Preman Cantik

Preman Cantik
{SEASON 2} Episode 158 (Tidak mau bicara)


__ADS_3

...HALO LAGI GUYS!...


...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...


..."PREMAN CANTIK 2"...


...~~~...


#PREMAN CANTIK S2 EPS. 102


(Tidak mau berbicara)


...•...


...•...


Setelah Tania kecil merasa tenang dan tak menangis lagi, rapat antara Reno & Tania pun akan segera dimulai dengan Indira sebagai sekretaris Reno akan mengutarakan apa yang menjadi bahasan utama mereka pada pertemuan kali ini.


Reno tampak tersenyum terus memandangi wajah cantik gadis di hadapannya yang tak lain ialah Tania, seorang wanita penakluk hatinya dulu ketika dia masih menjadi copet di jalanan. Sedangkan Tania sendiri merasa gugup sekaligus malu karena harus duduk satu meja dengan Reno, apalagi pria itu terus saja menatap ke arahnya tanpa memalingkan wajah sedikitpun.


Tania memang masih tak menyangka serta tak percaya kalau klien yang dimaksud papanya adalah Reno, mungkin jika ia tahu ia tidak akan mau datang menggantikan papanya untuk bertemu dengan Reno di molinara cafe ini. Hal itu karena Tania masih berusaha moveon dan melupakan semua tentang Reno di dalam hidupnya, tapi entah mengapa rasanya sulit bagi seorang Tania melakukan itu.


Indira telah usai menjelaskan produk yang akan mereka buat sebagai bagian dari kerjasama antara perusahaan William dengan pt. rero abadi milik Reno yang dirintis bersama mendiang istrinya yakni Rosa, Tania pun tertarik pada penjelasan Indira karena ia rasa produk ini akan laris di pasaran dan banyak peminatnya nanti.


Akhirnya tanpa berlama-lama lagi Tania langsung menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan Reno, yang artinya kemungkinan besar ia akan terus bertemu dengan Reno walau ia tak menginginkan itu semua terjadi.


"Aku gak mungkin batalin kerjasama ini, pasti papa bakalan marah dan kecewa sama aku! Selain itu, papa juga pasti bakal anggap aku gagal dalam melanjutkan bisnisnya terus nanti papa malah bingung harus ngurus perusahaannya seorang diri!" gumam Tania di dalam hatinya, ia masih ragu akan keputusan yang diambil namun pikiran tentang papanya membuat ia mau tak mau memang harus melanjutkan kerjasama tersebut.


Sebagai seorang anak tentu Tania tidak mau jika papanya terus bekerja di usia yang sudah semakin tua, Tania sangat ingin papanya hanya duduk beristirahat di rumah menikmati masa tuanya dan biarkan ia yang mengurus seluruh usaha milik papanya yang tersebar di seluruh dunia itu.

__ADS_1


Reno tampak senang melihat keputusan yang diambil Tania, ia tersenyum menatap wajah Tania sembari mengusap lembut puncak kepala putrinya yang tengah asyik menikmati pisang bakar madu kesukaannya.


"Baiklah, kalau begitu meeting kali ini telah usai dan saya harus segera pergi dari sini karena masih banyak urusan di luar! Terimakasih pak Reno serta bu Indira atas pembahasannya tadi, saya permisi ya!" ucap Tania langsung berpamitan karena tak bisa berlama-lama disana bersama Reno.


"Ah iya, terimakasih juga bu Tania karena sudah mau menandatangani kontrak kerjasama perusahaan kita! Saya harap proyek kita berjalan lancar dan bisa menggebrak pasar dunia, sungguh saya senang bekerjasama dengan anda!" ucap Reno ikut bangkit menyodorkan tangan ke arah Tania.


Tania hanya tersenyum tipis sembari mengangguk pelan, ia kemudian pergi dari sana tanpa memperdulikan telapak tangan Reno yang mengajak dirinya bersalaman. Reno terdiam memandangi punggung Tania yang perlahan hilang, ia jujur kecewa karena Tania masih dingin padanya.


