
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 366
(Amarah yang meletup)
...•...
...•...
Arsen dan Velove datang berkunjung ke rumah Tania untuk menemui keluarga mereka yang ada disana, seperti tentunya Tania sendiri, Rania sang anak dari mereka serta William sang papa.
Keduanya sampai di rumah mengenakan mobil, tampak Arsen juga membantu Velove turun dari mobil dan membawa banyak sekali barang yang sebelumnya sudah mereka beli dari toko.
"Kak, ini semuanya mau langsung dibawa ke dalam kan?" tanya Velove.
"Iya dong sayang, masa iya ditinggal di mobil? Sebentar ya, aku minta bantuan sama pak Riko dan yang lainnya!" ucap Arsen.
"Ohh oke kak!" ucap Velove tersenyum.
Arsen pun memanggil Riko dengan gestur tangannya yang sudah dihafal oleh pria itu, ya karena Riko telah bekerja cukup lama bersama Arsen menjadi sang penjaga atau lebih ke asisten.
"Ada apa ya bos?" tanya Riko.
"Tolong bantu saya bawa semua barang-barang ini ke dalam, minta bantuan aja sama anak buah kamu kalau gak kuat!" ucap Arsen.
"Oh siap bos!" ucap Riko.
"Yasudah, saya tunggu di dalam ya! Ayo sayang, kita langsung masuk aja!" ucap Arsen.
"Baik bos!" ucap Riko.
Riko pun memanggil teman-teman penjaga disana untuk membantunya membawa semua barang bawaan Arsen dan Velove, sedangkan sepasang pengantin itu berjalan masuk ke dalam secara bersamaan.
Baru saja mereka sampai di teras, namun Tania sudah keluar dan tampak rapih seperti orang yang hendak bepergian. Tentu saja Arsen terkejut melihatnya, karena ia datang kesana untuk bertemu dan bicara dengan Tania sang adik.
Tania sendiri terkejut melihat kehadiran kakaknya bersama sang istri disana, ya karena Arsen tak mengabari lebih dulu sebelumnya jika ia dan Velove ingin datang kesana.
"Loh Tania? Kamu mau kemana sih rapih banget kayak gitu?" ujar Arsen.
"Kak Arsen? Velove? Kalian kok gak ngabarin dulu sih kalo mau datang kesini? Jadinya kan aku bisa tunda jadwal meeting aku!" ucap Tania.
"Ohh kamu mau meeting?" tanya Arsen.
"Iya kak, aku udah ada janji sama klien hari ini! Kakak sih gak ngabarin aku dulu, jadi aja kayak gini deh!" ucap Tania cemberut.
"Hahaha gausah cemberut kayak gitu lah! Kakak kan niatnya pengen kasih kejutan buat kamu, eh malah kakak sendiri yang terkejut gara-gara ngeliat kamu udah rapih mau pergi!" ucap Arsen tertawa.
"Maaf ya kak! Aku gak bisa temenin kakak sekarang, aku harus meeting dulu!" ucap Tania.
"Iya gapapa, urus perusahaan papa yang bener loh jangan korupsi!" sarkas Arsen.
"Haish, ya iyalah kak pasti! Ngapain juga aku korupsi? Itu kan perusahaan punya aku sendiri, gak ada gunanya dong!" ucap Tania.
"Hahaha bercanda sayang! Eh kamu gak mau peluk kakak dulu nih?" ucap Arsen.
"Mau dong kak!" jawab Tania.
Tanpa basa-basi lagi, Tania langsung bergerak maju memeluk sang kakak dengan erat sambil meneteskan air mata kerinduan. Ya biarpun ia dan Arsen seringkali tidak akur, namun ketika berjauhan tentu Tania sangat merindukan sosok Arsen yang selalu membuatnya jengkel itu.
"Aku kangen sama kakak! Kapan sih kak Arsen sama Velove mau tinggal disini lagi?" ucap Tania.
