Preman Cantik

Preman Cantik
{SEASON 2} Episode 436 (Proyek berhasil)


__ADS_3

...HALO LAGI GUYS!...


...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...


..."PREMAN CANTIK 2"...


...~~~...


#PREMAN CANTIK S2 EPS. 379


(Proyek berhasil)


...•...


...•...


Malam telah tiba, Arsen menemui Tania sang adik yang sedang duduk seorang diri di taman samping rumahnya. Arsen duduk di sebelah Tania sambil terus menatapnya dari samping dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya, ia heran karena Tania tetap terpejam sembari menaruh kedua tangan di dada dan sedikit mendongak ke atas.


Arsen pun mencolek-colek pipi Tania dengan telunjuknya berulang kali, sampai pada akhirnya wanita itu kesal dan membuka matanya akibat kelakuan sang kakak yang benar-benar membuatnya jengkel.


"Ih kak Arsen mah, ganggu aja deh!" geram Tania yang langsung memasang wajah cemberut.


"Hahaha, kamu ngapain sih sayang disini sendirian sambil meremin mata kayak gitu? Lagi ngelakuin apa? Ritual?" tanya Arsen sambil terkekeh.


"Ish, ada-ada aja!" ujar Tania kesal.


"Yeh abisnya kamu itu bikin kakak penasaran banget sih! Orang-orang lagi pada ngobrol di dalam tuh rame, suami kamu, papa kamu, Rania juga pada disana! Lah ini kamu malah asyik sendirian disini, gak takut masuk angin apa sayang?" ucap Arsen terheran-heran.


"Aku tuh lagi mau komunikasi sama mama, kak. Aku pengen banget mama ikut ngerasain kebahagiaan yang aku rasakan! Ya walau aku belum pernah ketemu mama secara langsung, tapi tetap aku pengen mama juga bahagia selalu disana!" ucap Tania tersenyum.


Mendengar jawaban Tania membuat Arsen sedih, ia menyesali perbuatannya dahulu yang sudah membunuh mamanya sendiri hanya karena salah paham.


"Maafin kakak ya Tania! Seandainya kakak gak ngelakuin itu, mungkin mama masih hidup dan sekarang kamu bisa ketemu sama mama tanpa perlu ngelakuin ritual ini! Kakak benar-benar nyesel sayang!" ucap Arsen sedih.


"Gapapa kak, gausah diingat-ingat lagi! Aku pun udah ikhlas kok!" ucap Tania tersenyum.


"Makasih ya sayang!" ucap Arsen.


Tania menatap wajah kakaknya, lalu menaruh kepalanya pada pundak sang kakak dan kembali memejamkan mata sambil menatap bintang.


Cupp!


Arsen mendaratkan kecupan di kening Tania dan mengelusnya lembut.


"Kak, lihat deh bintangnya cantik ya!" ujar Tania seraya menunjuk ke langit gelap di atas sana.


"Iya benar, tapi masih kalah cantik sama kamu Tania sayang!" ucap Arsen.


"Ih apa sih kak!" ujar Tania tersipu.


"Udah yuk kita masuk aja ke dalam! Disini dingin tau, nanti kalau kamu kedinginan siapa yang repot coba? Pasti kakak juga yang harus peluk kamu supaya hangat, ya kan?" ucap Arsen.


"Dih siapa juga yang mau dipeluk kakak?" ujar Tania langsung mengangkat kepalanya dan sedikit menggeser posisi duduknya menjauhi Arsen.


"Yeh malah ngejauh! Udah sini lagi nyender di pundak kakak, mumpung kakak lagi baik sama kamu! Jarang-jarang kan kamu bisa enak nyender di pundak kakak yang nyaman ini, makanya sini lagi gausah malu-malu gitu!" ucap Arsen menepuk pundaknya sendiri.


"Gak! Mending aku nyender di kursi aja daripada sama kakak!" cibir Tania.


"Ya terserah deh, dikasih enak malah gak mau!" ucap Arsen membuang muka.


Suasana hening, keduanya kini sama-sama terdiam tak berbicara sepatah katapun. Tania sibuk memandang langit, melihat bintang-bintang yang bersinar dan menenangkan hati.


Akhirnya Arsen berdiri dari kursinya, ia hendak melangkah pergi meninggalkan Tania. Namun, dengan sigap Tania mencekal lengan Arsen dari belakang mencegah kakaknya itu pergi sehingga Arsen pun menghentikan langkahnya.


