Preman Cantik

Preman Cantik
{SEASON 2} Episode 134 (Aku mau baikan!)


__ADS_3

...HALO LAGI GUYS!...


...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...


..."PREMAN CANTIK 2"...


...~~~...


#PREMAN CANTIK S2 EPS. 78


(Aku mau baikan!)


...•...


...•...



...Sebelum mulai lihat yang manis2 dulu...


...❤️❤️❤️...


...|||...


Tania & Rizky tengah dalam perjalanan menuju kebun bambu tempat mereka sudah janjian dengan Cakra, tak lupa juga mereka membawa Velove bersamanya karena akan ditukarkan dengan Rania. Tampak Velove masih ketar-ketir walau ia tahu sebentar lagi dirinya akan bisa kembali bersama sang papa, namun tetap saja rasanya itu tidak mudah karena Tania cukup licik.


Sesampainya disana, rupanya belum ada tanda-tanda Cakra sudah datang karena tempat itu masih sepi dan sunyi hanya ada mobil mereka disana. Mereka pun memutuskan untuk menunggu sampai Cakra datang walau Tania sangat amat kesal karena mafia itu malah terlambat, berkali-kali Tania berusaha menghubungi nomor Cakra tetapi tidak berhasil karena nomornya sedang sibuk.


"Ish sibuk mulu! Lupa apa gimana sih ini orang? Apa dia emang gak peduli lagi sama anaknya?" ujar Tania kesal hampir membanting ponselnya sendiri.


"Sabar, Tania! Lu itu kalo emosi makin tambah jelek tau, orang gak emosi aja udah jelek apalagi emosi! Udah mending lu sabar aja, tunggu dulu sampe sejam siapa tahu dia udah di jalan!" ujar Rizky.


"Yaudah iya, tapi kalo dia gak dateng gimana? Gue kan takut banget Rania kenapa-napa, gue gak bisa tenang kalo Rania belum ada di pelukan gue!" ucap Tania masih panik dan cemas.


Rizky tersenyum tipis lalu menaruh tangannya di pundak Tania sambil menatapnya, perlahan pria itu mulai mengelus lembut pundak Tania sembari mengucapkan kalimat, "Sabar ya!" kepada gadis itu. Tania pun hanya melirik sekilas ke arah Rizky sambil tersenyum tipis, wajahnya mendadak berubah menjadi jutek lalu menyingkirkan tangan Rizky dari pundaknya dengan kasar.


"Gausah pegang-pegang gue! Cari kesempatan dalam kesempitan aja lu jadi cowok! Dasar mesum!" ujar Tania.

__ADS_1


"Ya ampun, apa hubungannya pegang pundak sama mesum? Kalo gue mesum nih ya, waktu lu tidur di bahu gue udah langsung gue terkam lu! Tapi buktinya enggak kan? Jangan asal tuduh deh jadi orang, masih untung gue mau bantu lu buat selamatin Rania!" ujar Rizky berbalik kesal.


Mendengar lelaki di sebelahnya marah, Tania jadi merasa bersalah karena sudah bersikap seenaknya pada Rizky padahal ia juga telah banyak merepotkan pria tersebut selama ini. Sontak Tania langsung menatap wajah Rizky dengan tatapan bersalah, sementara Rizky masih menunjukkan sikap ngambeknya berharap Tania mau membujuknya.


"Yaudah iya, gue minta maaf ya sama lu! Sorry sikap gue selama ini udah keterlaluan, maaf juga ya karena gue sering ngerepotin lu! Jangan marah dong, gue masih butuh bantuan lu!" ucap Tania lembut.


Rizky menoleh ke arah Tania kemudian terkekeh karena melihat ekspresi bersalah dari gadis itu, tentu saja Tania merasa heran karena menurutnya tidak ada yang lucu disana.


"Ish, lu kenapa ketawa??" tanya Tania terheran-heran.


"Gapapa, cuma lucu aja ngeliat lu kayak gitu! Dari yang tadinya ngeselin sekarang jadi gemesin!" jawab Rizky tersenyum lebar.


"Yeh bisa aja lu!"


Velove hanya bisa diam menyaksikan itu, karena sampai sekarang mulutnya masih tertutup lakban sehingga ia tak bisa berkata apa-apa saat ini. Hanya saja pikirannya terus memikirkan sang papa yang sampai saat ini tak kunjung datang ke lokasi, padahal ia sudah sangat berharap bisa lepas dari Tania dan kembali bersama papanya.




Cakra terus berusaha membujuk Rania untuk keluar sembari mengetuk pintu dengan keras, ya gadis kecil itu ngambek dan mengunci pintunya dari dalam kamar setelah Cakra lupa mencabut kunci dari lobang pintu tersebut. Akhirnya sampai sekarang Cakra tak tahu sedang apakah Rania di dalam sana, ia juga sudah terlambat datang bertemu Tania dan Riko juga terus saja mencecarnya dengan telpon.


