
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 121
(Gangster lagi)
...•...
...•...
Rania masih termenung di taman belakang rumah sembari memeluk boneka yang diberikan Tania padanya, ia sepertinya masih sedih karena teringat pada sang ibu yang hingga saat ini ia belum pernah sama sekali melihat wajah atau hanya sekedar foto ibu kandung yang sudah melahirkannya.
William tak sengaja melihat gadis kecil itu tengah duduk di ayunan dan terlihat murung sambil memeluk bonekanya, ya ia pun langsung menghampiri Rania untuk mencoba menghiburnya karena ia sungguh tak tega pada Rania yang masih saja terus memikirkan ibu kandungnya.
William pun sudah berada di dekat gadis kecil itu, ia memegang punggung Rania perlahan sembari menyapanya lalu duduk di samping Rania dan mengusap wajah cantik gadis itu lembut. Rania menoleh sembari tersenyum tipis serta menyeka air mata di wajahnya, ia merasa senang karena William hadir disana menemani dirinya.
"Papa..." ucap Rania tampak sumringah.
"Iya sayang, kamu kenapa? Kok daritadi papa lihat kamu nangis terus?" tanya William.
"Aku kangen ibu, pah! Aku pengen banget lihat wajah ibu walau cuma lewat fotonya, tapi ayah gak pernah kasih tau aku seperti apa rupa wajah ibu aku! Makanya sampe sekarang aku gak tau gimana wajah ibu aku, padahal aku pengen banget peluk sama cium foto ibu!" jelas Rania dengan wajah cemberut.
"Kamu sabar ya sayang, masih ada papa kan disini! Papa janji akan terus menyayangi Rania sampe besar, udah ya Rania jangan sedih lagi!" ucap William sembari membelai rambut gadis kecil itu.
Rania tersenyum manis dan tangis mulai hilang dari wajahnya yang cantik itu, ia langsung memeluk papanya begitu William menatapnya dan tampak amat sangat bahagia masih bisa memeluk tubuh seorang pria yang menganggapnya sebagai putri kandungnya sendiri.
"Aku sayang sama papa, makasih ya pah udah mau jadi papa aku!" ucap Rania di dalam pelukan itu.
"Sama-sama, sayang! Papa juga seneng kok punya gadis kecil kayak kamu, tetap tersenyum ya sayang dan jangan nangis atau sedih-sedih lagi!" ujar William memeluk erat Rania sambil mengusap punggungnya.
Disaat mereka sedang asyik-asyiknya berpelukan, tiba-tiba Riko datang menghampiri mereka karena ia ingin menyampaikan sesuatu pada bosnya yakni William yang memang berada disana bersama Rania.
__ADS_1
"Permisi, tuan!" ucap Riko sedikit membungkuk memberi hormat pada bosnya.
"Ya, ada apa Riko?" tanya William penasaran.
"Saya sudah berhasil melacak pemilik kalung emas itu, hanya saja saya belum dapat menemukan informasi yang lebih lengkap!" jawab Riko.
"Kita bicarakan soal ini nanti saja, ya? Kamu masuk duluan ke dalam, tunggu saya di ruang tamu seperti biasa! Sekarang ini saya harus memenangkan Rania terlebih dahulu, tidak apa kan?" ucap William.
"Baik, tuan! Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Riko izin pamit sembari membalikkan tubuhnya.
"Silahkan!"
Setelah Riko pergi dari sana, Rania yang merasa sudah sedikit lebih lega dan tenang melepas pelukannya dari tubuh William kemudian mendongak menatap wajah papanya dengan raut penasaran.
"Pah, kok papa suruh pak Riko pergi sih? Kenapa papa gak bicara disini aja sama pak Riko?" tanya Rania dengan suara polosnya.
"Eee... soalnya papa masih mau berduaan sama Rania dulu, jadi papa gak mau diganggu!" jawab William ngeles sambil nyengir.
"Ohh gitu...."
