
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 178
(Dilema)
...•...
...•...
Tliingg....
Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Revan pun langsung beralih dari surat yang sedang ia tandatangani itu menuju layar ponselnya, ia melihat nama Tania muncul disana dan tersenyum lalu membuka isi pesan tersebut.
Revan makin tambah sumringah saat melihat foto Tania yang cantiknya gak ada obat itu, ia senang sekali karena Tania mau menuruti permintaannya dan mengirim fotonya saat ini ke nomornya sesuai yang ia minta sebelumnya pada gadis itu.
Sangking senangnya, Revan sampai mengelus layar ponselnya itu dan mencium-cium foto Tania disana tanpa merasa malu sedikitpun. Ya tentu karena di ruangannya sepi tak ada siapapun yang muncul atau berobat disana.
Tliingg...
Satu lagi pesan masuk dari nomor Tania ke handphonenya, Revan pun kembali membukanya dan membaca apa kiranya yang dikirimkan gadis itu kepadanya, ya ternyata hanyalah berupa pesan teks biasa dari Tania.
💌Tania : Revan, gimana fotonya? Bagus gak? Kamu suka apa enggak sama fotoku?
Revan tersenyum membacanya, ia pun mengetik balasan untuk Tania dengan cepat sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
💌Revan : Bagus banget dan pastinya aku juga suka banget, kamu kelihatan makin cantik ditambah dengan bunga-bunga di belakang kamu!
Setelahnya, Revan pun kembali memandangi foto Tania yang ada di layar ponselnya. Ia berhalu membayangkan ketika saat ini tengah bersama Tania dan saling merangkul satu sama lain.
TOK TOK TOK...
Tiba-tiba suara ketukan pintu muncul dan membuyarkan bayangan Revan tentang Tania dari kepalanya, Revan langsung mengusap wajahnya kasar karena kesal telah diganggu oleh seseorang di luar tersebut.
__ADS_1
"Ya, masuk!" teriak Revan cukup emosi.
Ceklek...
Pintu terbuka dan seorang wanita yang ternyata mamanya alias Eva Andrews, sontak Revan tercengang lalu tampak menyesal karena sudah merasa kesal pada mamanya sendiri, Revan pun menghampiri mamanya itu dan meminta maaf.
"Eh mama, maaf mah tadi aku kira siapa. Abis mama tumben mau kesini gak bilang-bilang aku dulu, kan aku jadi kaget lihatnya." ucap Revan.
"Iya, lagian kamu emang lagi ngapain sih? Kok kesel gitu pas mama dateng ketuk pintu?" tanya Eva.
"Eee gak kok mah, yaudah yuk duduk mah!" ucap Revan mengalihkan pembicaraan dan meminta Eva duduk di sofa yang sudah tersedia.
"Mama mau minum?" tanya Revan.
"Gausah, mama kesini tuh mau main doang kok sekalian lihat-lihat ruangan kamu. Mama juga sebenarnya mau tau sih cara kamu nanganin pasien, tapi tadi kata Sisil kamu lagi gak ada pasien!" ucap Eva tersenyum.
"Iya mah, aku emang lagi free. Tapi, ini ada beberapa surat yang perlu aku tandatangani mah." ucap Revan.
"Oalah, jadi karena itu kamu tadi ngerasa kesel pas mama dateng?" tanya Eva.
"Eh enggak kok mah, bukan itu! Udahlah mah, jangan dibahas lagi yang tadi!" ucap Revan gugup.
"Kan mama sendiri sama papa yang atur soal itu, aku setuju-setuju aja ngikut sama waktu yang mama papa tentuin!" jawab Revan.
"Oh iya ya, terus apa kalian udah saling suka saat ini?" tanya Eva lagi sambil tersenyum.
"Eee kalau soal itu aku kurang tau, mah! Kan yang bisa tau perasaan masing-masing itu diri kita sendiri, jadi aku mana tau apa Tania udah mulai suka sama aku atau belum." jawab Revan.
