Preman Cantik

Preman Cantik
Episode 54 (Akhir kisah si preman cantik)


__ADS_3

...HELO!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."PREMAN CANTIK"...


...~~~...


PREMAN CANTIK EPS. 54


...•...


Rianti membuka matanya perlahan, ia sedikit merintih karena kepalanya sangat pusing.


"Ternyata kamu sudah bangun," ucap seorang pria yang berjalan mendekati Rianti dengan segelas air putih beserta sebungkus biskuit di tangannya.


Sontak Rianti bangun dan merasa ketakutan pada pria di depannya itu, ia bahkan reflek menutupi tubuhnya dengan selimut disana padahal ia tidak sedang telanjang.


"Siapa kamu? Dimana aku ini? Kenapa aku bisa ada disini sama kamu??" tanya Rianti yang ketakutan serta berusaha menjauh dari pria itu.


Si pria malah tersenyum kemudian duduk di pinggir ranjang, ia lalu memberikan segelas air putih itu pada Rianti.


"Nih kamu minum dulu biar tenang, santai aja saya gak ada niat jahat kok sama kamu! Kalo saya mau udah daritadi saya lakuin itu, ayo diminum!" ucapnya menyodorkan gelas di tangannya pada Rianti.


Rianti sempat ragu memandangi gelas itu, ia takut pria itu menaruh sesuatu pada air tersebut.


Namun akhirnya Rianti menampani gelas tersebut kemudian meminumnya walau hanya sedikit.


"Kenapa aku bisa disini??" tanya Rianti lagi sambil memberikan gelas itu pada pria itu.


"Tadi aku nolongin kamu dari 2 orang pria mesum yang mau perkosa kamu, tapi karena aku gak tahu kamu rumahnya dimana yaudah terpaksa aku bawa kamu ke rumah aku! Tapi kamu tenang aja, disini kita gak cuma berdua kok ada pembantu aku juga di luar!" jelas si pria santai dan menaruh gelas itu di atas meja.


Sementara Rianti terdiam memegangi kepalanya yang masih terasa pusing, ia pun teringat pada kejadian saat 2 orang pemuda yang ia temui di depan rumah tiba-tiba saja membekap mulutnya.


"Kamu pasti masih pusing ya? Sebaiknya kamu istirahat aja dulu disini, soalnya efek dari obat bius itu cukup parah loh buat kesehatan kamu! Nih kamu juga makan biskuit ini dulu supaya kepala kamu agak mendingan.." ujar pria itu memberikan sebungkus biskuit pada Rianti.


"Makasih, tapi kenapa kamu tolong aku?" tanya Rianti sambil menyomot biskuit di dalam bungkusnya lalu memasukkan biskuit itu ke mulutnya.


"Udah tugas aku sebagai sesama manusia untuk saling tolong menolong, lagian aku paling gak suka ngeliat wanita dilecehkan seperti itu! Bagi aku kodrat seorang wanita itu tinggi dan harus dihargai, apalagi dulu pacar saya harus mengakhiri hidupnya setelah diperkosa oleh orang yang gak dikenal! Itu membuat saya sakit dan sampai sekarang saya masih melaknat laki-laki yang tega berbuat seperti itu pada wanita!" jawabnya cukup panjang tapi menyentuh di hati Rianti.


"Terimakasih ya, kalau gak ada kamu aku gak tahu gimana nasib aku sekarang! Jarang loh ada laki-laki yang punya pikiran kayak kamu!" ucap Rianti mengarahkan senyuman pada pria itu.


"Sama-sama, lain kali kamu juga kalo mau keluar rumah lebih diperhatikan lagi ya pakaiannya! Jangan sampai pakaian kamu bisa memancing hasrat para laki-laki yang melihatnya..!! Maaf bukannya aku ingin menggurui kamu, aku cuma mau mengingatkan supaya ini tidak terulang lagi sama kamu!" ucapnya membalas senyum Rianti.


Rianti hanya mengangguk dan lanjut memakan biskuit di tangannya.. Sementara pria itu terus memandangi gadis di hadapannya tanpa berkedip sedikitpun.


