Preman Cantik

Preman Cantik
{SEASON 2} Episode 417 (Athar bandel)


__ADS_3

...HALO LAGI GUYS!...


...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...


..."PREMAN CANTIK 2"...


...~~~...


#PREMAN CANTIK S2 EPS. 360


(Athar bandel)


...•...


...•...


Tania tak sengaja melihat Rianti dan Lionel sudah hadir di acara pernikahan kakaknya, ia pun tersenyum sumringah lalu memanggil mereka agar mau bergabung dengannya disana bersama Revan dan juga Rania yang sedang makan.


Sementara Revan lagi-lagi semakin merasa jengkel karena ia gagal untuk bisa berduaan dengan Tania, setelah tadi Rania yang datang kali ini ada dua orang sekaligus yakni Rianti dan juga suaminya, Lionel.


"Hai Tania, hai Revan!" ucap Rianti menyapa kedua sahabatnya itu.


"Hai juga Rianti! Akhirnya kamu datang nih, aku udah nungguin loh daritadi! Sini yuk duduk gabung sama kita, sambil nikmatin hiburan!" ucap Tania.


"Siap, ayo mas!" ucap Rianti tersenyum.


"Iya sayang," ucap Lionel singkat.


Mereka bersalaman sejenak sebelum duduk di kursi yang kosong dekat Tania dan Revan, sepasang suami-istri itu juga tampak menikmati hiburan yang disediakan oleh Arsen di acara nikahan nya.


"Tante, kok yang disapa cuma kak Tania sama kak Revan aja sih? Kenapa aku gak disapa juga?" tanya Rania cemberut.


"Eh ya ampun Rania sayang, maafin tante ya! Hai juga Rania sayang! Kamu apa kabar cantik? Makin cantik aja nih tante lihat," ucap Rianti tersenyum sambil mencolek pipi Rania.


"Ahaha aku baik tante, makasih!" ucap Rania.


"Oh ya, ini ada Athar juga kan. Kalian gak mau saling sapa gitu?" ucap Rianti.


"Hai Athar!" ucap Rania menyapa lebih dulu.


"Hai Rania!" balas Athar.


"Ah payah nih anak papa, masa keduluan sama Rania sih? Harusnya kamu gercep dong sayang, sapa duluan teman kamu!" ucap Lionel.


"Iya nih, kamu gimana sih Athar?" sahut Rianti.


"Hehe aku gak kepikiran pah, mah. Tadi aku lagi fokus lihatin penyanyinya sama dengerin musik, soalnya enak banget!" ucap Athar nyengir.


"Iya sih, emang enak banget musiknya! Pinter ya kakak kamu Tania bisa cari hiburan sebagus ini!" ucap Rianti.


"Benar! Aku juga suka, suaranya bagus, musiknya keren, paket lengkap deh!" sahut Lionel.


"Iya Rianti, Lionel, emang kak Arsen itu katanya mau jadiin acara pernikahan dia berkesan dan sulit buat dilupakan sama siapapun orang yang datang! Makanya dia sampai rela ngeluarin budget yang gak dikit buat ngadain acara ini!" ucap Tania.


"Wah keren! Aku salut deh sama kakak kamu itu! Tapi wajar sih, karena pernikahan itu kan momen yang sakral. Jadi, emang udah harus ngelakuin yang spesial di hari pernikahan!" ucap Rianti.


"Itu dia, makanya nanti saya mau lakuin hal yang sama kayak kak Arsen. Supaya di hari pernikahan saya dan Tania nanti, orang-orang juga bisa kasih pujian yang bagus dan baik-baik!" ucap Revan nyengir.


"Hahaha bagus dong Revan!" ujar Rianti tertawa.


Tania merasa tersipu mendengar perkataan dari kekasihnya, bahkan ia sampai senyum-senyum sendiri sambil menempelkan wajahnya pada pundak sang kekasih di hadapan mereka.


"Awhh so sweet nya! Emang kalian itu udah cocok banget sih jadi suami-istri!" ujar Rianti.


"Iya benar, chemistry-nya udah ada!" sahut Lionel.


