
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 374
(Berubah manja)
...•...
...•...
Reno baru pulang ke rumah setelah semalaman menginap di apartemennya, ia juga sama seperti Lionel tak ingin mengganggu orang rumah karena pulang tengah malam.
Bedanya kalau Reno pulang malam karena habis menyetubuhi istri orang sampai larut, sehingga ia lupa waktu dan baru pulang sekitar pukul dua pagi setelah bermain sebanyak tiga ronde.
Pria itu turun dari mobil dengan wajah lesu, namun di dalam hatinya ia sangat bahagia karena berhasil merasakan kembali lubang yang membuatnya candu delapan tahun lalu, ia juga heran mengapa bisa ia merasa enak dengan lubang milik istri orang.
"Hahaha, saya ini benar-benar sudah gila! Bisa-bisanya saya bersetubuh dengan istri orang, semoga aja Lyota gak tahu deh!" batin Reno.
Saat Reno hendak masuk ke rumahnya, ia tak sengaja berpapasan dengan Darma yang kebetulan juga berniat pergi. Tentu saja Darma menatap heran dari atas sampai bawah tubuh Reno, tak biasanya putranya itu tidak pulang semalaman setelah menikah lagi dengan Lyota.
"Reno! Darimana saja kamu? Kenapa semalaman tidak pulang?" tanya Darma.
"Maaf pah! Semalam aku ada urusan mendadak yang penting banget dan gak bisa aku tolak, makanya aku keluar deh! Terus pas pulangnya, aku pikir wah udah malam nih takut ganggu istirahat Lyota sama papa mama! Jadi yaudah deh, aku nginep di hotel dan baru pulang pagi ini! Emang kenapa sih pah?" jawab Reno menjelaskan.
"Pake nanya kenapa lagi! Istri kamu itu panik tau gak nyariin kamu gak ada di kamar, dia sampe mau keluar cari-cari kamu! Eh kamu malah enak-enakan di hotel, sama siapa aja kamu?!" tegur Darma.
"Apaan sih pah? Ya aku sendiri lah, yakali aku di hotel sama orang lain! Yaudah pah, aku capek banget masih ngantuk nih! Biarin aku masuk ke dalam dan jelasin ke Lyota, papa jangan memperkeruh keadaan ya pah!" ucap Reno.
"Astaga Reno, kamu ini!" ujar Darma geram.
Reno tak menjawab, ia berlalu begitu saja masuk ke dalam rumahnya. Reno merasa bersalah karena telah mengkhianati Lyota, ia pun berusaha membuat istrinya itu bahagia walau tentunya jika Lyota tahu pasti akan terjadi perdebatan hebat diantara mereka yang tak diinginkan oleh Reno.
Sementara Darma merasa curiga pada sikap Reno, apalagi tak mungkin jika Reno pergi malam-malam hanya karena ada urusan penting, maksudnya apa urusan yang penting sekali sampai Reno harus keluar malam seperti itu meninggalkan istrinya yang sedang hamil?
"Reno abis ngapain ya? Kok saya jadi curiga sama sikap dia barusan? Jangan-jangan dia ada main di luar sana!" gumam Darma.
❤️
Reno sudah berada di dalam, ia mencari kesana-kemari hingga akhirnya menemukan sosok istrinya tengah bersama mama dan putrinya di sofa ruang tamu, ia cukup kasihan melihat Lyota menangis tersedu-sedu mengkhawatirkan dirinya.
Reno merasa sangat bersalah telah melakukan hal gila itu semalam dengan Rianti, hanya karena ia tak bisa mengendalikan dirinya setelah Lyota tidak memberikan pelayanan untuk memuaskannya.
"Lyota sayang, maafin aku! Seharusnya semalam aku bisa tahan diri, kalau begini aku kan jadi ngerasa bersalah udah nyakitin hati kamu sayang! Apalagi Rianti juga pasti tersakiti, dan bisa saja hubungan rumah tangga kita retak jika Lionel atau kamu Lyota tahu tentang perbuatan bodoh aku!" gumam Reno.
