
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 378
(Rebutan bikin minum)
...•...
...•...
Setelah puas bertemu dan mengobrol dengan John serta Eva di rumah, kini sepasang pengantin itu memilih untuk beralih pergi ke kediaman William alias sang ayah dari Tania yang kebetulan juga sudah mereka ingin datangi sebelumnya.
Setibanya di rumah milik William, keduanya pun langsung turun dari mobil, menyapa Riko serta beberapa penjaga lainnya yang ada disana dengan senyum penuh keceriaan. Tentunya pernikahan Tania dan Revan memang membawa kebahagiaan bagi seluruh orang yang berhubungan dengan mereka, termasuk para pekerja itu.
Setelahnya, Revan pun kembali menggandeng Tania bahkan merangkulnya berjalan menuju ke teras depan rumah yang jaraknya cukup jauh dari tempat mereka memarkir mobil.
"Sayang, kayaknya kamu perlu bikin kendaraan deh supaya kita gak jalan kaki begini buat sampe ke teras rumah kamu! Pegel tau!" ujar Revan.
"Hahaha, kamu capek mas bear? Ya ampun, kasihan banget sih sayangku ini! Masa kamu kalah sih sama aku, bear? Padahal kamu tuh beruang loh, harusnya kuat dong bukan lemah dan gampang ngeluh kayak gini!" ledek Tania sembari memegang pipi suaminya.
"Heh! Kamu itu sebenarnya peduli atau cuma mau ledekin aku sih?" ujar Revan cemberut.
"Ahaha, marah nih? Jangan marah-marah atuh bear, nanti lucunya hilang tau! Lagian kan semua capek kita juga terbayarkan dengan pemandangan yang ada disini, emang kamu gak ngerasa begitu apa mas?" ucap Tania terkekeh.
"Ya iya sih, halaman rumah kamu emang indah dan bagus buat penyegaran mata! Tapi, tetap aja aku capek sayang! Jaraknya lebih jauh daripada lapangan Monas tahu gak!" ujar Revan.
"Lebay ah kamu!" cibir Tania.
"Bukan lebay sayang, tapi emang bener capek! Apalagi kalau nanti kamu hamil, pasti aku tambah capek deh harus gendong kamu!" ucap Revan.
"Apa sih kamu ini? Kita aja baru nikah kemarin, udah ngomongin hamil aja! Lagian nih ya, kalau kamu gak ikhlas buat gendong aku ya udah gausah digendong! Aku juga bisa jalan sendiri!" ujar Tania.
"Iya iya sayang, aku minta maaf ya! Kamu mah orangnya serius banget, gak bisa diajak bercanda! Emang gak ada darah sunda kamu ya?" ujar Revan.
"Lah apa hubungannya sama sunda?" tanya Tania tak mengerti.
"Ya jelas banyak dong! Orang Sunda itu humoris, karena Sunda kan kepanjangannya suka bercanda! Lah kamu diajak bercanda susah banget, maunya serius terus!" jelas Revan.
"Terserah lah!" Tania ngambek mencibirkan bibirnya, kemudian melangkah lebih dulu meninggalkan Revan dengan cepat.
"Eh eh sayang, tunggu dong jangan tinggalin aku sayang! Tania!!" teriak Revan panik.
Revan pun terpaksa berlari mengejar Tania dan berusaha membujuknya, tentu sangat mengerikan bila nantinya William atau Arsen tau jika Tania sedang ngambek padanya padahal baru satu hari mereka menikah, pastinya Revan akan mendapat bogem mentah dari kedua pria itu.
"Tania, jangan tinggalin aku dong!" teriak Revan.
Akhirnya Revan berhasil mencekal lengan istrinya dari belakang, sehingga Tania terhenti dan terpaksa melangkah bersama suaminya itu.
"Ish, kamu apaan sih mas bear? Ngapain pake tarik-tarik segala?" ujar Tania cemberut.
"Kamu jangan ngambek dong sayang! Aku kan jadi takut kalau nanti papa atau abang kamu tau, bisa-bisa aku langsung dihajar di tempat nanti sampe bonyok!" ucap Revan.