"Ahaha makasih loh Rianti, Lionel! Kalian juga sama kok, cocok banget jadi pasangan suami-istri!" ucap Tania tersenyum.


"Setuju!" sahut Revan.


Disaat keempat manusia itu sedang asyik mengobrol, Athar turun dari kursinya lalu berjalan menghampiri Rania. Ia mengajak gadis kecil itu untuk pergi dari sana dan bermain dengannya.


"Rania, kita main aja yuk! Aku pengen deh lihat-lihat ke depan sana, kayaknya seru!" bisik Athar.


"Eee terus gimana sama kak Tania?" tanya Rania.

__ADS_1


"Kamu tenang aja! Kakak kamu kan lagi ngobrol sama mama aku, pasti mereka gak akan nyariin kita kok! Udah yuk kita pergi kesana!" bujuk Athar.


"Umm, iya deh aku mau!" ucap Rania.


"Oke yuk!"


Athar bergandengan tangan dengan Rania lalu pergi menjauh dari orang-orang dewasa itu.




Sangking asyiknya mengobrol, Tania sampai tak menyadari kalau Rania sudah tidak ada di pangkuannya saat ini. Untungnya Revan yang duduk tepat di samping Tania sadar kalau Rania pergi bersama Athar menghampiri para pemusik disana.


Revan pun memberitahukan itu pada Tania serta Rianti dan Lionel, ia khawatir Rania akan membuat kerusuhan di acara pernikahan Arsen dan Velove itu apalagi gadis kecil itu memang suka iseng.


"Tania, itu Rania pergi loh sama Athar. Aku takut mereka bikin kacau disana!" ujar Revan cemas.


"Hah??"


Tania terkejut saat mendengar ucapan Revan, ia baru sadar kalau Rania sudah tidak ada di dekatnya dan tengah pergi bersama Athar.


Tak hanya Tania, Rianti dan Lionel pun ikut merasa syok karena mereka tadi asyik mengobrol sampai tidak memperhatikan Athar putra mereka yang mengajak Rania pergi dari sana.


"Duh Athar! Kamu kenapa malah keluyuran sih?" ujar Rianti terkejut.


"Eee biar aku yang susul mereka," ucap Lionel.


"Iya mas, sekalian ajak Rania juga kesini ya! Aku takut Athar dan Rania nanti bikin macam-macam di acara nikahan Arsen!" ucap Rianti.


"Iya sayang," ucap Lionel tersenyum.


"Titip Rania ya Lionel," ucap Tania.


"Tenang aja!"


Lionel pun bangkit dari duduknya, lalu pergi mengejar Athar dan Rania ke depan.


"Kamu sih ngobrol aja!" tegur Revan.


"Ish, kan aku udah lama gak ketemu Rianti. Kamu harusnya sadar dong Van, kamu tahan Rania supaya gak pergi tadi! Buat apa kamu ada disini kalau gak bisa jagain Rania?" ucap Tania.


"Eee Revan, Tania, udah dong jangan pada ribut begitu! Kan mas Lio udah berhasil tuh bawa Rania sama Athar kesini lagi, kalian kan pasangan masa ribut-ribut terus sih?!" ucap Rianti coba menengahi Revan dan Tania yang bertengkar itu.


"Tau tuh si Revan, masa gitu aja marah? Kan aku cuma ngobrol sama kamu!" ujar Tania cemberut.


"Iya iya, maafin aku ya sayang! Udah dong jangan cemberut begitu terus! Kalau mama atau papa lihat, bisa abis aku diceramahin!" bujuk Revan.


"Bodo!"


Tania tak perduli dengan ucapan Revan, ia masih tetap cemberut dan memalingkan wajahnya ke arah lain, ia menatap sosok Rania serta Athar yang tengah berjalan ke arahnya ditemani Lionel.


Sesampainya dua anak kecil itu di dekatnya, Rianti pun langsung menasehati Athar putranya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, karena itu sudah membuat mereka semua panik.


