
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 148
(Tania kenapa?)
...•...
...•...
Tania pulang dengan raut kesedihan yang terukir di wajahnya saat ini, ia masih memikirkan perasaan Reno yang pastinya sangat terluka atas penolakan darinya karena ia memang tidak bisa menikah dengan Reno untuk saat ini.
Ya Tania sudah mengambil keputusan bulat untuk menikah bersama Revan yang merupakan pria pilihan papanya, menurutnya Reno juga tidak benar-benar cinta padanya dan hanya ingin menuruti kemauan mendiang istrinya yakni Rosa.
Itulah salah satu penyebab mengapa Tania menolak Reno dan lebih memilih Revan, karena Tania tak mau sekedar dianggap sebagai pengganti bukannya istri yang benar-benar dicintai dan ia juga tidak akan bisa hidup jika suaminya masih terus menganggap Tania sebagai pengganti Rosa.
"Maafin aku, Reno!" batin Tania.
Melihat nona nya bersedih dan mengeluarkan air mata dari arah spion mobil, Riko pun ikut merasa kasihan serta ingin menangis karena ia juga memiliki rasa cinta pada nona nya itu walau hingga kini ia hanya bisa memendamnya dalam-dalam.
Riko juga tak berani menegur Tania atau sekedar menanyakan ada apa, karena ia takut Tania malah marah padanya seperti sebelum ini dan nantinya hubungan antara keduanya jadi semakin buruk atau tidak enakan lagi.
"Sebaiknya gue diem aja deh, bentar lagi paling non Tania bakal gak sedih lagi... semoga dia bisa bahagia dengan pilihannya!" batin Riko.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah dan tanpa berkata apa-apa Tania langsung saja turun dari mobil lalu pergi menuju ke dalam rumahnya dengan tergesa-gesa masih sambil menitikkan air mata kesedihan karena memikirkan Reno.
Sementara Riko tampak semakin tidak tega pada nona nya melihat Tania yang terus saja menangis disaat berjalan, bahkan Tania sampai tak berbicara apa-apa padanya yang biasanya pasti Tania selalu mengucap terimakasih atau yang lainnya.
"Non Tania kayaknya sedih banget, dia sampe gak bilang makasih sama saya..." batin Riko.
__ADS_1
Namun, Riko berusaha melupakan itu semua karena ia tak mau terlalu memikirkan semuanya apalagi ia hanya seorang pengawal yang tugasnya tentu hanya mengawal nona nya agar terhindar dari bahaya atau siapapun yang hendak menyakitinya.
Riko keluar dari mobilnya setelah mobil itu terparkir dengan benar disana, ia melihat sekilas Tania sudah sampai ke depan pintu cukup cepat sekali dia berjalan hingga tak terasa sudah sampai disana saja padahal baru beberapa detik lalu Tania berjalan.
Pria itu kembali menghampiri para penjaga rumah lainnya yang ada di pos jaga, mereka semua disana terheran-heran melihat Riko yang seperti tengah khawatir dan terus memandangi pintu depan rumah majikannya dari sana.
"Heh, lu kenapa Riko?" tanya Marwan salah seorang penjaga disana juga sembari nyengir.
"Saya kasian sama non Tania, dia sampe sedih begitu!" jawab Riko dengan pelan.
"Waduh, kayaknya ada yang perhatian banget nih sama non Tania!" cibir Arthur.
"Iya nih, jangan-jangan ada rasa nih..." sahut Marwan.
"Apaan sih, kalian? Yakali saya punya rasa sama majikan sendiri, kalo ngomong itu dipikir dulu jangan asal nyeblak aja!" ujar Riko emosi.
"Hahaha, kalo emang gak ada yaudah santai aja!" ucap Hendi yang tiba-tiba muncul dari belakang.
Akhirnya semua penjaga disana menertawakan ekspresi Riko yang memang seperti menyimpan sesuatu mungkin perasaan pada Tania, walau Riko terus berusaha menutupinya agar tak ada yang mengetahui perasaannya itu.
•
•
Namun, Tania tak menggubris pertanyaan Rania dan melewati gadis kecil itu begitu saja dengan menutupi wajahnya yang dipenuhi air mata.
Sontak Rania merasa heran sekaligus penasaran ada apa dengan kakaknya itu, tak biasanya memang Tania mencuekkan Rania seperti itu karena Tania sangat senang sekali bermain dengan Rania.
William yang juga kebetulan ada disana tengah menemani Rania bermain pun ikut merasa penasaran pada tingkah putrinya, bahkan Tania juga tak menyapa dirinya sangat berbeda dengan biasanya saat Tania selalu menyapa serta mencium tangan William ketika pulang atau berangkat.
"Pah, kak Tania kenapa ya?" tanya Rania bingung.
"Papa juga gak tahu, Rania! Tapi, biar papa cek ke kamarnya ya buat cari tau..." ucap William sembari mengusap wajah Rania.
"Aku ikut dong, pah!" ucap Rania.
__ADS_1
"Jangan, biar papa aja yang temuin Tania! Kamu tunggu disini aja, ya?" ucap William tersenyum.
"Oke deh, pah!" ucap Rania manut.
William pun bangkit dari duduknya lalu meninggalkan Rania disana bersama pengasuhnya, ia menaiki tangga secara perlahan menuju kamar putrinya untuk memastikan apa yang membuat Tania jadi seperti tadi dan terlihat memiliki masalah.
TOK TOK TOK....
William langsung mengetuk pintu kamar Tania dengan keras sembari memanggil putrinya itu agar mau membukakan pintu untuknya, William meminta pada Tania untuk membolehkan dirinya masuk ke dalam sana menemui Tania.
"Tania, buka pintunya sayang! Ini papa nak, papa mau ngobrol sama kamu..." ucap William.
TOK TOK TOK...
Sekali lagi William mengetuk pintunya berharap Tania mau segera membuka pintu dan ia pun bisa masuk ke dalam, perlahan terdengar suara langkah kaki dari dalam sana yang kemungkinan adalah milik Tania karena disana tidak ada siapapun lagi.
Ceklek...
Akhirnya Tania mau membuka pintu kamarnya lalu menemui papanya di depan sana, tampak William langsung tersenyum dan melangkah maju memasuki kamar putrinya walau Tania belum mengatakan apa-apa atau mempersilahkan ia masuk.
"Papa mau bicara apa sih?" tanya Tania heran.
Melihat wajah putrinya yang tampak sembab dan matanya yang merah seperti habis menangis, William pun merasa khawatir pada Tania dan langsung memegang wajah gadis itu dengan kedua tangannya untuk menanyakan apa yang terjadi padanya.
"Kamu kenapa nangis, sayang?" tanya William begitu cemas dan khawatir.
"Gapapa kok, pah! Lagian siapa juga yang nangis? Aku tuh gak nangis, papa...!!" jawab Tania mengelak, ia tak mau papanya tahu tentang Reno.
"Kamu masih aja bohong, papa udah jelas-jelas lihat mata kamu aja merah gitu! Udahlah kamu jujur aja sama papa, ayo kasih tahu papa kenapa kamu nangis dan siapa yang udah bikin kamu nangis kayak gini sayang...??!!" ujar William.
"Aku gak nangis, papa!" ucap Tania masih saja mengelak dari dugaan papanya itu.
William pun menghela nafas sejenak tanpa melepas pegangannya dari wajah Tania, ia menarik tubuh putrinya menuju kursi dan mendudukkan Tania disana lalu menatapnya tajam membuat gadis itu tak berani menatap wajah papanya secara langsung.
"Gimana ini, papa kayaknya maksa banget buat aku bicara...." batin Tania kebingungan.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...