
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 71
(Ancaman Riko)
...•...
...•...
Mobil Cakra tiba-tiba dicegat oleh sebuah mobil sedan putih yang datang dari arah belakangnya, sontak supirnya terkejut lalu mengerem secara mendadak sekaligus membuat Cakra yang tengah asyik berciuman dengan Ratih jadi kaget lalu reflek melepas ciumannya. Cakra tampak kesal sekali pada pengendara mobil di depannya itu.
"Haish, siapa sih itu? Kurang ajar banget jadi orang, bisa bawa mobil apa enggak sih?" ujar Cakra.
"Sabar, bos! Kan kita bisa lanjut lagi di rumah nanti buat yang lebih panas..." ucap Ratih menggoda bosnya sambil berusaha menenangkan Cakra.
Cupp...
Cakra mengecup bibir Ratih sekilas, lalu menatap seseorang yang turun dari mobil sedan putih tersebut. Orang itu berjalan mendekati mobil Cakra lalu berhenti di depan kap mobilnya, terlihat jelas pria itu memberi gestur meminta Cakra turun.
"Biar saya langsung yang urus, kalian diam saja!" ucap Cakra meminta anak buahnya yang ada di dalam mobil untuk tetap diam.
Cakra langsung turun dari mobilnya setelah mengecup bibir Ratih, ia penasaran ingin tau siapa dan apa maksud dari orang di luar itu.
"Hey, siapa anda?" tanya Cakra pada pria tersebut.
__ADS_1
Tampak pria itu langsung mendekat ke arah Cakra tanpa ekspresi, ia menatap wajah Cakra tajam lalu melempar senyum tipis sambil mengulurkan tangannya ke arah depan Cakra.
"Saya, Riko!" ucap pria itu.
Cakra malah terdiam menatap pria itu dengan wajah curiga, namun akhirnya ia mau meraih tangan pria tersebut dan bersalaman dengannya.
"Ya, lalu mau apa anda mencegat mobil saya?" tanya Cakra dengan wajah penasarannya.
Pria yang ternyata Riko alias asisten Arsen itu malah tersenyum tipis, ia menggosok bagian bawah hidungnya sekilas sebelum membuka mulutnya.
"Saya ingin memperingatkan anda, cepat bebaskan Rania kalau tidak ingin tuan saya mengamuk dan mengerahkan seluruh pasukannya untuk menghajar anda!" jawab Riko menjelaskan dengan santai.
Sontak Cakra langsung terkejut hebat mendengarnya, namun ia tetap berusaha tenang karena belum tahu siapa tuan dari pria yang berada di depannya itu.
"Cih, memangnya siapa tuan anda itu?" tanya Cakra.
"Hahaha, William Abraham! Sudah tentu anda pasti mengetahui dan mungkin mengenali nama itu, bukan? Sebaiknya anda berhati-hati karena Rania sudah menjadi bagian keluarga Abraham, selain itu tuan saya juga sudah berada di negara ini! Jika dalam waktu 24 jam anda belum menyerahkan Rania pada saya, jangan salahkan saya jika tuan saya akan mengerahkan pasukannya untuk menyerang rumah anda!" jawab Riko mengancam Cakra.
Lagi-lagi Cakra harus dibuat bingung dan terkejut mendengarnya, tubuhnya mendadak panas dingin karena ternyata ia sudah menculik gadis yang salah. Cakra tidak mungkin tentunya bisa menghadapi pasukan dari William Abraham alias papa Tania itu, karena jumlah pasukan William tak terhingga.
Cakra dengan gemetar mengambil kartu nama itu dari tangan Riko, sedangkan Riko tersenyum-senyum saja merasakan ketakutan yang dialami Cakra.
"Saya tidak bisa menyerahkan Rania, sebelum putri saya dikembalikan!" ucap Cakra gugup.
"Putri anda, itu bukan urusan saya ataupun tuan saya! Intinya adalah anda lepaskan Rania, atau tuan saya itu akan mengerahkan pasukannya menggempur rumah anda! Saya permisi, ditunggu secepatnya keputusan dari anda!" ucap Riko.