"Athar sayang, kamu jangan begitu dong nak! Kita semua panik loh gara-gara ulah kamu, lain kali kalo mau pergi itu izin dulu sama mama atau papa jangan main pergi aja sayang! Apalagi kamu ajak Rania, itu gak baik tau nak!" tegur Rianti.


Athar langsung merunduk merasa bersalah karena sudah mengajak Rania pergi dari sana.


"Iya mah, maafin aku!" ucap Athar pelan.


"Yaudah, kali ini mama maafin kamu! Tapi, jangan diulangi lagi ya sayang! Mama gak enak loh sama kak Tania jadinya!" ucap Rianti.


"Udah lah Rianti, gapapa kok! Namanya juga anak-anak jadi masih suka ngelakuin kesalahan, yang penting sekarang mereka udah tau kalau apa yang mereka lakuin tadi tuh salah!" ucap Tania.


"Benar! Athar sayang, ingat loh jangan begitu lagi ya nak!" ucap Lionel.


"Iya papa..."


Athar pun duduk kembali di tempatnya bersama sang papa di sampingnya, ia masih merasa bersalah karena sudah membuat mamanya panik, apalagi Rianti juga tampak kesal padanya.


"Kak Tania, aku juga minta maaf ya! Tadi aku pergi gak izin dulu sama kak Tania atau kak Revan," ucap Rania juga tampak bersalah.


"Ahaha iya sayang, kakak udah maafin kamu kok! Kakak cuma khawatir aja kamu nanti hilang atau bikin rusuh di acara nikahan kak Arsen, makanya kamu jangan nakal ya sayang!" ucap Tania.


"Iya kak..."

__ADS_1


Tania memeluk Rania sambil mengusap pipinya yang menggemaskan, sedangkan Revan terus menatap wajah Tania dengan muka bersalahnya. Revan tak mau jika Tania terus saja cuek padanya seperti ini, apalagi kalau nanti papa mamanya tau tentang itu.


"Duh, gimana ini ya?" batin Revan bingung.


...•••...


Disisi lain, Reno dan Lyota kembali ke hotel setelah puas berkeliling hari ini. Mereka beristirahat sejenak disana sambil duduk pada sofa yang tersedia lalu mengobrol ditemani secangkir teh hangat.


Lyota bingung karena sampai saat ini belum jelas kapan Reno akan membawanya pulang, padahal sudah dua Minggu lebih mereka berada di Bali dan belum ada tanda-tanda mereka kembali ke Bogor.


"Mas, kita ini kapan pulang sih? Udah mau tiga Minggu loh kita disini, apa kamu gak bosan? Kamu juga gak kangen gitu sama Tania?" tanya Lyota.


"Eee kangen sih, tapi aku betah banget disini sayang! Lagian belum ada tanda-tanda kan kalau kamu mau hamil, jadi ya kita harus terus disini sampai kamu bisa kasih cucu buat papa mama dan ibu!" jawab Reno tersenyum.


"Mas, kan soal itu bisa ditunggu di rumah. Yang penting kan kita udah usaha tiap malam, tinggal tunggu waktunya aja! Kalau misal Tuhan berkehendak buat kasih kita anak, pasti gak lama lagi aku juga bisa hamil mas! Kalau kita terus disini, yang ada uang kamu bisa habis loh!" ucap Lyota.


"Gapapa, kan buat manjain istri aku! Kita mandi dulu yuk berdua!" ucap Reno.


"Ah aku tau maksud kamu mas, emang kamu gak capek apa? Kita kan baru sampe loh mas, masa udah mau begituan aja?" ujar Lyota.


"Hahaha justru bagus sayang, yuk ah!" ucap Reno.


Pria itu langsung bangkit dan menggendong tubuh istrinya secara paksa, Lyota hanya bisa pasrah biarpun ia sangat letih sore ini, ya karena tak mungkin Lyota bisa menolak keinginan suaminya.


Mereka pun masuk ke dalam kamar mandi, disana Reno menaruh tubuh Lyota di atas bathtub yang sudah dipenuhi oleh air dingin serta busa. Lalu, Reno kembali menuangkan sabun mandi yang wangi ke dalam air sampai habis, sedangkan Lyota diam saja memandangi wajah suaminya.


