
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 362
(Menemui Darma)
...•...
...•...
Tania langsung turun ke bawah menghampiri papanya dan juga Rania yang sudah berada di meja makan menikmati sarapan pagi, ia cukup sedih karena tidak adanya sosok Arsen maupun Velove disana yang biasanya selalu menemani mereka ketika sedang waktunya makan.
Tania pun duduk di samping Rania, ia tersenyum lalu mengusap puncak kepala adiknya itu. Tak lupa Tania juga menyapa papanya yang berada tepat di depannya, lalu mengambil sebuah piring kosong dan mulai menuangkan makanan yang sudah disediakan oleh para pelayan di rumah itu untuk sarapan.
"Pagi pah, pagi Rania sayang! Keren nih adik kakak udah bangun aja jam segini, kakak makin salut sama kamu sayang!" ucap Tania tersenyum.
"Hehe pagi juga kak, sekarang kakak kalah sama aku nih bangunnya!" ujar Rania nyengir.
"Bener tuh! Kamu kok bisa bangun kesiangan gini sih Tania? Sampai kalah loh sama Rania, kalau Arsen ada pasti dia bakalan siram kamu pake air dingin biar bangun cepet!" ujar William.
"Ish papa, untung aja kak Arsen udah nikah ya? Jadi, aku bisa aman deh mau bangun siang atau pagi! Gak takut digangguin lagi sama dia, tapi rumah ini jadi sepi pah sejak gak ada kak Arsen sama Velove!" ucap Tania.
"Iya kak, bener!" sahut Rania.
"Sabar dong sayang! Arsen sama Velove kan nanti juga bakal balik lagi tinggal disini, mereka cuma butuh waktu buat menikmati momen berdua! Kan mereka pengantin baru, jadi pengennya tuh berduaan terus! Nanti juga kamu kalo udah nikah, pasti bakal kayak gitu Tania!" ucap William.
"Hehe iya sih pah, kalo gitu aku boleh gak ya video call sama kak Arsen? Aku pengen tau suami-istri tuh pagi-pagi lagi pada ngapain!" ucap Tania.
"Hus! Jangan ah sayang, nanti kamu malah ganggu Arsen sama Velove lagi!" ucap William.
"Yah kok gitu sih pah? Kan sekarang udah pagi, bukan malam lagi! Biasanya suami-istri kan berhubungan itu tiap malam, jadi kalau pagi pasti gak begituan dong pah!" ujar Tania.
"Hey, ya tetap aja mereka pasti lagi asyik berduaan! Udah kamu jangan gangguin kakak kamu, mending kamu makan aja sampe habis!" ucap William.
"Huft, iya deh pah!" ucap Tania.
Akhirnya Tania menurut dengan perkataan papanya, ia merunduk lalu mulai memakan makanan di piringnya seperti yang diperintahkan William, walau ia masih sangat ingin menghubungi Arsen alias kakaknya itu.
"Kak, kok kakak cemberut sih? Kakak marah ya sama opa?" tanya Rania dengan polosnya.
"Hah? Eee gak kok sayang, masa iya kakak marah sama papa? Kamu jangan bilang gitu dong sayang, nanti papa bisa marah sama kakak!" ucap Tania menegur adiknya.
"Ma-maaf kak!" ucap Rania ketakutan.
"Sayang, kamu marah nih sama papa? Gara-gara papa gak izinin kamu buat hubungin Arsen? Aduh sayang, masa gitu aja marah sih?" ujar William.
"Pah, aku gak marah kok sama papa! Rania tuh salah nebak pah, mana mungkin aku bisa marah sama papa?" ucap Tania ketakutan.
"Loh terus kenapa kamu cemberut gitu?" tanya William penasaran.
"Eee aku gak cemberut kok pah, ini emang muka aku begini hehe... Udah ah pah jangan dibahas lagi! Mending kita sama-sama makan, nanti keburu siang loh pah!" jawab Tania sambil nyengir.
"Yaudah, awas ya kalau kamu marah sama papa!" ucap William.
