Preman Cantik

Preman Cantik
{SEASON 2} Episode 254 (Tidak jadi)


__ADS_3

...HALO LAGI GUYS!...


...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...


..."PREMAN CANTIK 2"...


...~~~...


#PREMAN CANTIK S2 EPS. 197


(Firasat ku saja)


...•...


...•...


Tania dan Revan juga ikut pulang seperti Rianti yang sudah pergi lebih dulu dari sana, mereka berdua bersama Rania masuk ke mobil dan akan melaju menuju rumah William.


Kali ini Revan meminta Tania duduk di depan menemaninya, dan diluar dugaan gadis itu ternyata mau menuruti permintaannya walau agak sedikit ragu meninggalkan Rania sendiri di jok belakang.


Rania memang tak keberatan jika ia duduk sendirian di kursi belakang, ia justru senang bisa melihat kakaknya semakin dekat dengan Revan yang nantinya juga akan menjadi kakak iparnya.


Tania masih merasa tidak enak pada Rania, ia menoleh ke belakang bertanya padanya.


"Rania sayang, kamu gapapa kan?" tanya Tania.


"Aku gapapa, kak. Aku seneng kok bisa duduk sendiri disini, kursinya jadi luas dan aku bisa selonjoran deh!" jawab Rania tersenyum.


"Bagus deh, tapi kalo kamu ngerasa bosen atau apa bilang aja ya sama kakak! Nanti kakak bakal pindah ke belakang deh, biar kamu gak kesepian!" ucap Tania masih agak cemas.


"Iya kak," ucap Rania singkat.


Tania pun kembali menatap ke depan.


Revan yang melihatnya hanya tersenyum tipis sambil sesekali melirik ke arah Tania.


"Kamu kenapa?" tanya Tania ketus.


"Hahaha, kamu tuh yang kenapa? Orang Rania baik-baik aja, malah kamu yang cemas sendiri! Emang kenapa sih kalo kamu duduk di samping aku kayak gini? Kamu gak suka? Inget Tania, bentar lagi kita juga bakal bersanding di pelaminan!" ucap Revan sambil tersenyum.


"Hah? Masih lama, Revan! Kita kan harus tunangan dulu sesuai rencana orang tua kita!" ucap Tania.


"Iya aku tau, tapi kan abis tunangan juga gak lama lagi kita bakal melangsungkan pernikahan! Ya walau aku maunya sih kita langsung nikah aja sekarang tanpa tunangan dulu, biar aku bisa cepet-cepet makan kamu di kamar dan kasih keponakan buat Rania!" ucap Revan sambil nyengir.


Tania yang kesal langsung mencubit pinggang Revan dengan keras.


"Ish, dasar gak bener! Di depan anak kecil kok ngomongnya begitu sih? Gimana nanti kalo Rania banyak tanya atau dia ngerasa keganggu?" ujar Tania memarahi Revan.

__ADS_1


"Aduh sayang, kamu kalo nyubit gak kira-kira ya? Padahal aku cuma ngomong begitu loh, lagian Rania juga gak kenapa-napa. Ya kan Rania sayang?" ucap Revan menahan sakit sembari mengusap bagian pinggangnya dan menatap Rania melalui spion.


"Iya kak, aku gapapa kok. Aku juga gak ngerti maksud omongan kak Revan barusan itu apa! Tapi, yang pasti aku mau punya ponakan!" ucap Rania.


"Ish, tuh kan! Gara-gara kamu itu, kalo ngomong suka sembarangan aja! Lain kali kamu jangan begitu dong kalo di depan Rania, kan gak enak tau jadinya sama Rania!" ucap Tania masih kesal pada Revan.


"Hahaha, iya iya sayang! Aku minta maaf ya? Berarti kalo gak Rania, aku bebas kan bahas apa aja sama kamu? Termasuk lakuin itu?" ucap Revan.


"Hah? Ya gak gitu juga lah, udah ah intinya jangan pernah bahas begituan lagi! Atau aku bakal marah sama kamu dan minta papa buat batalin perjodohan kita ini, mau kamu kita gak jadi tunangan sama nikah?" ucap Tania mengancam Revan.


"Ya jangan lah! Masa dibatalin sih?" ujar Revan.


"Makanya jangan begitu!" ujar Tania.


"Iya cantik, aku janji deh! Jangan marah begitu dong, malu tuh sama Rania yang daritadi ngetawain kamu!" ucap Revan berusaha membujuk Tania.


Tania hanya mendengus pelan lalu membuang muka.


...•••...


Sementara itu, Rianti yang menyadari bahwa pria di depannya adalah Reno langsung memilih turun untuk menemui pria tersebut dan mengatakan padanya kalau saat ini ia sedang tidak ingin diganggu.


