Preman Cantik

Preman Cantik
{SEASON 2} Episode 373 (Gak tidur semalaman)


__ADS_3

...HALO LAGI GUYS!...


...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...


..."PREMAN CANTIK 2"...


...~~~...


#PREMAN CANTIK S2 EPS. 316


(Gak tidur semalaman)


...•...


...•...


Setelah selesai mandi dan berpakaian, Reno serta Lyota pun keluar kamar bersamaan lalu menuju meja makan dengan bergandengan tangan. Ya keduanya amat sangat puas karena malam tadi benar-benar mereka habiskan untuk saling bercengkrama menikmati malam pertama, sampai-sampai Reno saat ini masih terus membayangkan kejadian itu.


Melihat cara berjalan Lyota yang sangat berbeda dari biasanya, Darma pun yakin kalau putranya telah berhasil menerobos dinding menantunya itu dan ia reflek tersenyum saat itu juga. Sedangkan Anggi memandang tak suka pada sosok Lyota yang tengah melangkah menuju kesana, ya Anggi memang masih belum bisa seratus persen menerima Lyota disana.


"Mah, pah, Tania. Maaf ya kita agak terlambat datangnya!" ucap Reno tersenyum sambil duduk di kursi seperti biasa, ia juga menarik kursi agar Lyota bisa lebih muda duduk.


"Iya mama, maaf juga ya karena aku tadi gak bisa bantu mama buat siapin makan sahur! Sebenarnya aku mau banget, tapi aku bangunnya kesiangan. Jadinya aku gak bisa deh bantuin mama, maaf ya mah!" ucap Lyota merasa tidak enak.


"Halah alasan! Bilang aja kamu emang sengaja gak mau bantu mama, iya kan?!" ujar Anggi jutek.


"Mama!" tegur Darma kesal.


"Eee Lyota, gapapa kok sayang. Kita juga paham kok kenapa kalian bangunnya terlambat, namanya juga pengantin baru. Apalagi ini kan malam pertama buat kalian, jadi santai aja!" sambung Darma tersenyum.


"Terus aja terus, belain tuh menantu yang gak tahu diri! Udah pemalas, pake banyak alasan lagi!" cibir Anggi sambil pura-pura menatap ke arah lain.


Sontak Darma serta Reno kompak menatap tajam ke arah Anggi setelah Anggi bicara seperti itu, ya mereka tentunya tak suka dan tidak enak pada Lyota karena terlihat kalau wanita itu sekarang menunduk seperti merasa bersalah, Darma pun kembali menegur istrinya itu.


"Mah, mama jangan gitu dong sama Lyota! Papa yakin kok, Lyota itu rajin!" ujar Darma.

__ADS_1


"Rajin apanya sih, pah? Kalau emang dia niat mau bantu mama dan bik Surti siapin sahur, harusnya dia bangun dong pagi-pagi tadi! Jangan cuma ngasih alasan aja!" ujar Anggi.


"Mah, udah ya mah jangan diterusin! Ini kita kan mau makan sahur, masa malah ribut-ribut begini?" ucap Reno coba menenangkan mamanya.


"Betul itu!" sahut Darma.


Anggi pun hanya memutar bola matanya seperti tak menanggapi omongan Darma dan Reno, ia kembali melanjutkan makannya tanpa berbicara apapun dan tidak perduli dengan apa yang dibicarakan oleh semua orang di meja makan.


Pandangan Reno kini beralih pada sosok Tania kecil yang ada di dekatnya, ia heran melihat putrinya itu hanya melamun dan tidak menyentuh makanannya sama sekali.


"Hey, Tania sayang! Kamu kenapa bengong aja sih daritadi?" ujar Reno menyapa putrinya.


"Eh papa, aku gapapa kok. Aku cuma pengen disuapin aja sama mama Lyota, boleh gak pah?" ucap Tania kecil.


"Ohh, kamu mau disuapin sama mama? Ya boleh dong sayang, mama justru senang!" ujar Lyota.


"Nah tuh, mama udah mau nyuapin kamu. Sekarang Tania harus makan yang lahap, ya? Kan Tania mau puasa lagi hari ini, udah bolong berapa hari ya Tania?" ucap Reno.


"Belum ada dong, pah. Aku kan anak yang kuat!" ucap Tania kecil tersenyum.