Ia mengepalkan tangannya sambil menutup pintu, sungguh ia merasa tak pantas menjadi suami bagi Lyota yang lemah lembut itu, hati kecilnya pasti akan terkoyak jika tahu perselingkuhan yang dilakukan oleh suami tercinta nantinya.
Namun, Reno tetap mendekati Lyota dan coba bersikap biasa-biasa saja.
"Sayang..." ucapnya lembut.
Sontak Lyota langsung menoleh ke asal suara, ia berdiri cepat dan tersenyum senang menghampiri suaminya yang baru datang itu.
"Mas Reno? Akhirnya kamu pulang juga mas, aku khawatir banget sama kamu!" ucap Lyota sambil menangis memeluk tubuh suaminya dengan erat dan tak mau melepasnya.
"Iya sayang, aku gak kenapa-napa kok! Kamu gak perlu lah cemas begini sayangku!" ucap Reno.
"Tapi mas, kenapa kamu semalam pergi tinggalin aku gitu aja sih? Udah gitu kamu gak kasih tahu aku dulu lagi mau pergi kemana, kan aku jadi cemas mas pas tahu kamu gak ada di samping aku! Lain kali jangan begitu ya mas, aku takut banget!" ucap Lyota.
Menyadari sikap istrinya yang begitu cemas pada dirinya, membuat Reno semakin merasa bersalah telah berkhianat dari Lyota.
"Udah ya sayang, iya iya aku janji kok gak akan begitu lagi lain kali! Kamu jangan nangis dong sayang, aku juga kan udah disini dan kamu bisa lihat sendiri kalo aku baik-baik aja!" ucap Reno.
"Hiks hiks... iya mas!" ucap Lyota terisak.
__ADS_1
Reno menangkup wajah Lyota dengan kedua tangan, lalu tersenyum dan mencium seluruh wajah Lyota hingga bibir wanita itu di hadapan Anggi serta Tania.
Cupp... cupp... cup...
"Yaudah, kamu udah sarapan belum nih?" tanya Reno pada istrinya.
Lyota menggeleng dengan bibir mengerucut.
"Aduh sayang, kamu harus makan dong! Yuk kita sarapan bareng-bareng! Mama sama Tania juga belum makan kan?" ucap Reno.
"Belum Ren, kita kan sibuk nyariin kamu! Ditelponin eh malah hp kamu ada di rumah!" ujar Anggi.
"Hehe, iya maaf mah kayaknya ketinggalan deh!" ucap Reno nyengir.
"Kamu gak boleh begitu lagi loh Reno! Kasihan istri kamu sampai sepanik itu gara-gara kamu, dia pasti kayak gini karena bawaan bayi! Harusnya kamu bisa lebih ngerti dong Reno!" tegur Anggi.
"Iya mah iya, aku janji kok!" ucap Reno.
"Udah mah, mas Reno jangan dimarahin terus! Kasihan mas Reno baru pulang, dia pasti capek!" ucap Lyota membela suaminya.
"Iya sayang, mama gak marahin suami kamu lagi kok!" ucap Anggi tersenyum.
Lyota pun ikut tersenyum, lalu mendongak menatap wajah suaminya. Ia kembali membenamkan wajahnya pada dada bidang sang suami, sedangkan Reno sendiri tampak mengusap rambut Lyota dan sesekali mencium puncak kepalanya.
"Sikap Lyota benar-benar beda, ini pasti karena bayi yang sedang dia kandung! Tapi gapapa deh, aku suka sama Lyota yang begini!" gumam Reno dalam hati.
...•••...
Disisi lain, Velove tampak kesulitan untuk berjalan setelah semalaman penuh digempur oleh suaminya sendiri melalui permainan yang cukup ganas, entah mengapa Arsen seakan tak mau berhenti memompa tubuhnya bahkan sampai Velove hampir pingsan karena kehabisan tenaga.
Velove masih berusaha bangkit dari ranjangnya, walau saat ini kondisi daerah sensitifnya benar-benar perih dan sakit. Ia coba berpegangan pada ujung kasur saat hendak bangkit, tapi tetap saja pada akhirnya ia kembali gagal.
