
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 367
(Capek banget)
...•...
...•...
Setelah selesai meeting dengan kliennya, Tania kembali ke dalam ruangannya bermaksud istirahat sejenak karena lelah terus mengobrol bersama klien. Apalagi ia harus berbicara bahasa Inggris yang cukup menyulitkan bagi dirinya, biarpun ia sudah sedikit fasih berbahasa Inggris.
Saat Tania masuk ke dalam ruangannya, ia terkejut karena disana ada Revan yang sedang duduk pada kursi miliknya dengan santai. Pria itu tersenyum renyah ketika Tania membuka pintu, tentu Tania langsung menggelengkan kepala melihat kelakuan kekasihnya tersebut.
"Revan? Kamu ngapain sih disini? Ini kan ruangan aku, tempat aku buat istirahat abis lelah kerja! Kamu jangan duduk disitu dong, kan ada tuh kursi khusus buat para tamu!" ujar Tania.
"Hey, tadi kan kamu masih meeting sayang. Terus kursi ini kosong, yaudah aku dudukin aja! Kamu jangan marah-marah gitu dong!" ucap Revan.
"Gak ada yang marah Van, aku cuma nanya sama kamu! Udah sekarang kamu awas ya, aku mau duduk disitu capek banget nih!" ucap Tania.
"Hahaha capek ngapain sih?" tanya Revan.
Gadis itu melangkah masuk mendekati Revan, ia juga menutup pintu lalu berbicara sambil terus berjalan ke arah Revan.
"Ya capek lah sayang! Aku kan harus ladenin si klien itu, udah gitu dia cuma bisa bahasa Inggris. Kan aku capek harus ngomong terus sayang, awas ah berdiri kamu pindah aja kesana!" ucap Tania.
"Iya iya cantik, kamu gemesin banget sih kalo lagi kayak gitu!" ucap Revan tersenyum.
Revan berdiri kemudian mencubit dua pipi gadisnya secara bergantian, Tania hanya cuek dan duduk karena ia memang sedang letih. Tania pun bersandar pada kursinya sembari memejamkan mata sejenak dan mengatur nafasnya yang terengah-engah.
Revan geleng-geleng kepala menatap Tania sang kekasih yang sedang memejamkan mata itu, ia pun sedikit membungkuk dan kemudian mengecup kening gadisnya sembari mengusap-usap puncak kepala Tania dengan lembut.
"Kamu capek banget kelihatannya! Mau aku pijitin apa enggak nih? Mumpung aku lagi baik, jarang loh aku kayak gini!" ucap Revan tersenyum.
Tania pun membuka matanya menatap Revan dengan tatapan lemas.
"Kamu apaan sih? Jangan modus deh! Bilang aja kamu mau pegang-pegang tubuh aku, ya kan? Pake alasan pijat segala, dasar tukang modus!" ucap Tania cemberut.
"Hahaha, kok modus sih sayang? Aku serius loh, sini kalo mau aku pijitin supaya kamu gak capek lagi! Mana coba yang pegal sayang?" ucap Revan.
"Gausah Van, makasih! Aku cuma pegal sedikit aja, kamu mending duduk deh jangan berdiri terus kayak gitu! Aku lama-lama capek juga tau lihatin kamu berdiri mulu, terus juga jangan dekat-dekat nanti nafas aku jadi kebagi sama kamu!" ucap Tania.
"Ya ampun gitu amat sih kamu!" cibir Revan.
"Hehe, udah sana ah jauh-jauh! Aku mau tidur sebentar, nanti bangunin ya kalau udah jam dua! Aku pengen ketemu kak Arsen sama Velove, awas loh kalo gak bangunin!" ucap Tania.
"Hey, kok malah tidur sih? Nanti giliran kak Arsen nya udah pulang aja nangis!" ujar Revan.
"Eh iya juga ya, aku lupa kalau mereka cuma main ke rumah gak nginep disana! Duh, tapi aku masih capek banget Van pengen istirahat!" ucap Tania.
"Yaudah, mau aku gendong?" tanya Revan.
"Hah??" Tania terkejut mendengarnya.
