamil? Do-dokter serius kan dok?" ujar Reno terkejut bukan main.


"Iya pak, saya serius! Selamat ya pak, mulai sekarang tolong dijaga kondisi dan kesehatan Bu Lyota supaya hal-hal yang buruk tidak akan terjadi kepada beliau atau anak di kandungannya!" ucap dokter itu.


"Alhamdulillah! Iya dok, pasti saya akan jaga istri dan juga calon anak saya dengan baik! Ini kabar yang membahagiakan sekali buat saya, terimakasih dok!" ucap Reno senang bukan main.


"Sama-sama pak, kalo gitu saya mohon izin permisi!" ucap dokter itu.


"Silahkan dok!" ucap Reno.


"Makasih ya dok!" ucap Lyota tersenyum.


"Iya Bu, sehat-sehat ya!" ucap dokter itu.


Setelahnya, dokter itu pun pergi keluar dari ruangan tempat Lyota dirawat. Sedangkan Reno langsung mendekati Lyota dan memegang tangan istrinya tersebut, mereka tak bisa menutupi kegembiraan yang tengah mereka rasakan saat ini karena akhirnya mereka diberi kesempatan untuk memiliki anak.


"Mas, aku senang banget! Sebentar lagi kita bakal punya anak mas, dan Tania bakal punya adik baru! Aku yakin dia pasti juga senang deh!" ucap Lyota.

__ADS_1


"Iya sayang, Alhamdulillah! Usaha kita selama ini gak sia-sia, kamu sekarang harus jaga diri kamu dan gak boleh sembarangan lagi! Aku bakal bikin syukuran atas kehamilan kamu sayang!" ucap Reno.


"Terserah kamu mas, aku mah ngikut aja! Yang penting itu baik menurut kamu!" ucap Lyota.


"Siap sayang! Yaudah, aku mau urusin administrasi dulu ya? Kamu istirahat dulu disini, gapapa kan aku tinggal sebentar?" ucap Reno mengelus kepala Lyota dengan lembut sambil tersenyum.


"Gapapa mas," jawab Lyota.


Cupp!


Reno mengecup bibir mungil istrinya secara tiba-tiba, membuat Lyota terbelalak namun tak bisa apa-apa selain menggelengkan kepalanya.


"Mas, katanya mau urus administrasi? Kok malah cium bibir aku sih?" tanya Lyota.


"Ahaha, sebelum pergi kan gak masalah dong kalo aku cium kamu dulu? Abisnya bibir kamu itu menggoda banget sayang, bikin aku gak tahan buat nyium kamu!" ucap Reno tersenyum.


"Hadeh mas mas, kamu selalu aja begitu alasannya! Udah sana buruan bayar biaya administrasinya! Supaya aku bisa pulang ke rumah dan kasih tahu kabar gembira ini ke mama sama papa, sama Tania juga!" ucap Lyota.


"Iya sayang iya, kamu gak sabaran banget sih! Pasti kamu senang banget ya punya anak dari laki-laki ganteng seperti aku?" ujar Reno.


"Dih kepedean banget sih kamu mas! Ya tapi iya sih, aku akuin aku senang banget! Lagian istri mana sih mas yang gak senang kalau akhirnya dapat kabar bahwa dia hamil?" ucap Lyota.


"Hehe, bener sih!" ujar Reno nyengir.


"Udah lah mas, cepat sana kamu bayar! Jangan kelamaan disini!" ucap Lyota kesal.


"Iya iya istriku yang cantik dan imut!" ujar Reno.


Reno pun menghujani pipi gemas Lyota dengan kecupan dan cubitan, hal itu membuat Lyota sedikit geram. Namun, Lyota hanya bisa pasrah membiarkan Reno melakukan itu tanpa mampu membalasnya karena ia juga sedang malas.


Setelah puas, barulah Reno keluar dari kamar itu dan menuju meja kasir untuk membayar biaya administrasi Lyota.


"Mas Reno kelihatan senang banget bisa punya anak dari aku! Tapi, gimana perasaan Rianti sama Athar ya kalau tahu tentang ini? Apa mereka akan semakin ngerasa terasingkan?" gumam Lyota dalam hati.




