Preman Cantik

Preman Cantik
{SEASON 2} Episode 267 (Protes Rianti)


__ADS_3

...HALO LAGI GUYS!...


...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...


..."PREMAN CANTIK 2"...


...~~~...


#PREMAN CANTIK S2 EPS. 210


(Protes Rianti)


...•...


...•...


Revan dan Tania kini sudah sampai di sekolah Rania. Mereka pun turun dari mobil lalu segera menghampiri gadis kecil itu yang sudah berdiri di depan gerbang bersama Athar dan pak satpam disana. Tania cukup risau karena ternyata ia terlambat datang ke sekolah Rania, beruntunglah disana tidak ada Velove yang muncul.


Tanpa berlama-lama lagi, Tania pun langsung mendekati Rania dan berjongkok di hadapan gadis kecil itu sembari memegang dua pundaknya.


"Rania sayang, maaf ya kakak terlambat jemput kamu! Rania gapapa kan, gak ada masalah atau apa gitu di sekolah tadi?" ucap Tania meminta maaf sembari menanyakan kondisi adiknya itu.


"Iya kak, aku gapapa kok. Tapi, Athar yang kenapa-kenapa kak!" jawab Rania.


"Hah? Memangnya Athar kenapa, sayang?" tanya Tania penasaran, ia langsung menoleh ke arah Athar dan syok saat melihat anak kecil tersebut tengah menangis sesenggukan. Tania pun coba bertanya kepada Athar secara langsung karena penasaran.


Tania mendekati anak lelaki itu kemudian memegang kedua pundaknya dan menatapnya dari dekat.

__ADS_1


"Athar, sayang! Kamu kenapa, nak?" tanya Tania penasaran sambil mencoba untuk menenangkan Athar agar tidak menangis lagi disana, Tania juga berusaha menghapus air mata di wajah Athar.


"Hiks hiks... aku dikatain sama temen-temen aku, kak Tania! Mereka semua pada gak suka sama aku dan ngejelekin aku di dalam, makanya aku sedih banget karena dimusuhin sama mereka!" jawab Athar sambil menangis memegangi kedua matanya.


Tania menganga karena terkejut, ia tak menyangka ada pembullyan juga di sekolah elit seperti ini.


"Kamu dikatain gimana maksudnya, sayang? Siapa yang udah ngatain Athar kayak gitu? Emangnya mereka gak punya sopan santun apa gimana sih? Orangtuanya gak ngajarin atau emang merekanya yang gak bener sih?" ujar Tania jadi terbawa emosi, karena Tania paling tidak suka jika ada pembullyan seperti itu apalagi dilakukan oleh anak SD.


"Sabar ya, mbak! Memang anak sekolah sini rata-rata pada bandel semua, ya tapi gak dikit juga sih yang baik kayak contohnya Rania sama Athar ini." ucap Taufiq coba menenangkan Tania.


"Iya pak, saya kaget aja kalo di sekolah elit seperti ini masih ada pembullyan. Saya kira itu cuma ada di sekolah-sekolah negeri atau swasta yang kelas bawah, ternyata sama aja malah lebih parah! Masa anak kelas satu SD udah nge-bully kayak gini? Orang tua mereka ngajarin apa sih?" ujar Tania.


"Hey, udah lah! Percuma juga kamu ngedumel begini disini, orang-orang yang bully Athar kan udah gak ada! Kamu kalau mau ngomel, nanti pas mereka datang atau paling enggak ada orangtuanya disini!" ucap Revan menenangkan gadisnya.


"Iya Van, aku kan cuma emosi aja!" ucap Tania.


"Iya aku tau, tapi kamu harus sabar dong! Jangan bikin Athar tambah sedih karena kamu marah-marah begitu!" ucap Revan.


"Iya kak, makasih!" ucap Athar singkat.


"Oh ya, mamanya Athar udah datang belum?" tanya Tania penasaran.


"Udah kak, mama barusan pamit sama aku katanya mau ke dalam buat ketemu ibu guru. Tapi, aku gak tau kenapa mama lama banget perginya." jawab Athar sambil manggut-manggut.


