Preman Cantik

Preman Cantik
{SEASON 2} Episode 126 (Diomongin)


__ADS_3

...HALO LAGI GUYS!...


...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...


..."PREMAN CANTIK 2"...


...~~~...


#PREMAN CANTIK S2 EPS. 70


(Diomongin)


...•...


...•...


Lionel berusaha mengejar istrinya keluar kantor, akan tetapi ia terlambat karena Rianti sudah lebih dulu naik ke taksi dan pergi dari sana. Lionel pun tidak menyerah sampai disitu, ia mengejar taksi istrinya dengan mobil miliknya. Lionel memang sangat mencintai Rianti dengan tulus, ia tidak mau tentunya rumah tangga yang sudah ia bangun cukup lama harus kandas hanya karena seorang wanita penggoda seperti Shani. Ia sangat berharap rumah tangganya masih bisa bertahan dikala gempuran yang menimpa mereka saat ini, walau ia juga merasa bersalah karena sudah mengkhianati Rianti.


Lionel menancap gas mengejar taksi Rianti dengan kecepatan tinggi, ia tak mau kehilangan jejak oleh karenanya ia terus menambah kecepatan mobilnya.


"Kamu gak boleh pergi, sayang! Kamu harus terus sama aku sampai selamanya! Ini semua cuma salah paham, pasti kamu bisa kembali ke pelukan aku Rianti! Aku gak rela jika kamu harus pergi tinggalin aku, karena cuma kamu yang aku sayangi dan cintai setulus hati aku!" batin Lionel sangat merasa cemas akan kehilangan istrinya.


Lionel mengingat kembali saat Rianti memergoki dirinya di depan lift tadi, ia tak menyangka kalau istrinya bisa datang ke kantor tanpa bilang apa-apa sebelumnya. Tentu ia juga tak ingin hal itu terjadi, semuanya karena godaan dari Shani yang terus-terusan mengganggunya.


"Kalau aku sampai kehilangan kamu, orang pertama yang harus bertanggung jawab adalah Shani! Wanita sialan itu akan aku buat menderita dan hancur, awas aja kamu Shani beraninya kamu bongkar semua itu di hadapan Rianti dan seluruh karyawan aku!" batin Lionel yang kini masih tak karuan memikirkan Rianti.


Setelah kejar-kejaran selama beberapa menit, akhirnya mobil Lionel berhasil mencegat taksi yang ditumpangi Rianti dari depan. Dengan cepat pria itu langsung turun dari mobilnya dan berjalan mendekati taksi tersebut untuk mengajak bicara istrinya.


TOK TOK TOK...


"Sayang, keluar dong! Aku mau bicara sebentar sama kamu, aku bisa jelasin semuanya sayang!" ucap Lionel sambil mengetuk-ngetuk kaca mobil.

__ADS_1


Rianti yang berada di dalam sana merasa sangat sedih dan kecewa dengan suaminya, ia sebenarnya tidak ingin lagi berbicara dengan Lionel. Namun, ia tak punya pilihan lain karena takut jalanan disana jadi macet karena kelakuan suaminya itu. Rianti pun turun dari taksi dengan mata dipenuhi air yang sudah keluar membasahi wajahnya, ia menghapus air mata itu dengan tangannya lalu menemui suaminya tanpa melihat ke arahnya. Memang Rianti masih kesulitan untuk memandang kembali wajah Lionel setelah apa yang telah dilakukan suaminya itu padanya.


"Mau apa lagi sih kamu? Aku kan udah bilang mas, aku gak mau bicara apa-apa lagi sama kamu! Sekarang kamu pergi sana, kembali ke selingkuhan kamu yang udah kamu nodai itu!" ucap Rianti.


"Enggak, sayang! Aku gak cinta sama dia, aku cuma maunya sama kamu bukan sama siapapun termasuk dia! Aku ngaku, iya aku memang udah perkosa dia beberapa waktu lalu! Tapi, itu semua bukan atas dasar cinta! Aku terlalu emosi sama dia, karena dia terus-terusan ganggu dan goda aku! Ayolah sayang, kita bicara berdua dan cari tempat yang lebih cocok!" ucap Lionel menggenggam tangan Rianti.


"Lepasin, mas!" ujar Rianti menarik tangannya lepas dari genggaman Lionel.


Rianti berjalan melewati suaminya menuju mobil Lionel, pria itu paham kalau Rianti mau berbicara dengannya di tempat lain. Lionel tampak tersenyum senang lalu menyusulnya, akan tetapi supir taksi tadi menahannya dan meminta ongkos.