"Iya pah..." ucap Tania gugup.
Tania pun kembali merunduk dan lanjut memakan makanan miliknya, ia melirik ke arah Rania dan terlihat gadis kecil itu terkekeh sambil menatap wajah kakaknya yang sedang ketakutan itu.
"Haish, Rania nyebelin parah! Hampir aja gue dimarahin sama papa, padahal gue kan cuma kangen sama kak Arsen!" gumam Tania dalam hati.
•
•
Sementara itu, Arsen sendiri tengah menikmati sarapan juga bersama sang istri. Sesuai janjinya sebelum ini pada Velove, Arsen telah memasak dan menyiapkan semua makanan di apartemen tersebut untuk mereka berdua.
Velove tampak tersenyum puas merasakan makanan buatan Arsen yang enak itu, ia tak menyangka jika Arsen bisa memasak seenak itu karena selama ini ia belum tahu kalau Arsen bisa masak.
"Wah kak Arsen keren deh! Masakan kak Arsen ini enak banget tau!" ucap Velove tersenyum.
"Hahaha makasih sayang! Itu aku belajar dari mama waktu pas kecil dulu, terus tiap kali pelayan di rumah masak pasti aku selalu bantuin! Makanya sekarang aku jadi pinter masak, kamu gak perlu khawatir deh kalo kamu lagi ngerasa gak enak badan terus gak bisa masak, karena ada aku sayang!" ucap Arsen.
"Iya kak, kak Arsen emang jago deh masaknya! Kenapa kak Arsen gak ikutan Indonesian idol aja?" ucap Velove sambil terkekeh kecil.
"Yeh kamu malah bercanda, apa hubungannya masak enak sama ikut Indonesian idol?" ujar Arsen.
"Hehe bercanda kak, peace!" ucap Velove.
"Iya gapapa, aku justru senang ngeliat kamu senyum kayak gitu! Abis ini kita ke rumah papa lagi, ya? Baru deh kita lanjut jalan-jalan bareng Rania, kamu mau kan sayang?" ucap Arsen.
"Mau dong kak! Aku juga kangen sama Rania, walau baru satu hari gak ketemu tapi tetep aja namanya seorang ibu pasti gak bisa jauh-jauh dari anaknya! Apalagi aku sama Rania kan sempat kepisah delapan tahun dulu!" ucap Velove.
"Iya sayang, aku paham kok! Udah, abisin dulu makanannya abis itu mandi! Kamu masih bau badan gitu loh sayang," ujar Arsen.
"Ish, emangnya bau apa? Tadi kan kak Arsen sendiri yang nyuruh aku makan dulu baru mandi, padahal aku udah kepengen mandi tadi! Jangan salahin aku lah!" ucap Velove cemberut.
"Hahaha bercanda sayang! Ya ampun kamu itu kalo lagi ngambek lucu deh, kamu enggak bau kok sayang malahan wangi!" ucap Arsen.
"Ah bisa aja kamu!" ucap Velove tersipu.
Velove pun melanjutkan makannya sampai habis, sedangkan Arsen hanya memandangi wajah cantik istrinya itu dari jarak dekat sambil senyum-senyum dan menaruh dua telapak tangan di dagu.
"Kamu dilihat-lihat makin cantik aja sayang!" ucap Arsen memuji kecantikan sang istri.
"Apa sih kak? Itu kak Arsen gak mau nambah? Cepet amat perasaan kalo makan!" ujar Velove.
"Enggak, sarapan tuh gak perlu banyak-banyak sayang! Yang penting ada makanan masuk ke perut kita, jadi perut kita gak kosong dan lambung kita gak sakit karena gak ada asupan makanan yang bisa dicerna!" ucap Arsen tersenyum.
"Wih kak Arsen udah kayak dokter aja nih, jago amat soal begituan!" ucap Velove.
"Iya dong, itu mah pengetahuan dasar sayang!" ucap Arsen.