"Hahaha cie yang kangen sama kakak nih ye! Sabar aja cantik, gak lama lagi juga kita bakalan gabung tinggal disini lagi kok sama kamu, papa dan Rania! Jangan nangis atuh, jadi jelek nanti!" ujar Arsen.
__ADS_1
"Ih kakak mah iseng banget sih!" cibir Tania.
"Abis kamu lucu sayang! Udah ya jangan nangis terus, basah nih baju kakak kena air mata kamu!" ucap Arsen melepas pelukannya.
"Iya iya, maaf ya kak!" ucap Tania sembari menghapus air matanya.
Arsen tersenyum dan justru kembali memeluk adiknya itu, kini gantian ia yang mengatakan kalau ia juga merindukan sosok Tania dan merasa kehilangan sesuatu dari hidupnya saat berjauhan dengan sang adik.
"Kakak juga kangen kamu sayang! Maaf ya kalau sikap kakak kadang bikin kamu kesal atau apa, itu cuma bercanda doang kok!" ucap Arsen sembari mengelus punggung adiknya.
"Iya kak, aku tahu kok!" ucap Tania.
Velove yang sedari tadi menyaksikan momen haru itu, ikut merasa sedih karena ia tahu bagaimana sedihnya sepasang adik-kakak itu.
•
•
Singkat cerita, Tania telah pergi menuju kantornya bersama Revan dengan mobilnya. Namun, gadis itu tampak masih bersedih mengingat pertemuan ia dengan Arsen sang kakak tadi.
Revan pun sadar akan kesedihan kekasihnya, ia menoleh ke samping lalu coba menanyakan apa masalah yang sedang dirasakan oleh Tania sambil mengusap wajahnya lembut.
"Sayang, kamu lagi mikirin apa sih? Kok kayaknya sedih banget begitu? Cerita dong!" tanya Revan.
"Eee aku itu masih sedih aja, Van. Soalnya tadi kak Arsen datang ke rumah sama Velove, tapi aku baru sempat ketemu mereka sebentar!" jawab Tania.
"Oh ya? Kok aku gak lihat tadi?" ujar Revan.
"Kan kamu gak masuk, tadi aku suruh kamu langsung anterin aku ke kantor!" ucap Tania.
"Iya juga ya, hehe..." ujar Revan nyengir.
Tania hanya menghela nafas, lalu membuang muka sambil melipat kedua tangan di depan.
"Yaudah sayang, gausah terlalu dipikirin! Kan abis dari kantor, kamu masih bisa ketemu sama kak Arsen lagi! Mereka dateng nya pasti gak cuma sebentar sayang, udah ya kamu jangan sedih gitu! Nanti yang ada kamu gak fokus loh sama meeting nya, tenang ya cantik!" bujuk Revan.
"Iya Van, aku tenang kok! Makasih ya udah coba bantu aku tenangin diri! Aku gak tahu sih kak Arsen sama Velove berapa lama main ke rumah, kalau cuma sebentar gimana?" ucap Tania.
"Iya deh, aku percaya kata-kata kamu! Awas aja ya kalau misal nanti pas aku pulang ternyata kak Arsen udah gak ada di rumah!" ujar Tania.
"Hahaha yah kok ngancem gitu sih? Aku kan cuma nebak-nebak sayang!" ujar Revan.
"Dih, tadi yakin banget! Sekarang kok cuma tebak-tebak sih? Kamu itu plin-plan deh sayang, aku jadi heran sama kamu! Sekarang aku jadi susah fokus nih gara-gara kamu!" ujar Tania.
"Lah kok aku?" tanya Revan heran.
"Ya iyalah, kamu tadi bilangnya yakin sekarang malah cuma nebak-nebak! Kan aku jadi bingung harus gimana sayang!" ujar Tania.
"Yaudah, mending sekarang kamu pejamin mata kamu dan bayangin kalau kamu itu lagi sama kak Arsen! Kalau masih kurang juga, nanti biar aku cium bibir kamu sayang!" ucap Revan.
"Ish itu mah maunya kamu! Udah ah kita fokus aja ke jalan, jangan mikirin yang lain!" ujar Tania.
