Twins A ( Axel Dan Alexa )

Twins A ( Axel Dan Alexa )
Bekal makan siang


__ADS_3

Nando membawa Rania ke ruangannya. Mereka akan makan siang berdua. Sedangkan Ikbal sudah pergi ke kantin bersama Anton. Ia tidak mau jadi nyamuk di antara sejoli itu.


" Teman kamu kemana?"


" Di kantin"


" Kenapa nggak di ajak makan bareng. Kan aku masaknya banyak"


" Nggak usah, biar dia makan di kantin saja"


" Di sini ada piring nggak?"


" Ada. Bentar aku ambilkan dulu"


Nando menuju pantry yang ada di ruangannya. Walaupun kantornya yang ada di tambang tidak besar, tapi di sana ada pantry.


Rania takjub dengan desain kantor Nando. Penataan barang-barang yang ada sana sangat rapi. Dan lagi warna ruangan itu perpaduan coklat dan abu-abu. Sesuai dengan kepribadian orang yang punyanya. Dingin dan juga datar.


" Kamu lagi liat apa?" tanya Nando.


" Desain kantor kamu"


" Gimana? bagus nggak?"


" Bagus, sesuai sama karekteristik orang yang ada di ruangan ini"


" Oh yeah? emang seperti apa karekteristik nya?"


" Dingin, dan juga datar"


" Oh jadi aku ini dingin dan datar? tanya Nando sambil menghampiri Rania.


Glug..


Rania menelan saliva-nya kala melihat wajah lelaki tampan itu ada di hadapannya. Wajahnya yang putih mulus tanpa celah terpampang nyata di hadapannya. Entah kerasukan setan mana. Ia refleks memejamkan matanya.


Pletak..


Aawwwww....


" Sakit tau"


Rania mengusap keningnya yang terasa sedikit perih karena dijitak oleh Nando. Ia tidak menyangka kalau lelaki tampan itu akan menjitak nya.


" Makanya jangan mikirin yang aneh-aneh"


" Emang aku mikirin apa?"


" Kamu pasti mikir, aku mau cium kamu kan?"


" E-enggak"


" Bohong! ntar hidungnya panjang kek Pinokio lho" kata Nando sambil mencubit hidung mancung Rania.


" Ck"


" Yuk makan, aku udah lapar. Sekalian mau coba masakan kamu"


" Ntar kalau nggak enak, harus bilang enak ya?"


" Kok gitu. Berarti kamu ngajarin aku bohong dong?"


" Bohong demi kebaikan apa salahnya"


" Ya deh, ntar kalau nggak enak aku akan tetap bilang enak. Tapi dosa bohongnya kamu yang tanggung ya?"


" Mana ada kek gitu"


" Ada dong, yang ngajarin bohong kan kamu"


" Coba cicipi dulu"


" Ok"


Suapan pertama masuk kedalam mulut Nando. Mata lelaki tampan itu membulat sempurna kala merasakan enaknya makanan buatan Rania.


" Gimana rasanya?" tanya Rania penuh harap.

__ADS_1


" Lumayan"


" Lumayan?"


" Iya, lumayan enak"


" Berarti masakan aku nggak cocok sama lidah kamu"


" Becanda. Gitu aja ngambek"


" Becanda gimana?"


" Masakan kamu sangat enak"


" Beneran?"


" Hhmm"


Rania tersenyum bahagia. Nggak sia-sia ia masak hari ini untuk lelaki tampan itu. Dan entah kenapa saat dipuji oleh Nando, rasa bahagianya dua kali lipat.


" Ini beneran kamu yang masak?"


" Ya bener lha. Emang siapa lagi?"


" Siapa tau ibu kamu yang masak"


" Nggak lha. Ibuk kan dalam masa pengobatan, jadi nggak boleh kerja berat"


" Aku kagum sama kamu. Kamu wanita yang kuat dan pekerja keras. Dan lagi, kamu juga tulang punggung keluarga. Di luar sana belum tentu ada wanita sekuat kamu"


Rania merasa tersanjung di puji sama bos sekaligus temannya itu. Sebenarnya ia tidak sekuat yang dikatakan oleh lelaki tampan itu. Tapi keadaan lha yang menuntutnya harus kuat.


" Kamu terlalu memuji"


" Aku bukan hanya sekedar memuji. Tapi aku melihat faktanya. Oh iya lusa aku udah balik ke kota J"


" Kota J?"


" Hhmmm"


Ada sedikit rasa sedih saat mendengar lelaki tampan itu akan pergi. Tapi ia juga tidak tau kenapa ia merasa sedih seperti itu.


" Belum tau. Aku nggak bisa meninggalkan perusahaan terlalu lama"


" Aku lupa kalau kamu juga punya perusahaan lain"


" Besok aku akan mengajarkan kamu tentang management bisnis"


" Untuk apa?"


