Preman Cantik

Preman Cantik
{SEASON 2} Episode 122 (Rania bosan)


__ADS_3

...HALO LAGI GUYS!...


...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...


..."PREMAN CANTIK 2"...


...~~~...


#PREMAN CANTIK S2 EPS. 66


(Rania bosan)


...•...


...•...


Tania telah diperbolehkan untuk pulang oleh dokter karena kondisinya juga sudah membaik, ia pun langsung dibantu oleh Riko serta Howard & Hendi untuk menuruni ranjang tidurnya. Tania juga sudah mengganti pakaiannya setelah Riko tadi membawakan koper berisi pakaian untuknya.


"Mari non, kita langsung pulang! Non juga sudah ditunggu di rumah!" ucap Riko menuntun Tania.


"Loh, siapa yang nunggu saya pak?" tanya Tania heran menatap wajah Riko.


"Rahasia, non! Sebaiknya kita langsung pulang saja jika non Tania memang ingin tau..." jawab Riko.


"Ish, ada-ada aja sih! Ngapain coba pake rahasia rahasia segala? Bikin orang penasaran aja, kasih tau dong pak!" ujar Tania geram.


"Nanti non juga tau sendiri kok, mari non!" ucap Riko tersenyum.


Tania pun terpaksa mengiyakan perkataan Riko, mereka lanjut berjalan keluar dari rumah sakit dengan Riko menuntun tubuh Tania dan Howard serta Hendi membawa koper berisi baku nona nya.


Namun, nampaknya ada seorang pria berdiri di depan rumah sakit menanti kehadiran Tania. Ya pria tersebut ialah Revan, ia tau jika Tania akan pulang hari ini dan maka dari itu ia datang kesana untuk menjemput gadis tersebut. Tania langsung tersenyum lebar ketika melihat Revan disana.

__ADS_1


"Hai, udah sembuh?" ucap Revan menyapa Tania.


"Ya, kamu ngapain disini?" tanya Tania heran.


"Aku sengaja jemput kamu, sekaligus juga jagain kamu supaya gak terjadi hal-hal seperti semalam! Aku khawatir kalau para pengawal kamu ini gak bisa jagain kamu dengan baik, Tania!" jawab Revan.


Mendengar ucapan Revan, membuat Riko langsung membulatkan matanya karena merasa tersinggung dengan perkataan Revan barusan.


"Maksud anda apa?" ujar Riko langsung ingin mendekati Revan, namun ditahan Tania.


Riko pun terdiam setelah mendapat pelototan dari nona nya yakni Tania, sedangkan Revan hanya tersenyum tipis melihatnya.


"Gimana, Tania? Boleh kan aku ikut kawal kamu sampai pulang ke rumah??" tanya Revan.


"Eee kayaknya gak perlu deh, Revan! Aku rasa juga Savana gak mungkin balik lagi buat nyerang aku, sekali lagi makasih ya kamu udah punya niat baik sama aku!" jawab Tania tersenyum.


"Oh oke, tapi serius nih?" tanya Revan lagi.


"Iya, Revan! Aku rasa cukup kok pengawalan dari pak Riko sama dua pengawal ku yang lain, makasih ya!" jawab Tania.


Tania hanya mengangguk kemudian memberi gestur agar Riko diam dan tak berbicara lagi, ia pun lanjut memandang wajah Revan dan berpamitan padanya.


"Revan, aku harus pulang sekarang! Maaf ya, kita gak bisa bicara lebih banyak lagi..." ucap Tania.


"Ya, oke! Hati-hati!" ucap Revan singkat.


Tania pun tersenyum ke arah Revan dan tentunya dibalas juga oleh pria tersebut dengan senyuman lebar, barulah setelahnya Tania kembali melanjutkan perjalannya keluar rumah sakit dibantu oleh Riko.


