Preman Cantik

Preman Cantik
{SEASON 2} Episode 138 (Rindu)


__ADS_3

...HALO LAGI GUYS!...


...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...


..."PREMAN CANTIK 2"...


...~~~...


#PREMAN CANTIK S2 EPS. 82


(Rindu)


...•...


...•...


Keesokan harinya, Rania selalu merengek pada Cakra meminta untuk dipulangkan ke rumahnya karena ia hendak bertemu dengan ayah dan kakaknya. Rania juga menagih janji Cakra yang mengatakan akan membawanya pulang esok hari saat kemarin mereka berbicara, rupanya Rania ingat betul kata-kata Cakra itu dan langsung diutarakannya ketika baru membuka mata di pagi hari ini.


Cakra pun dibuat tak berkutik karena Rania terus-terusan minta pulang, padahal dirinya juga masih ragu untuk melakukan itu karena ia mulai sayang pada Rania dan tak ingin kehilangan gadis kecil itu. Namun, disisi lain ia juga harus memikirkan tentang kondisi Velove yakni putri kandungnya yang masih ditawan oleh Tania. Berhubung ponselnya telah berada di tangannya saat in, Cakra langsung menghubungi nomor Tania untuk meminta bertemu.


"Om, kapan om mau pulangin aku? Om kan udah janji semalam mau ajak aku pulang ke rumah pagi ini, ayo om kita pulang sekarang!" rengek Rania dengan wajah memelas memohon pada Cakra.


"Iya iya, sabar ya sayang! Om telpon kakak kamu dulu, sebentar jangan kemana-mana! Kamu harus habiskan dulu buburnya, sus tolong gantikan saya suapin Rania!" ucap Cakra.


"Baik, pak! Ayo dek makan sama suster ya!" ucap suster disana mengambil alih mangkuk berisi bubur lalu menyuapi Rania dengan perlahan.


Gadis kecil itu menurut saja dan membuka mulutnya lebar, ia melahap bubur tersebut sampai habis demi bisa pulang dan bertemu ayah serta kakaknya. Sementara Cakra keluar dari ruangan itu membawa ponselnya untuk menghubungi Tania, semalam memang ia tidak mau mengganggu Tania karena takut gadis itu sudah tertidur.

__ADS_1


Cukup lama ia menunggu Tania mengangkat telponnya, sampai ia merasa kesal karena telponnya tak kunjung diangkat oleh Tania. Akhirnya setelah bermenit-menit menunggu, telponnya diangkat juga oleh Tania.


📞"Halo, kenapa baru diangkat sih? Saya ingin bicara sama anda, ini menyangkut nasib adik anda yakni Rania!" ucap Cakra terlihat kesal.


📞"Apa maksud anda? Memangnya kenapa dengan adik saya, apa yang anda lakukan pada Rania?" tanya Tania tak mengerti penuh keheranan.


📞"Saya akan membawa Rania bertemu dengan anda, makanya saya hubungi anda saat ini! Maaf karena kemarin saya tidak datang, karena Rania tiba-tiba pingsan begitu saya hendak membawanya pergi menemui anda!" jelas Cakra.


📞"Apa? Kenapa Rania bisa pingsan, dia sakit apa? Atau jangan-jangan anda telah melakukan sesuatu ke Rania ya? Ingat, jangan pernah berani melukai Rania sedikitpun atau nyawa putri anda berada dalam bahaya!" ujar Tania cemas.


📞"Tidak perlu cemas begitu, Rania tidak kenapa-napa! Sekarang dia sudah sadar dan kata dokter dia hanya kurang istirahat, kalau kamu bisa hari ini kita atur pertemuan lagi untuk menukar Rania dengan putri saya Velove!" ucap Cakra.


📞"Oke, jam 10 nanti kita ketemu lagi di tempat kemarin! Awas aja kalau anda tidak datang seperti kemarin, saya pastikan Velove akan meregang nyawa!" ucap Tania.


📞"Jangan ancam saya begitu! Saya pasti datang kesana, sampai ketemu nanti!" ucap Cakra.


