Preman Cantik

Preman Cantik
{SEASON 2} Episode 363 (Beli cendol)


__ADS_3

...HALO LAGI GUYS!...


...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...


..."PREMAN CANTIK 2"...


...~~~...


#PREMAN CANTIK S2 EPS. 306


(Beli cendol)


...•...


...•...


"Kak Tania...!!" teriak Rania sambil berlari menghampiri Tania serta Revan di taman depan.


Mendengar suara itu membuat Tania reflek melepas genggaman tangan Revan dan menoleh ke arah Rania, ia pun tersenyum saat gadis kecil itu sudah mendekatinya. Sedangkan Revan hanya bisa mendengus saja ketika Tania lebih mementingkan Rania dibanding dirinya, ya ada sedikit rasa cemburu lah ya dari Revan kepada Rania itu.


"Iya sayang, ada apa? Tumben nih kamu samperin kakak disini, bukannya tadi lagi main sama ayah Jordi di dalam ya? Oh atau Rania udah mulai lapar dan pengen buka sekarang?" tanya Tania.


"Hah? Enggak dong kak, aku mah masih kuat banget! Aku samperin kakak karena aku bosen aja di dalam, aku pengen juga main sama kak Tania dan kak Revan disini! Boleh kan kak? Soalnya aku kangen sama kak Revan!" ucap Rania tersenyum.


"Ohh, haha ya boleh dong sayang! Sini sini kamu duduk deh di tengah-tengah kita, biar lebih seru sayang!" ucap Tania menarik tangan adiknya itu.


Rania tersenyum renyah lalu melangkah mengikuti kemauan kakaknya, ya Rania pun duduk di antara Tania dan juga Revan tepatnya tentu saja di tengah kedua manusia dewasa itu. Tania tampak senang karena kini ia tak perlu khawatir Revan akan bertindak macam-macam disana, ya tentu saja Revan tak mungkin berani begitu di depan Rania.


"Rania, emang kamu udah mulai puasa?" tanya Revan.


"Iya dong kak Revan," jawab Rania.


"Wah hebat kamu sayang!" puji Revan.


"Hahaha, iyalah Rania mah hebat! Gak kayak kamu, puasa baru sehari aja udah ngeluh gak kuat! Malu dong sama Rania, Van!" ujar Tania.

__ADS_1


"Hey, gak kuatnya aku itu beda sama Rania! Bukan karena haus atau lapar, tapi kan kamu tahu sendiri apa yang bikin aku gak kuat puasanya?!" ucap Revan tersenyum ke arah gadisnya.


"Ish, makanya kamu banyak-banyak istighfar Van! Lagian sebentar lagi adzan Maghrib kok!" ucap Tania.


"Eh iya juga ya, kalo gitu aku mau ikut buka puasa disini boleh kan? Jadi, abis itu aku gak perlu tahan lagi deh keinginan aku buat anu-anu sama kamu!" ucap Revan terkekeh sendiri.


"Haish, tobat Van gak boleh gitu! Abis buka puasa ya kita harus shalat tarawih lah!" ujar Tania.


"Hehe, iya iya bercanda!" ucap Revan.


"Emang maksud kak Revan itu apa sih, kak?" tanya Rania dengan wajah polosnya.


"Hah? Eee Rania, jangan ditanya ya! Kamu itu masih kecil dan belum cukup umur buat tau, lagian yang dibilang kak Revan itu semuanya gak penting kok! Mending kamu sekarang mikirin deh mau buka puasa pake apa?!" ucap Tania tersenyum.


"Kenapa dipikirin sekarang, kak? Kan semuanya udah siap di meja makan, tadi aku lihat sendiri waktu bibik taruh makanan disana kak!" ucap Rania.


"Eh iya ya, kakak telat berarti nyuruh kamu mikirnya. Yaudah maaf ya, besok deh kakak ajak kamu ngabuburit sama-sama biar kamu senang! Tadinya sih kakak mau ajak kamu sekarang, tapi kak Revan ini nih diajakin pergi gak mau!" ujar Tania.


"Loh kok aku lagi yang kena sih? Perasaan tadi kamu deh yang mageran aku ajak pergi, emang ya cewek tuh selalu benar dan cowok alias aku selalu salah di mata kamu!" ujar Revan kesal.


