Preman Cantik

Preman Cantik
{SEASON 2} Episode 426 (Konsultasi)


__ADS_3

...HALO LAGI GUYS!...


...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...


..."PREMAN CANTIK 2"...


...~~~...


#PREMAN CANTIK S2 EPS. 369


(Dekat ribut, jauh kangen)


...•...


...•...


Lyota yang sedang ngambek itu masih berdiam diri di dalam kamar, ia duduk pada ranjang miliknya sambil menutup muka dengan telapak tangan dan menangis sesenggukan.


Reno berhasil menyusul Lyota, ia masuk ke dalam kamar dan menghampiri sang istri. Tak lupa ia menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya agar tidak ada yang mengganggu mereka.


"Sayang..." ucap Reno pelan.


Lyota menoleh sekilas, lalu kembali membuang muka. Sepertinya wanita itu masih belum bisa berbicara dengan Reno saat ini, ia terlalu kecewa pada apa yang dilakukan oleh Reno.


"Sayang, kamu jangan ngambek terus dong! Aku bisa jelasin semuanya ke kamu sayang!" bujuk Reno.


"Ngapain sih mas? Apa yang mau kamu jelasin lagi ke aku coba? Aku gak butuh penjelasan dari kamu, yang aku butuhin itu tanggung jawab dari kamu ke wanita yang udah kamu hamilin! Kamu tahu kan pasti siapa orangnya?" ujar Lyota.


"Tahu kok sayang, dia itu Rianti. Kamu pernah kan ketemu sama dia? Waktu kita nikah, dia juga dateng sama suaminya!" ucap Reno.


"Hah? Rianti? Kamu serius yang kamu hamilin itu Rianti?" ujar Lyota kaget.


"Iya sayang, tapi kan itu delapan tahun lalu waktu dia belum nikah dan masih kerja di kantor aku. Udah ya sayang kamu jangan ngambek terus kayak gini, aku janji bakal tanggung jawab kok sama dia!" ucap Reno.


"Gimana caranya kamu mau tanggung jawab coba? Apa yang bakal kamu lakuin ke Rianti?" tanya Lyota.


"Umm, mungkin aku bakal biayain hidup Athar anak aku sama Rianti. Tolong maafin aku sayang, jangan marah terus ya!" ucap Reno.


"Yaudah, aku maafin kamu!" ucap Lyota ketus.


"Alhamdulillah! Makasih ya sayang! Aku benar-benar ngerasa bersalah banget udah lakuin itu dulu, andai aja aku gak bertindak bodoh mungkin ini semua gak akan terjadi sayang!" ucap Reno.


"Gapapa mas, yang namanya musibah emang selalu susah ditebak! Kamu harus janji mas buat tanggung jawab dan penuhin biaya kehidupan Athar, karena dia anak kandung kamu! Aku emang udah maafin kamu, tapi aku minta sama kamu buat enggak ngelakuin hal yang sama!" ucap Lyota.


"Tenang aja sayang! Kamu gak perlu khawatir, karena aku ini cuma sayang sama kamu! Jadi, aku gak akan lakuin itu lagi kok istriku yang cantik! Lagian dulu itu kan aku cuma khilaf, sekarang kalau misal aku pengen begituan tinggal minta sama kamu!" ujar Reno cengengesan sendiri.


"Apa sih mas? Saat-saat begini masih aja sempat mikirin begituan!" ujar Lyota.


"Iya maaf sayang! Tapi, emang kamu gak mau main sama aku sekarang?" goda Reno.


"Tengah hari begini?" tanya Lyota.


"Ya apa masalahnya sayang? Berhubungan badan kan bisa kapan aja, termasuk siang hari kayak sekarang. Justru menurut aku, suasananya lebih mendukung sih sayang!" ucap Reno tersenyum.


"Hadeh, terserah kamu deh mas! Kalau udah begini, apapun caranya gak akan bisa aku nolak kemauan kamu mas!" ucap Lyota.


"Hahaha bagus sayang!" ujar Reno.


