Preman Cantik

Preman Cantik
{SEASON 2} Episode 135 (Kebab)


__ADS_3

...HALO LAGI GUYS!...


...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...


..."PREMAN CANTIK 2"...


...~~~...


#PREMAN CANTIK S2 EPS. 79


(Kebab)


...•...


...•...



...Biar fresh & dapet ide😁...


...❤️❤️❤️...


...|||...


Setelah menunggu cukup lama dan sudah lebih dari satu jam, Tania kembali emosi karena Cakra tak kunjung datang kesana menemuinya. Berkali-kali juga telponnya tidak pernah diangkat membuat Tania tambah emosi dan ingin marah-marah bawaannya, ia merasa sudah dipermainkan oleh mafia itu dan hendak mencelakakan saja Velove karena Cakra telah berani bermain-main dengannya.


Velove juga tampak ketakutan, matanya membulat lebar merasa akan ada nasib buruk yang datang menimpanya karena papanya belum jelas entah kemana. Ia terus berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan dirinya dan bisa bebas dari tangan Tania serta Rizky, sesekali matanya juga melirik keluar mencari cara untuk membebaskan dirinya.


Tania yang emosi menoleh ke arah Velove dengan mata menyala seperti hendak membunuhnya, membuat Velove makin ketar-ketir karenanya. Sementara Rizky menepuk jidatnya merasa pusing harus menghadapi gadis emosian seperti Tania, ya walau ia paham mengapa Tania bisa seperti itu.


"Sabar! Jangan sampai lu bener-bener jadi pembunuh cuma karena Cakra telah datang, gimanapun juga yang namanya membunuh itu dilarang dan gak boleh dilakuin! Emang lu mau masuk penjara terus gak bisa ketemu lagi sama Rania? Udah kita pulang aja dulu, mungkin sekarang Cakra lagi gak bisa dateng!" ucap Rizky coba menenangkan gadis di sebelahnya.


Mendengar kata-kata Rizky membuat Tania sadar dan menghilangkan niat buruk dari pikirannya, ia mencoba tenang walaupun hatinya masih sulit melakukan itu karena terus kepikiran dengan Rania. Tak hanya Tania, Velove juga merasa lega karena perkataan Rizky berhasil membuat Tania lebih tenang sehingga ia tidak jadi mati.


"Yaudah, kita balik!" ucap Tania singkat.


"Oke,"


Rizky memundurkan mobilnya keluar dari kebun bambu tersebut, ia membawa Velove & Tania kembali ke tempat sebelumnya. Namun, di tengah jalan tiba-tiba Tania minta berhenti secara mendadak sehingga membuat Rizky kaget dan mengerem mobil dengan mendadak.


"Stop Rizky, stop!" teriak Tania.


Ciitttt....


"Apaan sih?" tanya Rizky syok.


"Hehe gue mau beli kebab dulu, bentar ya!" jawab Tania dengan santainya sambil nyengir.


Lagi-lagi Rizky dibuat geram dengan tingkah gadis tersebut yang dengan seenaknya meminta berhenti secara tiba-tiba, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena Tania sudah keluar dari mobilnya. Sementara Velove juga hampir dibuat jantungan karena Rizky mengerem secara mendadak, tubuhnya hampir saja terdorong ke depan dan terbentur kursi.


"Eh, lu gapapa kan?" tanya Rizky cemas kepada Velove karena ia melihat gadis itu tadi terdorong ke depan melalui kaca spion.

__ADS_1


Velove hanya bisa geleng-geleng kepala karena mulutnya masih ditutup lakban, Rizky yang mendapat jawaban itu merasa lega lalu mengelus dadanya. Rizky memperhatikan Tania dari dalam mobil dengan tatapan kesal, bisa-bisanya gadis itu malah tenang-tenang saja setelah bikin geger satu mobil.


"Sue emang tuh cewek!"




Tania sedang menunggu pesanannya selesai dibuat, ia tak memikirkan nasib Rizky & Velove di dalam mobil yang hampir dibuat jantungan karena tingkahnya. Tania membuka hp nya lalu coba menghubungi nomor Cakra kembali, tapi lagi-lagi tidak berhasil hingga ia pun sangat kesal dan gebrak-gebrak meja disana melepaskan kekesalannya.


"Waduh, neng! Jangan di pukul gitu dong meja saya, kasihan dia kan gak salah apa-apa!" ujar si abang penjual kebab.


"Eh, iya maaf kang!" ucap Tania merasa bersalah dan malu saat itu juga karena ia jadi pusat perhatian orang-orang disana.