"Yuk sini mama siapin!" ucap Lyota.


"Iya mah,"


Akhirnya Lyota pun menyuapi anak tirinya itu dengan senang hati, walau masih ada sedikit rasa tidak enak ketika ia menatap wajah Anggi yang seperti memang belum memaafkan dirinya. Padahal Lyota juga bangun kesiangan karena ulah Reno yang tak ingin berhenti bermain dengannya, sehingga mereka pun terlambat bangun sahur di pagi pertama ini.


...•••...


Disisi lain, Tania mendatangi kamar Arsen untuk mengecek apakah pria itu sudah bangun atau belum. Karena hingga kini Arsen tak kunjung keluar kamar untuk melaksanakan sahur bersama mereka, sehingga Tania berpikir mungkin saja Arsen memang belum terbangun dari tidurnya dan ia khawatir Arsen akan kesiangan bahkan telat sahur di hari ini.


Tania pun mengetuk pintu kamar Arsen sembari memanggil nama kakaknya itu, ia baru ingat kalau semalam Arsen memang tidur larut dan mungkin saja karena itu Arsen kesiangan. Ya Tania juga masih merasa kasihan pada kakaknya yang sampai tidak bisa tidur karena memikirkan Velove, apalagi ia tahu Arsen memang sangat mencintai Velove.


TOK TOK TOK...


"Kak Arsen, bangun kak! Ini waktunya sahur loh, kita sahur dulu yuk bareng-bareng! Itu makanan udah pada siap kak, yuk bangun nanti kan tidurnya bisa dilanjut lagi abis sahur!" ucap Tania.

__ADS_1


Tak ada jawaban dari dalam kamar Arsen, Tania pun berpikir Arsen memang masih terlelap.


"Duh, kak Arsen kok gak jawab ya? Apa emang kak Arsen masih tidur? Terus aku harus gimana dong buat bikin kak Arsen bangun?" gumam Tania.


Tak lama kemudian, pintu pun terbuka.


Ceklek...


"Kak Arsen? Huh ternyata kak Arsen udah bangun, aku pikir tadi kak Arsen masih tidur loh. Yaudah yuk kak, kita ke meja makan sekarang! Udah pada siap loh disana buat sahur," ucap Tania tersenyum.


"Iya Tania, makasih ya udah bangunin kakak! Tapi, kakak ini udah bangun daritadi kok. Malahan kakak emang gak tidur dari semalam, gak tahu kenapa kakak gak bisa tidur aja Tania! Kakak selalu kepikiran sama Velove," ucap Arsen lemas.


"Hah? Jadi kak Arsen gak tidur semalaman gara-gara mikirin Velove? Ya ampun kak, kenapa sih kak Arsen itu sampe kayak gini banget?" ucap Tania cemas.


"Gak tahu deh, kayaknya kakak emang udah terlanjur suka banget sama Velove. Kakak masih belum bisa terima aja dia harus dilamar sama orang lain, karena kakak kan tulus sayang sama dia!" ucap Arsen.


"Eee duh aku jadi makin gak enak sama kakak, maaf ya kak karena aku sebelumnya yang udah maksa Velove buat terima lamaran Rizky! Tapi, itu karena aku gak tahu kalau kak Arsen suka sama Velove! Kalau misal aku tahu, pasti aku bakal suruh Velove buat jadian sama kakak kok!" ucap Tania.


"Iya sayang, kakak kan juga gak nyalahin kamu! Udah lah gak perlu sedih begitu!" ujar Arsen.


Arsen mengusap wajah adiknya itu dengan lembut, membuat Tania merasa sedikit lega walau masih belum sepenuhnya. Ya karena ia tahu sekali bagaimana perasaan Arsen saat ini.


"Yaudah kak, kakak udah cuci muka belum? Supaya segar aja gitu dan gak ngantuk pas di meja makan," tanya Tania.


"Udah kok," jawab Arsen tersenyum tipis.


"Oh, syukur deh!" ucap Tania.


"Yuk kita ke meja makan sekarang! Kamu jangan bahas soal ini di depan papa!" ucap Arsen.


"Eee iya kak, siap!" ucap Tania.


Akhirnya Arsen melangkah maju dan merangkul sang adik dari samping, mereka pun berjalan menuju meja makan secara bersamaan.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2