Preman Cantik

Preman Cantik
{SEASON 2} Episode 287 (Papa Rania)


__ADS_3

...HALO LAGI GUYS!...


...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...


..."PREMAN CANTIK 2"...


...~~~...


#PREMAN CANTIK S2 EPS. 230


(Papa Rania)


...•...


...•...


Revan dan Tania saat ini tengah dalam perjalanan menuju lokasi sekolah Rania untuk menjemput gadis kecil tersebut, ya keduanya tampak senyum-senyum sepanjang perjalanan dan saling tatap menatap. Entah mengapa Tania masih belum bisa melupakan cerita dari Eva di rumahnya tadi tentang masa kecil Revan yang benar-benar membuatnya tertawa.


Revan pun merasa bingung dengan tingkah dan kelakuan calon istrinya itu saat ini, terlebih sedari tadi memang Tania hanya tersenyum sendiri padahal tidak ada yang lucu. Ia pun coba bertanya kepada Tania untuk bisa mendapatkan jawaban, karena ia sudah tidak tahan dengan rasa penasarannya itu dan ingin segera tahu apa penyebab Tania senyum.


"Sayang, kamu kenapa sih? Kok daritadi aku perhatiin, kamu senyum-senyum terus begitu? Emang ada yang salah dari aku, ya?" tanya Revan.


"Hahaha, gak ada kok. Tadi aku cuma keinget sama cerita mama kamu aja, soal masa kecil kamu itu loh. Soalnya itu lucu banget tau, aku gak nyangka seorang Revan bisa kayak gitu!" jawab Tania.


"Yeh jahat kamu ya! Bisa-bisanya ngetawain calon suami sendiri, awas aja kamu!" ujar Revan.


"Ahaha, ih itu lucu tau! Kamu jangan marah dong! Lagian gapapa kok, cerita masa kecil kamu itu kan udah bikin rasa canggung aku ke mama jadi hilang. Terus aku bisa deh ngobrol lepas sama mama, tanpa rasa canggung lagi kayak pertama tadi." ucap Tania.


"Ya iya sih, tapi tetep aja aku malu." ujar Revan.


"Udah gausah malu! Kan sebentar lagi aku bakal jadi istri kamu, harusnya kamu gak perlu malu dong sama istri kamu sendiri!" ucap Tania.


"Cie yang udah gak sabar buat jadi istrinya Revan, pasti kamu pengen banget ya tidur sekamar sama aku?" ucap Revan meledek Tania.

__ADS_1


"Hah? Apa sih ih? Itu mah kamu kali! Mana ada aku kayak gitu??" ujar Tania cemberut.


Revan pun tertawa lepas dan keras melihat ekspresi Tania yang menggemaskan itu saat sedang ngambek, terlebih Tania juga melipat kedua tangannya di dada yang semakin membuat Revan tak tahan lagi untuk mencubit pipi gembul milik Tania yang semakin menggemaskan.


"Hey!" sapa Revan sambil menoleh ke arah Tania.


"Ya? Kenapa?" tanya Tania.


"Aku sayang sama kamu!" jawab Revan sambil tersenyum dan mencubit pipi Tania.


"Aku juga," ucap Tania ikut tersenyum.


"Oh ya, nanti kalau misal kita udah nikah. Kamu mau tinggal dimana? Di rumah aku sama papa mama aku, atau tetap di rumah kamu sama papa kamu dan Rania?" tanya Revan.


"Eee aku juga belum tau, Van. Itu dia yang aku bingungin, karena aku gak tega tinggalin papa sendirian di rumah. Apalagi papa kan udah tua, aku gak mau papa sampe kenapa-napa dan gak ada aku di sampingnya!" jawab Tania.


"Iya juga sih, terus gimana keputusan kamu?" tanya Revan lagi.


"Ohh, kamu punya kakak?" tanya Revan.


"Punya dong, satu. Kakak cowok namanya kak Arsen, dia itu baik dan perhatian banget sama aku dulu. Ya bisa dibilang dia juga penyelamat hidup aku, karena dia yang pertama temuin aku dan bawa aku ketemu sama papa di rumah." ucap Tania tersenyum.