"Mas, kamu itu kenapa sih? Aku masih pake baju loh, masa udah direndam aja?" tanya Lyota.


"Hahaha biarin lah sayang, kan tinggal dilepas. Tunggu aku ya, nanti biar aku yang bantu kamu lepas baju!" ucap Reno tersenyum.


"Iya mas,"


Reno membuka pakaian yang ia kenakan, dalam sekejap pria itu sudah telanjang. Ia ikut masuk ke dalam bathtub dan berbaring di atas tubuh istrinya, perlahan Reno mulai membuka baju milik Lyota sambil menciumi lehernya.


"Eemmhh..." desahh Lyota ketika Reno meremass gundukan miliknya.


"Sayang, kamu capek kan?" tanya Reno.


Wanita mengangguk pelan sambil memejamkan mata dan mengigit bibir bawahnya, ia tak bisa menahan sensasi nikmat yang diberikan Reno pada tubuhnya saat ini.


"Oke, kalo gitu biar aku aja yang bekerja sekarang! Kamu cukup diam dan nikmati!" ucap Reno.


"Iya mas, terserah kamu aja!" ucap Lyota.


Reno mulai bergerak mencumbu tiap inci tubuh sang istri tanpa henti, kondisi Lyota juga sudah telanjang bulat setelah Reno membuka pakaiannya.


"Kita usaha lagi kali ini sayang, sampai kamu benar-benar hamil!" bisik Reno di telinga Lyota.


...•••...


Sementara itu, Malam hari telah tiba dan kini Arsen pun bersama Velove yang sudah sah menjadi istrinya pergi menuju apartemen yang sudah disewa oleh Arsen untuk tempat tidurnya di malam pertama ini.


Mereka diantar oleh Riko mengenakan mobil yang juga sudah dihias cukup menarik itu, tampak Riko terus melirik ke arah belakang melalui spion dan tersenyum mengetahui sepasang pengantin itu tengah bermesraan di dalam mobil.


"Riko, kamu jangan iri ya! Makanya cepat nikah dong, masa udah umur segitu belum mau nikah?" ujar Arsen.


"Hahaha saya gak iri kok tuan, saya justru senang ngeliat tuan akhirnya bisa menikah sama non Velove! Kalau urusan nikah, saya mah gak mau terlalu pusing tuan, kalo ada calonnya ya langsung saya gas ajak nikah, tapi karena sekarang belum ada ya makanya saya belum nikah tuan!" ucap Riko.


"Kamu cari dong Riko! Atau mau saya bantu carikan? Kebetulan saya punya kenalan cewek jomblo, siapa tau kamu tertarik sama dia dan mau ajak dia nikah nantinya!" ucap Arsen.


"Waduh, tidak usah tuan! Biar saya yang cari sendiri aja, kalau sama kenalan tuan mah mana mungkin dia mau sama saya?" ujar Riko terkekeh.


"Kenapa gak mungkin Riko? Di dunia ini tuh gak ada yang gak mungkin, buktinya saya bisa dapetin Velove kan? Malah akhirnya saya bisa nikahin dia, jadi kamu jangan pesimis begitu! Gimana mau dapat calon istri yang cantik?" ucap Arsen.


"Ahaha saya mah gak perduli dia mau cantik atau enggak tuan, yang penting hatinya!" ucap Riko.


"Wih mantap gak mandang fisik ya?" ujar Arsen.


"Nah tuh, pak Riko itu patut kamu contoh kak! Pak Riko aja gak mandang fisik, masa kamu masih ngeliat orang dari fisiknya sih?" ujar Velove.


"Hey, kalo gak dilihat dari fisiknya dulu terus mau dilihat darimana nya? Jujur aja ya, yang pertama kali dilihat sama mata itu kan fisiknya misal wajah atau yang lain, mana bisa mata aku ini ngeliat isi hati si cewek?" ujar Arsen.


"Ah aku capek debat sama kamu kak, selalu gak bisa menang!" ucap Velove.


"Hahaha iya dong..."

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2