"Awhh sshhh perih banget! Kak Arsen emang semakin brutal mainnya!" ujar Velove meringis.
Tak lama kemudian, seorang pria keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh setengah telanjang dan hanya mengenakan celana pendek. Ya pria itu tentu saja adalah Arsen, tersangka utama yang membuat Velove sulit berjalan.
"Hey sayang! Udah bangun?" ucap Arsen tersenyum.
"Oh ya bagus dong! Itu artinya kamu sekarang tahu betapa kuatnya aku di ranjang! Jadi, kamu jangan macam-macam lagi sama aku! Kalau kamu berani, bakal aku bikin kamu gak bisa jalan!" ucap Arsen.
"Hah? Apaan sih kak? Berani apa coba? Emang aku ngelakuin kesalahan apa sama kak Arsen?" tanya Velove tak mengerti.
"Ya ampun dasar pikun! Semalam siapa yang mau tidur di kamar Rania, ha? Padahal udah jelas kamu itu istri aku, ya seharusnya kamu tidur sama aku bukan Rania dong sayang! Untung aja Rania bisa dibujuk sama Tania, coba kalo enggak? Bakal sendirian aku semalam disini!" ucap Arsen.
"Jadi cuma karena itu? Kak, ini aku susah bangun loh gara-gara ulah kak Arsen! Pokoknya aku gak mau tau, kak Arsen harus tanggung jawab sampai rasa sakit aku hilang! Soalnya aku kan mau anterin Rania ke sekolah, kak!" ucap Velove.
"Hahaha itu sih derita kamu sayang! Yang penting aku gak kenapa-napa!" ujar Arsen terkekeh.
"Ish kok gitu sih, kak? Terus ini aku gimana? Bantu aku dong supaya bisa bangun, jangan malah diem aja! Kan kak Arsen yang bikin aku begini!" ujar Velove cemberut.
Arsen tersenyum tipis dan sedikit membungkuk mendekati wajah Velove, ia mengusap lembut wajah sang istri dan mengendus lehernya.
"Mmhhh..." desahh Velove yang tertahan.
"Sayang, kamu mau mandi dulu? Yaudah, aku bantu kamu mandi ya sayang! Pasti kamu gak bisa mandi sendiri karena lagi sakit, jadi biar aku aja yang mandiin kamu!" ucap Arsen.
"Apa? Gak perlu kak, aku bisa sendiri kok! Kan ada bathtub, jadi kak Arsen gak perlu repot-repot mandiin aku segala! Kak Arsen cukup bantu aku berdiri aja dari kasur ini, sisanya aku bisa sendiri kok!" ucap Velove menolak ketakutan.
"Kamu kenapa takut gitu sih? Apa salahnya kalau aku bantu istri aku mandi, ha?" tanya Arsen.
"Gak salah sih, cuma—"
"Sssttt! Gak ada penolakan, pokoknya ayo kamu biar aku mandiin! Lagian punya kamu kan masih sakit, nanti malah gak bersih lagi mandinya! Kalau sama aku kan aman, aku bisa gosok setiap inci tubuh kamu tanpa ada yang terlewat!" potong Arsen.
Velove memutar bola mata, ia mendengus kesal karena suaminya benar-benar tidak bisa dibantah, ia pun terpaksa menuruti saja kemauan dari Arsen.
"Yaudah, aku mau mandi sama kamu! Tapi aku mohon kak, jangan begitu lagi! Punyaku masih sakit, gak kuat kalau harus ditusuk lagi sama punya kak Arsen!" ucap Velove memelas.
"Hahaha pikirannya udah mulai jorok nih kamu! Lagian siapa juga yang mau masukin kamu lagi sayangku?" ujar Arsen terkekeh.
__ADS_1
"Ya siapa tau aja kan?" ujar Velove.
Arsen geleng-geleng kepala, kemudian dengan cepat menggendong tubuh Velove ala bridal style dan membawanya ke dalam kamar mandi dengan kondisi sama-sama telanjang, bahkan Arsen selalu mengarahkan matanya ke buah dada istrinya.
Cupp!
