
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 157
(Reno & Rianti)
...•...
...•...
"Van, tunggu!"
Wanita yang tadi masuk ke ruang Revan, kini berlari keluar mengejar pria tersebut bahkan mencekal lengan Revan dari belakang dengan kuat, ia pun berhasil membuat Revan berhenti dan tidak jadi pergi dari sana meninggalkannya.
"Apa sih?" bentak Revan yang langsung menghentakkan tangannya.
"Awhh, kamu kok kasar sih?" ujarnya.
"Udah deh, gausah drama!" bentak Revan.
"Kamu kenapa jadi berubah kayak gini sih, Van? Perasaan dulu kamu kalem dan gak galak begini, apa yang bikin kamu kayak gini??" ujarnya.
"Halah, gausah sok peduli dan paling kenal aku! Mending sekarang kamu pergi, karena aku gak ada waktu buat ngeladenin kamu!" ujar Revan.
"Aku gak mau, dan aku juga gak akan biarin kamu pergi gitu aja tinggalin aku! Sebelum aku bisa ngobrol berdua sama kamu, dan nikmatin momen kita berdua seperti saat-saat dulu.... kamu mau kan, sayang?" ucap wanita itu tersenyum.
"Heh, jangan harap ya aku mau ngobrol berdua sama wanita murahan kayak kamu!" bentak Revan.
"Apa? Kamu kok sebut aku begitu sih, Van? Aku ini bukan wanita murahan, kamu kenapa jahat banget sama aku sampe ngatain aku begitu??" ujar wanita itu sembari pura-pura menangis.
"Gausah drama! Semua keluargaku juga udah tau siapa kamu sebenarnya, jadi mending kamu jangan pernah harapin aku lagi...!!" ujar Revan.
"Van, please! Kasih aku waktu sebentar buat ngejelasin semuanya sama kamu, ayolah aku yakin kamu cuma salah paham!" ucap wanita itu.
__ADS_1
"Hadeh, cukup Karina!" bentak Revan.
"Revan!!"
Suara teriakan keras dari arah depan membuat Revan terkejut dan spontan melihat ke depan mencari tahu siapa yang berteriak itu, matanya terbelalak serta rahang bergetar melihat sosok pria berjas tengah berjalan ke arahnya.
Wanita bernama Karina yang terjatuh ke lantai karena dorongan dari Revan pun memulai dramanya di hadapan pria itu, ia ingin pria yang tak lain adalah ayahnya membantunya untuk bisa kembali bersama Revan dan melanjutkan hubungan mereka.
"Lancang sekali kamu, Revan! Beraninya kamu bertindak kasar pada putri saya!!" bentak pria itu.
"Om Don?" ujar Revan masih terkejut.
"Ya, ini saya! Dan saya datang kesini untuk meminta keadilan dari kamu, Revan! Karena kamu sudah berani mempermainkan putri saya, dan tidak jadi menikah dengannya!" ucap pria bernama Don.
"Om, itu semua saya lakukan karena putri om ini bukan wanita baik!" ucap Revan menunjuk Karina.
"Bicara apa kamu? Bisa-bisanya kamu mengkambinghitamkan putri saya, padahal kamu sendiri yang salah dalam masalah ini! Kamu sudah berselingkuh Revan, dan kamu malah menyalahkan putri saya!" bentak Don.
"Apa om gak salah ucap? Sejak kapan saya selingkuh dari Karina, om? Apa om punya bukti kalau saya melakukan perselingkuhan itu??" ujar Revan.
"Masih bisa kamu ngeles dan memutarbalikkan fakta yang ada, Revan! Saya bisa saja bikin karir kamu hancur dengan semua berita tentang kebusukan kamu, tapi saya masih berbaik hati dan memberikan kamu kesempatan untuk menebus semuanya dengan menikahi putri saya!" ujar Don.
"Saya gak takut om, karena saya gak pernah selingkuh! Justru putri om ini yang selingkuh dari saya, bisa-bisanya dia tidur dengan pria lain di hotel tanpa sepengetahuan saya...!!" ucap Revan.
