Preman Cantik

Preman Cantik
{SEASON 2} Episode 314 (Athar Nakal)


__ADS_3

...HALO LAGI GUYS!...


...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...


..."PREMAN CANTIK 2"...


...~~~...


#PREMAN CANTIK S2 EPS. 257


(Athar nakal)


...•...


...•...


"Tania, Revan!" ucap William begitu melihat putrinya tengah asyik bercumbu di teras depan rumahnya.


Sontak baik Tania maupun Revan pun terkejut dan mereka reflek menjauh saat William memanggil nama mereka, keduanya langsung tertunduk malu begitu melihat William sudah berdiri disana. Terlebih Tania yang sampai tidak berani menatap wajah papanya akibat rasa malu yang teramat sangat itu, ya wajahnya pun memerah karena ditatap William.


William pun melangkah maju menghampiri Tania serta Revan disana, ia menatap wajah mereka satu persatu kemudian berhenti tepat di depan tubuh Tania dan juga Revan. William memang masih tak menyangka jika putrinya sudah mulai bercumbu dengan calon suaminya, namun entah mengapa William justru tersenyum sembari menghela nafas.


"Dasar anak muda! Sukanya cium-cium aja, gak tahu tempat lagi! Kalau kalian mau ciuman bibir itu jangan disini, kan bisa dilihat sama papa atau yang lain! Mending cari tempat agak sepi," ujar William.


"Eee papa apaan sih? Maaf pah, tadi tuh Revan yang main nyosor aja! Aku sebenarnya gak mau ciuman disini, pah!" ucap Tania.


Revan terkejut karena Tania menyalahkannya di hadapan William, ya walau memang ia yang tadi memulai lebih dulu percumbuan manis dan mantap tersebut di depan rumah William. Namun, Revan tentu tak mau jika William sampai memarahinya atau bahkan memberi hukuman padanya atas apa yang sudah ia lakukan terhadap Tania.


"Oh ya? Tapi tadi papa lihat kamu menikmati juga, berarti disini kalian emang pada mau ciuman kan?" ucap William sambil tersenyum.


"Papa ih, aku gak mau tau kalau gak dipaksa sama Revan! Tadi tuh aku terpaksa aja, abisnya Revan juga tahan tubuh aku sampe gak bisa gerak sama sekali!" ucap Tania mengelak.

__ADS_1


"Iya om, saya tadi yang paksa Tania!" ucap Revan.


"Hahaha, ya tidak apa-apa! Saran om cuma satu, jangan cium-cium di sembarang tempat! Di luar negeri emang ciuman begitu hal yang biasa, tapi disini kan enggak Revan! Jadi, kamu harus bisa membedakan itu!" ucap William.


"Ah iya om, maafin saya! Lain kali saya akan lebih berhati-hati untuk melakukan itu, sekali lagi saya mohon maaf om!" ucap Revan gugup.


"Gak perlu minta maaf! Om juga tahu kok kondisi kamu, kan om pernah muda!" ujar William nyengir.


"Ahaha, om bisa aja! Maaf banget ya om, harusnya saya gak paksa-paksa Tania buat ciuman tadi! Akhirnya jadi begini deh, saya malu banget om!" ucap Revan sambil gemetar sedikit.


"Gausah malu! Udah yuk masuk, kamu bisa lanjutin tuh ciuman kamu di dalam! Supaya gak ada yang lihat dan aman-aman aja, yuk!" ucap William.


"Papa! Kok papa malah begitu?!" ujar Tania heran.


"Hahaha, becanda kok sayang! Maksudnya ayo kita masuk, terus kita lanjut bicara di dalam!" ujar William.


"Haish, papa ini nyebelin deh!" ucap Tania cemberut.


William justru tertawa terbahak-bahak melihat reaksi dari putrinya tadi, ia memang senang sekali mengerjai Tania karena menurutnya ekspresi Tania itu sungguh menggemaskan saat marah. Begitupun dengan Revan yang merasa gemas dengan wajah Tania saat ini, namun ia hanya bisa tersenyum tipis sembari memandangi wajah gadisnya itu.


"Oh iya, Rania!" ujar Tania langsung cemas.