Revan tersenyum lalu menghampiri Tania dan mengangkat tubuh gadis itu secara perlahan, ia pun menggendong Tania ala bridal style. Tania tampak terkejut saat tubuhnya diangkat oleh Revan, namun kini ia merasa nyaman dan bahkan jantungnya berdegup kencang berada dalam dekapan Revan.
"Van, kamu apa-apaan sih? Kamu mau gendong aku sampe ke bawah gitu? Emang kuat?" tanya Tania.
"Insyaallah kuat, kamu percaya aja sama aku! Gini-gini aku juga punya tenaga yang mumpuni sayang, kamu jangan salah kira! Jangankan sampe bawah, sampai istana presiden juga aku kuat kok gendong kamu!" ucap Revan tersenyum.
"Ya ampun, iyain aja deh! Kalo kamu keberatan jangan salahin aku ya, kan aku gak minta digendong sama kamu!" ujar Tania.
"Iya sayang, siapa juga yang keberatan? Tubuh kamu itu enteng sayang, gak ada rasanya malah! Aku bisa nih lempar kamu dari sini ke dekat pintu!" ucap Revan terkekeh kecil.
"Ish, ya sakit lah!" ujar Tania cemberut.
__ADS_1
"Hahaha bercanda sayang!" ujar Revan tertawa.
Setelahnya, Revan pun melangkah membawa gadisnya keluar dari ruangan itu untuk menuju mobilnya yang berada di parkiran. Ia cukup senang bisa menggendong tubuh Tania, biarpun terasa lumayan berat juga karena gadis itu memiliki bobot yang lumayan dan membuat Revan kesulitan.
Mereka menyusuri jalan di kantor itu, lalu masuk ke dalam lift dan Revan masih tak mau menurunkan Tania walau gadis itu memintanya karena melihat Revan keletihan. Revan terus menggendong Tania sampai ke tempat parkir dan membawa gadis itu masuk ke dalam mobilnya.
•
•
Sementara itu, Arsen dan Velove sudah hendak pamit pergi dari rumah sang papa karena mereka ingin lanjut berjalan menuju rumah tante Velove yang berada lumayan jauh dari sana.
Tentunya William merasa sedih karena putranya itu ingin cepat pergi, padahal ia masih rindu dengannya dan berharap Arsen mau menginap disana walau hanya satu malam untuk menemani dirinya dan juga Rania yang merasa kesepian.
"Pah, kita berdua pamit dulu ya? Kita mau mampir ke rumah tante Gracia, tantenya Velove. Katanya Velove pengen kasih hadiah buat tantenya!" ucap Arsen.
"Loh Arsen, kamu kok cepat sekali sih pamitnya? Ini masih siang tau, nanti aja agak sorean!" ujar William.
"Iya pah, mah, masa aku mau ditinggal lagi sih? Kan aku masih kangen sama mama sama papa! Disini aja dulu ya pah, mah temenin aku! Emang mama gak pengen tidur bareng aku?" sahut Rania.
"Rania, kalau kamu mau ikut juga gapapa kok! Papa justru senang sekali, ikut aja yuk sama papa dan mama ke rumah tante Gracia! Umm pah, aku boleh kan bawa Rania ikut sekalian sama aku dan Velove?" ucap Arsen.
"Boleh boleh aja, tapi jangan sekarang! Kamu nginep dulu lah minimal malam ini disini, papa masih kangen sama kamu Arsen!" ujar William.
"Eee tapi pah, Velove tuh pengen ketemu sama tantenya!" ucap Arsen.
"Kak, udah gapapa kita malam ini nginep disini aja dulu jangan dipaksa buat ke rumah tante Gracia! Itu kan masih bisa besok, kasihan papa sama Rania!" ucap Velove.
"Tuh kan, istri kamu aja setuju loh Sen! Masa kamu masih mau kekeuh pergi tinggalin papa?" ujar William merasa senang.
"Eee yaudah deh pah, kalau Velove udah bilang begitu aku mah ngikut aja! Malam ini kita nginep disini dulu, besok hari kita ke rumah tante kamu ya cantik!" ucap Arsen tersenyum sambil mencolek dagu istrinya.