"Hahaha serius kamu gak mau aku cium sayang? Ini bibir aku udah siap banget loh, dia kangen katanya sentuhan sama bibir kamu!" ucap Revan.
"Ah masa bodo!" cibir Tania.
Revan tertawa lepas sambil geleng-geleng kepala, sedangkan Tania kembali membuang muka namun dengan perasaan yang berbeda, ia lebih tenang saat ini biarpun masih sedikit rindu dengan Arsen sang kakak yang baru ia temui sebentar itu.
"Semoga aja deh kak Arsen masih di rumah begitu aku pulang nanti!" batin Tania.
...•••...
Disisi lain, Rianti menceritakan ke suaminya apa yang telah ia lakukan pada Darma kemarin bahwa ia sudah bercerita mengenai semua yang terjadi pada dirinya di masa lampau karena ulah Reno.
Lionel pun syok mendengar pengakuan Rianti, ia tak percaya jika istrinya itu masih menyimpan dendam pada sosok Reno dan ingin Reno menerima akibat dari semua perbuatannya dahulu yang telah menyebabkan ia hamil.
"Apa? Kamu kenapa sih sayang? Ngapain kamu cerita soal itu ke papanya Reno? Itu sama aja kamu memperkeruh suasana sayang!" tanya Lionel.
"Mas, aku itu kesel banget sama Reno! Dia kayak gak mau tanggung jawab gitu, padahal aku udah bilang ke dia kalau Athar tuh anaknya dan aku harap dengan begitu Reno mau menemui Athar setidaknya satu kali untuk memenuhi kemauan Athar, mas! Tapi, nyatanya apa? Dia gak mau dateng kesini!" ujar Rianti emosi.
__ADS_1
"Hey, jadi maksud kamu... kamu itu mau bikin perpecahan di keluarga Reno, iya?" tanya Lionel.
"Ya sebenarnya gak gitu sih mas, aku cuma pengen om Darma tahu kelakuan busuk anaknya delapan tahun lalu ke aku! Ya kalau selanjutnya terjadi sesuatu di keluarga mereka, itu di luar tanggung jawab aku dong mas!" ucap Rianti.
"Haish sayang, kamu kok jadi kayak gini sih? Kan aku udah seringkali bilang ke kamu, sabar dan lupain aja semua itu sayang! Jangan dendam ke mereka, biarkan aja yang udah berlalu!" ujar Lionel.
"Aku gak dendam mas, aku cuma kesel sama Reno! Karena dia gak mau dateng temuin Athar, alhasil Athar sekarang jadi sedih terus gara-gara nyangka kalau papanya gak sayang sama dia!" ucap Rianti.
"Iya iya aku tau, kamu tenang ya!" ujar Lionel.
Lionel pun memeluk tubuh istrinya untuk dapat menenangkan hati sang istri yang sedang dilanda emosi itu, ia tak mau jika Rianti dipenuhi oleh amarah dan diselimuti dendam yang tidak berujung kepada Reno serta keluarganya.
"Sabar ya sayang! Aku bakal bantu kamu kok dan coba bilang ke Reno buat mau ketemu sama Athar, tapi emang dia udah pulang kesini?" ucap Lionel.
"Kurang tahu sih mas, kayaknya sih udah. Kan ini udah mau tiga Minggu dia pergi!" ucap Rianti.
"Yaudah, nanti aku temuin Reno ya? Kamu tenang sayang jangan kebawa emosi! Aku gak setuju kalau kamu pengen balas dendam ke Reno dan keluarganya, itu gak baik sayang!" ucap Lionel.
"Iya mas, aku gak gitu kok!" ucap Rianti.
"Bagus sayang! Nanti juga aku bakal coba tenangin Athar supaya gak sedih terus mikirin ayahnya, udah yuk kita keluar aja!" ucap Lionel.
Rianti mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya, ia masih tak bisa tenang dan terus menghela nafasnya agar ia dapat melupakan semua masalah yang sedang terjadi padanya serta anaknya.