"Hahaha, lucu kamu bear! Kamu takut gitu sama papa dan kak Arsen? Tenang aja kali, gak mungkin lah mereka begitu sama kamu! Eh tapi gak tahu juga sih, biar jelas nanti coba aja kita lihat langsung pas sampe disana ya!" ucap Tania terkekeh kecil.
"Yeh kamu mah gitu! Emang kamu pengen lihat aku dihajar gitu sama papa dan abang kamu?" ujar Revan.
"Ahaha enggak lah sayang, aku bercanda kok! Udah yuk, kita lanjut jalan lagi!" ucap Tania mencubit dua pipi Revan.
"Nah gitu dong! Kan sekarang aku jadi gak cemas lagi, jangan ngambek ya sayangku!" ucap Revan.
"Tenang aja! Udah ah, aku gak sabar nih pengen ketemu dan peluk Rania lagi!" ucap Tania.
"Iya iya...."
Mereka pun kembali berjalan dengan bergandengan tangan dan saling tersenyum, sesekali Tania juga iseng menempelkan wajahnya pada bahu sang suami.
•
•
__ADS_1
William yang tengah berada di sofa ruang tamu bersama Arsen, Velove serta Rania, merasa resah menantikan kehadiran Tania dan Revan yang tak kunjung datang disana, padahal sebelumnya sepasang pengantin itu sudah berjanji akan mampir ke rumahnya di hari ini.
Melihat papanya tampak gelisah, Arsen tahu sekali bahwa sang papa sedang memikirkan Tania yang tak kunjung datang. Ia pun coba berbicara pada papanya untuk menghiburnya, karena ia tak tega melihat William sedih dan cemas seperti itu menunggu kedatangan Tania putrinya.
"Pah, papa pasti lagi gelisah nungguin Tania ya? Sabar aja pah, paling sebentar lagi juga mereka sampai kok disini!" ucap Arsen tersenyum.
"Iya opa, opa jangan khawatir! Kak Tania gak mungkin ingkar janji, dia pasti bakal datang kesini temuin kita opa!" sahut Rania yang berada di pangkuan mamanya.
"Hahaha, iya sayang opa gak khawatir lagi kok! Opa cuma udah kangen aja sama Tania," ucap William.
"Sama opa, aku juga udah kangen banget sama kak Tania! Walau baru sebentar, tetap aja aku gak bisa lama-lama jauh dari kak Tania!" ucap Rania.
"Nah betul itu!" ucap William tersenyum lebar.
"Yaudah pah, apa coba aku hubungin Tania sekarang nih buat tanya dia jadi kesini apa enggak? Ya mastiin aja sih, jadi kalau misal Tania emang gak jadi kesini ya papa gak perlu nunggu kayak gini karena nantinya malah kecewa!" ucap Arsen.
"Ya boleh deh, atur aja yang menurut kamu benar Arsen!" jawab William.
"Oke pah, siap!" Arsen mengangguk tersenyum dan langsung mengambil ponselnya.
Namun, tak lama kemudian orang yang mereka tunggu-tunggu sedari tadi akhirnya muncul disana dan membuat Arsen tidak jadi menelpon adiknya karena memang Tania sudah sampai disana.
"Assalamualaikum..." Keempatnya kompak menoleh ke asal suara tersebut, melihat sosok Tania yang tengah melangkah bersama Revan menuju ke arah mereka.
"Tania? Revan?" William sangat senang melihat kehadiran putri serta menantunya disana, ia langsung berdiri menyambut keduanya.
"Dijawab dulu dong salamnya, pah!" ujar Tania.
"Ah iya iya, papa lupa. Waalaikumsallam sayang, maklumlah papa ini udah kangen banget sama kamu dan pengen peluk kamu lagi Tania!" ucap William tersenyum senang.
"Iya pah, aku juga kangen papa kok!" ucap Tania ikut tersenyum seraya mendekati papanya.
Tania pun maju mendekat, kemudian memeluk sang papa dengan erat sembari mengusap punggungnya lembut.
"Uhh kamu makin cantik aja sayang!" ujar William.