Cakra langsung menutup teleponnya begitu saja setelah ia menyelesaikan ucapannya, Cakra kembali ke dalam ruang rawat Rania untuk menemui gadis itu dan menyampaikan kabar bahagia ini padanya.


"Om, gimana? Kapan kita mau pulang ketemu kak Tania?" tanya Rania tampak sumringah.


"Sabar ya, sayang! Nanti om bilang dulu sama dokter kamu udah boleh pulang apa belum, kalau boleh baru deh jam 10 kita ketemu kakak kamu!" jawab Cakra mencolek hidung Rania gemas.


"Asikkk! Aku gak sabar mau ketemu kakak lagi!" ujar Rania bersorak bahagia.


Cakra ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan gadis kecil itu, tapi entah kenapa rasanya sulit baginya untuk melepaskan Rania seperti ada yang mengganjal di dalam hatinya.


"Sebentar lagi om bakal kehilangan kamu, Rania! Kenapa ya rasanya sulit sekali menerima kenyataan kalau kamu akan pergi dari om??" batin Cakra.

__ADS_1


...•••...


Disisi lain, setelah menerima telpon dari Cakra, Tania pun langsung bersiap-siap untuk mandi padahal sebelumnya ia malas bangun dari tidurnya. Gadis itu bangkit turun dari kasurnya lalu masuk ke kamar mandi dengan handuk menggantung di pundaknya, ia masih menguap sembari mengucek-ngucek mata karena rasa kantuk yang belum sepenuhnya hilang.


Di dalam kamar mandi, gadis itu menanggalkan seluruh pakaiannya lalu berdiri di bawah kucuran air shower yang dingin. Ia memejamkan mata menikmati guyuran air dari shower yang menyegarkan tubuhnya, namun malah tiba-tiba ia terbayang wajah kakaknya yakni Arsen yang saat ini berada di dalam penjara Finlandia.


Tanpa sadar air mata turut keluar membasahi pipinya bersamaan dengan air shower yang dingin, gadis itu nampaknya merindukan sang kakak karena sudah cukup lama mereka tak bertemu. Tania berharap sekali Arsen bisa berada disana lalu tinggal bersamanya, walau hal itu cukup sulit apalagi papanya juga tidak mau menuruti permintaannya untuk membebaskan Arsen dari penjara.


Setelah menyelesaikan mandinya, gadis itu menutup kembali pancuran shower nya lalu menarik handuk dari tempatnya dan mulai mengeringkan tubuhnya. Ia berjalan keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di tubuhnya, Tania langsung memakai pakaian yang ia ambil dari lemari sembari berkaca di depan cermin. Setelahnya, barulah ia keluar kamar menemui papanya di meja makan.


Gadis itu tampak senang melihat papanya bersama ayah angkatnya akur disana, tentu saja senyum muncul di wajahnya saat itu. Ia langsung mempercepat langkahnya menuruni tangga, saat ini sudah tidak ada pengawal yang berjaga di depan pintu kamarnya karena Tania sendiri yang memintanya dengan alasan privasi.


"Pagi pah, bang!" sapa Tania tampak ceria menghampiri papa dan ayah angkatnya di meja makan, ia menarik kursi lalu duduk di hadapan mereka berdua dengan senyum terpampang di wajahnya yang cantik.


"Wah pagi juga, sayang! Udah wangi aja nih, emang mau kemana sih??" ujar William.


"Eee nanti aku mau keluar sebentar, pah! Boleh kan aku pinjem pak Riko buat nemenin?" ucap Tania.


"Ya bolehlah, sayang! Riko itu kan sekarang pengawal pribadi kamu, kenapa kamu pakai minta izin dulu sama papa?? Emangnya mau keluar kemana kamu ini?" ucap William.


"Eee cari angin aja, pah!" jawab Tania belum mau mengatakan kemana ia akan pergi.


"Ohh, yasudah!" ucap William singkat.


Tania pun mengambil sepotong sandwich yang tersedia disana, dengan lahap ia memakannya berbarengan dengan meminum teh hangat. Rasanya tak sabar baginya untuk bertemu dengan Rania nanti, ia sudah sangat rindu dengan gadis kecil itu.


"Rania, sebentar lagi kita ketemu!" batin Tania senyum-senyum melahap sandwich nya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2