
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 74
(Klien)
...•...
...•...
Tania & Rizky sampai di tempat pria itu menyimpan alias menahan Velove si anak mafia, mereka datang kesana tentunya untuk mengecek sekaligus memanfaatkan tahanan mereka. Tania tampak sudah tidak sabar ingin membuat mafia itu tertekan dengan menunjukkan video saat dirinya menyiksa Velove di dalam sana, ya ia sudah memiliki rencana sendiri agar bisa membebaskan Rania.
Ceklek...
Pintu pun terbuka setelah Rizky membuka kuncinya, mereka langsung masuk ke dalam tanpa berlama-lama lagi. Terlihat Velove masih berada disana dalam kondisi acak-acakan dan tampak lemas, wanita itu langsung mengangkat kepalanya saat melihat ada yang datang dan makin ketakutan karena yang datang adalah Tania & Rizky.
"Hey, apa kabar?" ujar Tania basa-basi sambil mendekati Velove dan menyentuh pundaknya.
Velove seperti hendak berontak tapi tidak berhasil karena ikatan di tubuhnya cukup kuat, teriakannya juga tak dapat didengar oleh siapapun karena mulutnya juga dibungkam dengan lakban hitam.
"Hahaha, kasihan banget sih lu! Tersiksa karena kelakuan jahat bokap lu sendiri! Oh ya pasti lu mau bebas dari sini kan?" ucap Tania menatap mata Velove dengan senyuman licik di wajahnya.
Gadis yang terikat itu hanya bisa mengangguk pelan tanda ia memang ingin keluar dari sana, tentu saja siapapun tidak ada yang mau menjadi tahanan.
"Bagus, kalo gitu lu bakal bisa keluar dari sini kok! Setelah bokap lu itu serahin adik gue, oke supaya itu cepat terlaksana maka gue dengan sangat berat hati bakal siksa lu dan bikin lu kelihatan lebih menderita dari sekarang! Ya walaupun hidup lu emang udah menderita sih sejak lahir, karena lu lahir di keluarga mafia jahat itu! Tapi, kali ini gue akan kasih siksaan yang lebih ganas supaya bokap lu gak berani main-main lagi sama gue..." ucap Tania.
Gadis itu memutari Velove sambil tertawa layaknya seorang psikopet, ia mengelus wajah Velove dengan ujung kuku jari tengahnya itu. Sementara Rizky hanya diam menyaksikan gadisnya bertindak seperti orang jahat, namun tentu ia tahu betul Tania tidak akan bertindak di luar batasannya. Sedangkan Velove sendiri semakin ketakutan, sentuhan-sentuhan di wajahnya justru membuat ia makin bergidik membayangkan siksaan apa yang akan diberikan oleh Tania kepada dirinya nanti.
Tampak Velove memejamkan mata sambil gemetar ketakutan, ia berdoa meminta keselamatan agar terbebas dari tangan Tania maupun Rizky. Velove tanpa sadar mulai menitikkan air mata karena ia merasa menyesal terlahir di keluarga Cakra sang mafia yang kejam, sehingga ia harus menanggung akibatnya dari perbuatan sang ayah.
__ADS_1
"Heh, ngapa nangis lu? Cengeng amat jadi cewek, lihat tuh si cabe! Dia juga cewek tapi galak sama bawel banget, lu contoh dia!" ujar Rizky langsung dibalas dengan tatapan tajam dari Tania.
"Sembarangan aja lu kalo ngomong!" ujar Tania kesal menatap wajah pria di hadapannya itu.
"Hehehe, kan emang bener lu itu cerewet! Siapapun kalo ketemu sama lu gue yakin bakal kena mental, gue aja udah makin gak kuat deketan sama lu!" ujar Rizky sambil nyengir sekilas.
"Bukan cuma lu, gue juga udah males deket-deket sama cowok kayak lu!" ucap Tania kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada Velove.
Tania kembali melancarkan aksinya dengan mulai mengacak-acak rambut Velove serta menggunting pakaiannya, ia harap dengan begitu nantinya Cakra akan mengira kalau Velove habis disiksa.
...•••...
