
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 73
(Kepedesan)
...•...
...•...
Akhirnya Tania mengikuti mobil Rizky dari belakang dengan mobilnya karena ia ingin bertemu Velove alias tahanannya yang juga merupakan anak dari mafia penculik Rania itu, Velove tentunya akan dimanfaatkan oleh Tania untuk menekan Cakra kembali agar dia bisa membebaskan Rania.
Di dalam perjalanan, Tania terus menikmati cilor yang dibelinya itu dengan sangat lahap walau ia harus berkeringat karena kepedesan. Berkali-kali Tania mengipas-ngipaskan wajahnya yang berlumuran keringat itu, ia juga meminta Rusli mengecilkan suhu ac di mobilnya agar lebih dingin.
"Duh pedes banget sih... tau gini gue gak minta pedes tadi, tapi enak juga rasanya bikin nagih!" ujar Tania menahan pedas sambil menjulurkan lidahnya.
"Kalo pedes minum dulu, non! Biar pedesnya ilang, jangan dipaksa makan terus nanti yang ada tambah kepedesan loh!" ujar Rusli memberi saran.
"Duh saya belum beli minum, pak! Makanya saya gak bisa minum, nanti kalo ada tukang jualan minum atau model warung gitu berhenti dulu ya pak!" ucap Tania.
"Siap, non! Udah jangan dilanjut makannya!" ucap Rusli.
"Gapapa, pak! Tanggung ini..." ucap Tania tetap memaksa memakan cilor nya walau pedas.
Tak lama kemudian, mereka bertemu dengan sebuah warung kecil di pinggir jalan. Rusli pun melipir sejenak ke pinggir memarkir mobilnya disana.
"Biar saya aja non yang beliin minumnya, jadi non gak perlu bolak-balik!" ucap Rusli.
"Iya deh, pak! Makasih!" ucap Tania.
Rusli langsung turun dari mobil membelikan minuman untuk nona nya, sementara Tania sendiri masih terus kepedesan akibat cilor.
Melihat mobil Tania berhenti, Rizky pun juga ikut menghentikan mobilnya sejenak di pinggir. Tentu ia tak mungkin lanjut berjalan meninggalkan Tania, nantinya ia malah kena semprot gadis tersebut.
"Hadeh, ngapain sih tuh anak? Pake berhenti segala, gue kan lagi buru-buru nih mau mantau pergerakan Cakra lagi!" ucap Rizky sedikit kesal pada Tania.
__ADS_1
Terlihat dari kaca spionnya, Rusli keluar dari warung membawa sebotol air mineral dingin lalu masuk kembali ke dalam mobilnya. Melihat itu, Rizky pun langsung terkekeh dan yakin betul kalau Tania sedang kepedesan karena ia sengaja menambahkan bubuk cabe di cilor milik gadis itu.
"Hahaha, rasain tuh! Omongannya pedes, tapi giliran dikasih makanan pedes malah gak kuat!" ujar Rizky tertawa puas sambil geleng-geleng kepala.
Sementara itu, Rusli memberikan botol minuman itu kepada nona nya untuk segera diminum.
"Ini, non!" ucap Rusli menyodorkan botol itu.
"Makasih, pak!" ucap Tania tanpa basa-basi lagi langsung menenggak botol minuman tersebut.
Dalam sekejap air di dalam botol itu habis karena Tania sangat-sangat kepedesan, bahkan baginya air itu masih kurang dan rasa pedasnya masih menempel di lidah serta bibirnya.
"Duh masih pedes, pak! Tolong beliin lagi ya 2 botol sekalian biar bisa hilangin pedasnya!" ucap Tania.
"Oh, siap non!" ucap Rusli lalu turun kembali dari mobilnya dan pergi ke warung.
Melihat supir Tania turun lagi dari mobil, Rizky pun makin menjadi-jadi tertawanya... pria itu tampak puas sekali mengetahui Tania kepedesan karena ulahnya, tak sedikitpun ada rasa kasihan pada gadis yang sudah ia kerjain itu.
"Hahaha, haduh haduh... ternyata Tania gak sekuat yang gua duga, dia makan pedas segitu aja udah ngap-ngapan hahaha..." ujar Rizky tertawa girang.
...•••...
Sementara itu, Reno datang ke kantornya seperti biasa. Namun, kali ini ia datang disana lebih siang karena jadwal meeting nya saat jam makan siang dan dilaksanakan di cafe dekat perusahaan. Reno sengaja mampir sejenak ke kantor untuk memeriksa kondisi perusahaannya dan memantau para karyawan yang bekerja disana.
