
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 60
(Sang penolong)
...•...
...•...
Reno mendatangi sebuah rumah petak di ujung kampung yang cukup sepi dan hampir tak ada satupun rumah lainnya disekitar sana, bahkan akses jalan menuju rumah tersebut cukup sulit dilalui karena belum diaspal. Reno mengikuti petunjuk dari google yang memang efektif walau kadang menyesatkan.
Akhirnya ia sampai di rumah petak tersebut, Reno mendapat info dari orang suruhannya kalau itu adalah rumah milik badut yang sudah menyerangnya dan memukul kepalanya.
"Benar ini rumahnya, gue harus pastikan apa benar badut itu tinggal disini! Kalau memang iya, gue bakal kasih perhitungan buat dia!" ucap Reno menyesuaikan alamat yang diberikan orang suruhannya dengan lokasi rumah itu.
Reno pun turun dari mobilnya dan langsung berjalan ke dekat rumah tersebut, ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan pelaku perampokan di rumahnya tempo hari.
PRAANGGG...
Setelah ia sampai di depan pintu, malah terdengar suara pecahan barang dari dalam rumah tersebut. Tentu saja Reno terkejut dan berusaha menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengar apa yang terjadi di dalam.
"Kalau bukan karena lu, gue gak mungkin sampe harus ngerampok ke rumah orang-orang yang ada di daerah sini!"
"Alasan aja lu bang, yang namanya rampok itu perbuatan gak bener! Harusnya sebagai kepala rumah tangga lu tunjukin yang baik-baik dong ke anak lu ini, bukannya malah jadi orang jahat! Lu mau ngajarin mereka yang enggak-enggak?"
"Heh, lu jangan salahin gue karena ngerampok! Tapi lu salahin noh bos gue yang kejam, dia yang udah pecat gue dari pabrik tempo hari dan bikin gue kehilangan pekerjaan!"
Mendengar perdebatan antar perempuan dan laki-laki dari dalam rumah itu, Reno semakin yakin kalau memang benar ini adalah rumah si badut yang sudah mencelakainya. Namun, Reno mendadak teringat sesuatu saat mendengar kata-kata dari laki-laki tersebut.
"Gue juga pernah mecat satu karyawan pabrik gue beberapa bulan lalu karena dia tidak disiplin, apa mungkin badut ini orang itu?" batin Reno bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Akhirnya Reno memutuskan untuk kembali fokus mendengarkan perdebatan orang-orang di dalam rumah itu, walau sebenarnya menguping adalah perbuatan yang tidak benar.
"Ya ampun bang, jadi lu juga ngerampok di rumah bos lu sendiri? Dan lu sampe tega ngelukain dia? Lu ini mau jadi apa si bang, harusnya lu malu sama kelakuan lu itu!"
"Halah gua gak peduli, dia emang pantas digituin apalagi dia udah seenaknya pecat gue tanpa alasan yang jelas! Lagian gua juga sebenarnya gak tau kalo itu rumah dia, kebetulan aja gue ngerampok disana dan ketemu langsung sama bos sombong itu! Langsung aja gua bacok tuh palanya!"
Reno yang mendengar itu tampak geram dan mengepalkan tangannya, ia kini semakin yakin orang di dalam adalah pelakunya yang sudah memukul dan juga mencuri uang di rumahnya.
...•••...
Sementara itu, Felicia & Joshua sudah menyelesaikan makan malam mereka. Tampak gadis itu langsung bangkit dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan pria yang sudah merenggut mahkotanya.
Namun, tangan kekar Joshua mencegah gadis itu pergi karena ia tak ingin masalah ini dibawa sampai ke kantor polisi. Bagaimanapun juga ia tidak mau kalau sampai harus mendekam di penjara karena telah memperkosa wanita.
"Lepasin!" ujar Felicia berontak minta dilepaskan oleh Joshua.
"Maaf, tapi gue gak akan biarin lu pergi sebelum lu janji sama gue kalo lu gak laporin ini semua ke kantor polisi!" ucap Joshua mencengkeram erat lengan Felicia.