"Ahaha papa bisa aja, papa juga aku lihat-lihat malah tambah muda dan ganteng nih! Aku yakin wanita di luaran sana pada terpesona sama papa kalo begini, keren banget tahu pah!" ujar Tania.
"Ah kamu ini suka berlebihan, mana ada yang mau sama kakek-kakek seperti papa?" ucap William.
"Jangan salah pah! Wanita jaman sekarang itu gak mandang umur, mau mereka kakek-kakek atau om-om asalkan berduit juga digas sama mereka! Ya gak Tania, Velove?" ujar Arsen nyengir.
"Hahaha tuh kan bener! Kaumnya aja mengakui, udah papa kalo mau nyari cewek tinggal keliling aja pah kan duit papa banyak!" ujar Arsen.
"Ish, kakak apaan sih? Ngajarin papa yang enggak-enggak begitu!" ucap Tania kesal.
"Bercanda doang kok!" Arsen langsung ngeles.
Setelah puas berpelukan dengan putrinya, kini William beralih menatap Revan yang juga ada di dekatnya, pria itu membungkuk mencium tangan William kemudian juga pelukan sejenak disana.
"Halo om! Eh maksud saya pah!" ucap Revan yang masih suka salah sebut.
"Kamu ini demen banget panggil saya om, ayo dong biasakan sebut papa gitu biar makin akrab juga!" ujar William.
"Iya pah, maaf saya lupa!" ujar Revan nyengir.
"Masih muda udah pelupa, gimana tuanya?" sindir Tania tanpa melihat ke arah Revan.
"Heh! Kamu nyindir aku sayang?" ucap Revan.
"Enggak kok! Kalau kamu merasa, berarti emang bener dong?" ujar Tania santai.
"Wah wah emang nih ya..." Tania justru terkekeh dan memilih menghampiri Rania untuk menghindari amarah suaminya, selain itu juga karena ia rindu dengan gadis kecil itu.
•
•
Disisi lain, Reno dan Lyota datang ke rumah Julia bersama Tania kecil untuk sekedar main disana, karena sudah lumayan lama juga mereka tak datang mengunjungi Julia ataupun Reva yang merupakan keluarga dari Lyota sendiri.
Ketiganya pun turun dari mobil, Reno menuntun istrinya berjalan perlahan memasuki area rumah, ia membuka pintu gerbang dan meminta Tania kecil masuk lebih dulu, tentu saja putrinya itu sangat gembira karena ia akan bertemu Niko.
"Mas, kamu gak perlu lah sampe kayak gini segala! Aku bisa kok jalan sendiri, apalagi ini dekat ke rumah ibu!" ucap Lyota.
"Gapapa sayang, biar aku bantu kamu! Sebagai seorang suami yang baik dan siaga, aku pengen dong bantu kamu sayangku! Karena kamu kan juga lagi hamil!" ucap Reno tersenyum.
__ADS_1
"Iya deh iya, emang kamu suami idaman banget!" ucap Lyota membenamkan wajahnya di bahu sang suami yang langsung disambut oleh elusan lembut dari suaminya tersebut.
TOK TOK TOK...
"Assalamualaikum, ibu, kak Reva!" ucap Lyota berteriak memanggil ibu dan kakaknya.
"Assalamualaikum..." Reno juga mengucap salam sama seperti istrinya.
Sementara Tania kecil sedang asyik bermain dengan kucing yang kebetulan ikut masuk ke dalam bersama mereka tadi.
"Pus, kamu lucu banget sih!" ujar Tania kecil yang berjongkok sembari mengelus bulu kucing itu.
"Hey Tania, jangan mainan kucing ah! Jorok tau nanti bulunya nempel di tangan kamu, udah sini katanya mau ketemu sama bang Niko!" ucap Reno menegur putrinya.
"Iya pah, dadah mpus!" ujar Tania kecil.
Gadis kecil itu bangkit menghampiri papa mamanya, sedangkan Lyota hanya tersenyum menatap wajah suaminya yang benar-benar serius melarang Tania kecil bermain dengan kucing sembarangan begitu.