"Iya kak," ucap Velove singkat.
"Yeay asik, papa mama nginep disini! Aku bisa dong tidur bareng sama papa dan mama?" ucap Rania.
"Bisa kok sayang!" jawab Velove.
"Kenapa sih mas? Kamu gak seneng Rania tidur bareng sama kita?" tanya Velove bingung.
"Eh eee enggak kok, gak gitu sayang! Aku seneng lah, senang banget malah! Tapi, kalau bisa sih jangan malam ini lah sayang! Aku kan masih pengen berduaan sama kamu, kapan-kapan aja gitu kita tidur bareng Rania nya!" ujar Arsen nyengir.
"Kak, tapi kan kita nginep disini cuma semalam. Gimana caranya kita bisa tidur sama Rania kalau bukan malam ini?" ucap Velove.
"Tenang sayang! Kan abis dari rumah tante kamu, kita balik lagi nginep disini! Nah, baru deh Rania nanti tidur bareng sama kita sayang! Kalau sekarang, aku gak bisa dong main sama kamu!" ujar Arsen.
"Ish kak Arsen ih!" cibir Velove.
"Yah jadi aku gak boleh dong tidur bareng papa sama mama malam ini?" ujar Rania cemberut.
"Eee maaf ya sayang! Malam ini kamu tidurnya sama kak Tania aja dulu, besok-besok deh baru tidur sama papa mama ya!" bujuk Arsen.
Namun, Rania justru semakin cemberut dan tampak bersedih mendengar perkataan papanya.
"Sayang, hey jangan kayak gitu lah! Papa sama mama masih pengen berduaan sayang, kan kita berdua baru nikah kemarin! Rania tolong ngertiin papa ya sayang!" ucap Arsen.
"Sen, udah lah kamu turuti aja kemauan Rania daripada dia ngambek kayak gitu! Toh kamu kan semalam udah berduaan sama Velove, sekarang gapapa Rania ikut tidur sama kalian!" ucap William memberi usul.
"Yah tapi pah, aku belum puas!" ujar Arsen.
"Arsen! Memangnya kamu mau lihat Rania terus-terusan ngambek kayak gini, ha?" tegur William.
"Iya kak, kasihan Rania!" sahut Velove.
Arsen berpikir sejenak sebelum berbicara, ia menatap wajah Rania yang sedang cemberut sambil menunduk itu. Akhirnya Arsen tak ada pilihan lain selain menuruti kemauan putrinya tersebut, walau ia harus rela gagal kembali mencicipi tubuh istrinya.
"Yaudah deh, papa bolehin kamu tidur bareng sama papa dan mama nanti malam! Tapi—"
"Yeay asyik! Beneran kan pah, papa kasih izin aku buat tidur sama papa dan mama?" potong Rania langsung girang.
"Iya sayang, tapi—"
__ADS_1
"Yeee horeee akhirnya aku bisa tidur bareng sama papa sama mama!" potong Rania lagi.
"Hadeh nih anak!" umpat Arsen kesal.
Rania yang sedang kegirangan itu, langsung memeluk tubuh mamanya dengan erat karena ia sangat bahagia mendengar perkataan Arsen tadi.
Sedangkan Arsen sendiri merasa frustasi dan kesal karena tak didengarkan oleh Rania, padahal ia masih ingin memberi syarat pada gadis kecil itu, namun Rania justru tak perduli dan malah berlari memeluk Velove.
"Sen, sabar lah! Namanya juga anak-anak, dia masih butuh kasih sayang mamanya!" ucap William.
"Iya pah, aku selalu sabar kok! Biarpun nanti malam aku fix gak dapat jatah! Padahal baru satu kali kita begituan pah, eh sekarang udah kena gangguan aja!" ucap Arsen mengeluh.
"Hahaha itu derita kamu Sen! Udah lah, jangan dipikirin terus kayak gitu!" ujar William tertawa.