Sementara itu, Rianti sedang kebingungan karena Reno berkata jika Lyota tengah sakit saat ia meneleponnya tadi. Rianti kini cemas kalau Reno tak bisa datang ke rumahnya menemui Athar.


Rianti pun terus mondar-mandir tidak jelas sambil menggigit jarinya, ia bingung harus bagaimana agar bisa membuat Athar bahagia dan bisa bertemu dengan ayah kandungnya itu.


"Duh, aku harus gimana ini ya? Kalau Lyota sakit, Reno pasti makin susah buat kesini!" gumamnya.


TOK TOK TOK...


Rianti pun terkejut mendengar suara suaminya muncul, padahal sebelumnya Lionel sudah pamit akan pergi ke kantor.


"Iya mas, sebentar!" balas Rianti.


Rianti melangkah ke dekat pintu, lalu membuka kunci dan menemui suaminya.


Ceklek...


"Mas, kamu kok balik lagi sih?" tanya Rianti heran.


"Iya sayang, laptop aku ketinggalan. Kalau gak diambil lagi, gimana caranya aku bisa presentasi nanti di depan klien? Untung aja aku baru sampe depan jalan raya, jadi masih dekat buat putar balik!" jawab Lionel tersenyum.


"Oh gitu, ya ampun mas kan aku udah tanya tadi sama kamu ada yang ketinggalan atau enggak! Terus kamu jawab enggak, eh ternyata bener kan ada yang ketinggalan!" ujar Rianti.


Lionel menggerakkan tangannya dan mencubit pipi sang istri karena gemas.


"Mmhhh iya iya istriku yang cantik dan imut, aku emang salah tadi! Sekarang tolong ambilin laptop aku dong sayangku!" ucap Lionel.


"Ih mas sakit tau!" ujar Rianti protes.


"Yaudah, kamu ambilin dong laptop aku! Kalo enggak nanti aku tidurin nih kamu!" ucap Lionel tersenyum.


"Mas, apaan sih?!" kesal Rianti.


"Hahaha bercanda sayang, gak sekarang kok tapi nanti malam kita bertempur habis-habisan!" ucap Lionel.


Rianti memalingkan wajah sambil menelan saliva, lalu pergi begitu saja untuk mengambilkan laptop milik Lionel dan menyerahkannya pada suaminya itu sambil tersenyum.


"Nih mas laptopnya! Udah sana kamu berangkat, nanti telat loh!" ucap Rianti.


"Iya sayang, thanks ya!" ucap Lionel tersenyum.


Cupp!


Lionel menarik tengkuk Rianti dan mengecup kening istrinya itu dengan lembut.


"Eh ya, soal Reno gimana? Kamu udah telpon dia belum?" tanya Lionel.


"Eee udah kok," jawab Rianti.


"Ya terus gimana sayangku? Reno sama mamanya ngapain kemarin kesini?" tanya Lionel penasaran.

__ADS_1


"Aku belum sempat dapat jawaban dari dia, karena tadi pas aku telpon ternyata dia lagi mau bawa Lyota istrinya ke rumah sakit!" jawab Rianti.


"Rumah sakit? Emang istrinya kenapa?" tanya Lionel lagi.


"Lyota sakit, mas. Tapi, dia bilang katanya mau telpon balik kok nanti selesai anterin istrinya ke rumah sakit! Udah mas, kamu jangan tanya-tanya terus nanti telat ke kantornya!" ucap Rianti.


"Ahaha, iya juga ya. Kenapa aku malah jadi diem disini terus? Ah kamu sih sayang!" ujar Lionel.


"Lah kok jadi nyalahin aku?" ujar Rianti heran.


"Ya iyalah, kecantikan kamu itu bikin aku pengen terus disini sama kamu tau! Kalau aja aku gak ada meeting, udah aku hajar kamu di kasur sampe malam!" ucap Lionel tersenyum tipis.


"Apaan sih mas? Kan masih bisa nanti malam, sekarang kamu ke kantor dulu sana!" ujar Rianti.