Pria itu langsung menerkam Lyota dan menindih tubuh sang istri di atas ranjang.


"Aaaaa! Mas, kamu apaan sih? Jangan kayak gitu lagi ah kaget tau!" ujar Lyota merasa kesal.


"Ahaha, maafin aku ya sayang! Abisnya kamu bikin aku tegang sih, jadi aja aku gak tahan buat main sama kamu siang ini sayang!" ucap Reno.


"Mas, pintu udah kamu kunci belum?" tanya Lyota.


"Udah dong! Yuk ah kita mulai! Gausah kebanyakan ngomong, punyaku di bawah sana udah keras banget loh sayang! Emang kamu gak kasihan apa?" ujar Reno terkekeh.


"Iya mas iya..."

__ADS_1


Lyota pasrah dengan apa yang akan dilakukan sang suami kepadanya, ia memejamkan mata saat Reno mulai mencumbu tiap inci wajah serta lehernya dan berakhir di mulut.




Malam harinya, Reno dan sang istri sudah berdamai kembali setelah sebelumnya sempat berselisih paham, memang yang namanya masalah dalam rumah tangga selalu dapat diselesaikan dengan bercocok tanam dan seketika masalah pun hilang.


Kini keduanya tengah kumpul di meja makan bersama Anggi serta Darma untuk melaksanakan makan malam, tak ketinggalan ada juga Tania kecil yang sudah langsung melahap semua makanan di meja makan dengan rakusnya.


"Sayang, maafin mama ya! Karena mama tadi udah hampir bikin kalian bertengkar!" ucap Anggi.


"Bukan hampir lagi mah, kan aku sama Lyota udah berantem tadi gara-gara mama! Masih untung aku punya cara buat bujuk Lyota!" ucap Reno.


"Udah lah mas, jangan kesel gitu sama mama! Lagian mama gak salah kok, yang salah itu kamu! Kenapa kamu bisa sampe ngelakuin hal sekeji itu ke wanita lain? Kalau kamu gak kayak gitu, pasti semuanya gak akan kayak gini dan kita bakal adem ayem aja tanpa adanya masalah!" ucap Lyota.


"Nah benar tuh kata Lyota! Mama kan kasih tau ke Lyota karena mama pengen Lyota tau kelakuan buruk suaminya di masa lalu, supaya dia bisa lebih hati-hati!" ucap Anggi.


"Aduh, kok malah jadi pada mojokin aku sih?" ujar Reno menunduk.


"Sudah sudah! Mah, soal itu jangan dibahas lagi! Kan Reno juga udah janji sama kita, dia mau tanggung jawab ke Rianti dan anaknya! Seharusnya sekarang kita dukung Reno supaya bisa tepati janjinya, jangan malah dibikin terpojok seperti itu!" tegur Darma.


"Gak ada yang mojokin kok pah!" protes Anggi.


"Iya, baguslah! Lebih baik kita fokus aja makannya, tuh lihat Tania sampai berhenti makan gara-gara kita berdebat terus daritadi!" ucap Darma.


Sontak Anggi, Reno dan juga Lyota kompak menoleh ke arah Tania kecil yang memang sedang bengong menatap wajah papa mamanya karena kebingungan dengan apa yang terjadi disana.


"Eh sayang, kamu kenapa gak lanjut makan? Kok malah diem?" tanya Lyota.


"Abisnya papa mama sama oma lagi pada asyik ngobrol, aku kan jadi ikut penasaran! Makanya aku diem mau coba dengerin apa sih yang mama papa sama oma obrolin, tapi aku gak paham!" jawab Tania kecil dengan nada menggemaskan.


"Ahaha, aduh sayang kamu jangan ikutan masalah orang dewasa ya! Kamu itu kan masih kecil, udah mending kamu sekarang lanjut makan yuk sama oma!" ucap Anggi tersenyum.


"Iya Oma," ucap Tania kecil.


Untungnya Tania kecil mau menurut dan kembali melanjutkan makan malamnya bersama sang Oma tercinta, sedangkan Lyota serta yang lainnya masih tampak bimbang memikirkan masalah Reno di masa lalu yang sudah menghamili Rianti tanpa bertanggung jawab.