Tania pun menundukkan kepalanya memainkan ponselnya di bawah meja, gadis itu tidak berani mengangkat kepalanya karena rasa malu yang ia rasakan sangat besar.


"Ish gara-gara si mafia songong ini, gue jadi dilihatin sama orang disini! Awas aja lu kalo berani menghindar dari gue, bakal gue abisin anak lu!" batin Tania menahan emosinya dengan mengepalkan tangan serta rahang bergetar.


Tiba-tiba saja seseorang menepuk punggungnya secara perlahan, Tania pun reflek mengangkat kepalanya duduk tegap menatap orang itu.


"Papa??" ujar Tania syok melihat papanya ada disana.


"Kamu kenapa, kok nunduk aja?" tanya William.


Semua orang disana tampak gugup lalu gemetar saat melihat kedatangan seorang bos besar seperti William Abraham disana, bahkan si penjual juga merasa senang tak menyangka jika William bisa hadir di warungnya yang kecil itu.


"Gapapa, pah! Aku emang suka aja main hp sambil nunduk kayak gitu, lebih enak!" jawab Tania nyengir.


"Iya, pah! Boleh kan?" ucap Tania manggut-manggut.


"Ya boleh dong," ucap William mengelus lembut rambut putrinya. "Oh ya, bang! Disini higienis kan gak kotor atau kenapa-napa?" sambungnya bertanya pada si penjual.


"Tenang aja, pak! Saya jamin disini mah bersih!" jawab penjual itu dengan gugup.


"Bagus, begitulah kalau jualan!" ucap William.


"Papa apaan sih? Kenapa nanya begitu coba?" ujar Tania menegur papanya.


"Ya kan papa mau mastiin aja, sayang! Gak ada salahnya kan? Papa cuma mau kamu sehat-sehat gak kena penyakit!" ucap William.


"Huh iya deh..." ucap Tania.


Tak lama kemudian, pesanan Tania pun selesai dan diantar ke meja oleh penjual itu. Tampak penjual tersebut gugup dan tangannya gemetar saat menyerahkan plastik kebab itu.


"Ini mbak, pesanannya!" ucap penjual itu.


"Makasih, kang!" ucap Tania hendak mengambil plastik itu dari tangan penjual, namun William mencegahnya dengan sigap.


"Jangan!" ujar William.


"Kenapa, pah?" tanya Tania bingung.

__ADS_1


"Kang, ini gak ada bungkus makanan yang higienis? Jangan plastik kayak gini dong, misalnya tempat yang bersih gitu contoh kotak..." ujar William.


"Eee ini kan di dalamnya sudah saya masukkan ke kotak, pak!" ucap penjual itu.


"Tau ih papa, gimana sih?" ujar Tania.


"Yaudah kalo gitu gausah pake plastik, lepas kang plastiknya!" ujar William.


"Siap, pak!" ucap penjual itu lalu kembali lagi untuk membuka plastiknya.


"Papa, kenapa harus kayak gini sih?" tanya Tania.


"Ya biar kamu sehat, sayang!" jawab William.


Penjual itu pun balik lagi membawa kotak kebab tanpa plastik lalu menyerahkannya pada Tania.


"Ini mbak, pak!" ucap penjual itu.


"Nah baru bener ini!" ujar William menampaninya.


Tania pun menyodorkan uang 50 ribu ke penjual itu, namun William menarik tangan putrinya tersebut.


"Kenapa lagi, pah?" tanya Tania mulai kesal.


"Biar papa aja yang bayar!" jawab William. "Kang, bisa pake kartu kan?" sambungnya.


"Waduh belum bisa, pak! Maklum warung saya kan masih kecil..." ucap penjualnya.


"Tuh, udah deh pah pake uang aku aja!" ucap Tania.


"Eh jangan, jangan! Papa juga ada uang cash kok," ucap William melarangnya. "Berapa semuanya, kang?" sambungnya.


"25 ribu aja pak..."


"Sebentar!"


William mengambil uang dari dompetnya, ia menyerahkan selembar uang 100 ribu pada penjual itu.


"Ini, kang! Kembaliannya ambil aja, makasih ya!" ucap William.


"Waduh, Alhamdulillah... makasih banyak, pak!" ucap penjual itu kesenengan.


"Sama-sama, yaudah yuk sayang kita pulang!" ucap William bangkit dari duduknya kemudian menarik tangan putrinya.


"Iya, pah!"


Tania hanya bisa pasrah dipaksa pulang oleh papanya, ia pun menoleh ke arah mobil Rizky lalu memberi kode agar pria itu segera pergi. Tentu Tania tak mau papanya mengetahui jika ia menculik seorang wanita demi menyelamatkan Rania.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2