Sementara Renata sang sekretaris William pergi menyusul Tania keluar cafe, rupanya ia hendak memberikan tas milik bos barunya itu yang tertinggal di atas meja karena Tania buru-buru pergi.


"Bu, tunggu bu!" ujar Renata berteriak memanggil Tania, akhirnya ia berhasil menyusul gadis itu dengan nafas tersengal-sengal.


Tania pun menghentikan langkahnya lalu menatap wajah Renata dengan penuh keheranan.


"Ada apa, Renata?" tanya Tania.


"Ini bu, tas ibu tadi ketinggalan di atas meja! Saya sengaja keluar mengejar ibu takutnya ini penting," jawab Renata masih terengah-engah.


"Sama-sama bu, yasudah ibu bisa lanjut jalan kok!" ucap Renata memberi jalan pada bosnya.


"Terimakasih," ucap Tania singkat kemudian berjalan menuju mobil miliknya yang terparkir di depan cafe, terlihat Riko masih berdiri disana menunggu nona nya sembari tersenyum.


Riko yang melihat nona nya sudah keluar, ia langsung membukakan pintu mobil agar Tania bisa masuk ke dalam.


"Silahkan, non!" ucap Riko menahan pintu mobilnya.


"Terimakasih, pak!" ucap Tania singkat sembari melempar senyum pada Riko.


Disaat Tania hendak melangkah masuk ke dalam mobil, tiba-tiba ada suara teriakan seorang pria memanggil namanya dari belakang yang jika didengar melalui telinga maka tak asing bagi Tania.

__ADS_1


"Tania, tunggu!" teriak Reno dari arah depan cafe.


Reno langsung berlari mendekati Tania yang sudah berhenti di depan mobilnya, ia tampak tak mau Tania pergi dari sana saat ini.


"Ada apa lagi?" tanya Tania penasaran.


"Tolong, jangan pergi dulu! Aku masih ingin berbicara padamu Tania, kita kembali ke dalam sebentar! Aku janji gak akan lama kok, kamu mau kan?" ucap Reno.


Tania terdiam sejenak mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia tidak tahu apa yang dirasakannya saat ini ketika berhadapan langsung dengan Reno dan ditatap dalam jarak sedekat ini.


Riko langsung maju menyadari kalau nona nya tidak mau berbicara pada pria di depannya, tentu sebagai seorang pengawal Riko memilki inisiatif untuk menjaga nona nya dari orang yang hendak menyakitinya termasuk Reno.


"Maaf, jangan paksa non Tania! Sebaiknya anda pergi dari sini, karena non Tania tidak mau berbicara dengan anda!" ucap Riko tegas.


"Ayolah Tania, sebentar saja!" paksa Reno masih saja memohon pada gadisnya agar mau berbicara padanya di dalam cafe sana.


"Reno, pembicaraan kita sudah selesai tadi dan sekarang aku harus pulang! Pak Riko, ayo kita pergi dan biarkan saja dia!" ucap Tania tetap tak mau berbicara pada Reno, ia langsung masuk ke dalam mobil tanpa memperdulikan pria itu.


Reno berusaha mencegah Tania, akan tetapi Riko dengan sigap menahannya dan berdiri tepat di hadapan Reno.


"Silahkan pergi, pak! Jangan paksa non Tania untuk berbicara dengan anda, karena beliau tidak mau melakukan itu!" ucap Riko menatap tajam ke arah Reno.


"Jangan halangi saya, ini bukan urusan anda! Biarkan saya menemui Tania sebentar saja, karena saya hanya ingin berbicara padanya!" ucap Reno.


"Jelas ini sudah menjadi urusan saya, karena saya ini pengawal non Tania! Cepat pergi sebelum saya emosi dan menghajar anda disini!" ucap Riko mengancam Reno dengan mengepalkan tangan.


Reno terdiam melirik sekilas ke arah Tania yang sudah berada di mobilnya, ia sadar betul kalau gadis itu memang tak mau berbicara dengannya sekarang. Akhirnya Reno pun pergi dari sana, ia kembali ke dalam cafe menemui putrinya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2