Lionel pun mengajak Rianti keluar dari kamarnya, lalu bersamaan pergi menghampiri Athar di bawah sana untuk menghibur putra mereka yang sedang sedih itu karena memikirkan ayah kandungnya alias Reno.
"Mas, menurut kamu apa mungkin kalau Reno mau datang temuin Athar disini?" tanya Rianti.
"Eee aku juga gak yakin sih sayang, tapi gak ada salahnya kan kalo mencoba? Hasilnya itu urusan nanti, lagian Reno kan juga udah tau kalau Athar itu anak kandungnya! Seharusnya sih dia mau lah ya temuin Athar walau sebentar!" jawab Lionel.
"Iya itu kan harusnya, tapi kamu kayak gak tahu Reno aja mas! Apalagi sekarang dia udah nikah lagi, pasti dia makin punya alasan buat gak dateng temuin Athar mas!" ucap Rianti.
"Tenang ya!" ucap Lionel tersenyum.
Lionel mendekap tubuh Rianti dari samping dan mengusap puncak kepalanya, mereka terus berjalan menuruni tangga hingga sampai di ruang tamu.
...•••...
Sementara itu, Anggi masih meminta penjelasan dari Reno terkait apa yang ia dengar tadi mengenai Rianti memiliki anak darinya. Anggi sungguh tak percaya jika putranya yang baik itu ternyata bisa berbuat setega itu pada seorang perempuan hanya karena dendam terhadap perlakuan buruk yang diterima Darma beberapa tahun lalu.
Reno dan Darma pun hanya bisa terdiam, mereka menundukkan kepala tidak berani menatap wajah Anggi yang sedang diselimuti oleh rasa amarah serta penasaran yang amat sangat pada mereka.
"Ayo jawab Reno! Apa kamu sudah tidak memiliki rasa kemanusiaan?" bentak Anggi.
Lagi-lagi Reno hanya terdiam tak menjawab apapun, ia tahu kondisi saat ini sedang tidak baik-baik saja karena sang mama tampak sangat marah padanya maupun kepada Darma, sudah bertahun-tahun Anggi dibohongi oleh kedua pria itu.
"Reno jawab!" bentak Anggi sekali lagi.
"I-i-iya mah," ucap Reno gugup.
Kali ini Reno tak memiliki pilihan lain selain berkata pada Anggi tentang semuanya, walau ia sangat takut kalau mamanya itu akan bertambah marah dan berdampak pada kesehatannya nanti.
"Apa benar kamu sudah menghamili Rianti? Dan kamu campakkan dia begitu saja?" tanya Anggi.
"Be-betul mah! Semua yang mama dengar tadi itu betul, aku emang udah hamilin Rianti dan habis itu aku tinggalin dia gitu aja tanpa tanggung jawab!" jawab Reno.
Plaaakk...
"Dasar pria gak tahu malu kamu, Reno! Bisa-bisanya kamu menghamili wanita tetapi kamu tidak mau bertanggung jawab!" bentak Anggi.
Anggi menampar wajah Reno cukup keras hingga memerah, bahkan Reno sampai harus meringis untuk menahan rasa sakit di bagian wajahnya itu sambil memeganginya dengan tangan.
"Ma-maaf mah! Aku khilaf waktu itu, aku diselimuti rasa emosi!" ucap Reno gugup.
"Apapun itu, gak sepantasnya kamu berbuat seperti itu pada Rianti, Reno! Kamu pikir dia gak hancur kamu perlakukan seperti itu, ha?! Mama benar-benar gak nyangka sama kamu Reno, puluhan tahun loh mama didik kamu! Tapi, ternyata kamu masih bisa bertindak seperti seorang bajing*n!" ucap Anggi.
Semua perkataan Anggi itu benar-benar menusuk ke jantung Reno, ia belum pernah mendapat perkataan seburuk itu dari mamanya. Bahkan kalau diingat, Anggi juga tak pernah sampai semarah itu padanya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...