"Iya iya, aku minta maaf!" ucap Revan pasrah.


Tania pun tersenyum sembari mencubit pipi Rania, diikuti juga oleh gadis kecil itu yang tertawa renyah melihat perdebatan antara sepasang kekasih itu.


...•••...


Disisi lain, Lyota ingin membeli es cendol serta kue untuk berbuka puasa di rumah nanti. Akan tetapi, ramainya pembeli yang ada disana membuat Lyota harus berpikir dua kali untuk membeli makanan serta minuman itu, karena khawatir hanya akan memakan waktu dan mereka tidak sempat kembali jika harus mengantri cukup lama demi membeli semua itu.


Reno yang berdiri tepat di samping gadisnya, tahu betul kalau pandangan mata Lyota terus mengarah pada penjual es cendol serta kue yang ada di depan sana. Reno pun berpikir kalau Lyota ingin membeli semua itu dan ia berinisiatif untuk membelikan itu agar Lyota bisa senang, Reno langsung melangkah ke depan mendekat ke arah penjual-penjual itu.


"Reno tunggu!" ucap Lyota menahan tangan Reno yang ingin pergi dari sana. "Kamu mau kemana sih? Kok aku ditinggal gitu aja?" sambungnya bertanya pada Reno penasaran.


"Aduh sayang, tenang aja ya gausah panik gitu! Aku gak akan tinggalin kamu kok, ini aku cuma mau ke depan beli cendol sama kue itu buat kamu! Aku tahu kamu pasti kepengen kan? Soalnya daritadi kamu ngeliat kesana terus," ucap Reno santai.


"Hah? Eee Ren, gausah deh ya! Itu ramai banget, mending kita pulang aja!" ucap Lyota.

__ADS_1


"Gapapa sayang, biar aku yang antri disana. Kamu tunggu aku disini sampai aku balik, gak lama kok cantik!" ucap Reno tersenyum.


"Gimana bisa gak lama? Itu rame banget loh!" ucap Lyota terheran-heran.


Reno tersenyum, lalu malah mengecup kening Lyota tanpa aba-aba sehingga gadis itu tampak syok terkejut bukan main mendapat kecupan dari calon suaminya itu.


Cupp!


"Kamu apaan sih Ren? Kok malah cium aku?" tanya Lyota kebingungan.


"Gapapa," jawab Reno singkat.


"Ren, udah gausah beli cendolnya! Kita kan udah beli banyak makanan loh ini, nanti kalau gak kemakan gimana? Mubazir itu dilarang Ren, mending kita pulang yuk udah mau Maghrib nih!" ucap Lyota.


"Yakin? Nanti kalau kamu ngiler gimana? Udah deh sayang, biar aku pesenin aja ya?" paksa Reno.


"Huft, yaudah deh terserah kamu aja! Tapi, kalau misal sekiranya kamu gak berhasil dapetin es cendol sama kue itu, gapapa gausah dipaksa! Kita langsung pulang aja nanti, ya?!" ucap Lyota.


"Iya deh, aku kesana dulu ya?" ucap Reno.


"Iya," ucap Lyota singkat.


Setelahnya, Reno melangkah pergi menuju lokasi penjual es cendol serta kue yang diinginkan Lyota. Sedangkan gadis itu sendiri tetap disana menunggu Reno sampai kembali, ia duduk pada kursi yang tersedia sembari menenteng plastik berisi makanan serta minuman yang sudah ia beli sebelumnya.


Tak lama kemudian, Reno sudah kembali dan membawa es cendol serta kue itu di tangannya lalu menghampiri Lyota disana.


"Nah sayang, udah dapet nih. Kamu masih mau beli yang lain atau kita pulang aja?" ucap Reno.


Lyota pun terperangah heran melihat itu, ia berdiri dengan mulut terbuka menatap Reno dengan ekspresi tak percaya.


"Gimana caranya kamu bisa secepat itu? Perasaan tadi yang antri banyak deh, apa kamu nyelak ya?" tanya Lyota penasaran.


Reno hanya tersenyum tak menjawab apapun.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2