Tanpa berbicara banyak lagi, Riko langsung pergi dari sana meninggalkan Cakra yang masih terpaku disana menatap kartu nama Riko. Ia bingung harus berbuat apa saat ini, yang dihadapinya bukan lagi hanya seorang Jordi melainkan William Abraham.
"Saya harus bagaimana sekarang? Velove saja belum berhasil saya temukan, ini ketambahan masalah lain! Pasti Tania yang meminta bantuan papanya untuk membebaskan Rania, aargghh sial!" batin Cakra.
...•••...
__ADS_1
Disisi lain, Joshua sudah menyelesaikan pergulatannya dengan Felicia di kamar tadi. Ia langsung keluar meninggalkan gadis yang masih menangis itu sendiri disana, tampak Joshua sangat puas karena berhasil menuntaskan keinginannya dan membuat Felicia lemas di ranjang. Tak sedikitpun ada rasa belas kasihan dari wajah Joshua, ia bahkan tidak perduli pada gadis itu padahal Felicia sedari tadi menangis karena tubuhnya dijadikan pelampiasan nafsuu Joshua. Justru pria itu malah semakin mengganas dengan mempercepat gerakan maju-mundur sampai mengeluarkan cairan di dalam.
Setelah Joshua keluar dan mengunci pintu kamar, tampak Felicia bangkit mengambil pakaiannya yang dibuang ke berbagai arah oleh Joshua. Ia merasakan sakit pada area miliknya akibat permainan kasar dari Joshua barusan, sambil menangis ia memakai kembali semua pakaiannya. Setelahnya, Felicia kembali merebahkan tubuhnya di ranjang dan meratapi nasibnya yang sangat sial itu.
"Kenapa ini harus terjadi sama gue? Bahkan gue gak ngerasa punya salah apa-apa sama cowok itu, tapi kenapa dia tega giniin gue? Emangnya dia anggap gue ini wanita seperti apa sih?" batin Felicia.
Sementara Joshua sudah turun ke bawah menghampiri Olivia yang masih tertidur di sofa, ia terlihat sangat berkeringat dan wajahnya sumringah karena gairahnya telah berhasil ia keluarkan.
Cuppp...
Joshua mengecup bibir gadisnya sekilas lalu mengelusnya lembut, Olivia hanya berbalik badan tanpa membuka matanya. Joshua pun tersenyum kemudian mengelus wajah gadisnya dan mengangkat secara perlahan kepala Olivia lalu menaruhnya di atas pahanya.
Tak lama kemudian, Olivia akhirnya terbangun karena merasakan sensasi aneh di tubuhnya yang mungkin akibat dari tangan jahil Joshua. Ya pria itu masih saja merabaa-rabaa gunung kembar Olivia yang masih tertutup baju itu, sontak Joshua langsung tersenyum ketika melihat gadisnya membuka mata.
"Kamu ngapain, Jos?" tanya Olivia sambil perlahan bangkit lalu duduk di samping Joshua.
"Eee enggak kok, enak aja ngelus ngelus dada kamu!" jawab Joshua nyengir.
"Ohh dasar cowok!" ujar Olivia sambil tersenyum.
"Udah puas tidurnya?" tanya Joshua.
"Iya, udah kok! Maaf ya Jos, aku malah jadi ketiduran disini!" jawab Olivia manggut-manggut.
"Gapapa," ucap Joshua pelan lalu memegang wajah Olivia sambil memajukan bibirnya.
Gadis itu nampak tau apa yang hendak dilakukan Joshua, ia reflek memejamkan mata karena Joshua juga sudah menarik wajahnya.
Ya akhirnya Joshua mencium bibir Olivia dengan lembut, ia menempelkan bibirnya cukup lama di bibir gadisnya. Barulah ia mulai menyesap, menghisap serta melumatt bibir Olivia dengan rakus. Gadis itu diam saja membiarkan Joshua bermain sendirian dengan bibirnya, ia membuka sedikit mulutnya agar Joshua bisa menelusup masuk ke rongga mulutnya.
Ciuman itu bertambah panas dan menggairahkan karena Joshua menempatkan kepala Olivia di sandaran sofa, ia memperdalam ciumannya dan lidahnya menari-nari di dalam rongga mulut Olivia.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...