
...HALO LAGI GUYS!...
...SELAMAT DATANG DI NOVELKU...
..."PREMAN CANTIK 2"...
...~~~...
#PREMAN CANTIK S2 EPS. 211
(Rania cemburu)
...•...
...•...
Rianti melangkah keluar dari ruangan kepala sekolah dengan perasaan jengkel, menurutnya tindakan yang dilakukan pak Sudoyo itu terlalu lambat dan tidak ada hasilnya sama sekali, yang Rianti inginkan adalah para pembully itu mendapat hukuman setimpal atas perbuatannya, ia tak perduli walau usia mereka masih terlalu muda karena mereka sudah berani membully putra kesayangannya itu.
"Dasar kepala sekolah oon!" umpat Rianti.
Bu Lydia yang mengejar Rianti akhirnya berhasil menyusul wanita itu dan mencegahnya, Lydia ingin berbicara sejenak kepada Rianti mengenai kasus pembullyan yang dialami Athar tadi. Sepertinya Lydia sangat merasa bersalah karena ia merupakan wali kelas Athar dan ia bertanggung jawab melindungi serta mengajari murid-muridnya itu hal yang benar.
Awalnya Rianti malas berbicara dengan Lydia karena menganggap Lydia sama saja seperti si kepala sekolah tadi, yakni menyebalkan dan cuek terhadap kasus pembullyan seperti itu. Namun, karena Lydia memaksa dan mengatakan kalau ia akan menghukum murid-murid yang sudah membully Athar, maka Rianti pun mau berbicara dengannya.
"Oke, saya mau bicara sama Bu Lydia." ucap Rianti singkat tanpa basa-basi.
"Terimakasih, Bu! Kalau begitu, silahkan duduk dulu! Kita bicara sebentar disini, sebelum ibu ke luar dan menemui Athar." ucap Lydia tersenyum.
__ADS_1
Rianti hanya mengangguk lalu duduk di tempat yang tersedia disana bersama Lydia.
"Apa sih yang Bu Lydia mau bicarakan dengan saya? Memangnya ibu bakal berani untuk melakukan tindakan sendiri tanpa konsultasi dulu kepada kepala sekolah? Apa ibu tidak takut dipecat atau diturunkan dari jabatan ini sebagai guru di sekolah ini?" tanya Rianti mengetes Lydia.
"Umm, jujur saya takut jika harus kehilangan pekerjaan saya yang sekarang ini. Karena menjadi guru adalah cita-cita saya sejak masih SD dulu, dan saya sangat bangga sekali bisa menjadi seorang guru saat ini dan memenuhi cita-cita saya. Hanya saja, saya juga tidak bisa tinggal diam jika salah satu murid saya menjadi korban pembullyan di sekolah ini! Apalagi Athar merupakan murid baru disini, tentunya saya tidak mau dia mengalami trauma dan takut bersekolah lagi!" jawab Lydia tegas.
"Bagus deh, berarti pemikiran Bu Lydia sepuluh kali lipat lebih cerdas dibanding pak Sudoyo alias kepala sekolah tadi. Katanya kepala sekolah, tapi ada murid yang dibully kok malah santai-santai aja! Seolah-olah kasus pembullyan ini seperti dianggap wajah oleh dia, masa dia malah mau ngumpulin semua orang tua murid di kelas Athar buat perundingan? Dasar kepala sekolah abal-abal!" ujar Rianti kesal.
"Sabar Bu! Mungkin maksud pak Sudoyo itu supaya tidak ada tindak kekerasan dalam masalah ini, karena kan semua masalah pasti bisa diselesaikan tidak hanya dengan kekerasan tapi juga dengan cara kekeluargaan. Mungkin juga, pak Sudoyo ingin supaya seluruh orang tua murid itu sadar dan mau menambah pemberitahuan kepada anak-anak mereka tentang bahayanya efek dari pembullyan ini!" ucap Lydia menenangkan Rianti.