"Iya iya, tapi seenggaknya ciuman mah gapapa dong kan cuma sebentar?" ujar Lionel.


"Mas, kamu—"


Ucapan Rianti terpotong, karena Lionel langsung bergerak maju dan melumatt bibirnya dengan ganas sembari mendorong tubuhnya hingga menempel pada dinding kamar.


...•••...


Disisi lain, Tania diajak pergi membeli cincin untuk pernikahan ia dengan Revan nanti. Ya sebentar lagi adalah hari pernikahan mereka, sehingga Revan ingin membuat Tania bahagia dengan mengajaknya pergi membeli cincin di tempat yang paling bagus.


Memang Revan ingin cincin pertunangan dan pernikahan mereka berbeda, ia mau cincinnya kali ini lebih bagus dibanding sebelumnya dan tentunya lebih mahal karena ia tak mau membuat momen pernikahannya nanti terlupakan.


"Nah sayang, kita udah sampe di tokonya! Yuk turun terus pilih cincin yang paling bagus!" ucap Revan.


"Umm, sebenarnya apa alasan kamu sih Van? Ngapain kita harus pesan cincin lagi? Kan udah ada ini nih bekas pertunangan kita, masa kamu mau kita pake dua cincin?" tanya Tania.


"Ya gapapa dong sayang, aku maunya cincin pernikahan kita itu lebih bagus dan cantik seperti kamu!" jawab Revan sambil tersenyum.


"Aih malah gombal, dasar kamu!" cibir Tania.


"Hahaha, wanita seperti kamu itu gak cocok digombalin sayang! Tapi, lebih pantas buat disayangi dan dicintai! Terutama sama aku, karena aku kan calon suami kamu!" ucap Revan.


Revan tersenyum sembari membelai rambut dan juga wajah gadis manisnya.


"Van, udah ah jangan bikin aku terbang terus! Yuk kita langsung turun aja pilih cincin buat pernikahan kita!" ucap Tania.


"Iya iya sayang..." ucap Revan tersenyum.


Cupp!


Pria itu mendekat dan mencuri ciuman di pipi gadisnya, hal itu membuat Tania syok dan membuka matanya lebar-lebar. Mereka saling bertatapan sejenak, sebelum akhirnya Revan kembali mengecup bibir Tania yang perlahan mulai memanas dan membuat suasana di mobil itu makin panas.


❤️


Setelah puas, keduanya pun turun dari mobil dan melangkah sambil bergandengan tangan menuju ke dalam toko perhiasan tersebut. Revan langsung membawa Tania menemui salah satu pelayan disana untuk memilih cincin mereka.


"Sayang, kamu bebas mau pilih yang mana aja sesuai selera kamu!" ucap Revan.


"Eee aku bingung sayang, ini semuanya bagus-bagus tau! Kamu bantu aku dong milihnya, supaya aku gak bingung!" ucap Tania.


"Oke iya, nah yang ini gimana?" saran Revan.


Revan menunjuk ke salah satu cincin disana.


"Kayaknya aku kurang sreg deh, yang lain mungkin!" ucap Tania.


"Ohh, kalo yang ini?" tanya Revan lagi.


"Sama aja, aku kurang sreg juga!" jawab Tania.


"Hadeh, mbak model cincin yang paling bagus disini itu yang mana? Saya mau lihat dong!" ucap Revan pada pelayan disana.


"Baik, sebentar ya mas!" ucap pelayan itu.


"Kamu marah sayang?" tanya Tania.


"Hah? Enggak kok, ngapain aku marah?" ujar Revan mengelak.


"Bagus deh!" ucap Tania tersenyum.


"Yeh malah bagus, dasar gak peka!" batin Revan.


Tak lama kemudian, pelayan itu kembali membawa cincin yang paling bagus di tempat itu dan menyerahkannya kepada Revan serta Tania.


"Nah mas, mbak, ini cincin yang paling bagus disini!" ucap pelayan itu.


"Waaahhhh!!"


Revan dan Tania kompak terkejut saat melihat betapa indahnya cincin tersebut.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2