
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 167
(Kemana Rania?)
...•...
...•...
Rania sudah sampai di rumah Velove alias mamanya itu yang sebelumnya memang sengaja mengajaknya kesana agar bisa membawa Rania untuk tinggal disana bersamanya, Rania pun tak menyadari itu karena baginya yang penting ia bisa makan masakan sang mama dan juga dekat dengan mamanya.
Begitu turun dari mobil, Rania langsung terpukau melihat sebuah rumah mewah yang cukup besar walau tidak seluas rumah William dan juga Cakra. Rania pun menoleh ke arah mamanya sambil tersenyum tanpa melepas genggaman tangannya dari telapak tangan sang mama.
"Mah, ini rumah mama?" tanya Rania.
"Iya sayang, Rania baru pertama kali kan lihat rumah mama ini? Maaf ya sayang, rumah mama emang gak sebesar rumah papa William atau rumahnya kakek Cakra!" ucap Velove mencolek pipi Rania.
"Gapapa mah, aku juga gak perduli soal itu kok! Yang penting aku bisa deket sama mama dan cobain masakan mama, pasti enak deh!" ucap Rania.
"Ahaha, Rania udah gak sabar ya buat makan? Emang kamu udah lapar lagi sayang? Kan tadi abis dikasih sandwich sama Bu guru cantik, apa Rania gak kekenyangan?" tanya Velove tersenyum.
"Aku masih lapar, mah! Aku juga pengen ngerasain makan masakannya mama, ayo mah kita langsung masuk aja ke dalam!" ucap Rania.
"Iya iya sayang..."
Velove tampak bahagia karena putrinya tak mempermasalahkan bentuk rumahnya yang tidak terlalu besar dan luas seperti rumah Cakra atau William, ia juga senang karena sekarang Rania mau ikut bersamanya ke dalam rumah itu.
Mereka pun jalan bergandengan memasuki ruang dalam rumah tersebut, ya rumah itu adalah hasil jerih payahnya sendiri sebagai seorang model profesi yang selama ini ia tekuni sampai ia bisa menghasilkan banyak uang dan membeli rumah.
__ADS_1
"Rumah mama keren banget, aku pasti betah deh kalo tinggal disini! Apalagi kalau ada kak Tania sama papa William, terus ayah Jordi juga!" ucap Rania.
"Hahaha, iya sayang! Tapi, sekarang kamu berdua dulu ya sama mama? Kita kan cuma mau makan siang aja, nanti kapan-kapan baru deh mama ajak mereka buat kesini juga!" ucap Velove.
"Iya mah, yuk kita makan!" ucap Rania.
"Bentar dong, Rania gak mau ganti baju dulu sekalian mandi gitu? Kan pasti Rania sekarang gerah nih, nanti seragam sekolah Rania bisa bau loh! Kita ke kamar dulu yuk, ganti baju sama mandi!" ucap Velove.
"Tapi, aku kan gak bawa baju ganti, mah!" ucap Rania.
"Tenang aja, sayang! Mama udah siapin semua kok buat Rania, mama tadi beliin baju yang bagus-bagus dan cantik buat Rania pake! Yuk, mama tunjukin sekalian juga mama kasih lihat kamar kamu!" ucap Velove tersenyum sumringah.
"Oke deh mah, makasih ya!" ucap Rania.
"Lucu banget sih kamu, sayang!" ucap Velove sembari mencolek pipi Rania gemas.
"Yaudah yuk, kita ke atas!" sambungnya.
Rania mengangguk pelan, sang mama yang masih menggandeng tangannya pun langsung bergerak maju menuju tangga untuk naik ke atas dan masuk ke kamar yang sudah disiapkan khusus untuk Rania.
Sesampainya di dalam kamar, Rania sangat terpesona melihat suasana kamarnya yang begitu indah dan menarik. Mayoritas warna biru muda ada di kamar tersebut, ya warna itu merupakan warna kesukaan Rania yang selalu membuatnya ceria.
