
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 214
(Hormati saya)
...•...
...•...
Revan, Tania dan juga Rania sudah sampai di rumah William dengan tepat waktu. Gadis kecil itu pun langsung turun dari mobil dan berlari menuju rumahnya untuk segera menemui William sang papa, sepertinya Rania sedang ingin bertemu dengan William saat ini sampai ia tak menghiraukan panggilan dari Tania yang khawatir jika ia jatuh.
Awalnya Tania ingin mengejar adiknya itu, namun Revan dengan cepat menahannya dan mencekal lengan Tania dari belakang. Revan tidak mau jika gadisnya itu pergi mengejar Rania, karena ia masih ingin berduaan dengan Tania disana. Ya akhirnya Tania pun terpaksa tetap bersama Revan, karena ia juga sudah melihat sendiri Rania aman dan masuk ke dalam rumahnya tanpa terjatuh.
Revan pun menarik tangan Tania hingga gadis itu kini berada dalam dekapan tubuhnya, Tania tampak canggung saat bertatapan langsung dengan Revan sedekat ini, apalagi sebelumnya mereka pernah melakukan tindakan ekstrim ketika di ruang kerja Revan walau hanya untuk mengerjai Karina.
"Hey! Kok malah ngelirik ke arah lain sih? Mata aku itu disini, bukan disana atau disono!" ucap Revan menegur Tania, ia sampai harus mencengkeram rahang Tania agar mau menatap matanya.
"Van, kita ke dalam dulu yuk! Kamu harus izin sama papa aku, kalau kamu mau bawa aku sama Rania jalan-jalan!" ucap Tania meminta pada kekasihnya itu untuk masuk dan menemui papanya.
"Iya, nanti aku izin kok. Sekarang aku mau keliling rumah kamu dulu dong, kan selama ini aku belum bisa ngunjungin semua area di rumah kamu ini. Soalnya luas banget sih, ini mah dijadiin stadion bola juga dapet dua kali ya?" ujar Revan.
"Hahaha, ada-ada aja kamu ah! Yaudah, kamu mau aku temenin kelilingnya? Apa kamu mau sendirian aja, biar aku bisa ke dalam temenin Rania?" tanya Tania kepada tunangannya itu.
"Ya pasti ditemenin kamu dong, sayang! Yakali aku keliling rumah seluas ini sendirian, gabut dong aku gak ada temen ngobrol sama orang buat dipeluk atau dicium gitu. Kalo ada kamu kan aku jadi tambah seneng, udah bisa ngeliat pemandangan indah terus ada yang bisa dipeluk sama dicium deh!" ucap Revan sambil tersenyum.
"Hadeh, yaudah iya aku temenin..." ujar Tania.
__ADS_1
"Bagus, sayang! Yuk kita langsung aja jalan keliling rumah kamu yang luas ini!" ucap Revan melepas cengkeramannya dari rahang Tania, lalu menggenggam tangan gadisnya itu.
Tania hanya mengangguk pelan, ia melangkah ke depan mengikuti langkah kaki Revan.
Saat mereka sampai di kebun belakang rumah Tania, Revan tampak terpukau dengan keindahan disana. Kolam berisi ikan-ikan mahal, serta air terjun mini dan terdapat perosotan air untuk tempat bermain anak-anak, berhasil membuat Revan merasa bahwa ia bukan sedang berada di rumah melainkan istana.
"Waw! Rumah kamu emang luar biasa! Ini sih kalau dijadiin tempat wisata, aku yakin banyak juga yang mau dateng kesini!" ucap Revan.
"Ahaha, kalo gitu kamu saranin deh ke papa aku! Siapa tau papa emang mau buka tempat wisata di rumahnya ini, ahaha.." ujar Tania sambil tertawa kecil.
Sembari menikmati pemandangan disana, Revan terus merekatkan gandengannya lalu merangkul pundak sang kekasih. Dengan halus Revan menghirup aroma tubuh Tania yang harum itu melalui lehernya, Tania terpejam saat hembusan nafas Revan terasa di kulit lehernya.
"Van, kamu jangan kayak tadi lagi ya!" ucap Tania memperingati Revan.