Setelahnya, Arsen beranjak dari kursinya dan hendak pergi meninggalkan Velove. Namun, wanita itu menahannya karena penasaran.
"Kak, mau kemana?" tanya Velove.
"Umm, aku mau ke depan sebentar ambil handphone! Kamu disini aja lanjutin makannya, nanti aku balik lagi kok temenin kamu sampai selesai!" jawab Arsen tersenyum.
"Yah kak, ngapain sih ambil hp segala? Udah lah jangan pegang hp terus, kan ada aku disini! Masa kak Arsen mau cuekin aku sih?" rengek Velove.
"Hahaha kamu gemesin banget sih!" ujar Arsen sembari mencubit dua pipi istrinya.
"Hah? Serius kak?" tanya Velove terkejut.
"Hahaha giliran skincare aja mangap mangap gitu! Gak serius lah, aku cuma bercanda biar kamu jadi seneng!" ucap Arsen terkekeh kecil.
"Ish kak Arsen mah!" cibir Velove kesal.
Pria itu tertawa terbahak-bahak sembari mencubit pipi istrinya, lalu mereka pun lanjut berbincang mengenai hal lainnya.
...•••...
Disisi lain, Rianti dan Athar sedang dalam perjalanan menuju kantor suaminya yakni Lionel untuk sekedar main sambil membawakan makan siang. Tak hanya Athar, Rianti juga membawa Christy serta suster Amel untuk mengawasi kedua anaknya itu.
Rianti sangat tidak sabar ingin segera menemui suaminya itu dan memberikan makan siang buatan ia sendiri, kebetulan juga saat ini Athar tengah libur sekolah karena guru-guru di sekolahnya sedang mogok kerja akibat pendapatan tak sesuai.
"Athar sayang, kamu seneng gak mau main ke kantor papa?" tanya Rianti.
"Seneng dong mah! Aku gak sabar banget pengen ketemu sama papa, pasti di kantor papa tuh seru banget ya mah?" ucap Athar antusias.
"Seru dong sayang! Tapi, Athar nanti disana jangan nakal ya nak! Gak boleh sentuh apapun tanpa seizin papa, jangan bikin papa marah juga!" ucap Rianti.
"Iya mah, siap!" ucap Athar tersenyum.
Ciiitttt....
Tiba-tiba saja, supir mereka menginjak rem secara mendadak hingga Rianti serta yang lain terdorong ke depan akibat itu dan nyaris mengalami benturan di kepala.
"Awhh, kok ngerem mendadak sih pak?" tanya Rianti sembari memegangi putranya.
"Ma-maaf Bu! Itu mobil di depan pecah ban, saya berhenti supaya gak nabrak Bu!" jelas si supir sambil menunjuk ke depan.
"Hadeh ada-ada aja! Sus, gak kenapa-napa kan? Christy gimana?" tanya Rianti cemas.
"Aman kok Bu!" jawab suster Amel.
"Huh syukurlah! Lain kali hati-hati pak! Saya kan bawa anak-anak, emang bapak mau disalahin sama suami saya nanti kalau terjadi sesuatu sama kita?" tegur Rianti emosi.
__ADS_1
"Maaf Bu! Saya gak sengaja, kita bisa lanjut sekarang kan Bu?" ucap si supir.
"Iya lanjut aja!" titah Rianti.
"Baik Bu!"
Sang supir menurut dan perlahan kembali melajukan mobilnya pergi dari sana, Rianti kini lebih was-was dan terus memeluk Athar serta memegangi perutnya agar tidak terjadi benturan.
Namun, saat mobil mereka melewati mobil yang berhenti di depan. Rianti tak sengaja melihat sosok pria tua yang sepertinya tidak asing dalam ingatan ia, ya wanita itu sangat yakin bahwa pria yang dilihatnya adalah Darma, alias papanya Reno.
"I-itu kan om Darma papanya Reno, jadi mobil yang pecah ban tuh punyanya om Darma?" batin Rianti.