Arsen mengecup bibir manis Velove sekilas, ia tersenyum lalu menurunkan tubuh Velove ke dalam bathtub yang sudah ia isi dengan air panas sebelumnya serta beberapa sabun mandi.
"Nah, enak kan sayang kalau aku yang mandiin kamu?" tanya Arsen.
"Iya kak..." jawab Velove sambil tersenyum.
•
•
Sementara itu, Tania yang sedang dikurung di dalam rumahnya tak boleh kemana-mana karena sebentar lagi tiba waktunya ia menikah, mulai merasa bosan sebab tak biasanya ia terus-terusan berada di dalam rumah seperti orang tidak punya kehidupan itu.
Padahal ini baru hari pertama ia menjalani masa-masa pingitan itu, tapi rasanya Tania sudah tidak kuat dan ingin segera pergi keluar. Namun, tentunya William sang papa tak akan membiarkan dirinya pergi begitu saja sebelum waktunya tiba.
"Pah, ayolah aku boleh dong pergi keluar sebentar! Aku bosen di rumah terus tau, aku pengen main ke luar! Misalnya ke mall atau taman gitu, boleh ya pah?!" bujuk Tania.
"Tania, mau sampai kapan kamu ngerengek terus kayak gitu minta keluar, ha? Papa kan udah berulang kali bilang sama kamu, kamu cuma boleh keluar kalau sudah tiba waktunya!" tegas William.
"Tapi pah, aku udah gak tahan lagi dikurung terus kayak gini! Aku mau keluar, pah!" ucap Tania.
"Kamu bosan?" tanya William sambil tersenyum.
"Iya pah, aku pengen gitu main-main keluar rumah sekedar hirup udara segar! Papa kayak gak tahu aku aja, kan aku gak biasa dikurung gini!" ucap Tania.
"Hadeh..."
William geleng-geleng kepala sambil terkekeh sendiri mendengar perkataan putrinya.
"Ish papa kenapa ketawa? Apanya yang lucu... mmppphhh..."
Tania tiba-tiba dibekap dari belakang oleh Arsen yang baru selesai mandi, untung saja telapak tangan Arsen masih tercium harum sehingga Tania tak perlu khawatir dibuatnya, tapi tetap saja ia kesulitan untuk bernafas karena mulutnya dibekap seperti itu.
"Mmppphhh mmppphhh..." Tania terus berusaha berontak dan melepaskan telapak tangan Arsen dari mulutnya, tetapi tenaganya kalah kuat.
Sementara William yang melihatnya, meminta pada Arsen untuk melepaskan Tania.
"Arsen, kamu lepasin Tania! Emang kamu mau dia sulit nafas dan pingsan?" ujar William.
"Hehe iya pah, nanti aku lepas kok! Sekarang biarin dulu aku mau kasih hukuman buat dia, abisnya dia minta keluar rumah mulu padahal lagi dipingit!" ucap Arsen nyengir.
"Mmppphhh mmppphhh mmppphhh..."
Tania terus berontak memukul-mukul tangan sang abang yang ada di mulutnya, sampai akhirnya Arsen melepaskan tangannya dan tertawa.
"Hahaha enak sayang?" ujar Arsen terkekeh.
"Hah...hah...hah..." Tania mengambil nafas yang sempat terhalang akibat kelakuan Arsen.
Arsen kembali tertawa, lalu duduk di sebelah Tania dan merengkuh pundak gadis itu.
"Ish jangan pegang-pegang ah!" bentak Tania.
"Hahaha, kenapa sih? Masa kakak gak boleh pegang adik kakak sendiri?" ujar Arsen sembari mencolek pipi dan hidung Tania.
"Ah ya gak boleh lah! Kakak macam apa yang nyakitin adeknya?!" ujar Tania cemberut.
"Hey, siapa yang nyakitin kamu sih? Kakak itu cuma kasih hukuman buat kamu, makanya lain kali nurut kalo dibilangin jangan ngelawan!" ucap Arsen.
"Ya gak gitu juga kali!" cibir Tania.
"Gapapa, biar kamu tau rasa!" ujar Arsen nyengir.
"Ish dasar nyebelin!"
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...