Rania memang masih kecil dan polos mungkin lugu sehingga ia mudah diperdaya oleh orang-orang yang lebih dewasa dibanding dirinya, namun tetap saja ada sedikit keraguan di dalam benak Rania karena ia sekilas mendengar Riko membahas soal pemilik kalung emas.
...•••...
Disisi lain, lagi-lagi rombongan pengendara motor melakukan pengejaran serta penyerangan pada mobil yang ditumpangi Tania bersama Jono. Tentu gadis itu kembali dibuat takut apalagi saat ini ia hanya bersama sang supir dan tanpa pengawalan dari Hendi ataupun Howard, termasuk Riko yang juga tengah ditugaskan mencari identitas mama kandung Rania alias adiknya itu.
"Non, gimana ini??" ujar Jono panik.
"Aku juga gak tahu, pak! Tetap fokus nyetir aja pak, jangan sampe mereka berhasil cegat kita!" perintah Tania pada supirnya.
"Baik, non!"
Tania pun menyadari kalau rombongan pemotor itu adalah orang yang sama dengan yang waktu itu sempat menyerangnya juga bahkan mengakibatkan ketiga pengawalnya terluka, ya Tania sangat terheran-heran mengapa pemotor tersebut ingin sekali menculiknya padahal mereka tak saling kenal.
Akhirnya untuk jaga-jaga dan keselamatan mereka, Tania memilih menghubungi papanya serta mengirim pesan lokasi saat ini ia berada ke ponsel sang papa untuk meminta bantuan tentunya. Sayang sekali telponnya malah tidak diangkat oleh William, ya Tania pun bertambah panik lantaran pemotor itu juga makin ganas mengetuk-ngetuk kaca mobil serta menendang badan mobilnya.
"WOI BERHENTI...!!!"
__ADS_1
Teriakan-teriakan seperti itu terus terdengar di telinga Tania, membuatnya makin ketakutan apalagi mobilnya sudah terkepung dan tinggal menunggu waktu saja mereka bisa mencegahnya karena Jono kesulitan juga mengendalikan mobilnya di situasi menegangkan seperti ini.
Ciitttt....
Akhirnya Jono menginjak pedal rem secara mendadak karena kedua motor itu berhasil mencegatnya dari depan, Tania sampai hampir terjungkal ke depan menabrak kursi mobil beruntung ia masih dapat menahan diri walau jantungnya terus berdegup kencang tak karuan.
Suasana makin mencekam saat mereka terus mengetuk-ngetuk kaca mobil serta coba membuka pintu meminta Tania untuk keluar, Tania yang sudah sangat panik tidak mempunyai rencana apa-apa untuk bisa lepas dari gangster tersebut.
"Non, gimana ini?" tanya Jono ikutan cemas.
Tania hanya diam tak menjawab karena ia juga bingung harus apa saat ini, ia menatap ke luar melihat banyaknya anggota gangster tersebut yang tentunya tidak mungkin akan mampu ia hadapi seorang diri.
"WOI, CEPET KELUAR...!!!"
"KELUAR LU...!!!"
Setelah menimang-nimang cukup kuat, akhirnya Tania memutuskan untuk keluar dari mobil dan menemui mereka karena tak mungkin ia terus-terusan bersembunyi di dalam mobil.
"Pak, buka kuncinya! Biar saya temui mereka dan tanyakan langsung apa keinginan mereka, siapa tahu dengan itu kita bisa selamat!" ucap Tania.
"Tapi non, bahaya loh!" ujar Jono cemas.
"Gapapa pak, buka aja!" ucap Tania tersenyum.
"Ba-baik, non!"
Jono tampak gugup gemetar saat membuka kunci pintu mobilnya, Tania pun menarik handle pintu lalu menghela nafas sejenak sebelum ia menurunkan kaki ke aspal dan berdiri tegak menghadap para gangster disana yang tampak ganas.
"Mau apa kalian...???"
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...|||...
...Gak kapok kapok tuh gangster, harus segera dibasmi sebelum menyerang para readers sekalian yang suka makan mie goreng tapi gak pake kuah...
__ADS_1
...❤️❤️❤️...