Akhirnya Rianti meminta supirnya untuk berhenti sejenak disana, ya wanita itu ingin sekali menemui Darma biarpun ia tahu dahulu ia sudah pernah menipu Darma sewaktu masih menjadi wanita nakal.
"Pak pak, stop pak!" ucap Rianti.
"I-i-iya Bu!" ucap supir gugup.
Supir itu meminggirkan mobilnya ke samping dengan perlahan sesuai perintah dari Rianti, sedangkan Rianti sendiri pamit pada putranya untuk turun sebentar menemui Darma.
"Sayang, mama turun sebentar ya? Kamu disini aja sama suster Amel dan dedek Christy, jangan kemana-mana ya sayang!" ucap Rianti.
"Iya mama..." ucap Athar menurut.
"Sus, titip Athar sebentar ya sama Christy?" ucap Rianti menoleh ke belakang.
"Baik Bu!" ucap suster Amel.
Rianti pun membuka pintu, lalu turun dari mobil dan melangkah ke dekat Darma. Ia memang hanya berniat minta maaf dengan pria tersebut, sehingga ia tak takut biarpun ada Anggi serta Tania kecil yang juga bersama Darma disana.
"Akhirnya aku punya kesempatan untuk minta maaf sama om Darma!" batin Rianti.
•
•
"Om Darma!" ucap Rianti memanggil Darma sembari berhenti tepat di dekatnya.
Sontak Darma yang tengah panik memikirkan ban mobilnya itu, dibuat terkejut karena ada seorang wanita yang memanggilnya. Ia pun menoleh dan terkejut begitu melihat sosok Rianti ada di dekatnya, tentu saja Darma masih mengenali wanita itu walau kejadiannya sudah cukup lama.
Anggi pun penasaran dengan wanita yang menyebut nama suaminya, ia melirik ke arah Darma seakan bertanya pada pria itu mengenai siapa perempuan yang ada di depannya.
"Om masih ingat aku kan?" tanya Rianti.
"Hey, kamu siapa? Mau apa samperin suami saya kayak gini, ha?" tegur Anggi curiga.
"Eee saya Rianti, tante!" ucap Rianti.
Rianti mengenalkan diri pada Anggi sambil mengulurkan tangan ke arah wanita itu, ia tersenyum manis berharap Anggi mau bersalaman dengannya.
"Oh saya Anggi, istrinya mas Darma. Kamu kenal suami saya dimana?" ucap Anggi bersalaman dengan Rianti.
"Umm, aku mau minta maaf aja sama om Darma! Om masih ingat aku kan? Pasti om marah banget kalau ingat kejadian delapan tahun lalu itu, makanya aku butuh maaf dari om!" ucap Rianti.
"Apa maksud kamu? Memangnya delapan tahun lalu ada kejadian apa diantara kalian?" tanya Anggi.
"Mah, mama tenang dulu! Biar papa aja yang bicara sama Rianti ya, mama dan Tania tunggu disini sebentar!" ucap Darma.
"Enggak pah! Mama juga mau tau!" tegas Anggi.
"Mah, tolonglah ngerti papa sebentar! Ini urusan masa lalu papa, nanti pasti papa juga ceritain kok ke mama begitu selesai papa bicara dengan Rianti!" ucap Darma memohon pada istrinya.
Anggi memutar bola mata, lalu membiarkan suaminya pergi dengan Rianti.
"Yaudah, silahkan aja papa pergi!" ujar Anggi.
"Makasih mah! Rianti, kita bicara agak jauhan dari sini! Di depan aja, kebetulan saya juga pengen bicara sama kamu!" ucap Darma.
"Iya om," ucap Rianti pelan.
Rianti berbalik dan pergi lebih dulu menjauh dari Anggi, barulah Darma menyusul setelah coba kembali meminta pemahaman dari Anggi agar istrinya itu tidak terus curiga.
"Hadeh, mau apa sih wanita itu muncul lagi? Padahal kejadiannya kan udah lama, cari gara-gara aja dia ini bikin saya malu di depan mama!" batin Darma.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 362
(Menemui Darma)
...•...