"Kenapa pegang-pegang kakak?" tanya Arsen sinis.


"Ih galak banget sih kak! Aku mau ikut ke dalam deh, jalannya bareng jangan duluan! Ada yang mau aku obrolin sama kak Arsen, bisa kan?" ujar Tania.


"Ngobrol apa?" tanya Arsen dingin.


"Nanti aja sambil jalan, udah ayo kak kita ke dalam!" ucap Tania menggandeng tangan Arsen.


"Ya ya ya..." Arsen menurut saja dan mulai melangkahkan kakinya ke depan bersama Tania.




Disisi lain, Reno terpaksa tidur di sofa ruang tamu mengingat kamar yang ada di rumah Julia hanya dua dan itu tidak cukup untuk tempat tidurnya. Ya Reno memang memilih menginap satu malam di rumah Julia bersama istrinya, karena Lyota masih ingin berada disana dengan ibunya.

__ADS_1


Reno pun mengalah karena tak mungkin ia membuat istrinya bersedih, walau malam ini ia harus tidur di sofa ruang tamu seorang diri dan tak bisa memeluk tubuh Lyota seperti biasanya. Sedangkan Lyota sendiri tidur bersama ibunya di kamar satu, lalu Tania kecil ada di kamar Reva dan juga Niko adiknya.


"Huh malam ini gue tidur sendirian deh, gak bisa peluk-peluk my ayang Lyota dulu! Untung aja cuma semalam, gapapa deh walaupun susah juga tidur sendirian kayak gini!" ucap Reno.


Disaat Reno hendak merebahkan tubuhnya yang sudah dibalut sarung itu, tiba-tiba saja ia mendengar suara Lyota muncul di telinganya.


"Mas, kamu belum tidur kan?" Reno yang baru menyiapkan posisi tidurnya, kembali bangkit dan mencari-cari asal suara.


Ya Reno pun berhasil menemukan sosok wanita cantik pemilik suara itu, dialah Lyota sang istri yang sedang berdiri di dekatnya sambil tersenyum membawa selimut lebih tebal.


"Lyota? Kamu ngapain keluar lagi?" tanya Reno.


"Iya mas, aku khawatir aja sama kamu! Sekarang kan kondisinya dingin banget, makanya aku bawain selimut buat kamu biar gak kedinginan! Terus ini juga aku ada obat nyamuk, siapa tau nanti ada nyamuk yang muncul!" ucap Lyota.


Reno tersenyum lalu menarik tangan Lyota ke dekatnya, Lyota yang tidak siap pun hampir terjatuh jika tidak ditahan oleh Reno. Mereka kini saling bertatapan dari jarak dekat, Lyota menelan saliva dengan tangannya yang berada di pundak sang suami.


Cupp!


Tanpa diduga Reno mengecup bibir Lyota sekilas, membuat wanita itu terkejut dan melebarkan kedua bola matanya.


"Mas, kamu apaan sih cium-cium aku begitu? Jangan mulai deh!" ujar Tania kesal.


"Gapapa dong, abisnya bibir kamu menggoda banget sayang bikin aku pengen lumatt terus sampai habis! Udah gitu rasanya manis lagi, susah buat dianggurin!" ucap Reno menggoda istrinya.


"Eee udah ah mas, ini selimutnya dipakai ya! Aku mau ke dalam lagi sama ibu!" ucap Lyota.


"Ibu udah tidur?" tanya Reno.


"Udah sih, emang kenapa?" Lyota penasaran mengapa Reno bertanya seperti itu padanya.


"Gapapa,"


Pria itu terus mengulum senyumnya sembari mengusap rambut sang istri yang terasa halus di telapak tangannya, ia kemudian menarik tubuh Lyota membuat wanita itu duduk di pangkuannya.


"Mas, apaan sih? Ini kita lagi di rumah ibu, kamu jangan mikir buat minta jatah deh! Aku gak mau ya ada yang dengar!" ucap Lyota panik.


Reno masih dengan senyumnya, mulai merangkul Lyota dan menari dagu wanita itu hingga bertatapan dengannya. Lyota terus berusaha melepaskan diri, namun Reno mencengkram tubuhnya cukup kuat tak membiarkan Lyota lepas begitu saja.


