
* Sebelum membaca like dulu ya teman-teman.. Gomawo 🤗🤗*
Alexa menatap pamannya yang dari tadi hanya mengaduk-aduk makanannya. Ia berpikir apa pamannya seperti ini karena wanita yang ia lihat di ruangannya waktu itu.
" Paman kenapa?" tanya Axel pada Alexa.
" Putus cinta"
" Pantas paman seperti tidak ada daya hidup. Emang kalau putus cinta bisa membuat kita seperti itu ya?"
" Mana aku tau, kamu pikir aku udah pernah mengalami putus cinta"
" Oh iya aku lupa, Eca kan jomlo"
" Ck, baru jadian satu hari udah berlagak "
" Ya nggak apa-apa, yang penting status naik dari jomlo ke punya pacar"
" Kamu ngeselin banget sih. Aku kutuk jadi wajan penggorengan baru tau rasa kamu"
Brak.
" Astagfirullah" kaget twins.
" Paman selesai"
" Eh"
Nando segera meninggalkan meja makan begitu saja. Alexa dan Axel hanya bisa menatap kepergian pamannya. Selesai membuat mereka kaget dengan menggebrak meja, pamannya pergi begitu saja.
" Ternyata putus cinta bisa membuat orang gila" kata Alexa.
Axel hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Karena apa yang dikatakan saudara kembarnya itu benar adanya. Buktinya pamannya tidak ada angin tidak hujan, dia menggebrak meja.
" Kita harus hubungi Daddy nih supaya cepat pulang dan membawa paman berobat"
" Kamu benar, jadi tunggu apalagi cepat telpon daddy"
" Aku nggak bawa ponsel. Pinjem ponsel kamu dulu"
Axel segera memberikan ponselnya pada saudara kembarnya. Alexa segera menghubungi nomor Daddy-nya. Tak butuh waktu lama panggilan pun tersambung.
" Hallo Axel"
" Ucap salam dulu Daddy?"
" Assalamualaikum, ada apa Eca. Kenapa ponsel Axel ada sama Eca?"
" Wa'alaikum salam. Daddy nanyanya satu-satu dong"
" Udah jawab aja"
" Ponsel Eca ketinggalan di kamar, jadi Eca pinjam ponsel Axel untuk menghubungi Daddy"
" Oh gitu. Eca sama Axel udah makan?"
" Udah baru aja selesai. Daddy sama mommy udah makan?"
" Nih akan makan"
" Eca ganggu dinner romantis Daddy sama mommy dong?"
" Nggak kok"
" Daddy sama mommy kapan pulang?"
" Besok sayang"
" Jangan lupa bawakan Eca oleh-oleh ya"
" Eca mau Daddy bawakan apa?"
" Apa ya"
Axel menarik nafasnya, kemudian membuangnya perlahan. Itu ia lakukan untuk mengurangi rasa kesalnya pada saudara kembarnya.
Bagaimana tidak kesal. Saudara kembarnya itu malah membicarakan hal yang tidak penting. Padahal tujuan mereka menelpon Daddy-nya untuk mengatakan keadaan pamannya.
" Kapan kamu mau bilang masalah paman ke Daddy"
" Oh iya lupa, maaf adik tampan ku"
" Tunggu apalagi, buruan bilang sama daddy"
" Iya, nggak sabaran banget sih!"
__ADS_1
" Itu suara Axel?"
" Iya Daddy"
" Axel mau bilang apa?"
Alexa menekan tombol speaker supaya saudara kembarnya mendengarkan apa yang dikatakan Daddy-nya.
" Daddy"
" Iya, Axel mau bilang apa?"
" Paman"
" Paman? kenapa dengan paman?"
" Paman seperti sakit"
" Sakit?"
" Hhmm"
" Udah telpon dokter?"
" Belum"
" Nanti Axel telpon dokter. Atau Daddy yang telpon dokter keluarga"
" Yang dibutuhkan paman bukan dokter keluarga kita"
" Lalu?"
" Dokter cinta"
" Dokter cinta?"
" Maksud Axel, dokter jiwa"
" Dokter jiwa?"
Alexa menepuk jidatnya. Saudara kembarnya yang biasa pintar, kini kenapa terlihat bodoh.
" Maksud Axel dokter RSJ Daddy"
" Jangan bercanda?"
Terdengar suara tawa dari seberang sana.
" Kenapa Daddy tertawa? apa sakitnya paman menular sama Daddy"
" Sembarangan aja kamu. Daddy tertawa karena mendengar cerita kalian berdua"
" Emang lucu ya Dad?"
" Sangat"
" Terus gimana dengan paman Daddy?"