"Ya iya sih, Bu. Tapi, saya kurang puas aja kalau pembully anak saya itu gak dapat hukuman apa-apa dari pihak sekolah! Emang iya cara pak Sudoyo itu untuk mencegah kejadian selanjutnya, tapi kan yang sudah terjadi ini harus diatasi juga dong Bu! Saya gak terima anak saya sampai nangis begitu!" ucap Rianti.
"Iya Bu, saya tau kok. Untuk itu saya menemui ibu sekarang dan mengajak ibu berbicara, karena saya ingin menanyakan tentang siapa kiranya murid kelas Athar yang sudah membully Athar itu. Dengan begitu, saya pasti bisa memberi pelajaran kepada pelaku bullying tersebut!" ucap Lydia.
Rianti terdiam berpikir siapa yang sudah membully putranya itu.
•
•
Melihat wajah bete Rania, Revan langsung berinisiatif untuk merangkul gadis kecil itu dan mengajaknya mengobrol untuk menghilangkan rasa jenuh serta iri di hati Rania saat melihat kakaknya lebih dekat dan perhatian kepada Athar dibanding dirinya, tentu Revan tidak mau jika Rania nantinya malah bermusuhan dengan Athar.
"Rania, kamu mau jalan-jalan ke kebun coklat gak? Tadi kakak sama kak Tania abis dari sana loh, kebunnya itu luas dan sejuk banget! Kakak yakin kalau Rania datang kesana, pasti Rania bakal seneng banget!" ucap Revan.
"Wah! Emang kebun coklat itu kayak gimana sih, kak?" tanya Rania penasaran.
"Ya kayak kebun-kebun biasanya, cuma yang ini beda sih lebih seru dibanding kebun yang lain! Makanya Rania kalau mau tau lebih dalam, ya Rania datang aja kesana sama kakak dan kak Tania! Gimana, Rania mau gak ikut sama kita nanti?" ucap Revan yang kini memangku Rania lalu memeluknya.
__ADS_1
"Mau dong, kak! Aku seneng banget kalo bisa jalan sama kak Revan dan kak Tania! Apalagi kalau sama mamaku juga, boleh kan kak?" ucap Rania.
"Eee..." Revan pun dibuat bingung dengan pertanyaan dari Rania yang ingin mengajak mamanya alias Velove untuk ikut pergi bersama mereka.
"Kenapa kak? Boleh kan kalau aku ajak mama juga buat ikut sama kita ke kebun coklat? Pasti seru deh kalau kita berempat jalan-jalan kesana, yang pastinya bakalan lebih asyik juga!" ucap Rania.
"Iya sayang, tapi kalau soal itu nanti kamu tanyain langsung aja ya sama kak Tania! Kakak gak berani jawabnya, kakak takut disalahin nanti kalau asal jawab tanpa bilang dulu!" ucap Revan.
"Yah, iya deh kak..." ucap Rania.
Rania pun kembali melirik ke arah Tania, tampak Tania masih asyik mengajak main Athar dengan mainan barunya sampai melupakan jika disana bukan hanya ada Athar, Rania langsung bersedih dan menundukkan kepalanya karena merasa tak dianggap lagi oleh Tania.
Revan yang melihatnya kembali berusaha menghibur Rania dan menawarkan es krim padanya.
"Hey, Rania! Kamu mau es krim gak? Tuh lihat noh di sebrang jalan, ada tukang es krim loh! Rania doyan es krim apa enggak?" ucap Revan.
"Eh iya kak, aku mau dong! Kalau soal es krim mah jangan ditanya kak, setiap anak pasti doyan dong!" ucap Rania sambil tersenyum renyah.
"Ahaha, yaudah kita beli yuk kesana!" ucap Revan.
"Ayo kak!"
Rania langsung bersemangat kembali dan melupakan kesedihannya karena Tania lebih asyik bermain bersama Athar disana, Rania dan Revan kini melangkah ke sebrang jalan lalu membeli es krim sesuai yang mereka inginkan.
"Kang, es krimnya empat ya!" ucap Revan memesan es krim pada si penjual.
"Siap, a!" ucap pedagang itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...