Preman Cantik

Preman Cantik
{SEASON 2} Episode 211 (Tidak mudah)


__ADS_3

...HALO LAGI GUYS!...


...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...


..."PREMAN CANTIK 2"...


...~~~...


#PREMAN CANTIK S2 EPS. 154


(Tak mudah)


...•...


...•...


Tania turun dari mobil kekasihnya setelah Revan membukakan pintu untuknya, mereka tampak saling pandang sambil tersenyum dalam jarak dekat, Revan yang gemas berkali-kali mencubit pipi Tania dengan kedua tangannya.


"Makasih ya, Van!" ucap Tania tersenyum.


"Buat?"


"Kan kamu udah bukain pintunya tadi..."


"Ohh, kirain buat ciuman tadi!"


"Ish!"


Tania pun segera mencubit pinggang Revan dengan keras karena merasa malu, sedangkan pria itu malah nampak kesenengan dicubit oleh kekasihnya bukannya kesakitan seperti orang yang dicubit pada umumnya.


"Yaudah, kamu langsung masuk gih!" ucap Revan.


"Kamu gak ikut ke dalam juga?" tanya Tania.


"Duh, kayaknya enggak dulu deh buat sekarang! Soalnya aku harus langsung pulang, aku mau siapin sesuatu buat kamu!" jawab Revan sembari mengusap puncak kepala gadisnya.


"Hah? Sesuatu apa??" tanya Tania heran.


"Kepo deh!" ucap Revan mencolek hidung Tania.


"Ish, kamu kok gitu sih! Kasih tau dong, kamu mau siapin apa buat aku?" rengek Tania.

__ADS_1


"Hahaha, makin gemesin aja sih kamu! Ini rahasia sayang, nanti kalo aku kasih tau ke kamu sekarang bukan surprise dong namanya!" ucap Revan tersenyum memperlihatkan gigi-giginya.


"Yah oke deh terserah, tapi jangan harap aku mau angkat telpon kamu!" ucap Tania ngambek.


"Ohh, jadi ceritanya ngambek nih sama aku? Oke, siapa takut?" ujar Revan senyum-senyum.


"Ish, kok malah begitu sih? Harusnya kamu bujuk aku dong terus kasih tau kamu lagi siapin apa, bukan malah nantangin begitu ih...!!" ujar Tania kesal.


"Iya iya, jangan ngambek dong beb!" bujuk Revan.


Tania yang ngambek akhirnya membuang muka sembari melipat kedua tangan di dada, sedangkan Revan tampak tersenyum menatap gadisnya dari samping yang memang terlihat lebih menggemaskan jika sedang marah atau ngambek seperti itu.


Revan berusaha mendekati Tania dan memeluk kekasihnya itu dari samping lalu meletakkan kepala gadisnya pada dada bidangnya, ia menautkan dagunya di atas puncak kepala Tania dan perlahan mengusap lembut kekasihnya.


"Aku emang suka ngeliat kamu begini, tapi ya jangan keterusan juga dong!" ucap Revan.


"Ya makanya kamu kasih tau dong!" ucap Tania.


"Nanti kamu juga tahu kok, sabar ya cantik!" ucap Revan mencolek pipi Tania.


"Huft, yaudah iya gapapa..." ucap Tania.


"Nah gitu dong, aku sayang deh sama kamu!" ucap Revan mengelus wajah mulus kekasihnya.


Disaat mereka sedang asyik-asyiknya bermesraan disana, tiba-tiba Cakra bersama Velove muncul memanggil Tania dari arah rumahnya sambil tersenyum sumringah menatap ke arah gadis yang masih berada dalam pelukan kekasihnya.


"Tania!"


Mendengar namanya disebut, Tania pun spontan menoleh tanpa melepas pelukannya dari Revan karena Revan juga tak melepaskan tangannya, ia menatap tak suka saat mengetahui Cakra & Velove lah yang memanggilnya dan saat ini ada di dekatnya.


"Kalian ngapain disini?" tanya Tania ketus.


"Kita ini kan keluarga kandungnya Rania, jadi kita berhak dong datang kesini buat temuin dia!" jawab Cakra sambil senyum-senyum.


