
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 91
(Berenang)
...•...
...•...
Tania menemui adiknya di taman samping rumah, ya Rania sepertinya tengah menikmati pemandangan indah disana yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Memang rumah Tania cukup besar sehingga terdapat banyak taman luas di rumah itu, mungkin untuk dijadikan lapangan sepakbola juga bisa.
Rania sedang duduk di bangku panjang sembari tersenyum memandang berbagai jenis tanaman serta keindahan yang tersedia disana, kicauan burung peliharaan Tania juga menambah kesan damai yang dapat ia rasakan saat ini. Entah mengapa rasanya Rania sangat menikmati suasana indah ini, cukup lama ia menginginkan ini.
Tania pun duduk di samping gadis kecil itu lalu memegang dua pundak Rania dengan tangannya, sontak Rania kaget dan menoleh ke belakang. Ia langsung tersenyum begitu melihat kakaknya datang dan duduk di sampingnya, begitupun Tania yang juga membalas senyuman adiknya.
"Kamu lagi ngapain disini, Rania? Kakak cariin di dalam gak ketemu-ketemu eh ternyata malah ada disini, kamu suka ya duduk disini??" ucap Tania mengusap punggung adiknya lembut.
"Iya kak, suka banget! Disini itu pemandangannya indah gak kayak di rumah ayah, malah disana yang ada malah tumpukan sampah sama suara sepeda motor yang berisik! Makanya aku nyaman banget tinggal disini, apalagi sama kakak dan ayah! Terus ditambah aku juga punya papa sekarang, cuma kurang satu aja sih kak...." ucap Rania menggantung.
"Apa tuh, sayang?" tanya Tania.
__ADS_1
"Aku gak punya mama kayak orang-orang, padahal aku kepengen banget punya mama juga! Aku lihat orang-orang pada bahagia sama mamanya, sementara aku cuma bisa berharap!" jawab Rania menyambung kalimatnya tadi.
"Hey, kamu jangan sedih gitu dong! Kan masih ada kakak yang bisa jadi mama kamu, udah ya kamu gak boleh sedih-sedih terus! Anak cantik gak pantes sedih kayak gini, senyum ya sayang!" ucap Tania berusaha menghibur adiknya, ia membelai rambut Rania sembari tersenyum dan menatapnya.
Gadis kecil itu memang menginginkan sosok ibu yang bisa memberi kasih sayang padanya seperti orang-orang lain, sejak kecil Rania tidak pernah bertemu dengan ibunya bahkan mendengar ceritanya pun jarang sekali.
Rania pun tidak tahu apakah ia memiliki seorang ibu atau malah ia sendiri lahir tanpa sosok ibu di sisinya, itulah yang sejak kecil ia pikirkan sampai berusia seperti sekarang. Tentu saja Rania selalu membayangkan bagaimanapun wajah ibunya, karena ayahnya yakni Jordi tidak pernah melihatkan foto ibunya sehingga ia tidak tahu persis seperti apa wajah cantik ibu yang melahirkannya dulu.
Tania tentu tahu apa yang dirasakan adiknya saat ini, karena itu juga yang menjadi permasalahan dirinya dahulu ketika masih kecil seusia Rania. Hanya saja ia beruntung karena kali ini Tania sudah mengetahui wajah mamanya, walau harus menunggu hingga ia berusia dewasa.
"Rania, udah ya jangan sedih terus! Eh ya gimana kalo kita berenang sekarang? Mumpung cuacanya lagi enak nih buat main-main di kolam renang, kamu pasti belum pernah berenang kan?" ucap Tania mengajak adiknya berenang tentu untuk menghilangkan kesedihan di hatinya.
"Wah aku mau dong kak! Dari dulu aku selalu kepengen banget berenang di kolam, tapi emang disini ada kolam renang kak?" ucap Rania langsung berubah ceria begitu mendengar kata berenang.
