
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 190
(Rania & Athar)
...•...
...•...
Rania pergi ke kantin sekolahnya saat istirahat tiba dengan membawa kotak bekal yang diberikan Tania ketika ia hendak berangkat sekolah sebelumnya, ia berjalan seorang diri karena memang Rania jarang memiliki teman di sekolah dan lebih menyukai menyendiri.
Gadis kecil itu juga memilih duduk di kursi kosong yang jauh dari orang-orang, ia membuka kotak bekalnya itu disana lalu tersenyum saat melihat makanan mewah yang dibuatkan pengasuhnya di rumah tadi.
Saat Rania hendak memakan bekalnya, tiba-tiba saja seorang anak lelaki kecil menghampirinya dengan membawa bekal miliknya lalu duduk di samping Rania tanpa berbicara apa-apa, sontak Rania terkejut dan menoleh ke arah lelaki tersebut.
"Hey, kamu siapa? Kenapa kamu duduk di tempat aku?" tanya Rania heran.
"Aku lihat semuanya udah penuh, makanya aku duduk disini buat makan. Emang gak boleh ya kalau aku duduk di samping kamu?" ucapnya.
"Gak boleh! Tempat ini punya aku dan cuma aku yang boleh duduk disini!" ujar Rania.
"Ohh, yaudah deh aku pergi aja. Aku mau cari tempat buat makan yang lain!" ucap lelaki itu.
Akhirnya anak laki-laki itu bangkit dari duduknya dengan membawa kotak bekal di tangannya, ia hendak pergi karena Rania tak mengizinkannya untuk duduk disana bersamanya.
Akan tetapi, entah mengapa Rania justru menahan anak laki-laki tersebut dan ikut berdiri kemudian memintanya tetap disana.
"Tunggu!" ucap Rania.
Anak laki-laki itu menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh ke arah Rania dan menatap gadis itu dengan wajah penasaran.
"Kenapa lagi?" tanyanya.
"Kamu boleh kok makan disini, duduk aja!" ucap Rania.
"Kamu serius?" ucap laki-laki itu bertanya.
"Iya, lagian kantin ini kan tempat umum dan siapa aja boleh makan disini termasuk kamu." ucap Rania.
"Makasih ya!"
Anak lelaki itu tersenyum gembira lalu kembali menghampiri Rania dan duduk di samping gadis itu, Rania juga langsung duduk sambil tersenyum menatap wajah lelaki di sebelahnya.
__ADS_1
"Maafin aku ya, tadi aku udah galak sama kamu!" ucap Rania.
"Gapapa kok, aku gak marah." ucapnya.
"Oh ya, nama aku Rania. Kalau nama kamu siapa?" ucap Rania mengenalkan diri sembari menyodorkan tangan ke depan anak lelaki itu.
Lelaki itu malah terdiam menatap Rania. Sesekali ia juga memandangi telapak tangan Rania yang ada di depannya saat ini, ia gugup mungkin karena belum pernah sekalipun berkenalan dengan wanita.
"Kok diem? Nama kamu siapa?" tanya Rania.
"Eh eee.... aku Athar," jawabnya.
"Ohh, nama kamu Athar?" tanya Rania.
Anak kecil yang tak lain adalah Athar itu mengangguk pelan sembari mengarahkan dua bola matanya ke bawah, Athar tidak berani menyentuh tangan Rania walau gadis itu sudah memaksanya.
"Kamu itu gak mau sentuh tanganku ya? Apa kamu takut di tanganku ada kumannya?" tanya Rania.
Athar langsung mendongak menatap Rania lalu menggeleng cepat.
"Enggak kok, justru aku takut di tanganku ada virus dan nanti kena ke tangan kamu!" jawab Athar.
Rania tersenyum kemudian meletakkan tangannya di meja dan kembali fokus pada makanannya, ya walau sesekali ia masih melirik ke arah Athar yang tengah bengong di sampingnya.
"Kamu gak makan juga?" tanya Rania heran.
"Oke deh,"
Rania pun memakan makanannya dengan lahap tanpa perduli lagi dengan Athar, ia tampak menikmati makanan miliknya itu.
