Preman Cantik

Preman Cantik
{SEASON } Episode 187 (Velove senang)


__ADS_3

...HALO LAGI GUYS!...


...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...


..."PREMAN CANTIK 2"...


...~~~...


#PREMAN CANTIK S2 EPS. 131


(Velove seneng)


...•...


...•...


Setelah menemui Rania di rumahnya, kini Cakra kembali ke rumah untuk memberitahu Velove kalau saat ini ia sudah berhasil menemukan putri mereka dan tak lupa pula ia akan menunjukkan bagaimana foto anaknya sekarang karena tadi ia sempat meminta foto bersama Rania sebelum memutuskan pulang ke rumah.


Cakra tampak gembira dan terus senyum-senyum sendiri selama berjalan menaiki anak tangga walau harus perlahan-lahan karena ia takut jatuh, ya Cakra sudah tidak sabar menantikan ekspresi Velove begitu mengetahui dirinya sudah berhasil menemukan keberadaan Rania dan bahkan sudah bertemu dengan gadis kecil itu.


TOK TOK TOK...


Begitu sampai di depan kamar putrinya, Cakra si mafia langsung mengetuk pintu dengan keras dan cepat karena sangking bahagianya.


Ceklek...


Tak lama akhirnya pintu terbuka setelah berkali-kali Cakra mengetuk, Velove muncul dari balik pintu dengan wajah cemberut dan makin dibuat cemberut saat melihat papanya lah yang ada di depan pintu.


"Hey, kok kamu cemberut sih ngeliat papa?" tanya Cakra tersenyum berusaha menghibur Velove.


"Karena aku tahu papa pasti belum berhasil temuin putri aku kan? Buktinya papa datang kesini sendiri gak sama dia, makanya aku langsung cemberut pas lihat papa disini sendirian!" jawab Velove.


Cakra tersenyum kemudian membawa Velove ke dalam kamarnya untuk diajak bicara dengan tenang, tak lupa Cakra menutup pintu kamar menggunakan kakinya lalu duduk berdampingan di pinggir ranjang.


"Tunggu dulu, papa ada sesuatu yang spesial buat kamu dan pastinya kamu bakalan seneng banget kalo ngeliat ini...!!" ucap Cakra.


"Apa sih, pah? Bagi aku gak ada yang lebih spesial dari anak aku, darah daging aku sendiri yang dibuang sama papa ke sungai! Sekarang aku cuma mau anak aku, aku gak butuh apa-apa pah...!!" ujar Velove.


"Ya justru itu, makanya kamu lihat dulu dong jangan langsung main komen aja!" ujar Cakra.

__ADS_1


"Emang apa sih, pah??" tanya Velove penasaran.


Cakra pun mengambil ponselnya dari saku kemeja untuk menunjukkan foto Rania bersama dirinya yang diambil sebelum ia pulang ke rumah, ya Cakra nampak sumringah padahal fotonya saja belum dibuka dan Velove tampak kebingungan.


"Nah, ini dia yang mau papa tunjukin ke kamu!" ucap Cakra menunjukkan foto tersebut pada putrinya.


Velove menatap foto si ponsel papanya sembari menyipitkan sedikit matanya untuk coba mengenali siapa gadis kecil yang ada di foto itu, namun usahanya sia-sia karena ia tak dapat mengenali siapa gadis yang berfoto bersama papanya disana.


"Loh ini foto siapa, pah?" tanya Velove terheran-heran.


"Coba tebak!" ucap Cakra malah menyuruh putrinya menebak-nebak siapa gadis di foto tersebut.


"Ish, apaan sih pah? Udah deh gausah main tebak-tebakan kayak gini, jawab aja langsung dia siapa dan apa hubungannya sama aku? Terus kenapa juga papa bilang dia spesial, emang dia ini siapa papa...??" ujar Velove sedikit kesal.


"Iya iya, dia ini Rania anak kita berdua...." jawab Cakra sambil tersenyum dan merangkul putrinya.


"Hah?? Maksud papa...???" ujar Velove terkejut memandang wajah Cakra dengan keheranan.


Cakra mengangguk pelan sambil tersenyum tipis tanda kalau perkataannya memang benar dan tidak ada kebohongan sama sekali, Velove pun secara tiba-tiba tersentak dan kembali menatap gadis di foto itu sembari menitikkan air mata.


