Preman Cantik

Preman Cantik
{SEASON 2} Episode 117 (Dikalahkan)


__ADS_3

...HALO LAGI GUYS!...


...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...


..."PREMAN CANTIK 2"...


...~~~...


#PREMAN CANTIK S2 EPS. 61


(Dikalahkan)


...•...


...•...


BUGH...


Tendangan Savana berhasil mengenai tulang kering pria tersebut, tangannya juga telah lepas walau masih terasa sakit.


"Lu berani main-main sama gue?" ujar Savana kesal karena ia gagal membunuh Tania.


Pria yang tengah memegangi tulang keringnya itu hanya menyeringai dengan tatapan menyala ke arah Savana, ia sempat melirik ke Tania yang masih memejamkan mata.


Ya Tania belum tau kalau ada seseorang yang menolongnya, sampai akhirnya ia memberanikan diri membuka mata serta membuka tangan yang menutupi wajahnya. Tania langsung terkejut saat melihat seorang pria datang kesana dan berhadapan dengan Savana.


"Di-dia kan...."


Pria itu menoleh ke arah Tania lalu tersenyum seakan memberi kode pada wanita itu untuk tenang karena ia akan menyelamatkannya, sedangkan Tania masih terkejut melihat kedatangan pria tersebut.


"Kenapa diem lu? Ayo maju sini!" ujar Savana menantang pria tersebut dengan gestur tangan meminta diserang lebih dulu.


"Hahaha, gue gak suka sebenarnya berantem sama cewek! Tapi karena lu udah keterlaluan dan bikin Tania sampai seperti itu, gue bakal kasih tau lu cara bertarung yang sebenarnya..." ucap pria itu mengambil ancang-ancang untuk menyerang Savana.


Ya pria itu maju melayangkan pukulan serta tendangan ke arah Savana, gadis itu masih dapat menghindar dan kini berbalik menyerangnya namun dengan mudah pria tersebut berhasil menahan kaki Savana dan malah menariknya hingga gadis itu sulit menjaga keseimbangan tubuhnya.


"Lepasin!" teriak Savana sudah hampir terjatuh karena kakinya terus ditarik oleh pria tersebut.


"Oke,"


Kraakk...

__ADS_1


Pria itu memutar telapak kaki Savana dengan tangannya membuat gadis itu meringis kesakitan.


Daaannn....


BUGH...


Satu tendangan mengarah ke arah perut Savana hingga gadis itu tersungkur di aspal dengan kondisi telapak kakinya yang terpelintir.


"Awwhhh..."


Pria itu menyeringai mendengar rintihan dari Savana, ia maju mendekati gadis itu lalu berjongkok di hadapannya untuk sekedar menyombongkan diri.


"Gimana, sakit kan?" ucap pria itu.


"Kurang ajar lu, sebenarnya lu siapa? Kenapa lu bantu Tania?" teriak Savana sambil menahan rasa sakit.


"Gue sahabatnya, mau apa lu? Gue gak akan biarin siapapun sakitin dia termasuk lu!" ucap pria itu.


Savana terdiam masih terus memegangi telapak kakinya yang terpelintir akibat pria tersebut, ia memerintahkan anak buahnya untuk mundur dan membawanya pergi dari sana.


"Woi kalian! Udah berhenti, kita cabut dari sini!" teriak Savana pada seluruh anak buahnya yang masih berkelahi dengan Riko dan Hendi serta Howard.


Sontak mereka semua berhenti bertarung dan langsung menghampiri Savana yang terluka, mereka membawa tubuh bosnya itu ke dalam mobil dengan hati-hati agar Savana tak kesakitan.


"Kamu sepertinya terluka parah, Tania! Biar saya antar kamu ke rumah sakit ya? Supaya luka-luka kamu bisa disembuhkan disana..." ucap pria itu.


"Eee makasih, tapi biar gue sama pengawal gue aja kesana nya! Sekali lagi makasih lu udah tolong gue, kalo gak ada lu gak tau deh gimana nasib gue tadi!" ucap Tania berterima kasih pada pria itu.


"Sama-sama Tania, yasudah saya permisi kalo gitu! Semoga cepat membaik ya kamu!" ucap pria itu.