...•...
Tania langsung turun ke bawah menghampiri papanya dan juga Rania yang sudah berada di meja makan menikmati sarapan pagi, ia cukup sedih karena tidak adanya sosok Arsen maupun Velove disana yang biasanya selalu menemani mereka ketika sedang waktunya makan.
Tania pun duduk di samping Rania, ia tersenyum lalu mengusap puncak kepala adiknya itu. Tak lupa Tania juga menyapa papanya yang berada tepat di depannya, lalu mengambil sebuah piring kosong dan mulai menuangkan makanan yang sudah disediakan oleh para pelayan di rumah itu untuk sarapan.
"Pagi pah, pagi Rania sayang! Keren nih adik kakak udah bangun aja jam segini, kakak makin salut sama kamu sayang!" ucap Tania tersenyum.
"Hehe pagi juga kak, sekarang kakak kalah sama aku nih bangunnya!" ujar Rania nyengir.
"Bener tuh! Kamu kok bisa bangun kesiangan gini sih Tania? Sampai kalah loh sama Rania, kalau Arsen ada pasti dia bakalan siram kamu pake air dingin biar bangun cepet!" ujar William.
"Ish papa, untung aja kak Arsen udah nikah ya? Jadi, aku bisa aman deh mau bangun siang atau pagi! Gak takut digangguin lagi sama dia, tapi rumah ini jadi sepi pah sejak gak ada kak Arsen sama Velove!" ucap Tania.
"Iya kak, bener!" sahut Rania.
"Sabar dong sayang! Arsen sama Velove kan nanti juga bakal balik lagi tinggal disini, mereka cuma butuh waktu buat menikmati momen berdua! Kan mereka pengantin baru, jadi pengennya tuh berduaan terus! Nanti juga kamu kalo udah nikah, pasti bakal kayak gitu Tania!" ucap William.
"Hehe iya sih pah, kalo gitu aku boleh gak ya video call sama kak Arsen? Aku pengen tau suami-istri tuh pagi-pagi lagi pada ngapain!" ucap Tania.
"Hus! Jangan ah sayang, nanti kamu malah ganggu Arsen sama Velove lagi!" ucap William.
"Yah kok gitu sih pah? Kan sekarang udah pagi, bukan malam lagi! Biasanya suami-istri kan berhubungan itu tiap malam, jadi kalau pagi pasti gak begituan dong pah!" ujar Tania.
"Hey, ya tetap aja mereka pasti lagi asyik berduaan! Udah kamu jangan gangguin kakak kamu, mending kamu makan aja sampe habis!" ucap William.
"Huft, iya deh pah!" ucap Tania.
Akhirnya Tania menurut dengan perkataan papanya, ia merunduk lalu mulai memakan makanan di piringnya seperti yang diperintahkan William, walau ia masih sangat ingin menghubungi Arsen alias kakaknya itu.
"Kak, kok kakak cemberut sih? Kakak marah ya sama opa?" tanya Rania dengan polosnya.
"Hah? Eee gak kok sayang, masa iya kakak marah sama papa? Kamu jangan bilang gitu dong sayang, nanti papa bisa marah sama kakak!" ucap Tania menegur adiknya.
"Ma-maaf kak!" ucap Rania ketakutan.
"Sayang, kamu marah nih sama papa? Gara-gara papa gak izinin kamu buat hubungin Arsen? Aduh sayang, masa gitu aja marah sih?" ujar William.
"Pah, aku gak marah kok sama papa! Rania tuh salah nebak pah, mana mungkin aku bisa marah sama papa?" ucap Tania ketakutan.
"Loh terus kenapa kamu cemberut gitu?" tanya William penasaran.
"Eee aku gak cemberut kok pah, ini emang muka aku begini hehe... Udah ah pah jangan dibahas lagi! Mending kita sama-sama makan, nanti keburu siang loh pah!" jawab Tania sambil nyengir.
"Yaudah, awas ya kalau kamu marah sama papa!" ucap William.
