
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 100
(Self healing)
...•...
...•...
Sudah hampir satu jam Rianti berputar-putar di taman yang indah itu, ia merasa sudah cukup karena kakinya juga mulai terasa pegal akibat terlalu sering berdiri disana. Rianti pun duduk di bangku dekat pohon agar tidak terkena panasnya sinar matahari, ia mengambil ponselnya lalu memesan taksi online dari sana sembari terus mengipas-ngipaskan lehernya dengan telapak tangan.
Lionel yang berada tak jauh dari sana merasa kasihan pada sang istri yang rela panas-panasan dan sampai pegal seperti itu hanya demi menenangkan diri, ya ia juga merasa bersalah pada sang istri karena sudah membuatnya jadi seperti ini akibat dirinya yang tak bisa menahan diri. Lionel pun berniat menghampiri Rianti disana, ia tidak tega melihat istrinya keletihan dan kegerahan apalagi Rianti juga tengah mengandung anak keduanya.
"Saya harus samperin Rianti, kasihan Rianti kalau terus kecapekan! Itu pasti juga bisa berdampak buruk pada bayi dalam kandungannya, saya harus jaga kandungan itu dengan baik supaya Rianti tidak bisa meninggalkan saya!" batin Lionel.
Pria itu pun mulai melangkah maju mendekati istrinya yang tengah duduk disana, ia sengaja berjalan melalui samping agar Rianti tidak melihat kehadirannya disana.
Rianti tampak serius menatap layar ponselnya sehingga tak menyadari kalau di sampingnya saat ini sudah ada sang suami yang tengah memandanginya, Lionel hanya diam tersenyum kemudian mencolek lengan istrinya.
"Jangan macam-macam ya!" ujar Rianti kesal karena ada orang yang mencoleknya, ia langsung menoleh lalu terkejut karena ternyata suaminya ada disana.
"Ini aku sayang, kamu gausah panik!" ucap Lionel tersenyum kemudian duduk di samping istrinya, ia juga merangkul Rianti dan mendekapnya erat.
__ADS_1
"Mas, kamu ngapain sih kesini? Aku kan udah bilang mau self healing tolong dong kamu jangan ganggu aku dulu, aku ini masih marah loh sama kamu mas!" ucap Rianti menatap wajah Lionel dengan kesal.
Namun Lionel tak mau ambil pusing dengan kata-kata istrinya, ia tetap tersenyum menatap mata Rianti sembari membelai rambutnya yang berterbangan diterpa angin.
"Mending kamu pergi deh, mas! Aku juga udah pesan taksi mau lanjut jalan ke tempat lain, aku masih butuh waktu buat bisa terima kamu lagi seperti dulu! Karena rasanya sakit mas diselingkuhin sama suami, lepasin aku mas!" ujar Rianti kesal sembari melepas paksa tubuhnya dari dekapan Lionel dan berhasil.
Bahkan Rianti sampai mengusap-usap bagian tubuhnya yang disentuh Lionel tadi, melihat itu sedikit membuat Lionel tersentak dan menitikkan air mata walau ia berhasil menahannya agar tak tumpah dengan cara mendongak ke atas.
Rianti mengambil tas selempang miliknya kemudian bangkit dari tempat duduk itu, baru saja ia hendak melangkah namun sang suami dengan cekatan mencengkeram tangan Rianti.
"Tunggu!" ucap Lionel tegas.
"Ish lepasin, mas!" ujar Rianti meronta-ronta minta dilepaskan oleh Lionel, tetapi gagal karena tenaga Lionel memang lebih kuat dibanding dirinya.
"Aku gak bakal lepasin kamu dan juga gak akan izinin kamu buat pergi lagi, ingat Rianti aku masih sah jadi suami kamu dan aku berhak larang kamu untuk tidak pergi kemanapun! Dengar sayang, aku hanya gak mau bayi di dalam kandungan kamu itu kenapa-napa karena kamu sering bepergian kayak gini!" ucap Lionel berdiri menatap tajam ke wajah Rianti.
Akhirnya Rianti terdiam tak bisa berkata-kata lagi, ia juga teringat kalau saat ini sedang mengandung anak dari Lionel dan tentunya ia harus menjaganya dengan baik. Rianti pun tak lagi memberontak dan lebih memilih diam menuruti suaminya, Lionel sedikit merasa senang karena istrinya masih mau menurut dengannya walau tadi sedikit melawan.
