
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 99
(Dijemput papa)
...•...
...•...
Rania sudah pulang sekolah, ia menunggu kedatangan jemputan untuknya di depan lorong sekolahannya seorang diri. Cukup lama ia berdiri disana sehingga kakinya terasa pegal, akhirnya Rania memilih duduk di kursi dekat sana karena sudah tidak kuat lagi menahan pegal di kakinya.
"Kak Tania kok belum datang ya? Apa mungkin kak Tania lupa kalau aku sekarang udah sekolah lagi? Ah masa sih, kak Tania kan masih muda!" batin Rania sambil terus menatap ke arah pagar sekolah.
Sudah hampir setengah jam Rania menunggu disana, akan tetapi Tania yang ditunggunya tak kunjung datang kesana untuk menjemputnya. Ia sampai merasa ngantuk karena lelah menunggu terlalu lama disana, ia pun menggoyangkan kakinya untuk mengusir rasa kantuk sekaligus bosan yang melandanya.
Sementara Lydia alias bu guru cantik juga baru keluar dari ruang kelasnya, ia terkejut melihat Rania masih berada di lorong sekolah dan belum pulang ke rumah padahal waktu sudah lewat 20 menit dari bel pulang sekolah tadi.
"Rania kok belum pulang ya? Apa dia gak dijemput sama Tania?" gumam Lydia penasaran.
Akhirnya karena kasihan pada bocah itu, Lydia pun berjalan ke dekat Rania untuk menemaninya sekaligus menghibur gadis yang merasa bosan itu.
"Hey, Rania!" sapa Lydia sembari melambaikan tangan di depan wajah Rania yang tengah bengong.
"Eh bu guru cantik, sejak kapan bu guru ada disitu?" ujar Rania tersenyum memperlihatkan gigi-giginya.
"Iya, ibu baru datang barusan! Tadi ibu kaget ngeliat Rania belum pulang ke rumah, makanya ibu samperin aja Rania kesini!" ucap Lydia sembari duduk di samping gadis kecil itu.
"Iya nih bu, kak Tania belum dateng-dateng juga! Kayaknya kak Tania lupa deh kalo hari ini aku udah sekolah lagi, makanya sampe sekarang kak Tania belum jemput aku disini!" ucap Rania sambil nyengir.
"Hahaha, gak mungkin sayang! Biar ibu telponin Tania dulu ya, siapa tahu Tania memang ada urusan jadi gak bisa jemput kamu!" ucap Lydia mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Iya bu guru cantik!" ucap Rania tersenyum.
__ADS_1
Lydia pun hendak menelpon ke nomor Tania melalui ponselnya, akan tetapi suara berat seorang pria menghentikan niatnya itu.
"Rania!"
Sontak Lydia beserta Rania langsung menoleh ke asal suara yang memanggil nama gadis kecil itu, wajah Rania yang tadi cemberut kini berubah sumringah begitu melihat pria yang ada di depannya.
Rania bangkit dari duduknya sembari melempar senyum pada pria tersebut, sedangkan Lydia masih duduk kebingungan karena tak mengenali siapa pria yang datang kesana itu.
"Papa William?" ujar Rania tersenyum lebar.
"Iya sayang, ini papa! Maaf ya papa telat jemput kamunya, jadi kamu harus nunggu lama deh!" ucap pria yang ternyata William, ia berjongkok menyamai tinggi Rania sembari mengusap lembut rambut gadis kecil tersebut.
"Gapapa, papa! Aku malah seneng kok karena papa mau jemput aku di sekolah, oh ya kenalin pah ini bu guru cantik yang ngajar aku di kelas!" ucap Rania tersenyum sembari mengenalkan papanya pada Lydia yang masih terduduk.
"Ohh, salam kenal bu! Saya William, papanya Rania! Terimakasih ya sudah menemani anak saya disini, tadi saya ada kendala sedikit di jalan jadi agak terlambat datang kesini!" ucap William menyodorkan tangannya ke arah Lydia.
"Sama-sama pak, saya Lydia ibu guru sekaligus wali kelasnya Rania! Tidak apa kok pak, saya juga senang nemenin Rania disini! Soalnya Rania ini anaknya lucu pak, gemesin!" ucap Lydia bersalaman dengan William sebentar.
"Hahaha, memang benar itu!" ujar William tertawa.