"Iya pah..." ucap Tania gugup.
Tania pun kembali merunduk dan lanjut memakan makanan miliknya, ia melirik ke arah Rania dan terlihat gadis kecil itu terkekeh sambil menatap wajah kakaknya yang sedang ketakutan itu.
"Haish, Rania nyebelin parah! Hampir aja gue dimarahin sama papa, padahal gue kan cuma kangen sama kak Arsen!" gumam Tania dalam hati.
•
•
Sementara itu, Arsen sendiri tengah menikmati sarapan juga bersama sang istri. Sesuai janjinya sebelum ini pada Velove, Arsen telah memasak dan menyiapkan semua makanan di apartemen tersebut untuk mereka berdua.
Velove tampak tersenyum puas merasakan makanan buatan Arsen yang enak itu, ia tak menyangka jika Arsen bisa memasak seenak itu karena selama ini ia belum tahu kalau Arsen bisa masak.
"Wah kak Arsen keren deh! Masakan kak Arsen ini enak banget tau!" ucap Velove tersenyum.
__ADS_1
"Hahaha makasih sayang! Itu aku belajar dari mama waktu pas kecil dulu, terus tiap kali pelayan di rumah masak pasti aku selalu bantuin! Makanya sekarang aku jadi pinter masak, kamu gak perlu khawatir deh kalo kamu lagi ngerasa gak enak badan terus gak bisa masak, karena ada aku sayang!" ucap Arsen.
"Iya kak, kak Arsen emang jago deh masaknya! Kenapa kak Arsen gak ikutan Indonesian idol aja?" ucap Velove sambil terkekeh kecil.
"Yeh kamu malah bercanda, apa hubungannya masak enak sama ikut Indonesian idol?" ujar Arsen.
"Hehe bercanda kak, peace!" ucap Velove.
"Iya gapapa, aku justru senang ngeliat kamu senyum kayak gitu! Abis ini kita ke rumah papa lagi, ya? Baru deh kita lanjut jalan-jalan bareng Rania, kamu mau kan sayang?" ucap Arsen.
"Mau dong kak! Aku juga kangen sama Rania, walau baru satu hari gak ketemu tapi tetep aja namanya seorang ibu pasti gak bisa jauh-jauh dari anaknya! Apalagi aku sama Rania kan sempat kepisah delapan tahun dulu!" ucap Velove.
"Iya sayang, aku paham kok! Udah, abisin dulu makanannya abis itu mandi! Kamu masih bau badan gitu loh sayang," ujar Arsen.
"Ish, emangnya bau apa? Tadi kan kak Arsen sendiri yang nyuruh aku makan dulu baru mandi, padahal aku udah kepengen mandi tadi! Jangan salahin aku lah!" ucap Velove cemberut.
"Hahaha bercanda sayang! Ya ampun kamu itu kalo lagi ngambek lucu deh, kamu enggak bau kok sayang malahan wangi!" ucap Arsen.
"Ah bisa aja kamu!" ucap Velove tersipu.
Velove pun melanjutkan makannya sampai habis, sedangkan Arsen hanya memandangi wajah cantik istrinya itu dari jarak dekat sambil senyum-senyum dan menaruh dua telapak tangan di dagu.
"Kamu dilihat-lihat makin cantik aja sayang!" ucap Arsen memuji kecantikan sang istri.
"Apa sih kak? Itu kak Arsen gak mau nambah? Cepet amat perasaan kalo makan!" ujar Velove.
"Enggak, sarapan tuh gak perlu banyak-banyak sayang! Yang penting ada makanan masuk ke perut kita, jadi perut kita gak kosong dan lambung kita gak sakit karena gak ada asupan makanan yang bisa dicerna!" ucap Arsen tersenyum.
"Wih kak Arsen udah kayak dokter aja nih, jago amat soal begituan!" ucap Velove.
"Iya dong, itu mah pengetahuan dasar sayang!" ucap Arsen.