"Iya sih, tapi kamu sendiri gimana?" tanya Eva.
"Ya kalo aku mah jelas suka banget, aku udah gak sabar malah mau nikah sama Tania!" jawab Revan dengan penuh semangat dan keceriaan.
"Yeh dasar!"
...•••...
Disisi lain, Tania masih berjalan santai mengelilingi taman setelah ia mengetahui kalau Revan menyukai foto yang ia kirim sebelumnya. Tania tersenyum manis sembari menghirup aroma bunga di sekitarnya yang harum bagaikan dirimu.
Namun, keceriaan Tania mendadak sirna lantaran muncul sosok Reno di hadapannya yang tengah berdiri menatap ke arahnya tanpa ekspresi. Tampak Reno menunduk begitu Tania mengetahui keberadaan dirinya disana.
__ADS_1
"Hai, apa kabar?" ucap Reno menyapa Tania sekalian menanyakan kabar gadis itu.
"Baik kok," jawab Tania sekilas tanpa ekspresi.
Reno perlahan maju mendekati Tania dengan dua tangan ia taruh di dalam saku celana. Tania tampak ragu untuk berada dekat dengan Reno karena ia khawatir akan semakin sulit untuk bisa melupakan pria itu dari hatinya yang saat ini adalah milik Revan.
"Stop!" ucap Tania menahan gerakan Reno sembari mengangkat telapak tangan ke depan.
Sontak Reno terhenti langkahnya saat Tania mengatakan itu, walau ia belum mengerti mengapa Tania memintanya berhenti.
"Kenapa?" tanya Reno terheran-heran.
"Sebentar lagi gue akan resmi menikah dengan Revan, sebaiknya kita jangan dekat-dekat! Cukup dari sana aja kalau lu masih mau bicara sama gue, atau enggak lu bisa pergi kok!" ucap Tania.
"Iya aku tau, aku cuma mau nanya kabar kamu aja! Oh ya, sekalian aku mau ucapin selamat buat kamu. Semoga lancar ya sampe hari h dan kalian bisa jadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah!" ucap Reno mendoakan Tania.
"Aamiin, yaudah makasih ya. Tapi, sekarang gue harus pergi mau jemput Rania!" ucap Tania.
"Ya oke, kebetulan aku juga mau ke tempat Ana kok. Hati-hati ya kamu!" ucap Reno tersenyum.
"Ana? Siapa itu Ana?" tanya Tania bingung.
"Putriku, aku sengaja mengubah namanya supaya gak terlalu mirip dengan nama kamu. Yaudah ya, aku duluan?" ucap Reno.
"Eee iya...."
Reno senyum sekilas lalu berbalik badan, ia pun melangkah pergi meninggalkan Tania di taman yang penuh bunga itu. Reno kembali menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang menatap Tania yang masih tetap berdiri disana.
Tania menunduk memikirkan tentang Reno yang sampai harus merubah nama putrinya untuk menghilangkan semua tentang dirinya, Tania merasa sangat bersalah karena telah menyakiti hati pria tersebut dengan tidak menerima cintanya.
"Semoga lu berhasil melupakan gue, Reno!" batin Tania sembari menghela nafasnya.
Saat Tania mendongak kembali, sudah tidak ada sosok Reno disana maupun suara langkah kaki pria tersebut. Sepertinya Reno memang sudah pergi keluar dari taman itu untuk menjemput putrinya di sekolah.
Perlahan Tania pun mulai melangkahkan kaki berjalan pergi dengan perasaan sedih sembari membayangkan wajah Reno serta kenangan yang pernah mereka ukir bersama, masa-masa ketika ia masih menjadi copet teringat kembali olehnya karena itulah saat ia bertemu dengan Reno.
"Kalau gak ada lu, mungkin gue belum mengenal yang namanya kebaikan. Harusnya emang gue gak nyakitin lu kayak gini, tapi apa boleh buat? Gue sama sekali gak ada rasa sama lu!" batin Tania.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...