"Terserah om, saya capek dengan semua ini! Permisi, saya harus pergi...." ucap Revan.
Revan memilih menyudahi semua perdebatan itu karena ia sudah ditunggu oleh Tania, ia juga tidak mau terus-terusan terjebak masa lalu yang sudah dengan lama ia hilangkan dari pikirannya.
...•••...
Disisi lain, Rianti bersama Athar baru pulang dari supermarket membeli belanjaan serta jajanan untuk Athar yang sudah habis, mereka juga ditemani oleh seorang penjaga yang ditugaskan Lionel agar tak ada yang berani melukai istri dan anaknya itu.
Disaat Rianti hendak menaruh belanjaan di kasir, ia tanpa sengaja malah berpapasan dengan seorang pria yang juga menaruh barangnya di atas meja kasir, sehingga kini mereka pun berdampingan dan saling pandang.
"Rianti?" ucap pria itu.
Saat bibir itu menyebut namanya, seketika Rianti terhenyak dan teringat pada momen dahulu disaat pria itu menyetubuhinya lalu tak bertanggung jawab, namun semua itu segera ia tepis karena tak mau bersedih di hadapan putranya.
"Kamu kembali?" tanyanya.
__ADS_1
"Maaf ya, udah kamu aja duluan yang bayar!" ucap Rianti memundurkan troli belanjanya.
"Eee... kamu aja gapapa kok, aku juga gak lagi buru-buru!" ucapnya.
"Udah gapapa," ucap Rianti.
"Oh oke,"
Akhirnya pria itu membayar semua belanjaannya yang tidak banyak, sedangkan Rianti menunggu di belakangnya sambil membuang muka karena ia tak sanggup melihat wajah pria yang tak lain adalah Reno alias bapak dari Athar putranya.
"Aku udah nih, giliran kamu sekarang!" ucap Reno.
Rianti hanya mengangguk lalu memajukan trolinya dan meletakkan belanjaan miliknya di atas kasir, Reno bergerak membantu Rianti untuk menaruh semua belanjaannya disana walau Rianti sudah berusaha mencegahnya.
Disaat Reno melihat ke bawah, ia baru menyadari kalau ada sosok anak kecil disana tengah memeluk pinggang Rianti dan terus menatap ke arahnya, sepertinya anak kecil itu tidak suka pada Reno yang berdekatan dengan Rianti saat ini.
"Hey, nama kamu siapa?" ucap Reno berjongkok menyamai tinggi Athar sembari mengusap kepala anak kecil itu.
"Om siapa?" tanya Athar ketakutan.
"Kamu gak perlu takut, om ini temannya wanita itu! Kamu pasti anaknya dia, iya kan?" ucap Reno.
Athar hanya manggut-manggut tanda iya sambil terus mencengkeram erat rok yang dikenakan ibunya, sedangkan Reno tersenyum lebar sembari mengusap-usap wajah Athar yang terlihat sangat mirip dengannya.
"Anak ini kok mirip sekali dengan saya, ya? Apa jangan-jangan.... ah gak mungkin, pasti cuma kebetulan aja!" gumam Reno di dalam hatinya.
Rianti langsung dengan cepat menjauhkan putranya dari Reno dan menatap tak suka pada pria itu, sepertinya Rianti sangat membenci Reno atas semua perbuatan yang sudah dilakukan Reno kepadanya dulu.
"Athar, mama kan udah bilang kamu jangan mau bicara sama orang yang gak dikenal!" ucap Rianti.
"Hey, kamu kok bilang gitu sih? Saya kan—"
"Stop ya! Jangan ganggu kami, saya itu gak kenal anda siapa dan sebaiknya anda pergi sana atau saya akan teriak sekarang!" potong Rianti.
"Oke oke, saya pergi...."
Reno mendengus lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Rianti serta Athar disana, sesekali ia kembali menoleh ke arah Rianti dan berhasil menangkap kalau Rianti ternyata juga memandanginya.
"Maafkan saya, Rianti!" batin Reno.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...