Tania pun masuk lebih dulu ke dalam rumahnya, ia pergi melewati papanya dan meninggalkan Revan disana berduaan dengan sang papa.


...•••...


Disisi lain, Lionel pulang ke rumah dengan perasaan jengkel lantaran ia memiliki masalah di kantor dan membuat suasana hatinya saat ini sedang buruk terbawa emosi akibat itu. Lionel pun turun dari mobil lalu berjalan menuju ke dalam rumahnya, ia terus saja mengusap wajahnya kasar sembari menghela nafas untuk coba menenangkan diri.


Lionel tentunya tidak mau jika ia sampai berbuat hal yang tak diinginkan pada istri dan anaknya, hanya karena ia masih terpikirkan pada masalah perusahaan yang cukup berat itu. Ia memilih duduk sejenak di teras depan rumah sembari merenung dan memijat keningnya sendiri, Lionel sangat berat untuk bisa melupakan semua masalah itu.


"Haish, saya harus bisa tenang dan tidak boleh terbawa emosi!" batin Lionel.

__ADS_1


Tak lama kemudian, muncul seorang ibu-ibu yang datang ke rumahnya sambil teriak-teriak seperti sedang memarahi seseorang. Ya rupanya ibu itu tengah marah pada Athar dan bahkan sampai menjewer telinga anak kecil tersebut, si ibu membawa Athar ke halaman rumah Lionel masih sembari ngoceh marah-marah tidak jelas.


"Kamu ini dasar anak nakal! Gak pernah dididik sama orang tua kamu atau gimana sih? Nakal banget jadi anak, rasain nih saya jewer kuping kamu!" ujar si ibu dengan ekspresi marahnya.


"Ampun Bu, ampun!" rintih Athar sambil menangis.


Mendengar suara tersebut, Lionel pun sadar dari lamunannya dan langsung bangkit dari kursi tempat ia duduk ketika melihat Athar tengah dijewer oleh seorang ibu di depan matanya. Sontak Lionel emosi lantaran ada orang lain yang berani menjewer putranya sampai menangis gitu, ia pun menghampiri ibu itu untuk coba bertanya perlahan-lahan.


"Bu, Bu, ini ada apa ya? Kenapa putra saya dijewer kayak gitu sama ibu?" tanya Lionel kesal.


"Ohh, jadi ini bapaknya? Nih anak situ ini udah ngancurin dagangan saya, semuanya rusak gara-gara dia nendang bola kenceng banget!" ujar ibu itu.


"Apa? Gak mungkin Bu, anak saya ini gak nakal! Sekarang ibu tolong lepasin tangan ibu dari telinga putra saya, dia ini masih kecil loh Bu apa ibu tidak kasihan melihat dia menangis seperti ini daritadi?" ucap Lionel menarik Athar secara paksa.


"Ah bodoamat! Suruh siapa kecil-kecil udah nakal, sekarang saya gak mau tau pokoknya situ harus ganti rugi dagangan saya yang hancur karena ulah anak situ ini!" bentak si ibu.


"Sebentar dulu Bu, saya harus pastikan ini semua!" ucap Lionel.


Lionel pun menoleh ke arah putranya itu.


"Athar, apa benar yang dibilang sama ibu ini? Kamu udah rusakin dagangan ibu ini?" tanya Lionel.


"I-i-iya pah..."


Mendengar jawaban putranya membuat Lionel semakin kesal dan tak menyangka kalau Athar bisa menjadi senakal itu.


"Tuh kan dia ngaku, udah sekarang cepat ganti rugi dagangan saya! Semuanya itu kalau ditotal jadi satu juta empat ratus ribu, ayo cepat bayar sebelum saya lapor ke polisi!" bentak ibu itu.


"Iya Bu, tenang aja! ucap Lionel pasrah.


Lionel pun menyerahkan uang yang diminta oleh ibu itu dengan cash, setelahnya si ibu pun langsung pergi begitu saja dari sana, sehingga kini Lionel hanya berdua dengan Athar disana. Ya Lionel lalu menoleh ke arah Athar yang masih menunduk, ia menarik kasar tubuh Athar untuk menghadap ke arahnya kemudian menatap tajam mata Athar.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2