Arsen mengangguk pelan, lalu hendak pergi dari sana meninggalkan mereka. Namun, suara Tania membuatnya mengurungkan niat dan tetap berada di tempatnya.
"KAK ARSEN...!!"
Tania telah sampai di rumahnya, ia langsung berteriak dan berlari menghampiri kakaknya yang berada di ruang tamu bersama yang lain.
Sontak Arsen tersenyum begitu melihat sang adik sudah pulang dari meeting nya, ia beranjak dari sofa lalu mendekat ke arah Tania dan berpelukan dengan gadis itu untuk kedua kalinya hari ini.
"Tania sayang, akhirnya pulang juga kamu! Kakak nungguin daritadi loh!" ucap Arsen tersenyum.
"Iya kak, aku juga masih kangen sama kakak! Untung aja kakak belum pulang, jadi aku bisa peluk kak Arsen lagi deh!" ucap Tania.
"Hahaha iya Tania..." ujar Arsen.
Mereka berpelukan cukup lama, membuat seluruh orang yang ada disana ikut terharu termasuk Revan yang juga hadir bersama Tania tadi. William serta Velove dan Rania, hanya bisa terdiam sembari terus memandang ke arah Tania dan Arsen tanpa mampu berkata apa-apa saat ini.
"Kakak sayang kamu! Kakak gak kebayang gimana jadinya kalau kita berpisah, Tania!" batin Arsen.
...•••...
Disisi lain, Reno mengantar mamanya ke rumah Rianti dengan mobil. Anggi yang sedang emosi itu memang meminta diantar oleh Reno untuk menemui Rianti dan memaksa Reno mau bertanggung jawab atas segala kesalahannya dahulu.
Sesampainya disana, Anggi langsung menatap tajam ke arah Reno dan membuat pria itu agak gugup serta tak berani menatap kembali wajah mamanya, Reno sungguh bingung tak tahu harus bagaimana sekarang.
"Reno! Ini benar rumahnya Rianti?" tanya Anggi.
"I-i-iya mah, benar kok ini rumahnya! Mana mungkin aku sesatin mama kandung aku sendiri? Eee tapi kayaknya Rianti lagi gak ada di rumah deh mah, kita balik aja yuk!" jawab Reno.
"Apa maksud kamu? Darimana kamu tahu kalau Rianti tidak ada di rumah, ha?" ujar Anggi.
"Umm, itu mama lihat aja sendiri! Mobil mereka gak ada, terus suasana rumah juga sepi banget! Ini sih fix Rianti lagi pergi, mah!" ucap Reno.
"Halah sok tahu kamu! Ayo turun!" ujar Anggi.
"Iya mah iya..." ucap Reno menghela nafasnya.
Anggi turun lebih dulu dari mobil, ia langsung saja melangkah ke dekat gerbang dan celingak-celinguk melihat isi halaman rumah tersebut. Ia sadar kalau tidak ada sandal sama sekali disana, yang membuat ia berpikir apa mungkin Rianti tidak ada di rumah.
Sementara Reno segera menyusul mamanya, ia berdiri tepat di samping sang mama dengan perasaan gugup, pria itu khawatir jika Rianti ternyata ada di rumah dan mamanya bisa bertemu dengan wanita itu disana.
"Ren, coba kamu panggil si Rianti!" perintah Anggi.
"Eee iya mah," ucap Reno gugup.
Disaat Reno hendak berteriak, tiba-tiba saja pintu sudah terbuka. Seorang pelayan disana muncul dan menghampiri Anggi serta Reno dengan tatapan penasaran.
"Eh ada tamu, eee ini kang Reno kan ya? Yang suka main kesini?" ujar pelayan itu.
"Benar bik, saya mau ketemu Rianti. Apa dia ada di rumah bik?" ucap Reno.
"Ohh, waduh nyonya baru aja pergi sama tuan dan anak-anaknya tadi! Kang Reno telat, emang sih tadi kang Reno ditunggu sama nyonya dan tuan!" jawab pelayan itu.
"Huh syukurlah!" ucap Reno spontan.
Tentu saja pria itu langsung ditatap oleh sang mama dengan tatapan tajam.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...