Tania sangat emosi melihat kedua orang itu disana, ia tidak ingin jika mereka merebut Rania darinya dan membawa Rania pergi, Revan yang tau gadisnya tengah kesal coba meredam amarah Tania dengan mengusap-usap tubuhnya lembut.


...•••...


Disisi lain, Reno baru menghabiskan jagungnya dan kini tengah jalan menuju tempat parkir bersama Lyota setelah membayar semuanya, ia tampak puas karena malam ini menjadi malam yang lumayan membahagiakan dirinya.


Walau sebelumnya Reno harus bertemu kembali dengan Tania sang wanita yang dicintainya dan membuatnya teringat kembali pada gadis itu, akan tetapi untunglah sekarang ia bisa bersama Lyota yang bisa dijadikan sebagai pengganti Tania.

__ADS_1


Apalagi Reno juga merasa nyaman ketika dekat dengan Lyota selama ini, ya ia memang belum terlalu lama mengenali gadis itu dan mungkin baru beberapa kali saja mereka bertemu, namun rasanya ia sudah merasakan ada sesuatu lain yang bersarang di hatinya saat bersama Lyota.


Berkali-kali Reno mencuri pandang menatap tubuh Lyota dari samping selama perjalanan itu, ia juga coba memanfaatkan kesempatan untuk menggandeng tangan Lyota selagi gadis itu lalai dan tidak memperhatikan ke arahnya.


"Eh, lu ngapain sih?" ujar Lyota langsung sigap menjauhkan tangannya saat Reno baru saja hendak menggenggamnya.


"Gak kok, saya mau gandeng tangan kamu aja!" jawab Reno jujur sambil tersenyum.


"Hah? Mau ngapain lu gandeng tangan gue, ha? Jangan macem-macem ya! Gue ini bukan cewek gampangan kayak yang lu kira...!!" bentak Lyota.


"Apa sih, sayang?"


"Jangan panggil gue dengan sebutan itu lagi! Atau gue pergi nih dari lu...!!" ancam Lyota.


"Iya iya, maksud aku Lyota! Kamu jangan marah-marah terus dong, aku kan cuma mau gandengan sama kamu dan gak ada maksud ngerendahin kamu atau apalah itu!" ucap Reno.


"Tetep aja gue gak suka, gue tuh gak terbiasa gandengan tangan sama cowok!" ucap Lyota.


"Yaudah oke, gapapa kok! Maaf ya kalo aku tadi lancang dan bikin kamu emosi, aku gak tahu kalo kamu segitu antinya disentuh sama cowok!" ucap Reno tersenyum.


"Ya, udah gausah dibahas lagi!" ucap Lyota.


"Oke, sekarang kita mau langsung pulang atau kamu masih mau main-main lagi disini?" tanya Reno.


"Lu gimana sih? Kan sebelumnya gue dah bilang, gue mau pulang karena ini udah malem! Emang lu gak denger apa, atau jangan-jangan telinga lu budeg ya?" ujar Lyota masih ngomel-ngomel.


"Hahaha, kali aja kan kamu berubah pikiran!"


"Gak lah, gue itu selalu teguh pendirian! Jadi kalo gue pulang ya kita langsung pulang, kalo emang lu masih mau disini yaudah gapapa! Kan gue bawa motor dan bisa pulang sendiri, gampang kan?" ucap Lyota.


"Jangan begitu lah! Aku kan udah bilang tadi mau nganterin kamu, aku juga mau tau dimana sih rumah gadis cantik kayak kamu..." ucap Reno.


Lyota dengan cepat menghindar dari tangan Reno yang lagi-lagi hendak menyentuhnya kali ini bagian rambutnya, ia memang tidak suka jika disentuh oleh cowok apalagi yang baru dikenalnya seperti Reno ini yang belum terlalu lama ia kenali.


Sedangkan Reno langsung menurunkan tangannya sambil senyum-senyum tak percaya, namun itulah yang ia sukai dan kagumi dari sosok Lyota yang tidak mudah ditaklukkan bahkan untuk disentuh saja sulit sekali baginya.


"Kayaknya aku mulai tertarik sama kamu, Lyota!" batin Reno tersenyum.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2