"Iya,"


Pria itu pun bangkit mempersilahkan Riko serta Howard & Hendi untuk membantu Tania masuk ke dalam mobilnya, tentu saja Riko langsung menggendong tubuh nona nya dengan berhati-hati.


Saat di dalam mobil, Tania langsung pingsan karena tak kuat lagi menahan rasa sakit pada bagian kepalanya akibat terbentur badan mobil tadi. Riko pun langsung cemas dan memerintahkan Rusli untuk segera melajukan mobilnya.


"Ayo pak, kita jalan!" pinta Riko langsung masuk ke dalam mobil di kursi bagian depan.


"Baik pak!" ucap Rusli lalu memasang sabuk pengaman.


Mobil itu pun melaju dengan cepat agar Tania bisa segera sampai di rumah sakit dan mendapat penanganan dari dokter.

__ADS_1


Sementara pria tadi ikut panik setelah mengetahui kalau Tania pingsan, ia pun mengikuti mobil tersebut karena ingin tau kondisi gadis tersebut.


...•••...


Sementara itu, Reno memutuskan untuk mengetuk pintu rumah tersebut karena menurutnya sudah cukup bukti yang ia dapatkan dari mendengar perdebatan antara sepasang suami-istri itu.


TOK TOK TOK...


"Buka!" teriak Reno sambil menggedor-gedor pintu dengan keras supaya orang di dalam bisa mendengarnya dan membuka pintu tersebut.


Mendengar suara pintu diketuk dari luar, orang-orang yang sedang berdebat langsung membuka pintunya untuk mengecek siapa yang datang kesana.


Ceklek...


Pintu pun terbuka memperlihatkan seorang pria dengan wanita disampingnya yang tadi terdengar berdebat di dalam rumah tersebut. Setelah mengetahui siapa yang datang kesana wajah pria itu langsung terkejut hebat.


"Bo-bos...??"


Reno yang melihat wajah pria itu juga langsung menyeringai kesal, ia mengepalkan tangannya karena emosi pada pria di hadapannya sekarang.


"Masih berani anda panggil saya bos? Setelah semua yang anda lakukan pada saya, masih berani anda memanggil saya seperti itu pak Gilang??" ujar Reno dengan nada tinggi dan mata melotot.


Sontak pria bernama Gilang yang merupakan mantan karyawan di pabriknya tersebut kaget setelah dibentak oleh mantan bosnya itu.


"Apa maksud bapak?" tanya Gilang pura-pura tak mengerti dan mengalihkan pandangannya dari pria yang sedang berdiri di hadapannya itu.


"Maksud saya? Sepertinya saya tidak perlu menjelaskan apa maksud saya mengatakan itu, karena anda sudah pasti tau atas semua yang anda lakukan pada saya pak Gilang!" ucap Reno.


"Jujur pak, saya tidak tahu apa-apa! Memangnya kenapa anda sampai harus datang kesini, pak?" ucap Gilang masih saja berpura-pura di hadapan Reno.


"Cih, anda pikir saya tidak tahu kalau anda sudah merampok di rumah saya dan memukul kepala saya sampai terluka dan harus masuk ke rumah sakit? Untuk apa anda pakai berpura-pura seperti itu lagi pak Gilang? Sudahlah akui saja perbuatan anda itu, karena saya telah mendengar semua perdebatan anda dengan istri anda di dalam!" ucap Reno.


Lagi-lagi wajah Gilang langsung terlihat pucat dan panik setelah mendengar perkataan Reno barusan, ia memandang wajah istrinya dengan gelagat panik.


"Kenapa diam pak? Apa anda takut karena saya tau semuanya dan sebentar lagi saya akan melaporkan anda ke kantor polisi??" ujar Reno.


"Tolong jangan, pak! Sa-saya khilaf pak, itu semua saya lakukan semata-mata untuk membiayai kehidupan keluarga saya pak! Tolong maafkan saya pak, jangan masukkan saya ke dalam penjara!" ucap Gilang tiba-tiba bersimpuh di hadapan Reno memohon-mohon pada mantan bosnya itu untuk dimaafkan.


Begitupun dengan sang istri yang juga ikut bersimpati meminta Reno untuk memaafkan suaminya, namun bagaimanapun juga Reno masih menyimpan amarah pada Gilang atas perbuatannya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2