"Hadeh, padahal aku baru mau gituin kamu." ucap Revan mendengus kesal.
"Ish, aku gak mau ah! Kita belum nikah tau, gak boleh!" ucap Tania langsung bergerak menjauh dari tubuh kekasihnya.
...•••...
Disisi lain, Reno tengah mengantar Lyota pulang ke rumahnya setelah mereka berdua membawa Tania kecil jalan-jalan ke sebuah hutan cemara dan mengantarkan Tania kecil pulang menemui oma serta opanya alias Darma dan Anggi tentunya.
Sepanjang perjalanan, keduanya hanya terdiam tak saling bicara. Tampaknya Lyota masih canggung dan bingung harus bagaimana menjawab lamaran Reno padanya, itulah yang membuat ia memilih diam saat ini daripada Reno nantinya akan membahas mengenai jawabannya.
Sementara Reno sendiri juga ingin fokus ke jalan dan memilih menunggu sampai Lyota mau berbicara padanya, sebenarnya Reno memang penasaran dan sudah tidak sabar ingin tau apa jawaban dari Lyota. Namun, pria itu memilih tetap diam untuk saat ini.
Ciitttt...
Reno menginjak pedal rem secara mendadak, membuat Lyota terkejut dan reflek menganga sembari memegangi dadanya lalu menoleh ke arah Reno bermaksud memarahi pria tersebut karena ceroboh dengan mengerem mendadak.
"Reno, lu itu—"
"Ssshhh! Jangan marah-marah dulu! Saya bisa jelasin kok kenapa saya ngerem mendadak, sabar ya!" potong Reno dengan cepat sembari menempelkan telunjuknya pada bibir Lyota.
__ADS_1
"Apa?" tanya Lyota.
Reno mendekat ke arah Lyota, satu tangannya bergerak merangkul pundak gadis itu dan yang satunya lagi ia gunakan untuk merapihkan rambut Lyota sembari sesekali membelai bibir mungilnya.
Cupp...
Reno mendaratkan kecupan manis dan lembut pada kening Lyota yang mulus itu, cukup lama ia menempelkan bibirnya disana dengan tangan yang terus menahan tengkuk Lyota agar gadis itu tidak bergerak maupun menghindarinya.
"Ren, lu apa-apaan sih?" tanya Lyota tampak kesal dan terheran-heran dengan kelakuan Reno.
Reno pun melepas kecupannya lalu menyeka bibirnya mengenakan telapak tangan tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Lyota.
"Saya mau cium kamu, itu dia alasannya." jawab Reno dengan santainya sambil tersenyum.
"Hah? Itu doang? Ya ampun, lu hampir bikin gue jantungan dan celaka cuma karena lu pengen cium kening gue? Haish, bener-bener udah gila nih om-om satu ya! Lu bikin gue panik tau gak! Kan lu bisa cium gue pas sampe di rumah nanti, gak harus disini!" bentak Lyota kesal.
"Hey! Ini udah berapa kali coba kamu bentak saya begitu? Ingat Lyota, saya lebih tua dari kamu dan kamu harus menghormati saya!" ucap Reno.
"Ish! Buat apa gue hormat sama lu? Kecuali lu udah jadi suami gue, baru deh gue bakal sopan dan hormat sama lu!" ujar Lyota.
"Ohh, yaudah kalo gitu kapan kamu mau nikah sama saya? Saya siap kok, kapanpun kamu mau dan dimanapun tempatnya. Ayo, bilang aja sekarang sama saya!" ucap Reno tersenyum.
"Hah? Gue masih mau pikir-pikir dulu, emang lu kira nikah itu gampang? Gue kan harus persiapin semuanya dengan matang, gak bisa gue main terima lamaran lu dan nikah gitu aja sama lu!" ucap Lyota.
Reno tersenyum lalu kembali membelai bibir mungil gadis itu dengan jarinya.
Cupp..
Dan untuk kesekian kalinya Reno berhasil mencuri ciuman sekilas pada bibir Lyota setelah gadis itu terpana dengan sentuhan jari Reno.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1