Rianti juga meminta pada putranya untuk tetap di mobil bersama supir.


Reno terus menatap ke arah Rianti yang tengah menuju mendekatinya, ia tersenyum senang karena Rianti masih mau menemuinya lagi.


Rianti sama sekali tak berekspresi ketika sampai di dekat Reno, ia hanya menunjukkan reaksi kalau ia tidak suka dengan pria tersebut.


Hembusan angin membuat Rianti sulit mengendalikan rambutnya yang berterbangan itu.


"Masih sama seperti dulu, cantik dan seksi! Aku yakin suami kamu pasti senang bisa memiliki istri seperti kamu, dia bisa menikmati servis memuaskan secara gratis dan terus-menerus." ucap Reno.


"Lu mau apa lagi? Cepetan bilang dan gausah banyak basa-basi!" ujar Rianti mulai kesal.


"Aku cuma mau tau, gimana kabar kamu sekarang? Kemana aja kamu selama delapan tahun ini, kok aku baru lihat kamu lagi sekarang?" tanya Reno.


"Buat apa gue harus kasih tau ke lu tentang kehidupan gue? Emangnya lu siapa?" ujar Rianti.


"Hahaha, kamu pasti masih marah ya sama aku? Ya aku tau sih kesalahan aku ke kamu itu fatal banget, aku udah singkirin kamu setelah kita bersetubuh secara panas malam itu!" ucap Reno.


"Gak perlu diungkit lagi!" ujar Rianti.


"Aku bukan mau ngungkit itu, justru sekarang aku mau minta maaf sama kamu atas semua perbuatan yang udah aku lakuin ke kamu! Maaf ya, malam itu aku benar-benar kalut dan gak bisa kendalikan diri aku sendiri! Sampai akhirnya aku jebolin gawang kamu dan tinggalin kamu begitu aja," ucap Reno.


"Lu gak perlu minta maaf! Gue juga salah atas kejadian itu, gue terlalu gampang tergoda sama rayuan lu itu!" ucap Rianti.


"Ya benar sih, kita juga sama-sama suka kan waktu itu ngelakuinnya? Cuma aku ngerasa bersalah aja karena aku gak bertanggung jawab waktu itu, aku malah usir kamu cuma karena aku kecewa sama kamu yang udah nipu papa aku!" ucap Reno.

__ADS_1


"Udah lah, gue gak mau bahas itu!" ucap Rianti.


"Jangan begitu dong! Oke, sekarang aku mau tanya sesuatu deh sama kamu! Tolong kamu jawab yang benar ya dan jangan rahasiakan sesuatu dari aku!" ucap Reno memegang wajah Rianti.


Rianti menyingkirkan tangan Reno dari wajahnya dengan kasar.


"Jangan sentuh gue! Kan lu tau kalo gue udah bersuami, gue gak mau ada cowok yang sentuh gue selain suami gue sendiri!" ucap Rianti.


"Iya iya, maaf!" ucap Reno singkat.


"Yaudah, lu mau tanya apa?" ucap Rianti penasaran.


"Anak yang waktu itu aku temuin di minimarket, anak kamu dan suami kamu?" tanya Reno.


"Iya, kenapa?" ucap Rianti.


Reno terdiam, ia seperti tak berani mengatakan kalau ia merasa bahwa anak itu adalah anaknya.


"Eee gak kok, gapapa. Aku cuma mau tau aja, yaudah makasih ya!" ucap Reno.


"Hah? Itu doang?" tanya Rianti.


"Iya, sorry ya aku udah ganggu kamu dan bikin kamu terhambat buat pulang! Yaudah, aku pergi dulu ya? Kamu juga boleh lanjut jalan kok!" ucap Reno.


Rianti geleng-geleng kepala lalu pergi.


Namun, tiba-tiba Reno berteriak. "Rianti, tunggu!" teriakan Reno cukup keras hingga membuat Rianti berhenti lalu menoleh kembali.


"Kenapa?" tanya Rianti malas.


"Titip salam buat anak kamu, juga suami kamu!" ucap Reno tersenyum.


Rianti hanya mengangguk, kemudian lanjut berjalan menuju ke dalam mobilnya.


Setelahnya, Reno pun juga masuk ke mobil dan kembali menemui putrinya disana.


"Itu siapa, pah?" tanya Tania kecil penasaran.


"Bukan siapa-siapa kok, udah yuk kita lanjut jalan ke rumah kak Lyota! Pasti dia udah nungguin kita nih disana!" ucap Reno.


"Iya pah," ucap Tania kecil singkat.


Reno pun segera melajukan mobilnya menuju rumah Lyota sesuai tujuan awalnya.


"Mungkin cuma firasat ku aja, gak mungkin anak Rianti adalah anakku!" batinnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2