"Lyota, kamu beneran udah maafin aku kan? Aku takut banget kamu masih marah sama aku! Karena cuma kamu yang bisa bikin aku bahagia!" ujar Reno.


"Apaan sih mas?" ujar Lyota heran.


Reno terkekeh melihat reaksi istrinya, ia coba terus membujuk Lyota dengan cara mencubit pipi wanita itu berkali-kali dengan jari telunjuk serta jari tengahnya, hingga membuat Lyota merasa kesal dan memasang wajah cemberut.


...•••...


Keesokan harinya, Arsen dan Velove keluar dari kamar mereka setelah menjalani malam yang cukup menyenangkan, tentunya hanya bagi Velove seorang karena Arsen justru merasa jengkel akibat Rania ikut tidur bersama mereka malam tadi.


Sepasang suami-istri itu menggandeng tangan Rania di tengah-tengah mereka, ketiganya berjalan keluar kamar lalu turun ke bawah menemui William serta Tania yang nampaknya sudah bangun lebih awal dibanding mereka.


"Opa, kakak! Selamat pagi!" teriak Rania menyapa Tania dan juga William yang ada disana.


"Eh Rania? Kamu udah bangun sayang? Selamat pagi juga! Gimana nih tidurnya semalam, nyenyak apa enggak sayang?" tanya William.


"Nyenyak dong opa! Kan aku tidur sama papa sama mama juga!" jawab Rania tersenyum renyah.


"Wah bagus tuh sayang! Berarti seterusnya aja kamu tidur bareng papa sama mama, supaya Rania bisa nyenyak terus tidurnya dan gak suka kebangun waktu tengah malam!" sahut Tania.


"Aku mau kak!" ucap Rania.


"Tania! Kamu mau bikin kakak sengsara apa gimana sih? Kenapa kamu malah saranin begitu ke Rania?" ujar Arsen kesal.


"Ahaha, kakak jangan marah-marah gitu dong! Masa Rania dibilang bikin sengsara? Parah banget ih, nanti kena omel Velove baru tau rasa loh! Kan Rania anaknya kakak juga sekarang!" ujar Tania.


"Udah lah, kita sama-sama ke meja makan aja sekarang! Papa udah laper nih," ucap William.


"Setuju! Aku juga lapar!" sahut Tania.


"Heh! Cewek ngeselin kayak kamu, gak boleh ikut sarapan sama kita! Kamu duduk aja disitu sampe siang, gak ada sarapan buat kamu kecuali nasi sama air putih!" ujar Arsen.

__ADS_1


"Ih apaan sih kak? Pah, kakak tuh gak bener!" ujar Tania cemberut.


"Kalian kok hobi banget ribut kalo lagi deketan? Giliran jauh pada saling kangen, heran deh papa sama kalian berdua!" ucap William.


"Iya sama, aku juga heran!" sahut Rania.


"Hahaha...."


Semuanya kompak tertawa mendengar perkataan Rania, gadis kecil itu memang benar-benar polos dan berhasil membuat semua orang disana tertawa ceria walau sebelumnya sempat berselisih paham.


"Yaudah, yuk kita makan!" ucap William.


Tania mengangguk sambil tersenyum, lalu bangkit dari duduknya dan pergi ke meja makan bersama papa serta yang lainnya. Namun, lagi-lagi Arsen masih tetap menatap tajam ke arahnya seperti orang yang emosi.


"Kenapa sih kak? Kakak masih marah sama aku gara-gara yang tadi?" tanya Tania.


"Ya iyalah, gimana nanti kalau Rania beneran mau tidur lagi bareng kakak sama Velove? Yang ada kita gak bisa berduaan!" ujar Arsen.


"Ih aku kan bercanda kak," ucap Tania.


"Kak, udah tenang aja! Nanti aku yang bantu bicara sama Rania kalau emang dia pengen tidur sama kita, gausah marah gitu sama Tania! Yuk kita sarapan dulu kak!" bujuk Velove.