"Terus, sekarang dia dimana?" tanya Revan.


"Eee kak Arsen masih di Finland, dia gak bisa kesini karena harus mengurus sesuatu disana." jawab Tania berbohong.


Tania terpaksa berbohong pada Revan, karena ia tak mungkin mengatakan yang sejujurnya jika Arsen saat ini tengah mendekam di penjara akibat membunuh ibu kandungnya sendiri.




Sesampainya di sekolahan Rania, keduanya tampak tersenyum begitu melihat sosok gadis kecil tengah berdiri di depan gerbang sekolah menanti kehadiran jemputan untuknya. Ya tentunya gadis kecil itu ialah Rania alias adik dari Tania yang selalu membuat Tania bahagia dikala sedih, apalagi Rania merupakan anak yang periang dan menggemaskan.

__ADS_1


Tanpa berlama-lama lagi, Tania pun turun dari mobil lebih dulu saat mobilnya sudah berhenti tepat di depan pagar sekolah tempat Rania berdiri dan meninggalkan Revan begitu saja disana. Tania langsung menghampiri Rania disana dan memeluk erat gadis kecil tersebut, ia sangat rindu pada Rania walau baru beberapa jam saja mereka tak bertemu.


"Kakak kangen sama kamu sayang!" ucap Tania sembari mendekap erat adiknya.


"Iya kak, aku juga." ucap Rania lemas.


Mendengar suara Rania yang lemas seperti tak bertenaga, Tania tampak khawatir dan langsung melepas pelukannya sejenak untuk memastikan bahwa Rania baik-baik saja. Tania memegang wajah Rania dengan dua tangannya, lalu coba bertanya pada sang adik mengapa wajahnya terlihat cemberut seperti itu dan suaranya juga lemas.


"Loh sayang, kamu kenapa? Ada yang jahatin kamu atau gimana?" tanya Tania cemas.


Rania hanya menggeleng dengan bibir mengatup, ia seperti bersedih dan memikirkan sesuatu yang membuatnya sedih. Hal itu pun membuat Tania alias sang kakak tampak semakin risau, dan khawatir jika terjadi sesuatu pada adiknya yang membuat Rania sampai bersedih seperti itu.


"Kamu kenapa sayang? Cerita aja sama kakak!" ucap Tania kembali bertanya pada adiknya.


"Aku gapapa, kak. Aku cuma iri aja sama Athar, dia dijemput sama mama papanya di sekolah. Sedangkan aku aja gak tahu siapa papa aku dan dimana papa sekarang, aku pengen juga kak kayak Athar tadi." jawab Rania dengan raut bersedih.


Tania terhenyak mendengar perkataan adiknya, ia menoleh ke arah Revan bermaksud meminta bantuan pada pria tersebut.


"Eee Rania, kamu jangan sedih lagi ya! Papa Rania itu mungkin lagi sibuk dan banyak kerjaan, jadi dia masih belum bisa jemput Rania ke sekolah. Sekarang Rania sabar dulu, ya! Siapa tahu kan besok atau kapan-kapan papa Rania juga bakal datang buat jemput Rania di sekolah?" bujuk Tania.


"Iya Rania sayang, lagian kan disini sekarang ada kak Revan sama kak Tania. Rania bisa kok anggap kak Revan ini sebagai papa Rania kalau Rania mau, asalkan Rania gak sedih-sedih lagi ya!" ucap Revan.


"Beneran kak Revan?" ujar Rania.


"Iya dong, Rania panggil aja kak Revan dengan sebutan papa! Jadi, sekarang papanya Rania ada tiga dan lebih banyak malah dari Athar!" ucap Revan.


"Yeay asik! Makasih papa Revan!" ucap Rania berteriak gembira, lalu berlari mendekati Revan dan mendekap tubuh pria tersebut dengan erat.


Tania ikut merasa bahagia melihat Rania dapat tersenyum kembali, ya walau ia tidak senang karena Revan mengatakan ingin menjadi papa Rania.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2