"Ada dong di belakang, kolamnya luas lagi! Kamu tahu gak, yang bikin itu papa loh... yaudah kalo kamu emang mau berenang sekarang jangan sedih-sedih lagi ya!" ucap Tania.
"Tenang, kan ada kakak! Aku bakal ajarin kamu berenang sampai kamu bisa, yang penting Rania gak boleh sedih terus kayak tadi!" ucap Tania memegang pipi gemas Rania dengan dua tangannya.
Rania pun manggut-manggut gembira, seketika pikirannya tentang sosok ibu menghilang karena ajakan Tania untuk berenang di kolam.
"Yaudah sekarang kita ambil perlengkapan renangnya dulu yuk! Kakak udah beliin kamu baju renang yang bagus loh, jadi nanti kamu tinggal pake aja!" ucap Tania.
"Wah aku mau coba dong kak!" ujar Rania.
"Iya, yuk kita kesana!" ucap Tania.
Mereka pun pergi dari sana untuk mengambil perlengkapan renang sekaligus ganti baju, ya gadis kecil itu kembali ceria seperti sebelumnya.
__ADS_1
...•••...
Disisi lain, Olivia masih tak menyangka kalau dirinya sudah tidak virgin lagi karena telah menyerahkan mahkotanya itu kepada Joshua yang belum resmi menjadi suaminya. Tentu Olivia sangat amat terluka dan hancur ketika mengetahui ini semua, apalagi Joshua selalu mengancamnya dengan video panas yang mereka lakukan sehingga ia tidak bisa melaporkan itu pada orangtuanya.
Saat ini Olivia tengah dirundung kesedihan yang mendalam, ia terus-terusan mengurung dirinya di dalam kamar selama berjam-jam. Berkali-kali mamanya membujuk ia untuk makan, tetapi Olivia selalu menolak dan mengatakan tidak berselera.
TOK TOK TOK...
Akhirnya demi kebaikan putrinya, mama dan papa Olivia pun memanggil Joshua untuk datang ke rumah membujuk Olivia agar mau keluar makan. Tentu saja Olivia malah bersedih karena mendengar suara Joshua, pria yang sudah merenggut kesucian dirinya walau sebenarnya semua itu mereka lakukan atas dasar suka sama suka.
"Via, buka dong pintunya!" ucap Joshua memanggil Olivia serta memintanya untuk keluar membuka pintu.
Masih tak ada jawaban dari dalam kamar itu, Olivia tidak sanggup untuk keluar dan menemui sosok lelaki yang sudah membuat hidupnya hancur. Ia memang mencintai Joshua karena menyukai sikap dan kepribadian lelaki tersebut yang pekerja keras serta penyayang, namun kali ini rasanya ia malah membenci Joshua karena lelaki itu jadi lebih mesum.
"Via, ini aku Joshua! Ayo buka pintunya, aku mau bicara sama kamu!" ucap Joshua sembari terus mengetuk pintu dengan keras.
Ceklek...
Dengan sangat terpaksa Olivia keluar membuka pintu, kondisinya tampak sangat menyedihkan karena semalaman menangis dan tidak makan apapun.
Joshua yang melihatnya langsung merasa bersalah sekaligus bersedih, ia tak menyangka Olivia bisa sampai sesedih ini padahal mereka melakukan hal kemarin tanpa paksaan sedikitpun.
"Via, kamu kenapa kayak gini sayang? Harusnya kamu jangan siksa diri kamu sendiri, kamu pikirin dong perasaan mama papa kamu kayak gimana! Sayang, ayolah rubah mindset kamu yang kalau sedang sedih gak mau makan! Kasihan mama dan papa kamu terus bersedih karena tindakan konyol kamu ini, lagian buat apa kamu menangisi dan menyesali perbuatan yang udah kita lakukan?" ucap Joshua memegang tubuh gadis yang tampak lemas.
Olivia hanya diam menangis sesenggukan, ia tak sanggup berkata apa-apa saat ini karena pikirannya sedang hancur sehancur-hancurnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...