" Biarkan saja. Paman kalian tidak apa-apa, dan juga dia tidak gila. Jadi nggak perlu di bawa ke RSJ"
" Daddy yakin?"
" Yakin. Ya udah, Daddy sama mommy mau makan dulu"
" Baiklah, selamat makan "
" Makasih sayang. Daddy tutup dulu ya telponnya"
Sambungan telepon pun berakhir.
" Apa benar paman nggak apa-apa?" tanya Alexa pada saudara kembarnya.
" Kalau Daddy bilang nggak apa-apa, berarti paman emang nggak apa-apa"
" Terus kenapa dia bisa kayak tadi?"
" Mungkin paman lagi ketempelan Jin sekilas"
" Jin sekilas?"
" Iya. Makanya ia marah-marahnya cuma sebentar"
" Benar juga"
" Ya udah yuk kita ke ruang tamu"
__ADS_1
" Ngapain?"
" Bersantai sambil mengistirahatkan perut setelah selesai makan"
" Baiklah"
Sebenarnya Alexa tidak semangat pergi keruang keluarga. Karena mommy sama Daddy-nya nggak ada. Di tambah lagi pamannya ketempelan Jin sekilas.
...***...
Kiran dan Darren sedang menunggu Rania dan ibunya. Mereka akan makan malam bersama di restoran hotel.
" Twins ada-ada aja deh sayang"
" Emang twins bilang apa?"
" Masa mereka mau bawa Nando ke RSJ"
" RSJ?"
" Hhmm"
" Kenapa?"
" Karena Nando menggebrak meja secara tiba-tiba saat mereka sedang makan "
" Hanya karena itu?"
" Iya. Mereka bilang Nando tidak makan malam, dia hanya mengaduk-aduk makanannya"
" Apa ini ada hubungannya dengan Rania?"
" Maybe"
Kiran tersenyum, itu berarti rencananya berhasil. Ia ingin sekali melihat perubahan gunung es yang satu itu.
" Apa kamu akan melanjutkan hukuman untuk adikmu itu?"
" Iya. Lagipula ini baru permulaan"
Darren menggelengkan kepalanya. Ia kasian sama Nando karena untuk beberapa hari dia akan tersiksa karena tidak bisa menghubungi kekasihnya.
Tak berselang lama, Rania dan ibunya sampai di restoran. Ia merasa bersalah karena sudah membuat pasutri itu menunggu ia dan ibunya.
" Maaf terlambat Kak"
" Nggak apa-apa, lagipula kita juga baru nyampe kok"
Kiran meminta pelayan untuk menyiapkan makanan yang sudah ia pesan melalui manager hotel tadi.
Beberapa pelayan pun datang dengan membawa berbagai macam makanan khas Nusantara. Seperti rendang, rawon, soto dan banyak lagi.
Kiran sengaja memesan berbagai macam masakan Nusantara. Karena Kiran khawatir kalau makanan yang ada di menu itu tidak cocok di lidah ibu Rania. Tapi kalau makanan Nusantara pasti cocok dengan lidah semua orang.
Rania dan ibunya kaget melihat begitu banyak macam makanan sudah tersaji di sana. Siapa yang akan menghabiskan makanan sebanyak ini.
" Apa ini nggak kebanyakan Kak?"
" Nggak apa-apa, soalnya kakak nggak tau makanan kesukaan kamu dan ibu kamu apa. Tapi dengan begini, kamu dan ibuk bisa tinggal pilih"
Rania tidak habis pikir dengan pikiran orang-orang kaya. Kan sayang kalau makanan ini tidak habis, itu sama saja mubazir.
" Ibu mau makan sama apa?" tanya Rania.
" Gurame bakar aja"
Rania mengambilkan nasi dan juga lauk untuk ibunya. Setelah itu baru dia mengambil untung dirinya sendiri.
Kiran kagum melihat cara wanita cantik itu melayani ibunya. Ternyata adiknya itu tidak salah memilih pasangan.
" Sayang, tolong ambilkan rendangnya dong"
Kiran mengambilkan rendang untuk suaminya. Setelah itu mereka pun mulai menyantap makanan yang sudah ada di piring mereka masing-masing.
" Apa Nando ada menghubungi kamu tadi?" tanya Kiran.
" Ada Kak. Tapi aku nggak menjawab telponnya"
" Bagus, biarkan dia sedikit tersiksa"
" Baik Kak"
Berarti dugaannya benar kalau Nando uring-uringan karena telponnya tidak di jawab sama Rania. Sayang ia tidak bisa melihat wajah frustrasi adiknya itu.
To be continue.
__ADS_1
Happy reading 😘😘