
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 172
(Serahkan Rania!)
...β’...
...β’...
π"Siapa kamu sebenarnya, ha? Dan mau apa kamu telpon saya sekarang?" bentak Velove kesal.
π"Hahaha, rupanya kamu masih belum bisa mengenali suara saya ya... baiklah, aku akan perkenalkan diri ke kamu! Aku ini Rizky, cowok yang pernah culik kamu dulu!
Seketika mulut Velove terbuka mendengar perkataan si penelpon itu, ia kini tau siapa lelaki di telpon itu dan pantas saja sedari tadi ia merasa tak asing dengan suara penelpon tersebut, karena ternyata laki-laki itu adalah Rizky alias penculiknya dulu.
π"Mau apa kamu, ha?" tanya Velove gemetar.
π"Hahaha, aku cuma mau satu.... serahkan Rania padaku dan hidup kamu akan tenang selamanya, tapi kalau tidak maka aku akan bikin kamu menderita!" jawabnya.
π"Jangan berani-beraninya kamu mengancam aku, ya! Dengar ini, sampai kapanpun aku gak akan pernah kau serahin anak aku ke kamu!" ujar Velove.
π"Oh begitu ya? Oke, kamu sendiri yang minta sayang! Jangan salahin aku kalau kamu akan kehilangan papa yang kamu sayangi itu, selama-lamanya...."
π"Apa maksud kamu? Kenapa kamu bawa-bawa papa aku?" tanya Velove tak mengerti.
π"Aku tau sekarang papa mu lagi di kantor polisi, aku bisa saja membunuhnya dengan senjata yang ada di tanganku saat ini jika aku mau!"
Rizky memperdengarkan suara pistol yang sedang ia pegang kepada Velove melalui telpon, sontak saja Velove terkejut karena ia tak menyangka kalau Rizky bisa memegang senjata itu, ia pun ketakutan mencemaskan kondisi papanya saat ini.
π"Heh, jangan pernah kamu berani sentuh papa aku! Atauβ"
__ADS_1
π"Atau apa, ha? Kamu berani ancam aku, Velove? Nyawa kamu dan papa kamu ada di tangan aku, aku bisa aja habisin kalian berdua sekaligus hanya dengan sekali gerakan!"
π"Kurang ajar! Kamu aja gak tau dimana aku sekarang, gimana caranya kamu bisa habisin aku ha?" ucap Velove.
π"Ya tentu bisa, karena aku tau kamu lagi dimana! Kamu itu tinggal di rumah besar bercat putih dan gerbang tinggi warna hitam, nomor rumah kamu itu 52E dan ada mobil sedan merah terparkir di halaman depan rumah kamu...."
Lagi-lagi Velove dibuat syok dengan ucapan Rizky kali ini, ia sangat bingung darimana Rizky bisa tau ciri-ciri rumahnya padahal tidak ada satupun orang yang mengetahuinya kecuali ia dan Rania.
π"Darimana kamu tau?" tanya Velove ketakutan.
π"Aku ini Rizky, kamu jangan anggap remeh aku! Dengar ya cantik, aku kasih kamu satu kesempatan lagi untuk serahin Rania ke aku sekarang! Sebelum aku masuk ke rumah kamu dan habisin kamu dengan pistol ini, atau mungkin aku akan langsung naik ke kamar Rania dan bawa paksa dia pergi dari rumah kamu!"
π"Tolong, jangan! Aku cuma mau tinggal tenang berdua dengan putri aku, kamu ngertiin dong perasaan aku sekarang! Aku dan Rania itu sudah berpisah lebih dari 8 tahun karena papa, sekarang aku berhasil ketemu dengan dia dan apa salah kalau aku pengen tinggal berdua sama dia?" ucap Velove.
π"Gausah drama! Jelas-jelas kamu salah, karena kamu udah bawa kabur Rania tanpa memberitahu Tania lebih dulu! Cepat serahkan Rania sekarang, sebelum aku emosi cantik!"
π"Tolong, kasih aku waktu sampe besok pagi! Aku pasti akan balikin dia kok ke rumah Tania, aku janji! Tapi, tolong biarin malam ini aku tinggal sama Rania supaya aku bisa ngerasain tidur sama putri kandung aku sendiri!" ucap Velove memohon.