"Oh ya daritadi kita udah ngobrol banyak tapi belum tau nama masing-masing, kenalin namaku Lionel kamu bisa panggil aku Lio! Kalo kamu namanya siapa?" ucapnya sambil menyodorkan tangan kanannya pada Rianti.


"Aku Rianti," ucap Rianti menggapai tangan pria di hadapannya lalu mereka pun bersalaman sambil saling menatap satu sama lain dan tersenyum.


...•••...


Sementara itu, Joshua masih bersama Olivia mencari tempat yang cocok untuk membuka bisnis toko sembako.


Ya setelah berkeliling cukup lama, akhirnya mereka berhasil menemukan sebuah tempat yang cocok juga tak jauh dari tempat tinggal Joshua.


Mereka pun tanpa basa-basi langsung menemui pemilik bangunan itu untuk berbicara masalah harga, setelah dirasa sesuai dengan budget akhirnya Joshua sepakat membeli tempat itu tak hanya menyewanya.


"Kamu yakin langsung mau beli? Kenapa gak coba sewa dulu satu tahun, jadi kalau misal usaha kamu gagal kita gak terlalu rugi?" tanya Oliv coba meyakinkan Joshua.

__ADS_1


"Aku udah timang timang kok semuanya, menurut aku lebih bagus kalo langsung dibeli aja jadi aku gak perlu bayar uang sewa lagi! Soal gagal atau berhasil itu kan bisa diatasi nantinya, lagian aku yakin kok pasti usaha aku ini bakal berhasil! Kan kamu yang bilang tadi kita harus optimis gak boleh pesimis!" ujar Joshua membalikkan perkataan Olivia padanya tadi.


"Iya sih, yaudah bagus deh kalo sekarang kamu udah punya pikiran begitu! Kalo gitu kita tinggal cari agen yang bisa pasok barang-barang kesini, kebetulan aku juga punya kenalan agen sembako yang ada di deket sini!" ucap Olivia.


"Wah bagus dong, kalo gitu langsung aja kita kesana sekarang! Kamu tahu kan tempatnya dimana?" ujar Joshua.


"Iya tau kok, aku juga sering kesana karena dia tuh temen aku pas masih di tempat kuliah.." jawab Olivia.


Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju tempat agen sembako, terlihat Joshua sangat antusias membuka bisnis pertamanya ini apalagi ia ditemani oleh seorang wanita cantik dan manis.


...•••...


Reno sedang jalan-jalan bersama Rosa di taman rumahnya, ya Rosa sengaja mengajak Reno keluar kamar agar dia tak lagi teringat pada Tania yang baru pergi meninggalkannya.


"Ren, lusa kan mamah papah kamu balik kesini! Kamu harus udah sehat loh biar mereka gak sedih kalo lihat kamu sakit begini, nah biar cepet sembuh kamu gak boleh kebanyakan sedih dan mikirin Tania terus!" ucap Rosa yang menggandeng Reno agar dia bisa berjalan dengan baik.


Reno mengangguk saja tak menjawab, dipikirannya saat ini masih saja terlintas wajah Tania wanita cantik dan imut yang telah memberi warna dalam hidupnya sejak pertama kali bertemu.


"Mana mungkin gue bisa lupain Tania? Bohong banget kalo gue bilang Tania itu gak penting di hidup gua, seandainya saat itu gua gak laporin dia ke polisi mungkin sekarang dia gak terjebak sama orang yang mengaku abangnya itu.. Tania, semoga lu baik-baik aja disana!" gumam Reno.


Rosa merasa heran karena lelaki disebelahnya itu hanya diam saja tak merespon perkataannya sama sekali, ia pun kesal karena dicuekin oleh Reno dan akhirnya menepuk-nepuk wajah Reno.


"Reno, Reno udah dong jangan bengong terus! Kamu tuh nganggep aku apa enggak sih sebenarnya? Ohh pasti kamu masih mikirin Tania lagi kan? Yaudah deh terserah kamu aja, kalo emang kamu gak butuh aku ada disini biar aku pergi dari sini!" ujar Rosa dengan wajah cemberut dan melepaskan tangan Reno dari pegangannya.