Begitu ditenangkan oleh Velove, pria itu langsung tersenyum dan seketika berhasil tenang.


"Oke sayang! Yaudah, kita tinggalin aja si Tania disini biar dia makan sisanya aja nanti!" ucap Arsen tersenyum kemudian merangkul istrinya.


"Dih, dasar gak bener!" cibir Tania.


Mereka bertiga pun lanjut berjalan, menyusul William serta Rania yang sudah lebih dulu sampai di meja makan meninggalkan mereka, tentu saja Tania berjalan paling belakang dengan wajah cemberut.


"Kalau gue udah nikah nanti, masih bakal bisa gini gak ya?" gumam Tania dalam hati.


...•••...


Disisi lain, Revan juga tengah menikmati sarapan pagi bersama papa mamanya, yakni John dan Eva. Ketiganya tampak ceria dan saling mengobrol satu sama lain membahas pernikahan Revan yang sebentar lagi akan terlaksana.


Ya memang tinggal menghitung hari menuju momen bahagia Revan dan Tania, semua keperluan pun sudah disiapkan oleh pihak keluarga mulai dari gaun sampai makanan, bahkan gedung yang disewa Revan sudah dirias dari sekarang.


"Van, sebentar lagi kan kamu dan Tania akan menikah, rencananya kamu mau ajak Tania tinggal disini atau bagaimana nanti?" tanya Eva.


"Eee itu dia mah, aku masih bingung. Masalahnya Tania gak tega ninggalin papanya, apalagi dia juga pengen dekat mulu sama kakaknya! Mungkin aku bakal bahas lagi sama dia nanti," jawab Revan.


"Harus segera dibahas Van! Supaya nantinya gak bingung kalian mau tidur dimana!" ujar Eva.


"Iya tuh, tapi menurut papa sih malam pertama dan seminggu ke depannya kamu sama Tania itu tinggal di apartemen aja dulu!" sahut John.


"Nah mama setuju! Supaya kalian berdua bisa bebas ngapain aja, kan pengantin baru!" ucap Eva.


"Ahaha, papa sama mama ini pikirannya mantap juga! Emang rencananya sih begitu pah, mah, aku bakal bawa Tania ke apartemen selama seminggu atau bahkan dua Minggu!" ucap Revan.


"Ya terserah kamu lah, mau seminggu dua Minggu atau sebulan juga gapapa! Yang penting kalian berdua bisa bahagia dan selalu bersama, karena itu penting buat pengantin baru seperti kalian!" ucap Eva tersenyum.


"Betul itu! Kayak papa sama mama dulu, malah mama kamu ini hampir tiga bulanan gak mau pisah dari papa pengennya berduaan terus!" ujar John.


"Ish, papa apaan sih? Mana ada begitu? Yang ada justru papa tuh yang pengen berduaan terus sama mama di hotel, sampe mama gak boleh pulang loh ditahan terus sama papa!" ucap Eva.


"Ah mama malah ngarang!" ujar John.


"Gak ada yang ngarang, papa tuh ngada-ngada tadi! Cerita mama mah benar begitu!" ucap Eva.


"Aduh mah, pah, udah lah jangan ribut! Kan aku pengen konsultasi sama papa dan mama soal pernikahan, kok papa mama malah ribut begitu sih? Gimana rumah tangga aku bisa tentram nantinya? Yang ada aku malah sering ribut gara-gara dicontohin papa sama mama!" ujar Revan.


"Hehe iya iya maaf! Kamu emang mau konsultasi apa lagi sayang? Udah bilang aja sama mama, jangan sama papa kamu!" ucap Eva.


"Iya mah, tapi kayaknya nanti aja deh abis makan! Kalo kita ngobrol terus, yang ada makanan ini gak habis-habisan sampe siang! Dari sarapan malah jadi makan siang, hahaha!" ujar Revan.


"Iya juga ya, papa sih!" ujar Eva.


"Papa aja terus yang disalahin, terus!!" cibir John kesal.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2