"Ayolah mas, kamu jangan gini! Cuma satu malam aja kok, gapapa ya?" rengek Lyota ketakutan.


"Gak mau ah! Tenang aja sayang, aku cuma pengen ***** sama kamu! Gak kasihan apa kamu sama aku yang kehausan ini?" ucap Reno memelas pada istrinya.


"Jangan! Cukup punya kamu aja!" ujar Reno.


Akhirnya Lyota pasrah dan melepas kancing baju tidurnya memberi akses pada suaminya untuk menghisap gundukan miliknya, walau ia terus saja menoleh kesana-kemari khawatir kalau ada yang melihat aksi suaminya itu.




Revan yang sedari tadi bermain di ruang tamu bersama Rania dan William, dibuat senang karena Tania telah kembali bersama Arsen kesana, tentu saja Revan langsung berdiri menghampiri Tania dan memeluknya secara tiba-tiba.


Tania merasa heran ketika Revan memeluknya disana, begitu juga dengan Arsen serta William yang saling pandang karena kebingungan. Sedangkan Revan terus mengeratkan pelukan sembari menghirup aroma tubuh sang istri yang benar-benar memabukkannya.


"Van, kamu... eh maksud aku mas bear, kamu ngapain sih peluk aku begini banget? Udah kayak gak ketemu setahun aja, padahal aku keluar juga cuma beberapa menit!" ujar Tania keheranan.


Revan melepas pelukan, lalu memegang dua pundak istrinya dengan kuat.


"Yeh salah sendiri kamu malah tinggalin aku, padahal aku lagi pengen berduaan sama istri aku tercinta!" ucap Revan tersenyum.


"Ya ampun, lebay kamu!" cibir Tania.


"Tania, ya wajar lah suami kamu begitu. Makanya jangan pergi-pergi ninggalin gitu aja, kasihan tuh daritadi Revan murung terus karena gak tahu kamu kemana!" ucap William menegur putrinya.


"Tau nih, dasar bandel! Dicari kemana-mana gak ketemu, eh taunya lagi asik-asik duduk di taman samping sambil menghayal!" ujar Arsen.


"Hah? Kamu menghayal apa sayang? Jangan bilang lagi menghayal tentang cowok Korea!" ujar Revan langsung curiga.


"Ish, ya enggak lah! Ngapain aku menghayal begitu?" elak Tania.


"Hahaha, tenang aja Van! Adek gue ini bukan fans Korea kok, jadi dia gak mungkin lah bayangin orang Korea!" ucap Arsen tertawa kecil.


"Oh bagus deh, jadi lega!" ujar Revan nyengir.


"Yaudah gausah lebay! Mending sekarang kita ke kamar yuk, aku ngantuk nih!" ucap Tania menguap.


"Ngantuk? Yakin?" tanya Revan menggoda.


"Ya iyalah, kalo gak ngantuk kenapa tadi aku nguap coba? Udah deh jangan banyak omong, aku mau ke kamar sekarang kalo kamu gak mau ikut yaudah aku tinggal nih!" ucap Tania.

__ADS_1


"Iya iya, aku ikut kok sayangku yang cantik!" ucap Revan seraya menggenggam wajah Tania dengan dua tangannya.


"Pah, kak, aku tidur dulu ya?" ucap Tania.


"Iya sayang," ucap Arsen dan William.


Sebelum pergi, Tania menyempatkan diri untuk menghampiri Rania yang masih bermain disana. Ia juga pamit pada gadis kecil itu untuk segera ke kamar dan meminta Rania melakukan hal yang sama, karena hari sudah malam.


"Rania cantik, bobok ya sayang udah malem nih! Kamu minta temenin tuh sama papa!" ujar Tania.


"Iya kak, ini aku juga mau tidur kok. Tapi, besok kak Tania harus mau main sama aku ya? Supaya aku bisa tidur nyenyak malam ini!" ucap Rania tersenyum renyah.


"Pasti dong sayang! Yaudah, kakak sama kak Revan duluan ya? Dadah anak cantik, good night mimpi indah ya!" ucap Tania mengusap puncak kepala adiknya itu.


"Oke kak!"


Setelahnya, Tania dan Revan pun pergi dari sana menuju kamar mereka. Ya malam ini sepasang pengantin baru itu menginap disana.


"Sayang, kamu kok imut banget sih? Aku gemes deh sama kamu!" ujar Revan nyengir.