Setelahnya, Arsen beranjak dari kursinya dan hendak pergi meninggalkan Velove. Namun, wanita itu menahannya karena penasaran.
"Kak, mau kemana?" tanya Velove.
"Umm, aku mau ke depan sebentar ambil handphone! Kamu disini aja lanjutin makannya, nanti aku balik lagi kok temenin kamu sampai selesai!" jawab Arsen tersenyum.
"Yah kak, ngapain sih ambil hp segala? Udah lah jangan pegang hp terus, kan ada aku disini! Masa kak Arsen mau cuekin aku sih?" rengek Velove.
"Hahaha kamu gemesin banget sih!" ujar Arsen sembari mencubit dua pipi istrinya.
"Hah? Serius kak?" tanya Velove terkejut.
"Hahaha giliran skincare aja mangap mangap gitu! Gak serius lah, aku cuma bercanda biar kamu jadi seneng!" ucap Arsen terkekeh kecil.
"Ish kak Arsen mah!" cibir Velove kesal.
Pria itu tertawa terbahak-bahak sembari mencubit pipi istrinya, lalu mereka pun lanjut berbincang mengenai hal lainnya.
...•••...
Disisi lain, Rianti dan Athar sedang dalam perjalanan menuju kantor suaminya yakni Lionel untuk sekedar main sambil membawakan makan siang. Tak hanya Athar, Rianti juga membawa Christy serta suster Amel untuk mengawasi kedua anaknya itu.
Rianti sangat tidak sabar ingin segera menemui suaminya itu dan memberikan makan siang buatan ia sendiri, kebetulan juga saat ini Athar tengah libur sekolah karena guru-guru di sekolahnya sedang mogok kerja akibat pendapatan tak sesuai.
"Athar sayang, kamu seneng gak mau main ke kantor papa?" tanya Rianti.
"Seneng dong mah! Aku gak sabar banget pengen ketemu sama papa, pasti di kantor papa tuh seru banget ya mah?" ucap Athar antusias.
"Seru dong sayang! Tapi, Athar nanti disana jangan nakal ya nak! Gak boleh sentuh apapun tanpa seizin papa, jangan bikin papa marah juga!" ucap Rianti.
"Iya mah, siap!" ucap Athar tersenyum.
Ciiitttt....
Tiba-tiba saja, supir mereka menginjak rem secara mendadak hingga Rianti serta yang lain terdorong ke depan akibat itu dan nyaris mengalami benturan di kepala.
"Awhh, kok ngerem mendadak sih pak?" tanya Rianti sembari memegangi putranya.
"Ma-maaf Bu! Itu mobil di depan pecah ban, saya berhenti supaya gak nabrak Bu!" jelas si supir sambil menunjuk ke depan.
"Hadeh ada-ada aja! Sus, gak kenapa-napa kan? Christy gimana?" tanya Rianti cemas.
"Aman kok Bu!" jawab suster Amel.
"Huh syukurlah! Lain kali hati-hati pak! Saya kan bawa anak-anak, emang bapak mau disalahin sama suami saya nanti kalau terjadi sesuatu sama kita?" tegur Rianti emosi.
"Maaf Bu! Saya gak sengaja, kita bisa lanjut sekarang kan Bu?" ucap si supir.
"Iya lanjut aja!" titah Rianti.
"Baik Bu!"
Sang supir menurut dan perlahan kembali melajukan mobilnya pergi dari sana, Rianti kini lebih was-was dan terus memeluk Athar serta memegangi perutnya agar tidak terjadi benturan.
Namun, saat mobil mereka melewati mobil yang berhenti di depan. Rianti tak sengaja melihat sosok pria tua yang sepertinya tidak asing dalam ingatan ia, ya wanita itu sangat yakin bahwa pria yang dilihatnya adalah Darma, alias papanya Reno.
"I-itu kan om Darma papanya Reno, jadi mobil yang pecah ban tuh punyanya om Darma?" batin Rianti.