"Eh eh jangan dong Rosa! Aku butuh kamu, mana bisa sekarang aku tanpa kamu Rosa! Tolong jangan tinggalin aku juga ya! Maaf maaf kalo kamu ngerasa aku cuekin kamu, aku janji deh gak akan cuekin kamu lagi Ros!" ucap Reno menahan Rosa agar tidak pergi dari sana.


"Iya oke aku gak ninggalin kamu kok, gimanapun juga aku masih punya rasa kasihan sama kamu! Aku janji akan selalu ada di samping kamu Reno!" ucap Rosa yang kembali merangkul lengan Reno lalu menyandarkan kepalanya di bahu Reno.


Reno pun mengelus rambut kepala Rosa yang ada di bahunya sambil tersenyum dan mengucap syukur dalam hatinya karena bisa memiliki wanita seperti Rosa.


...•••...


Tania turun dari mobil jemputan yang ia naiki, tampak banyak orang berada disana bersorak-sorai memberi tepuk tangan pada Tania & Arsen.


Karpet merah digelar di jalanan itu, Tania pun merasa seperti tuan putri karena banyaknya sambutan untuk dirinya.


Arsen menghampiri Tania kemudian menggandeng tangannya tanpa sepatah katapun, mereka melangkah maju berjalan di atas karpet merah.


Tania terus melirik ke kanan dan ke kiri memandang orang-orang yang ada disekitarnya, banyak sekali orang yang memotretnya disana.


"Ini sebenarnya mereka kenapa sih? Masa seheboh ini cuma karena kedatangan gue sama kak Arsen?" gumam Tania bertanya-tanya dalam hatinya sambil melirik juga ke arah Arsen, namun Arsen tetap fokus pada jalannya.


Ya setelah cukup lama berjalan, mereka akhirnya sampai tepat di depan gerbang yang sangat besar dan lebar.. Tania pun takjub akan itu.


Lalu, tampak orang-orang berpakaian jas hitam menghampiri mereka memberi sambutan hangat pada 2 orang di depannya itu.


"tervetuloa naiset ja herrat!" ucap salah seorang diantara mereka.


Sontak Tania menatap kebingungan karena tak mengerti apa yang diucapkan pria tersebut.


"Kak, dia ngomong apa sih?" tanya Tania berbisik pada Arsen.


"Dia bilang selamat datang!" jawab Arsen dingin.


Setelah itu, orang-orang itu mengantarkan Arsen & Tania sampai ke rumah besar bertingkat yang sangat megah itu.


Tania mendongakkan kepalanya kagum melihat besarnya rumah itu, lalu seseorang keluar dari dalam rumah beserta para wanita di belakangnya.


Arsen langsung membungkukkan sedikit badannya memberi hormat pada pria itu, Tania yang bingung hanya bisa mengikuti saja apa yang dilakukan abangnya itu.

__ADS_1


"hei pappa, olen palannut! Toin myös siskoni äidin pyynnöstä," ucap Arsen pada orang itu yang ternyata papahnya.


Arsen kembali menegakkan tubuhnya begitu juga dengan Tania, mereka kemudian menaiki anak tangga mendekati pria itu.


"Selamat datang di rumahmu, putriku!" ucap pria itu sambil meneteskan air mata lalu membuka kedua tangannya memberi kesempatan pada Tania untuk memeluk tubuhnya.


"Apa kamu papah aku?" tanya Tania masih ternganga tak percaya kalau yang di depannya itu adalah papahnya.


"Iya sayang, ayo peluk papah nak!" jawabnya seraya memajukan langkahnya mendekati Tania.


Akhirnya mereka saling berpelukan disana, terlihat para penjaga yang jumlahnya tak terhitung itu memberi tepuk tangan pada mereka.


"Kenapa ini? Kenapa papah malah memberi pelukan pada Tania? Bukannya papah benci pada Tania karena sudah menyebabkan hubungannya dengan mamah rusak?" gumam Arsen merasa heran.