"Ah bisa aja gombalnya! Walaupun begitu, tetap aku gak mau layanin kamu dulu malam ini!" ucap Tania.


"Loh kok gitu sih sayang?" Revan langsung syok.


"Iya, soalnya aku udah ngantuk banget dan gak kuat buat layanin kamu!" jawab Tania.


"Huft, yah yaudah deh gapapa!" ujar Revan pasrah.


Akhirnya pria itu terpaksa menahan gairah yang sudah memuncak akibat Tania sudah mengantuk, tak mungkin ia memaksa wanita itu untuk melayaninya karena takut terkena bogem.




Disisi lain, Lionel sangat gembira begitu pulang ke rumah. Ia langsung masuk kamar, mengunci pintu dan lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan kedua tangan merentang ke sisi kanan serta kiri ranjang empuk itu.


Lionel memejamkan mata dengan senyum tersimpul di bibirnya, ia amat senang karena proyeknya kali ini berhasil dan ia mendapat untung yang sangat banyak. Tentunya Lionel tak perlu khawatir lagi mengenai biaya persalinan Rianti nantinya, karena ia sudah menabung dari sekarang.


Rianti keluar dari kamar mandi, ia terkejut melihat suaminya sudah pulang tanpa mengeluarkan suara. Rianti pun menghampiri Lionel dan duduk di samping tubuh lelaki itu, perlahan ia juga memegang wajah Lionel dengan penuh hati-hati.


"Mas, kamu udah pulang kok malah langsung tidur sih? Gak mau ke kamar mandi dulu bersih-bersih gitu? Terus kenapa juga kamu senyum-senyum, ada yang lagi bikin kamu senang ya?" tanya Rianti.


Lionel membuka matanya begitu mendengar suara Rianti, sebenarnya sedari tadi ia juga sudah mencium wangi khas sang istri, namun belum yakin jika itu benar-benar istrinya.


"Sayang? Benar kan feeling aku tadi, ini emang wangi kamu!" ucap Lionel tersenyum.


Lelaki itu bangkit terduduk di dekat Rianti, lalu tanpa aba-aba langsung menarik tubuh sang istri dan menidurkannya di atas ranjang.


"Ahh mas!" Rianti terkejut saat tiba-tiba Lionel menariknya.


"Mas, kamu apa-apaan sih? Aku lagi bicara sama kamu juga, kok kamu malah tarik aku begini?" ujar Rianti berusaha melepaskan diri.


"Uhh sayang, kamu wangi banget sih!" ucap Lionel sembari mengendus leher jenjang Rianti.


"Ahhh..." desahann Rianti lolos saat Lionel mengecup serta menggigit bagian lehernya itu hingga meninggalkan bekas, bahkan tak berhenti sampai disitu karena Lionel juga memberikan tanda pada area dadanya.


"Aku mau kamu malam ini sayang!" ucap Lionel yang sudah terbuai oleh hawa nafsuu nya.


"Mas, iya iya aku boleh kok! Tapi, jangan kasar kayak gini mas, ingat loh aku lagi mengandung sekarang! Emang kamu mau anak kita nanti jadi kenapa-napa?" ucap Rianti mengingatkan Lionel.


Seketika Lionel tersadar, ia melepaskan cengkraman tangannya lalu menatap wajah Rianti menyesal. Lionel mengusap wajah istrinya itu dengan lembut, lalu mengecup bibirnya sekilas sambil mengulum senyum.


"Maaf ya sayang, tadi aku hilang kontrol! Abisnya aku lagi senang banget setelah proyek aku berhasil, terus kamu datang dalam kondisi begini! Gimana aku bisa tahan coba?" bisik Lionel.


"Oh begitu, selamat ya mas!" ucap Rianti.


"Makasih sayang! Hadiahnya aku boleh bebas main sama tubuh kamu dong sampai besok pagi!" ucap Lionel tersenyum penuh arti.


"Eee ya gak gitu juga, mas!" tolak Rianti.


"Haha bercanda kok! Tiga ronde aja, udah yuk aku gak tahan lagi!" ucap Lionel.


"Ahhh mass..." Rianti kembali mendesahh saat Lionel mulai melanjutkan aksinya tadi.


Ya malam panas pun dimulai dan membuat seisi ruangan itu dipenuhi oleh suara desahann mereka.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2