Akhirnya Rianti meminta supirnya untuk berhenti sejenak disana, ya wanita itu ingin sekali menemui Darma biarpun ia tahu dahulu ia sudah pernah menipu Darma sewaktu masih menjadi wanita nakal.
"Pak pak, stop pak!" ucap Rianti.
"I-i-iya Bu!" ucap supir gugup.
Supir itu meminggirkan mobilnya ke samping dengan perlahan sesuai perintah dari Rianti, sedangkan Rianti sendiri pamit pada putranya untuk turun sebentar menemui Darma.
"Sayang, mama turun sebentar ya? Kamu disini aja sama suster Amel dan dedek Christy, jangan kemana-mana ya sayang!" ucap Rianti.
"Iya mama..." ucap Athar menurut.
"Sus, titip Athar sebentar ya sama Christy?" ucap Rianti menoleh ke belakang.
"Baik Bu!" ucap suster Amel.
Rianti pun membuka pintu, lalu turun dari mobil dan melangkah ke dekat Darma. Ia memang hanya berniat minta maaf dengan pria tersebut, sehingga ia tak takut biarpun ada Anggi serta Tania kecil yang juga bersama Darma disana.
"Akhirnya aku punya kesempatan untuk minta maaf sama om Darma!" batin Rianti.
•
•
"Om Darma!" ucap Rianti memanggil Darma sembari berhenti tepat di dekatnya.
Sontak Darma yang tengah panik memikirkan ban mobilnya itu, dibuat terkejut karena ada seorang wanita yang memanggilnya. Ia pun menoleh dan terkejut begitu melihat sosok Rianti ada di dekatnya, tentu saja Darma masih mengenali wanita itu walau kejadiannya sudah cukup lama.
Anggi pun penasaran dengan wanita yang menyebut nama suaminya, ia melirik ke arah Darma seakan bertanya pada pria itu mengenai siapa perempuan yang ada di depannya.
"Om masih ingat aku kan?" tanya Rianti.
"Hey, kamu siapa? Mau apa samperin suami saya kayak gini, ha?" tegur Anggi curiga.
"Eee saya Rianti, tante!" ucap Rianti.
Rianti mengenalkan diri pada Anggi sambil mengulurkan tangan ke arah wanita itu, ia tersenyum manis berharap Anggi mau bersalaman dengannya.
"Oh saya Anggi, istrinya mas Darma. Kamu kenal suami saya dimana?" ucap Anggi bersalaman dengan Rianti.
"Umm, aku mau minta maaf aja sama om Darma! Om masih ingat aku kan? Pasti om marah banget kalau ingat kejadian delapan tahun lalu itu, makanya aku butuh maaf dari om!" ucap Rianti.
"Apa maksud kamu? Memangnya delapan tahun lalu ada kejadian apa diantara kalian?" tanya Anggi.
"Mah, mama tenang dulu! Biar papa aja yang bicara sama Rianti ya, mama dan Tania tunggu disini sebentar!" ucap Darma.
"Enggak pah! Mama juga mau tau!" tegas Anggi.
"Mah, tolonglah ngerti papa sebentar! Ini urusan masa lalu papa, nanti pasti papa juga ceritain kok ke mama begitu selesai papa bicara dengan Rianti!" ucap Darma memohon pada istrinya.
Anggi memutar bola mata, lalu membiarkan suaminya pergi dengan Rianti.
"Yaudah, silahkan aja papa pergi!" ujar Anggi.
"Makasih mah! Rianti, kita bicara agak jauhan dari sini! Di depan aja, kebetulan saya juga pengen bicara sama kamu!" ucap Darma.
"Iya om," ucap Rianti pelan.
Rianti berbalik dan pergi lebih dulu menjauh dari Anggi, barulah Darma menyusul setelah coba kembali meminta pemahaman dari Anggi agar istrinya itu tidak terus curiga.
"Hadeh, mau apa sih wanita itu muncul lagi? Padahal kejadiannya kan udah lama, cari gara-gara aja dia ini bikin saya malu di depan mama!" batin Darma.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...