"Ohh, yaudah kakak temenin kamu sampe mama kamu kembali, ya!" ucap Tania.


Athar mengangguk lalu tersenyum, Tania pun memeluknya untuk menghibur anak lelaki itu.

__ADS_1




Sementara Rianti kini tengah berada di ruang kepala sekolah untuk coba melaporkan kepada bapak kepala sekolah disana atau yang biasa disebut dengan bapak Sudoyo alias pak Doyo.


Rianti tidak sendiri, karena ia ditemani oleh Bu Lydia selaku guru yang mengajar disana sekaligus wali kelas Athar. Rianti memang sempat menemui Lydia sebelumnya di ruang guru, lalu menceritakan tentang kasus pembullyan terhadap putranya.


"Ada apa ini, Bu?" tanya pak Doyo terheran-heran.


"Eee begini loh, pak. Jadi, ibu Rianti bilang kalau putranya yang baru pindah ke sekolah ini beberapa hari itu mengalami pembullyan oleh teman kelasnya. Maka dari itu, Bu Rianti ingin melaporkan kasus ini kepada bapak selaku kepala sekolah disini!" jawab Lydia menjelaskan maksudnya datang kesana.


"Ah iya pak, saya sebagai orang tua kandung dari putra saya sangat tidak terima dengan kejadian ini! Apalagi putra saya itu sampai menangis dan terus saja mengingat pembullyan itu, saya ini bayar mahal untuk menyekolahkan anak saya di sekolah elit ini! Tapi, kenapa anak saya itu juga masih terkena bully-an dari teman-temannya? Apa memang pihak sekolah tidak pernah memberi peringatan atau mengawasi murid-murid disini?" timpal Rianti.


"Sabar dulu, Bu Rianti! Saya paham perasaan ibu, ketika anak kita dibully pasti perasaan kita akan sangat marah dan emosi. Tapi, kita kan gak bisa melakukan tindakan kasar kepada mereka yang membully putra ibu itu. Karena mereka masih kelas satu SD, yang paling efektif adalah memberitahu pada orang tua mereka atas tindakan yang dilakukan oleh anak-anaknya itu saat di sekolah!" ucap Doyo.


"Ya kalau begitu bapak langsung hubungi dong orang tua mereka! Saya gak mau tau ya pak, pokoknya anak saya itu harus bebas dari yang namanya pembullyan atau saya bisa tuntut sekolah ini di pengadilan atas kasus pembullyan!" ucap Rianti mengancam dengan sangat emosi.


"Sabar Bu, jangan emosi! Kita bicarakan ini baik-baik dulu dengan keluarga anak-anak yang melakukan pembullyan itu, baru setelahnya kita bahas langkah selanjutnya untuk mencegah hal ini agar tidak terjadi lagi hal yang tidak diinginkan seperti ini. Saya akan menghubungi seluruh orang tua murid kelas Bu Lydia, dan memanggil mereka untuk mengadakan pertemuan di sekolah esok hari dalam rangka membahas pembullyan putra ibu Rianti! Oleh karena itu, saya harap ibu sendiri bisa hadir besok disini!" ucap pak Doyo.


"Iya, pasti saya datang kok! Saya mau tau aja gimana respon mereka pas tau kalau anak-anaknya dari kecil aja udah jadi pembully!" ucap Rianti.


"Yasudah, kalau begitu saya selaku kepala sekolah memohon maaf kepada ibu Rianti atas ketidaknyamanan ini. Saya juga baru mengetahui jika di sekolah ini ada pembullyan, karena sebelumnya belum ada yang melaporkan kasus ini kepada saya atau guru-guru lainnya!" ucap Doyo.


"Ya, tidak apa. Terimakasih pak atas bantuannya, saya mohon izin permisi untuk menemui anak saya di depan! Permisi...." ucap Rianti langsung bangkit membawa tasnya dan pergi dari ruangan itu.


Tampaknya Rianti masih sangat kesal karena putranya dibully oleh teman-teman kelasnya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2