"Selamat datang, pak!" ucap Immanuel menyambut kedatangan bosnya di kantor itu.
"Ya, terimakasih! Bagaimana keadaan perusahaan, aman kan?" ucap Reno.
"Tenang aja, pak! Semuanya aman kok! Oh ya klien yang ingin bertemu dengan bapak sedang on the way menuju cafe, pak!" ujar Immanuel.
"Oke, thank you! Kalau gitu saya ingin mengecek dulu para karyawan-karyawan disini, baru setelahnya saya akan berangkat ke cafe bersama Indira!" ucap Reno.
"Baik, pak! Mari saya temani..." ucap Immanuel.
Mereka pun berkeliling mengecek satu persatu karyawan yang sedang bekerja, tampak Reno begitu serius memperhatikan mereka karena ia memang dikenal tegas dan tidak ingin ada karyawannya yang main-main dalam urusan kerjaan.
Setelah dirasa cukup, Reno pun menghentikan langkahnya berbicara kembali pada sang asisten. Ia nampak senang dengan kinerja para karyawan disana yang sangat baik, tentu saja Immanuel juga ikut merasa gembira karena bosnya senang.
"Bagus, semuanya harus terus seperti ini! Pokoknya saya gak mau ada seorangpun yang main-main di perusahaan ini, jika ada maka saya tidak akan segan-segan untuk memecat orang itu!" ucap Reno.
"Siap, pak!" ujar karyawan disana bersamaan.
__ADS_1
"Selama ini mereka semua memang bekerja dengan baik pak, dan saya belum menemukan karyawan yang malas-malasan atau kerjaannya buruk! Mungkin itu karena HRD kita yang pintar menyeleksi para pekerja di perusahaan ini, pak!" ucap Immanuel.
"Ya ya ya... yasudah, saya pergi dulu! Kamu terus awasi mereka dan beri kabar ke saya jika terjadi sesuatu di kantor!" ucap Reno menepuk pundak asistennya.
"Siap, pak!" ucap Immanuel.
Reno pun melangkah pergi keluar dari perusahaannya, ia melajukan mobilnya menuju cafe yang tak jauh dari sana mungkin hanya berjarak beberapa meter saja.
...•••...
Disisi lain, Lionel membawa istrinya ke rumah sakit terdekat dan langsung berteriak panik karena Rianti masih pingsan sampai sekarang. Akhirnya Rianti diperiksa oleh dokter disana dan Lionel senantiasa menemani istrinya selama pemeriksaan.
"Bagaimana, dok?" tanya Lionel khawatir.
Dokter itu malah tersenyum menatap wajah Lionel, tentu saja Lionel memasang wajah heran karena tak mengerti mengapa dokter itu tersenyum.
"Dok, kenapa? Istri saya baik-baik aja kan, dok?" tanya Lionel kembali makin cemas.
"Tenang aja, pak! Istri bapak sehat kok!" jawab dokter itu masih saja tersenyum lebar.
"Syukurlah, terus kenapa istri saya bisa sampai pingsan begini dok? Terus tadi di jalan dia juga sempat ngeluh kepalanya pusing, itu penyebabnya apa dok?" ujar Lionel.
"Bapak tidak usah cemas ataupun panik! Istri bapak ini gak kenapa-napa kok, justru seharusnya bapak senang dan bahagia karena istri anda sedang mengandung...." ucap dokter itu.
"Apa???"
Sontak Lionel menganga terkejut mendengar perkataan sang dokter, ia kini menatap wajah istrinya dengan mata berkaca-kaca seakan tak percaya kalau Rianti kembali mengandung anaknya.
"Dok-dokter serius? Dokter gak bohong kan?" tanya Lionel berusaha memastikan.
"Iya, pak! Kandungan ibu Rianti sudah berusia 3 Minggu dan menuju Minggu keempat, itulah mengapa istri anda mengalami pusing di kepala lalu pingsan seperti tadi!" jawab dokter itu.
Lionel pun dilanda kebingungan yang cukup berat, ia tidak tahu harus senang atau sedih saat ini. Di satu sisi ia senang karena Rianti tengah mengandung anaknya yang kedua, disisi lain ia juga ingat kalau Rianti sedang marah kepadanya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...yeay hamil🥳...
__ADS_1
...❤️❤️❤️...