"Mas, tapi aku udah pesan taksi!" ucap Rianti.
"Cancel aja, gampang kan?" ujar Lionel memandang sejenak ke wajah istrinya kemudian lanjut membawa sang istri ke parkiran mobilnya.
Tanpa berbasa-basi lagi, Lionel langsung mendorong tubuh istrinya masuk ke dalam mobil dan memasangkan seat belt di tubuhnya. Ia menutup kembali pintu mobilnya lalu berjalan memutar menuju pintu lainnya, ia duduk di kursi kemudi tepat di samping sang istri yang masih bengong.
"Udah dicancel?" tanya Lionel menatap wajah istrinya yang terlihat ketakutan.
Rianti hanya menjawab dengan anggukan pelan, matanya tampak berkaca-kaca sambil terus memegangi tangannya yang terasa sakit akibat cengkeraman keras suaminya tadi.
Lionel langsung tancap gas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia memandang istrinya yang masih diam dengan tatapan kosong menghadap ke depan.
__ADS_1
"Sayang, kamu mau mampir ke sekolah Athar dulu gak? Biar sekalian kita jemput dia mumpung lagi di jalan, jarang-jarang kan kita berdua jemput Athar!" ucap Lionel coba membuat istrinya tersenyum.
"Boleh mas, aku ngikut kamu aja!" ucap Rianti pelan.
Lionel pun mengarahkan mobilnya menuju sekolah Athar, tak lupa ia juga menghubungi Aliyah untuk tidak datang ke sekolah Athar karena ia sendiri yang akan menjemput putranya itu.
...•••...
Disisi lain, Joshua pulang ke rumah dengan perasaan senang karena berhasil membujuk Olivia dan membuat gadis itu tersenyum kembali. Joshua juga bahagia karena sebentar lagi akan menikah dengan Olivia dan segera melepas status lajangnya, ia terus senyum-senyum sendiri membayangkan jika Olivia telah resmi menjadi istrinya nanti.
Namun, khayalan Joshua terhenti lantaran ia baru ingat kalau masih menyekap seorang gadis di kamar atasnya. Tentu Joshua tak bisa terus melakukan itu karena sebentar lagi akan ada Olivia yang tinggal bersamanya di rumah itu, ia pun bangkit dari sofa kemudian bergegas menuju kamar atas menemui gadis tawanannya disana.
Ceklek...
Joshua membuka pintu kamar itu dengan pelan, ia memasukkan kepalanya lebih dulu untuk memastikan Felicia sedang apa di dalam sana. Matanya terbelalak melihat gadis itu tengah tertidur menghadap ke arahnya dengan mengenakan lingerie seksi yang sengaja ia belikan untuknya, gundukan di dada Felicia terlihat jelas membuat Joshua tertegun.
Dengan perlahan Joshua melangkahkan kakinya ke dalam kamar itu, ia menutup kembali pintu serta menguncinya dari dalam. Joshua pun berjalan mendekati Felicia sembari terus menatap dua gunung kembar yang terekspos sangat jelas, sesekali ia menyapu bibirnya karena pemandangan itu sangat indah untuk dinikmati.
"Waw miliknya 2 kali lipat dari punya Olivia, ini sih rugi kalau gue gak cicipi dulu!" gumamnya sembari terus mendekat ke arah Felicia.
Joshua membungkuk memandang lebih dekat bukit kenyal milik gadisnya dengan mata lebar, tangannya bergerak maju hendak menyentuh dan meremass gundukan tersebut.
Namun, Felicia malah bergerak mengganti posisi tidurnya menjadi terlentang. Tentunya ini semakin membuat Joshua tegang, burungnya pun sudah berdiri tegak dan siap untuk menerobos masuk ke milik Felicia yang menggoda.
Akhirnya Joshua naik ke ranjang, ia mengungkung gadisnya yang masih terlelap sambil membelai rambut lurus Felicia.
"Kayaknya dia cocok kalau gue jadiin sebagai pemuas, kali aja kan Olivia nanti gak bisa layanin gue!" batin Joshua.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...