Baru kali ini ia bisa melihat wajah putrinya walau hanya dari foto, ya memang sejak baru dilahirkan Rania sudah langsung dibawa oleh papanya pergi dan tak mengizinkan Velove melihatnya sedikitpun.


Disisi lain, Tania tengah murung di kamarnya sembari menatap keluar jendela dengan pandangan kosong dan mata yang berkaca-kaca bersedih memikirkan Rania adiknya yang akan dibawa oleh keluarga kandungnya nanti.


Rupanya Tania masih belum bisa jika harus berpisah dengan Rania karena mereka sudah cukup lama bersama walau tak ada hubungan darah, bagi Tania gadis kecil itu sudah dianggap sebagai adik kandungnya sendiri karena ia memang tak memiliki adik atau saudara kandung lainnya di Bogor.


"Rania, kakak gak mau pisah sama kamu! Karena cuma kamu yang kakak punya kalau nantinya papa mutusin buat balik ke Finland, pasti kakak bakal kesepian kalau gak ada kamu disini!" batin Tania.


Gadis itu sampai mengusap kaca jendela kamarnya yang sedikit berembun karena di luar tengah hujan besar disertai guntur dan angin kencang, momen ini memang sangat pas bagi seseorang untuk galau memikirkan kenangan-kenangan tersedihnya atau mungkin orang yang disayanginya seperti Tania.


Ceklek...


"Papa masuk, ya?"


Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka dan muncul suara yang mirip dengan papanya, ya karena memang benar yang masuk kesana adalah sang papa alis William.


Tania tampak terkejut sampai reflek menoleh ke belakang, ia menghela nafas lega karena melihat papanya yang masuk dan bukan orang lain apalagi orang jahat yang berniat buruk padanya.


"Duh, papa...."

__ADS_1


"Kalo masuk kamar aku tuh ketuk dulu dong, pah!" ucap Tania agak kesal.


"Hahaha, iya maaf sayang!" ucap William santai.


Sang papa itu langsung mendekati putrinya dan mengetahui jika Tania tengah bersedih saat ini, ia pun coba bertanya sekaligus menenangkan putrinya agar tidak bersedih lagi seperti itu.


"Sayang, kamu kenapa sih? Lagi ada masalah apa, kok sampai sedih begini??" tanya William.


William membelai lembut rambut milik putrinya dengan satu telapak tangan, terlihat Tania gugup bingung harus menjelaskan apa pada papanya yang seperti menanti jawaban darinya saat ini.


"Eee... aku cuma kepikiran sama Rania aja, pah!"


Setelah mendapat jawaban dari Tania, William hanya tersenyum kemudian mengajak putrinya duduk di sofa kamar itu agar mereka bisa lebih tenang dalam berbicara satu sama lain.


"Memangnya ada apa sama Rania, sayang?" tanya William sembari mengukir senyum di bibirnya.


Tania kembali terdiam menunduk memikirkan sejenak kalimat yang pas untuk menjawab pertanyaan papanya, sedangkan sang papa malah meraih dan menggenggam kedua telapak tangannya sembari terus menatap wajahnya.


"Hey, ayo jawab dong sayang!" ujar William sambil menarik dagu Tania dengan telunjuknya agar menatap ke wajahnya.


"Umm..."


"Rania kenapa?" tanya William lagi.


"Tadi kakek kandung Rania datang kesini, pah! Dia bilang kalau dia mau bawa Rania pulang ke rumahnya ketemu sama keluarga kandungnya, itu dia yang bikin aku sedih pah..." jelas Tania.


"Ohh, ya bagus dong kalo Rania bisa ketemu sama keluarga kandungnya! Harusnya kamu itu ikut seneng dong, bukan malah sedih!" ujar William.


"Iya aku seneng, pah! Tapi, aku sedih juga kalo harus pisah sama Rania! Kan selama ini aku sama Rania itu udah lumayan deket, dia udah kayak adik kandung aku sendiri pah!" ucap Tania.


"Ya kan kamu bisa temuin dia di rumahnya, pasti keluarganya bakal izinin kok..." ucap William.


"Tetep aja beda dong, pah!" ucap Tania.


William pun tersenyum sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya, akhirnya ia mendekap tubuh Tania lalu mengusap punggung gadis itu dengan lembut dan memberi kecupan manis pada kening Tania.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2