" Aku ingin kamu yang pegang perusahaan aku yang disini"


Rania kaget mendengarkan ucapan Nando. Bagaimana mungkin lelaki tampan itu menyerahkan perusahaannya sama wanita yang baru ia kenal.


" Kamu ngaco deh"


" Aku serius"


" Apa kamu nggak takut kalau aku akan macam-macam dengan perusahaan kamu "


" Nggak. Aku percaya sama kamu, Nia"


Deg.


Jantung Rania berdegup kencang dari biasanya. Ini kali pertamanya Lelaki tampan itu memanggil dengan sebutan Nia. Dan entah kenapa ia sangat suka dengan panggilan itu.


" Kenapa kamu percaya sama aku?"


" Karena kamu orang yang jujur dan juga bertanggung jawab. Dan lagi, aku nggak ingin melihat kamu membawa kerja membawa alat berat lagi"


" Kenapa?"


" Karena beresiko"


" Bukankah semua pekerjaan ada resikonya?"


" Benar. Tapi kalau kerjanya membawa alat berat itu, resikonya sangat tinggi. Apalagi kamu seorang wanita"

__ADS_1


Rania merasa terharu mendengar ucapan Nando. Ini kali pertama ada orang lain yang peduli padanya. Sedangkan di tempat kerjanya yang dulu, ia tidak pernah mendapatkan perhatian seperti ini.


" Kamu tau?"


" Apa?"


" Waktu kaki kamu tertimpa batu, aku merasa sakit. Aku gagal jadi bos untuk kalian semua"


" Menurut ku, kamu bos yang paling baik dan juga perhatian sama pekerja. Karena jarang bos-bos besar mau turun tangan langsung membantu pekerjanya. Paling mereka akan meminta asistennya untuk turun tangan. Tapi kami tidak. Kamu justru turun langsung ke lapangan"


" Tapi tetap aja aku merasa gagal. Karena tidak memperhatikan lokasi dengan baik"


" Sudah jangan dipikirkan lagi. Kejadian kemarin itu musibah. Dan kita sebagai manusia, tidak bisa menghindari itu"


" Tapi setidaknya, kita bisa mengantisipasi sebelum terjadi musibah"


" Kamu benar. Tapi kita juga tidak bisa memprediksi kapan musibah itu akan datang"


" Kamu benar"


" Jangan dipikirkan lagi. Kamu sudah melakukan yang terbaik"


" Iya, terima kasih"


" Sama-sama"


Berarti keputusannya tidak salah. Ia yakin, Rania bisa menjalankan perusahaannya yang di Sumatera. Dan Anton akan jadi rekan kerjanya. Dua orang itu akan menjadi orang yang kuat dan juga berjaya nantinya.


...***...


Bel sudah berbunyi, para murid SMA Tunas Bangsa bersiap untuk pulang. Termasuk Alexa dan juga Adel. Kedua cewek cantik itu menyimpan buku pelajaran ke dalam tas.


" Hari ini gue pulang sama Axel ya?" kata Adele.


" Hhmmm"


" Nggak apa-apa kan? Eca nggak ngambek kan?"


" Nggak Adele"


" Gitu dong"


" Yuk jalan"


Kedua cewek cantik itu segera meninggalkan kelasnya. Mereka akan menunggu Axel dan yang lainnya di depan kelas. Karena kelas mereka hanya bersebelahan.


Tak berselang lama Axel, Farel dan juga Alisha keluar dari kelas mereka. Hari ini Alisha akan pulang bersama Axel dan yang lainnya. Mereka pun berjalan ke parkiran.


" Eca kenapa nggak ikut sama kita aja?" tanya Alisha.


" Kalau gue ikut sama kalian. Terus motor gue gimana?"


" Tinggal aja, gampang kan?"


" Sembarangan aja kamu kalau ngomong. Itu motor kesayangan aku. Jadi mana mungkin aku tinggal"


" Besok nggak usah bawa motor lagi. Jadi kita bisa pulang bareng"


" Nggak mau. Lebih enak pake motor"


" Kamu tuh aneh tau nggak!"


" Aneh gimana?"


" Udah jelas enak pake mobil, kalau panas nggak kepanasan. Kalau hujan nggak kehujanan"


" Biarin. Gue duluan ya" kata Alexa.


" Hati-hati, langsung pulang ke rumah" pesan Axel.


" Iya. Emangnya aku kamu yang suka keluyuran"


Alexa segera melajukan motornya meninggalkan parkiran sekolah. Axel dan yang lainnya masuk kedalam mobil. Setelah teman-temannya masuk, barulah Axel melajukan mobilnya.


To be continue.


Jangan lupa kasih hadiahnya ya, agar Feby semangat nulisnya🤗🤗

__ADS_1


Happy reading 😚😚


__ADS_2