Tampak Revan hanya diam mematung disana memandangi kepergian Tania, ia kemudian melempar senyum ke arah gadis itu walau Tania tentunya tidak melihat kembali ke belakang. Revan pun lanjut masuk ke dalam rumah sakit, entah apa yang ingin ia lakukan di dalam sana.


sementara Tania juga sudah masuk ke mobilnya ditemani oleh Riko di dalam mobil itu, Riko sengaja duduk di bangku belakang agar bisa menjaga nona nya lebih mudah. Dan hal itu juga tidak menjadi keberatan bagi Tania, bagaimanapun juga Tania adalah majikan yang baik dan tidak sombong.

__ADS_1


"Langsung jalan, pak!" ucap Riko pada Rusli sang supir agar bisa langsung melajukan mobilnya.


"Siap, pak!"


Rusli langsung menancap gas dengan kecepatan sedang melajukan mobilnya menuju rumah Tania, sementara Riko menatap ke arah nona nya itu dan tersenyum tipis. Tania tidak sadar jika dirinya tengah dipandangi oleh pengawal setianya itu, karena ia fokus sendiri dengan ponselnya.


...•••...


Sementara itu, Rania masih berada di rumah milik bos mafia yang menculiknya dan tidak bisa pergi kemana-mana karena ia dikurung bersama para pelayannya. Rania menatap ke luar jendela, ia sangat ingin sekali bertemu kembali dengan ayah dan juga kakaknya karena sudah cukup lama mereka tak berjumpa lagi. Rania meneteskan air mata disana sambil mengelus jendelanya, ia merasa sedih apalagi jika membayangkan wajah ayahnya.


Ceklek...


Tiba-tiba pintu terbuka dari luar, seorang pria tua berambut hitam dengan sedikit keputihan masuk kesana sambil tersenyum. Ya siapa lagi dia kalau bukan Cakra si mafia yang sudah menculik Rania, ia masuk kesana seorang diri lalu menghampiri Rania yang masih berdiri di dekat jendela dengan wajah sedihnya serta bibir yang dimajukan ke depan.


"Hai, Rania sayang! Kamu lagi ngapain sih?" ucap Cakra berjongkok di hadapan gadis kecil itu lalu mengusap rambut Rania dengan lembut.


"Aku kangen sama ayah, om! Aku juga pengen ketemu lagi sama kakak! Tolong bebasin aku dong, om! Aku bosan terus-terusan ada disini, yang aku mau cuma pulang ketemu ayah dan kakak! Ayolah om, izinin aku pulang!" rengek Rania memohon pada mafia itu agar ia bisa dipulangkan ke rumah.


"Gak bisa, sayang! Kamu harus tetap disini sama om! Karena kamu sekarang udah jadi milik om, sayang! Om yakin perlahan-lahan kamu pasti bisa terima kenyataan ini dan kamu bisa melupakan ayah serta kakak kamu itu!" ucap Cakra.


Rania kini terdiam menunduk, ia sudah lelah terus membujuk Cakra untuk memulangkan dirinya karena sampai sekarang juga hal itu sia-sia saja. Ya Cakra memang tidak mudah untuk luluh walau itu oleh anak kecil sekalipun, hatinya sudah keras sehingga tidak bisa merasakan yang namanya kasihan.


"Yasudah, sekarang Rania mau kemana? Biar om bawa Rania jalan-jalan ya di dekat sini, kan katanya Rania bosan di rumah terus... bilang aja Rania mau kemana, om bakal bawa kamu pergi!" ucap Cakra.


"Aku cuma mau pulang, om! Bawa aku pulang supaya aku bisa ketemu ayah sama kakak!" ucap Rania kembali mengatakan keinginannya.


"Selain itu, Rania! Oh ya gimana kalau kita pergi ke mall terus main main disana? Rania pasti belum pernah kan main di mall? Gimana, mau gak?" ucap Cakra memberi usul lainnya.


"Gak mau, om! Aku cuma mau pulang, titik!" ujar Rania ngambek lalu membuang muka.


Cakra pun tampak kesal dengan sikap Rania, ia menghela nafas pelan sambil mengelus dada berusaha menahan rasa kesalnya itu. Akhirnya Cakra membiarkan Rania sendiri di kamar itu, karena gadis kecil tersebut juga tidak ingin diajak pergi kemana-mana olehnya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2