"Rania, sayang.... keluar dong nak, sebentar aja! Om mau ajak kamu ke suatu tempat yang indah sekali, disana ada kakak kamu juga loh jadi kamu bisa temu kangen sama dia dan peluk dia lagi!" ucap Cakra.


Namun, lagi-lagi tetap saja tidak ada jawaban dari dalam sana yang membuat Cakra bingung harus bagaimana lagi caranya untuk membujuk Rania si gadis keras kepala itu. Cakra pun meminta bantuan anak buahnya untuk mendobrak pintu karena sudah tidak sabar lagi menghadapi Rania, ia memikirkan nasib putrinya alias Velove jika nantinya ia tak datang menemui Tania di kebun bambu.


BRAAKKK...


Dengan mudah anak buahnya itu berhasil mendobrak pintu, mata Cakra langsung terbelalak melihat Rania tengah tergelatak di lantai tak sadarkan diri. Pria itu bergerak cepat menghampiri Rania lalu mencoba menyadarkannya.


"Ya ampun, Rania! Sadar Rania!" ujar Cakra panik berusaha membangunkan gadis itu dengan menepuk-nepuk pipinya pelan.


Gadis kecil itu masih belum sadar juga, Cakra pun bertambah panik karena ia takut disalahkan nantinya oleh Tania apalagi kalau William juga sampai tahu tentang ini. Cakra mengecek denyut nadi Rania dan untungnya masih terasa, pria itu sedikit merasa lega.


Kemudian, ia memerintahkan anak buahnya untuk membawa tubuh Rania ke mobil agar bisa segera dibawa ke rumah sakit untuk diobati. Cakra sangat panik sampai-sampai ponselnya terjatuh disana dan ia tidak menyadari itu, pikirannya kini terfokus pada Rania yang masih pingsan.


"Duh ya ampun, kenapa kamu bisa pingsan Rania? Padahal om baru saja ingin menyerahkan kamu pada Tania, bagaimana ini sekarang?" batin Cakra gemetar merasa cemas pada kondisi Rania juga putrinya.

__ADS_1


Setelah Cakra keluar, ponselnya yang tadi terjatuh berbunyi kembali. Kali ini tampak nama Tania terpampang di layar dan terulang selama beberapa kali sebelum akhirnya berhenti, mungkin Tania kesal karena tidak diangkat-angkat oleh Cakra.


...•••...


Disisi lain, Lionel juga masuk ke kamarnya menyusul sang istri yang masih ngambek dan ditemani putranya yakni Athar. Tampak raut muka Rianti langsung berubah 180 derajat begitu melihat suaminya datang kesana, ia yang tadinya mulai tenang karena kehadiran putranya mendadak kembali kesal ketika melihat wajah Lionel disana.


"Sayang, kamu gak makan?" tanya Lionel dengan lembut sembari berjalan mendekati Rianti.


Rianti hanya diam tak menggubris pertanyaan Lionel, ia malah mengajak bicara putranya sambil mengelus-elus kepala Athar untuk mengalihkan perhatian. Rupanya ia masih tidak mau berbicara ataupun sekedar menatap suaminya itu.


"Athar, nanti kamu kalo udah gede mau jadi apa?" ucap Rianti bertanya pada putranya.


"Jadi Spiderman dong, mah!" jawab Athar sambil memeragakan gaya Spiderman di film-film.


Sontak Rianti tertawa begitupun dengan Athar, sedangkan Lionel hanya tersenyum tipis memandangi mereka dari jarak dekat.


"Mah, itu papa dateng loh! Kok mama malah cuekin papa sih? Emangnya mama sama papa lagi marahan ya? Jangan gitu dong, mah! Athar gak suka kalau lihat mama sama papa marahan..." ucap Athar.


Mendengar itu membuat Rianti gugup, ia melirik sekilas ke wajah suaminya lalu kembali menatap putranya disana.


"Gak kok, sayang! Mama gak marah sama papa, lagian mama juga gak cuekin papa kok! Tadi kan pas papa datang, mama lagi bicara sama kamu sayang!" ucap Rianti mengusap kepala putranya.


"Beneran, mah?" tanya Athar dengan kepolosannya.


"Iya, sayangnya mama! Udah ah gausah mikir yang macam-macam! Sekarang Athar keluar dulu ya, nak! Mama mau bicara empat mata sama papa disini!" ucap Rianti tersenyum.


"Oke, mah!"


Athar pun turun dari ranjang lalu berjalan keluar, sementara Lionel juga berjalan ke arah pintu kemudian menguncinya dan menyimpan kunci itu di kantong bajunya agar Rianti tidak bisa keluar.


Rianti yang melihat itu hanya diam memalingkan wajahnya, sang suami pun berjalan kembali ke arahnya dengan senyum manis di wajahnya. Lionel kini duduk di samping istriku kemudian membelai rambut Rianti dengan lembut, tak ada penolakan dari Rianti karena ia sadar dirinya masih menjadi istri sah Lionel dan tidak boleh melarang suaminya untuk menyentuh tubuhnya.


"Aku mau kita baikan!" ucap Lionel.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2