"Ish lu udah gila ya? Setelah kemarin lu renggut kesucian gue, terus sekarang lu mau sekap gue gitu disini supaya gue gak bisa kemana-mana? Dasar laki-laki gak waras! Lepasin gue!" ujar Felicia terus berontak berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Joshua.
"Udah gue bilang gue gak akan pernah lepasin lu dan biarin lu pergi dari sini! Ayo sekarang lu ikut gue, dan jangan harap lu bisa lepas dari gue kalau lu masih aja ngeyel buat lapor polisi!" ujar Joshua mengancam Felicia kemudian menarik gadis itu dengan paksa.
"Lu diem disini, sampai lu mau janji sama gue kalo lu gak akan lapor polisi..." ucap Joshua berjalan menghampiri Felicia yang tersungkur di atas ranjang empuk itu.
"Dasar bedebah! Cowok kayak lu gak pantas buat hidup! Harusnya lu dibakar hidup-hidup sampai mati dan jadi abu!" teriak Felicia sangat geram dan emosi pada Joshua.
"Apapun yang lu bilang, gak akan merubah keputusan gue buat kurung lu disini! Jangan coba-coba untuk keluar, karena gue gak akan pernah bebasin lu..." ucap Joshua tersenyum menyeringai menatap wajah gadis itu.
"Kurang ajar lu!"
Joshua tertawa puas, ia duduk di samping gadis tersebut dan meletakkan telapak tangannya di atas paha mulus yang terpampang jelas milik Felicia. Tentu saja gadis itu langsung menyingkirkan tangan kotor Joshua dari pahanya.
"Jangan macem-macem ya lu!" ucap Felicia.
Joshua hanya tersenyum lebar lalu mendongakkan kepalanya ke atas dengan lidah yang menjulur keluar seperti meledek gadis disampingnya yang tengah emosi.
...•••...
__ADS_1
Disisi lain, nasib Tania sudah diujung tanduk karena ia tak berdaya akibat pukulan serta tendangan keras dari Savana kepadanya. Tania merasa pasrah kalau harus meregang nyawa saat ini juga, karena ia tak memiliki kesempatan lagi untuk melanjutkan kehidupan.
Savana semakin mendekat ke arahnya dengan membawa pisau di tangannya yang terangkat, tatapannya benar-benar menunjukkan kalau ia ingin membunuh gadis di hadapannya itu.
"Habislah lu Tania, lu akan mati di tangan gue!" ujar Savana yang sudah semakin dekat.
Savana mengambil ancang-ancang untuk menusuk Tania saat dirinya sudah sampai di dekat tubuh gadis itu, ia pun mengarahkan pisaunya ke arah dada Tania.
Tania sudah pasrah akan hidupnya, ia menutup mata bersiap menerima tusukan dari Savana.
Daaannn....
Jlebb...
Pisau yang diarahkan ke dada Tania gagal menancap, karena tangan Savana dicekal oleh seseorang dari samping yang muncul tiba-tiba.
"Sialan, siapa lu?" ujar Savana kesal lalu berusaha melepaskan tangannya tapi gagal.
Orang tersebut hanya tersenyum tipis menatap wajah Savana, dengan sigap ia memelintir tangan Savana hingga pisau tersebut terjatuh ke aspal. Gadis itu juga meringis kesakitan dan melayangkan tendangan ke arah orang itu.
BUGH...
Tendangan Savana berhasil mengenai tulang kering pria tersebut, tangannya juga telah lepas walau masih terasa sakit.
"Lu berani main-main sama gue?" ujar Savana kesal karena ia gagal membunuh Tania.
Pria yang tengah memegangi tulang keringnya itu hanya menyeringai dengan tatapan menyala ke arah Savana, ia sempat melirik ke Tania yang masih memejamkan mata.
Ya Tania belum tau kalau ada seseorang yang menolongnya, sampai akhirnya ia memberanikan diri membuka mata serta membuka tangan yang menutupi wajahnya. Tania langsung terkejut saat melihat seorang pria datang kesana dan berhadapan dengan Savana.
"Di-dia kan...."
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1
...Yeay selamat🔥...