Melihat papa dan ibu gurunya tertawa seperti itu, Rania hanya tersenyum sembari mendongak ke atas melihat wajah papanya dan Lydia secara bergantian.
"Oke pah, bu guru cantik aku pulang dulu ya!" ucap Rania menghampiri Lydia lalu mencium punggung tangan ibu guru tersebut.
"Iya sayang, Rania hati-hati ya di jalan!" ucap Lydia mengelus wajah gemas Rania dengan jarinya.
"Bu Lydia, kita pamit ya! Sekali lagi terimakasih sudah mau menemani Rania, maaf juga karena saya jadi merepotkan anda!" ucap William.
"Sama-sama pak, saya tidak merasa direpotkan kok! Justru saya senang bisa main sama Rania, dia ini gemas sekali loh pak!" ucap Lydia tersenyum sembari mengusap puncak kepala Rania.
"Ya baguslah, yaudah kalau begitu kami pamit dulu ya bu! Sayang, ayo kita pulang!" ucap William.
"Iya pah," ucap Rania mendongak menatap wajah papanya dari bawah.
"Dadah dulu sama guru kamu!" ucap William.
"Oke pah, dadah bu guru cantik! Aku pulang ke rumah dulu ya, sampe ketemu besok!" ucap Rania tersenyum melambaikan tangan ke arah Lydia.
"Iya sayang, dadah!!" ucap Lydia.
__ADS_1
William pun menggandeng tangan Rania lalu membawanya keluar sekolah menuju mobil, sedangkan Lydia menenteng tasnya kembali ke ruangannya.
...•••...
Disisi lain, Tania sudah mendapat penjelasan dari sekretaris papanya tentang bisnis yang akan mereka bahas nantinya bersama seorang ceo dari pt. rero abadi.
"Bagaimana bu, apakah sudah mengerti tentang proyek kerjasama antara perusahaan kita dengan pt. rero abadi? Kalau misal masih ada yang ibu kurang mengerti, bisa kok tanyakan langsung ke saya!" ucap Renata bertanya pada Tania.
"Iya saya sudah mengerti semuanya kok, tapi mana perwakilan dari pt. rero abadi itu? Kenapa sampai jam segini mereka belum juga datang? Sebenarnya mereka ini niat atau tidak menerima tawaran kerjasama dari papa saya?" ujar Tania kesal sembari melihat jam di ponselnya.
Wajar saja Tania kesal, karena hingga saat ini belum ada satupun perwakilan dari pt. rero abadi yang datang kesana padahal Tania sudah menunggu cukup lama bahkan sampai keringat mulai bercucuran di wajahnya.
"Saya juga kurang tahu bu, tapi sebentar akan saya coba kabari sekretaris pak Reno!" ucap Renata mengambil ponselnya dari dalam tas lalu menghubungi Indira sekretaris Reno.
Sementara Tania memilih membuka sosmed nya untuk mengusir rasa bosan yang ia alami, memang menunggu sesuatu yang belum pasti adalah hal paling membosankan di dunia ini.
"Bagaimana, Renata?" tanya Tania saat mengetahui sekretaris papanya sudah menaruh kembali ponselnya di atas meja.
"Eee belum ada balasan dari Indira, bu!" jawab Renata merasa gugup.
"Kalau begitu kamu telpon aja, bilang kalo saya gak bisa nunggu lebih lama lagi! Saya masih ada banyak urusan yang harus dikerjakan, bukan hanya menunggu mereka datang kesini!" ucap Tania.
"Baik bu, saya akan menelpon Indira!" ucap Renata mengambil kembali ponselnya lalu menghubungi nomor Indira di hadapan Tania.
Tak lama kemudian, Reno sudah sampai di molinara cafe bersama sekretarisnya dan juga putrinya yakni Tania kecil. Mereka bertiga memasuki cafe tersebut lalu celingak-celinguk mencari keberadaan kliennya, namun ponsel milik Indira berdering hingga ia harus mengangkat telepon itu sejenak.
"Maaf pak, ini Renata telpon saya!" ucap Indira.
"Ya kamu angkat saja!" titah Reno.
Tania kecil yang masih digandeng papanya terus saja celingak-celinguk ke sekeliling cafe itu, sampai pandangan matanya tertuju pada seorang wanita yang tengah duduk di dekat sana.
"Aku kayaknya kenal deh sama orang itu, ah iya benar!"
"Tante Tania!" panggil Tania kecil berteriak.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1