π"Oke, aku tunggu sampai besok! Kamu harus sudah antar Rania ke rumahnya, atau papa kamu akan aku bunuh!"
Telpon langsung terputus setelah Rizky mengatakan itu dan memberi Velove kesempatan untuk tinggal berdua dengan Rania selama semalam, Velove pun merasa lega karena Rizky tak lagi mengancamnya walau ia masih agak sedikit cemas.
"Semoga aja papa gak kenapa-napa disana, cuma papa dan Rania yang aku punya sekarang! Aku gak mau salah satu dari kalian harus jadi korban, maafin aku pah!" batin Velove menangis.
...β’β’β’...
Disisi lain, Revan sampai di rumah William untuk mengantar gadisnya pulang setelah ia meminta pada Tania kalau dia harus menunggu disana. Revan tidak mau jika nantinya Tania akan kenapa-napa bila terus memaksa untuk ikut dengannya mencari Rania.
Tanpa basa-basi lagi, Revan pun memapah tubuh Tania keluar dari mobil menuju ke depan pintu rumah William yang jaraknya lumayan jauh. Tania tampak diam saja menurut ikut bersama Revan tanpa ada sedikitpun rasa ingin melawan atau apa.
"Sayang, maaf ya kamu harus nunggu di rumah! Soalnya aku gak mau kamu sakit, kelihatan loh dari muka kamu kalau kamu itu lagi gak enak badan!" ucap Revan tersenyum.
"Iya, yang penting kamu terus usaha buat cari Rania dan bawa dia pulang sesuai janji kamu tadi!" ucap Tania memandang wajah Revan dari dekat.
"Santai aja, aku gak akan ingkar janji!" ucap Revan.
Tania tersenyum sembari menatap mata pria yang kini tengah berada di sampingnya tanpa jarak, ia membenamkan wajahnya pada bahu Revan lalu memejamkan mata, Revan pun tergerak untuk mengusap kepala gadisnya.
__ADS_1
Saat di depan pintu, langkah mereka terhenti lantaran pintu tersebut terbuka dari dalam dan seseorang yang tak lain adalah William keluar dengan berpakaian rapih, tentu mereka sedikit kaget karena William muncul secara mendadak.
"Papa, ngagetin aja!" ucap Tania.
"Kamunya aja yang lagi ngelamun lihatin mukanya Revan, makanya pas papa muncul jadi kaget kan!" ucap William terkekeh.
"Apaan sih, pah?" ujar Tania cemberut.
"Hahaha, akhirnya kamu pulang juga! Main kemana aja sih sampe selama ini? Ohh, pasti pada keasyikan ya jalan-jalan berdua makanya jadi lupa waktu!" ucap William menggoda mereka.
"Enggak pah, justru kita cuma di mobil aja!" ucap Tania.
"Hah? Ngapain kalian di mobil berduaan lama banget?" tanya William curiga.
"Kita nyari Rania, pah!" jawab Tania tampak sedih.
"Rania? Memangnya dia kemana? Bukannya tadi Rania itu diantar ke sekolah sama kalian, terus kenapa kalian malah cari-cari dia?" tanya William.
"Iya pah, tadi Rania dijemput sama mamanya dan dibawa pergi gitu aja tanpa sepengetahuan aku!" jawab Tania.
"Apa? Berani banget dia ngelakuin itu, padahal Cakra sudah janji sama papa kemarin!" ucap William.
"Itu dia pah, makanya aku kesel banget sama Velove! Biarpun dia memang mama kandungnya Rania, tapi kan gak seharusnya dia bawa pergi Rania gitu aja tanpa seizin aku!" ucap Tania.
"Sabar sayang, biar papa utus seluruh anak buah papa untuk bantu cari Rania!" ucap William.
"Iya pah, makasih!" ucap Tania.
"Yaudah, masuk yuk! Revan, sekalian aja kamu masuk juga bawa Tania ke kamarnya!" ucap William.
"Baik, om!"
Revan pun lanjut berjalan masuk ke dalam rumah itu sembari memapah tubuh Tania, mereka bertiga sama-sama menuju ke kamar gadis itu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1