Ceklek..
Tak lama akhirnya pintu terbuka, Julia pun muncul dari dalam sana menemui putrinya yang sudah berada di luar bersama sang suami serta Tania kecil yang menggemaskan itu.
"Eh kalian! Ya ampun, ibu kangen banget loh sama kalian sayang!" ucap Julia tersenyum renyah.
"Halo nenek!" Tania kecil menyapa sembari melambaikan tangan ke arah neneknya itu.
"Iya cucu nenek tersayang yang gemesin, sini sini nenek kangen mau gendong kamu sayang!" ucap Julia.
Tanpa berpikir panjang, Tania melepaskan diri dari genggaman papanya dan menghampiri Julia di depan sana.
"Uhh kamu makin berat aja ya sayang!" ujar Julia saat menggendong cucunya itu.
"Ahaha iya Bu, Tania emang makannya banyak jadi tambah berat deh badannya!" ucap Reno tertawa.
"Gapapa, bagus itu! Yaudah, yuk kita masuk aja ke dalam dan lanjut bicaranya sambil duduk sama minum-minum!" ucap Julia.
"Iya Bu..."
Mereka pun masuk ke dalam rumah secara bersamaan, lalu duduk di sofa ruang tamu yang kebetulan sudah bagus karena Reno menghadiahkan itu untuk ibu mertuanya.
"Nah, kamu duduk disini dulu ya Tania? Nenek mau ke belakang dulu bikinin minuman buat kalian bertiga, oke!" ucap Julia.
"Oke nek!" Tania kecil tersenyum renyah.
"Bu, biar aku aja yang bikin minumannya ya? Ibu disini aja sama Tania, kan ibu juga lagi sakit! Aku gak mau ibu malah kecapekan nanti!" ucap Lyota.
"Gausah sayang, ibu baik-baik aja kok! Justru ibu yang khawatir nanti kalau kamu bikin minum, kan kamu lagi hamil sayang! Udah gapapa, biar ibu aja yang buat ya?" ucap Julia.
"Eee gini aja deh biar adil, gimana kalo aku yang bikin minumannya?" ucap Reno.
"Hah? Kamu yakin mas? Emang kamu bisa?" tanya Lyota tak percaya pada suaminya.
"Yeh kamu ngeraguin aku nih? Tenang aja sayang, aku tuh udah terlatih untuk membuat minuman yang enak tau!" jawab Reno pede.
"Hahaha ada-ada aja kamu mas!" Lyota tertawa.
"Kok ketawa sih? Apanya yang lucu coba?" Reno heran melihat istrinya tertawa.
"Ya kamu lah mas!" ujar Lyota masih terkekeh kecil.
"Lyota, Reno, udah ya biar ibu aja yang bikin minuman buat kalian! Lagian kalian kan baru datang, pasti capek dong!" ucap Julia.
"Udah gausah pada ribut mikir siapa yang mau bikin minuman, nih aku udah buatin minumannya kok buat kamu Lyota, Reno, terus Tania sayang! Buat mama juga ada nih!" ucap Reva yang tiba-tiba muncul dari dapur membawa nampan berisi gelas minuman di tangannya.
"Reva? Ya ampun, kamu tumben banget ngerti udah buatin minuman aja!" ujar Julia.
"Iya kak, emang lu tahu darimana kalo gue sama mas Reno mau dateng? Sampe udah nyiapin minuman kayak gini, padahal kita kan baru datang beberapa menit yang lalu!" sahut Lyota.
Reno langsung menatap tajam ke arah istrinya, ya pria itu memang tak suka jika Lyota masih memakai kata lu-gue walau bukan pada dirinya.
"Jelas tahu lah! Kan daritadi gue juga dengar suara kalian disini, makanya gue inisiatif deh buat bikin minuman! Udah langsung aja diminum, Bu duduk lagi terus minum tuh enak kok!" ucap Reva tersenyum.
"Iya Reva, kamu juga ikut duduk sini dong ngobrol sama kita!" ucap Julia.
"Iya Bu..." Reva mengangguk dan duduk di samping ibunya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...