Setelah Tania diajak ke kamar bersama para pelayannya, Arsen langsung menemui papahnya di ruang depan untuk bertanya atas apa yang ia bingungkan sebelumnya.


"Pah, kenapa tadi papah malah meluk Tania di depan semua orang? Memangnya papah lupa Tania itu penyebab rusaknya rumah tangga papah!" ujar Arsen tampak emosi.


"Tidak Arsen, selama ini papah sudah salah bertindak! Dia itu adik kandung kamu, karena ternyata mamah kamu sama sekali tidak diperkosa oleh perampok itu! Jadi Tania adalah anak papah bukan si perampok.." jelas William Abraham (papah Arsen).


"Maksud papah? Darimana papah tau soal itu?" tanya Arsen yang justru makin kebingungan.


"Iya Arsen, selama ini papah sudah termakan omongan Reinaldo asisten papah itu! Papah baru mengetahui semuanya kemarin, seharusnya papah lebih mempercayai mamah kamu dibanding orang itu! Karena dia ternyata hanya ingin menghancurkan rumah tangga papah dan mamah.. Makanya sekarang papah mau membayar semuanya dengan merawat Tania sebaik mungkin!" jelas William pada putranya yang langsung disambut tangisan oleh Arsen.


"Pantas saja ketika bertemu Tania, seperti ada ikatan batin diantara aku dan dia.." gumam Arsen.


...•••...


Disisi lain, Jordi pergi ke sungai Cisadane yang merupakan tempat pertama kali ia bertemu dengan Tania saat masih bayi.


Jordi meluapkan kesedihannya disana, ia sangat merasa kehilangan sosok Tania putri kecilnya yang pernah ia rawat hingga besar.


"Di tempat inilah gua menemukan Tania, gua gak nyangka dia bisa tumbuh jadi seorang wanita yang cantik dan anggun.. Dari semua yang telah terjadi dalam hidup gua, satu-satunya yang gua sesali adalah membiarkan Tania pergi bersama keluarga kandungnya! Padahal selama ini cuma Tania yang bisa memberi warna dalam kehidupan gua! Sekarang setelah Tania pergi, entah kenapa gua seperti kehilangan segalanya..." gumam Jordi berdiri di pinggir sungai itu.


Tak disangka sosok Jordi yang merupakan bos copet itu bisa merasakan sedih juga, ia meneteskan air matanya disana.


Tampak memang Jordi sangat merasa kehilangan Tania, seorang wanita yang telah ia rawat dan besarkan dari kecil hingga besar itu.


Tiba-tiba saja, terdengar suara tangisan bayi di sekitar sungai itu.. Semakin lama suara itu semakin terdengar jelas dan kencang.


Sontak Jordi pun mencari-cari dimana asal suara tangisan bayi itu, ia berjalan kesana-kemari melihat ke sekelilingnya mencari keberadaan bayi itu.


Ternyata suara tangisan itu berasal dari sebuah tas parcel yang nyangkut di batu yang berada di pinggir sungai itu.


Jordi segera melangkah kesana untuk menyelamatkan bayi tersebut, benar saja ada sosok bayi mungil nan imut di dalam tas parcel tersebut.


Jordi mengambil tas itu dan memandangi bayi di dalamnya, ia tersenyum lalu mengelus kepala bayi itu dengan lembut dan setelah itu bayi tersebut diam bahkan tertawa melihat ke arah Jordi.


"Kamu jangan takut lagi ya, ada om disini! Om janji akan merawat dan membesarkan kamu sebaik mungkin! Kamu cantik sekali.. Rania...!!" ucap Jordi menggendong bayi itu lalu membawanya pergi dari sungai tersebut.


...~Selesai~...


...Terimakasih ya semua buat yang sudah dukung novelku ini dari awal sampai akhir🙏😊🙏...


...Tetap support author ya dengan memberi like serta komen dan jangan lupa juga kasih vote atau bunga biar author tambah semangat😁😁😁...

__ADS_1


...SALAM DARI BINJAI🙏...


__ADS_2