"Pak, tunggu! Itu istrinya belum bayar!" teriak supir.


"Ohh maaf pak, ini uangnya! Kembaliannya ambil aja!" ucap Lionel menyerahkan 3 lembar uang 100 ribuan ke supir tersebut.


Sontak wajah sang supir langsung berubah sumringah, sementara Lionel menyusul Rianti yang sudah lebih dulu masuk ke mobilnya.


Saat di dalam mobil, Lionel coba menatap wajah istrinya sambil menghela nafas sebelum mulai berbicara. Sedangkan Rianti terus memandang keluar jendela tak mau menatap suaminya walau hanya sekilas, ia masih sangat emosi sebenarnya pada sang suami karena hatinya sudah tersakiti.


"Kok diem? Cepet jalan! Kalo gak aku turun lagi nih!" ucap Rianti tegas.


Akhirnya Lionel menancap gas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang mencari-cari tempat yang cocok untuk mereka bicara berdua, sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam tanpa ada yang berbicara sama sekali.




Sementara itu, Shani kesal sendiri di kantor Lionel karena lelaki tersebut malah lebih memilih mengejar Rianti dibanding bersama dirinya. Akhirnya Shani dibantu oleh beberapa karyawan disana karena kakinya keseleo akibat dorongan Lionel tadi, namun ia merasa risih karena banyak orang-orang disana membicarakan tentang kejadian tadi dimana dirinya dilabrak langsung oleh istri Lionel.


"Ish gak nyangka ya, ternyata mbak Shani itu pelakor!"


"Iya sayang banget, cantik-cantik gitu suka sama suami orang!"

__ADS_1


"Kalau saya jadi Bu Rianti, pasti udah abis tuh pelakor saya jambakin rambutnya sampe botak!"


Mendengar itu, Shani reflek memegangi rambutnya dan membayangkan jika ia tidak memiliki rambut alias botak nantinya. Akhirnya Shani memilih pergi dari sana dengan terpincang-pincang daripada harus mendengarkan ucapan mereka, ia dibantu supir pribadinya berjalan keluar dari kantor itu.


Saat di luar, Shani malah berpapasan dengan papanya yang hendak menemui Lionel untuk membahas kelanjutan kerjasama mereka. Sang papa tampak syok melihat putrinya pincang seperti itu, ia pun langsung menghampiri Shani untuk menanyakan apa yang terjadi padanya.


"Loh, Shani? Kamu kenapa, sayang?" tanya papanya khawatir.


Shani malah menangis lalu menghampiri papanya, ia memeluk erat tubuh sang papa dan melepaskan kesedihannya disana. Papanya itu nampak heran namun membiarkan Shani melepas semua air matanya di dalam pelukannya.


"Aku sedih, pah! Aku dipermalukan sama karyawan Lionel di dalam sana! Aku gak terima pah, aku malu banget dan aku kesel sama mereka semua!" ucap Shani terisak.


"Tenang, tenang! Kamu cerita dengan jelas ya, supaya papa bisa mengerti apa yang kamu omongin itu! Tenangin dulu diri kamu, jangan nangis!" ucap papanya mengelus-elus punggung Shani.


Setelah 5 menit menangis di dalam pelukan papanya, akhirnya Shani melepas pelukannya itu dan menatap wajah papanya dengan mata berkaca-kaca. Sang papa langsung menghapus air mata di wajah putrinya itu sambil menggenggam wajahnya dengan kedua tangannya, barulah ia mulai berbicara.


"Sekarang, kamu cerita pelan-pelan!" ucap papanya.


"Jangan disini, pah! Aku gak mau yang lain denger, kita pergi aja ya pah dari sini!" ucap Shani.


"Ohh, iya iya oke! Parman, kita jalan lagi!" ucap papanya merangkul pundak Shani lalu memerintahkan supirnya kembali pergi dari sana.


Sementara para karyawan Lionel tadi masih saja membicarakan Shani di belakang, padahal gadis itu sudah pergi dari sana bersama papanya.


"Kasian juga sama pak Dirly, punya anak pelakor!"


"Iya, apa kata keluarganya ya kalo tau tentang ini?"


"Ish pasti malu banget tuh, atau malah satu keluarga mereka itu perusak rumah tangga orang lagi!"


Ya begitulah perbincangan mereka yang terlihat sangat asyik, kebanyakan orang-orang emang suka ngomongin orang dari belakang.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2