"Wah cantik banget...!!" ujar Rania terpukau.
"Iya dong, mama kan siapin semuanya khusus buat Rania! Supaya kalau Rania mau tinggal disini, mama gak perlu susah-susah lagi!" ucap Velove.
"Makasih ya, mah!"
Rania tersenyum ceria menatap mamanya dengan sedikit mendongak, ia memeluk pinggang mamanya dan menciumnya sebagai bentuk kesenangannya sekaligus rasa terimakasih pada mamanya, Velove pun berjongkok lalu mendekap erat tubuh putrinya.
...•••...
Disisi lain, Tania & Revan mendatangi rumah Cakra karena mereka mengira kalau Velove membawa Rania kesana. Tania pun bergegas turun dari mobil lalu menuju ke gerbang rumah yang nampak sepi itu, ia heran lantaran disana seperti tidak ada orang dan ada sebuah spanduk yang tertempel disana.
Revan menyusul gadisnya lalu mendekati Tania dan merangkulnya dari samping, ia sangat yakin kalau Rania tidak mungkin dibawa kesana karena rumah itu sepertinya sudah kosong tak berpenghuni, ia pun berusaha menenangkan Tania agar gadis itu tidak histeris karena kehilangan Rania.
__ADS_1
"Sayang, tenang ya! Kayaknya Rania gak ada deh disini, tuh kamu baca aja spanduknya!" ucap Revan.
"Iya, tapi kenapa rumah ini disita ya? Terus kemana Velove bawa Rania pergi? Duh, aku khawatir banget kalau dia culik Rania dan aku gak akan bisa ketemu lagi sama Rania!" ujar Tania histeris.
"Hey, jangan mikir begitu dulu! Siapa tahu mamanya Rania cuma mau bawa anaknya jalan-jalan, lagian mana ada mama yang nyulik anaknya sendiri?" ucap Revan menenangkan gadisnya.
"Iya aku tau, tapi kan bisa aja dia sengaja bawa pergi jauh Rania supaya aku gak bisa ketemu lagi sama Rania! Dia tuh mau pisahin aku dari Rania, padahal dia udah janji loh sebelumnya!" ujar Tania.
"Tenang ya, kita cari lagi Rania! Aku yakin dia pasti baik-baik aja sama mamanya, kamu harus tenang dulu supaya kita juga bisa cari Rania sama-sama!" ucap Revan.
"Makasih ya," ucap Tania tersenyum.
Revan mendekap tubuh gadisnya lalu mengecup kening Tania sembari mengusap rambut gadis itu, ia berusaha terus membuat Tania tenang karena ia tidak bisa jika melihat gadisnya sedih dan panik seperti ini.
Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di dekat mereka dan seorang pria turun dari sana lalu menatap ke arah mereka. Tania terkejut saat melihat sosok pria tersebut karena ia merasa tak asing dengan pria disana.
"Tania?" ucap pria itu mendekati Tania.
Sontak Revan langsung melirik ke arah gadisnya penasaran apakah Tania mengenal pria itu atau tidak, sedangkan Tania sendiri masih tampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang dan membuatnya tak menyadari lirik mata Revan.
"Kamu ngapain disini?" tanyanya lagi.
"Siapa anda?" ujar Revan menyelak.
"Oh, kenalin saya Rizky!" ucapnya menyodorkan tangan ke depan Revan.
"Revan!" mereka pun berjabat tangan disana.
"Sayang, kamu kenal dia?" tanya Revan pada gadisnya sembari menatap tajam ke arah Tania meminta penjelasan.
"I-i-iya, dia temenku!" jawab Tania gugup.
Rizky tersenyum tipis melihat kecemburuan di wajah Revan, walau sebenarnya ia juga cemburu ketika mendengar pria itu menyebut Tania dengan panggilan sayang, yang artinya mungkin mereka memiliki hubungan khusus sehingga Rizky tak mungkin bisa lagi berharap pada Tania.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...