...•••...
Disisi lain, Revan tengah menikmati minum kopi bersama calon istrinya yang tak lain ialah Tania di sebuah cafe dekat sekolah Rania.
Tania tidak mau pergi terlalu jauh dari sekolah adiknya karena khawatir akan kecolongan kembali seperti sebelumnya, itulah sebabnya ia meminta Revan mencari cafe terdekat saja.
Revan pun tak mempermasalahkan itu, baginya dimanapun itu asal bersama Tania maka akan tetap membuatnya bahagia.
"Kamu yakin minum doang?" tanya Revan.
"Iya, aku masih kenyang. Lagian emangnya kamu mau kalo aku jadi gendut nanti?" ucap Tania.
"Ya gapapa, asal jangan gendut banget." ujar Revan.
Tania kembali meminum kopi pesanannya, sedangkan Revan menikmati kue ringan yang ia pesan disana sebagai teman kopinya.
Revan melihat ada cairan kopi yang tertinggal di area mulut wanitanya, ia pun langsung tergerak untuk membersihkannya dengan jari sembari mencuri kesempatan untuk lebih dekat dengan Tania.
Tania yang terkejut hanya bisa diam memandangi wajah Revan serta memperhatikan jari pria itu menyeka bibirnya dengan lembut.
__ADS_1
"Ada itu tadi, bekas kopi." ucap Revan menjelaskan.
"Iya, makasih ya!" ucap Tania gugup dan tersipu.
Revan tersenyum melihat gadisnya tampak malu-malu menunduk menghindari tatapannya sambil pura-pura merapihkan rambutnya.
Tania memang masih sulit menahan rasa gugupnya saat Revan selalu melakukan tindakan romantis padanya seperti tadi, entah mengapa ia selalu saja bersikap begini sehabis Revan membuatnya gugup.
"Sayang, kamu mau cobain kuenya gak?" ucap Revan menawarkan kue miliknya pada Tania.
"Enggak deh, buat kamu aja." jawab Tania.
"Kamu kenapa sih? Masa cuma aku gituin aja langsung ngambek? Kamu gak suka ya aku sentuh bibir kamu?" tanya Revan heran.
"Hah? Gak kok, aku gak ngambek!" ucap Tania.
"Loh terus kenapa kamu jadi dingin sama aku?" tanya Revan masih terus menatap wajah gadisnya.
"Bukan dingin, aku gugup aja." jawab Tania.
"Ohh, gausah gugup! Kita kan udah mau tunangan, abis itu nikah dan sah jadi suami-istri. Hal kayak tadi bakalan sering aku lakuin ke kamu, malah nanti nyentuhnya bukan pake tangan tapi bibir aku!" ujar Revan sambil tersenyum menggoda.
"Uhuk uhuk..." Tania tiba-tiba tersedak kopi saat mendengar ucapan Revan.
"Hey, kenapa? Hati-hati dong minumnya!" ucap Revan sembari menahan tawa.
"Iya maaf, abis aku kaget sama ucapan kamu. Maksud kamu tuh apa tadi?" ucap Tania.
"Hahaha, ciuman loh. Masa enggak ngerti? Kan kalo udah suami-istri mah kita bebas mau ciuman berapa kali juga!" ucap Revan menjelaskan dengan suara yang cukup lantang.
"Revan ih!" bentak Tania sambil celingak-celinguk.
Perkataan Revan memang membuat orang di sekitarnya tampak terkekeh, selain itu juga membuat Tania bertambah malu dan menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
"Apa salah aku sih? Kan bener yang aku bilang tadi, kalo kita udah suami-istri itu—"
"Stop! Udah ya, jangan dilanjutin!" potong Tania sembari menempelkan telunjuknya pada bibir Revan.
Revan justru tersenyum dan menggigit jari Tania yang ada di depan bibirnya.
"Awhh, sakit tau!" ujar Tania kesal.
"Hahaha, udah yuk ngopi lagi!" ucap Revan sembari mengambil gelas kopi di meja lalu meminumnya.
Tania yang kesal juga ikut menyeruput kopinya hingga habis tak bersisa.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1