Sementara itu, Reno sudah sampai lebih dulu di tempat ia akan bertemu dengan kliennya dari Finlandia. Pria itu bersama sekretarisnya yakni Indira telah menyiapkan segala keperluannya untuk meeting nanti, ya kini mereka hanya tinggal menunggu kedatangan kliennya itu.
"Umm pak, apa bapak gak mau pesan kopi dulu?" ucap Indira menawarkan minum pada bosnya.
"Tidak usah, saya belum haus kok! Kalau kamu mau pesan, yaudah pesan aja biar saya yang bayar!" ucap Reno dengan sikap tegasnya.
"Eee saya juga belum haus, pak!" ucap Indira menolak tawaran Reno karena ia sungkan tentunya harus memesan minum sendirian sementara bosnya tidak.
Tak lama kemudian, seorang pria berjas dengan rambut yang sudah mulai memutih masuk ke cafe tersebut ditemani beberapa pengawalnya. Ia celingak-celinguk mencari seseorang yang akan ditemuinya, karena bingung ia pun menghubungi orang itu dengan ponselnya.
💌Saya sudah sampai!
Ada pesan masuk di ponsel Indira dari kliennya tersebut, tentu ia langsung memberitahu Reno dan kemudian melihat ke sekeliling cafe untuk mencari dimana keberadaan kliennya.
"Eee pak, itu dia pak William!" ucap Indira menunjuk ke arah depan pintu cafe.
"Yasudah, kamu samperin dia!" perintah Reno.
"Baik, pak!"
Indira pun bangkit dari duduknya lalu menghampiri kliennya yang masih terlihat kebingungan di depan cafe itu, sementara Reno mengeluarkan ponselnya untuk memberi pesan pada mamanya sejenak.
Begitu sampai di dekat sang klien, Indira langsung menyapanya dan memperkenalkan diri sebagai sekretaris Reno pemimpin perusahaan rero abadi.
__ADS_1
"Excuse me, are you Mr. William?" tanya Indira.
"Oh ya ya, Indonesia aja! Saya juga kebetulan orang asli Indonesia yang tinggal di luar negeri, justru malah saya tidak terbiasa berbicara dengan bahasa Inggris seperti itu jika disini!" ucap pria itu.
"Baik pak, maaf! Perkenalkan saya Indira, sekretaris pak Reno!" ucap Indira mengulurkan tangannya ke depan pria tersebut.
"Ya, saya William! Dimana bos kamu itu?" ucap pria bernama William itu bersalaman dengan Indira.
"Eee anda sudah ditunggu disana, mari pak!" ucap Indira menunjuk ke arah Reno lalu mengantar William menuju meja yang sudah dipesan.
Mereka pun menghampiri Reno disana, tampak Reno yang menyadari kliennya sudah mendekat langsung bangkit memasukkan ponselnya ke saku celana dan tersenyum menyambut kedatangannya.
"Welcome, Mr. William!" ucap Reno menyapa kliennya.
"Ya, terimakasih! Anda pasti Reno kan?" ujar William sambil nyengir.
"Wow saya tidak menyangka kalau anda bisa berbahasa Indonesia, betul sekali tuan saya Reno pemimpin perusahaan rero abadi!" ucap Reno.
"Salam kenal, saya William Abraham!" ucap William bersalaman dengan Reno.
"Silahkan duduk, pak!" ucap Reno.
Mereka semua pun duduk di kursi cafe yang telah dipesan sebelumnya, sementara para pengawal William tetap berdiri disana menjaga tuan mereka.
"Mau minum apa, pak?" tanya Reno.
"Mumpung saya sedang di luar seperti ini, alangkah baiknya kalau saya pesan kopi! Kebetulan di rumah itu anak saya selalu melarang saya minum kopi, jadi selagi ada kesempatan ya sekali-kali tidak apa-apa kalau saya minum kopi..." ucap William nyengir.
"Ah baik, pak!" ucap Reno ikut tertawa kecil memandang wajah kliennya.
Setelah memesan minuman, mereka pun mulai membahas proyek kerjasama diantar kedua perusahaan itu. Tentu proyek ini sangat menguntungkan bagi Reno mengingat William adalah seorang pengusaha hebat yang sudah melalang buana di luar negeri.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Ketemu papanya dulu baru anaknya...
...❤️❤️❤️...