
Seperti yang di janjikan Nando kemarin, kalau ia akan mengajari Rania tentang business management. Jadi dia pun sudah menyiapkan buku tentang business management.
" Apa buku yang aku kasih kemarin udah kamu pelajari?" tanya Nando.
" Sudah"
" Bagus. Sekarang aku akan kasih kamu soal, kamu siap?"
" Siap"
Nando sangat senang karena Rania cepat menangkap pelajaran yang ia berikan. Ia yakin dulu di sekolah Rania anak yang pintar dan juga cerdas. Karena terbukti, baru satu malam wanita itu belajar dari buku yang sudah ia berikan.
Rania seperti kembali ke zaman dia waktu duduk di bangku SMA. Belajar dan mengerjakan tugas yang diberikan guru di sekolah. Bedanya sekarang ia tidak di ajarkan sama guru, melainkan sama bos yang tampan.
Ponsel yang ada di dalam saku Nando bergetar. Ia segera mengambil ponselnya, dan melihat nama keponakan cantiknya yang tertera di sana. Ia segera menggeser tombol hijau yang ada di sana.
" Hallo paman"
" Baca salam dulu Eca?"
" Ah iya, assalamualaikum paman"
" Wa'alaikum salam, tumben Eca telpon paman? pasti ada maunya?"
" Ih! paman Suudzon terus sama Eca"
" Bukan Suudzon, tapi kenyataan. Setiap Eca telpon paman pasti ada maunya. Ayo ngaku"
" Ya deh, ngaku"
" Nah gitu dong. Eca mau apa?"
" Bawakan Eca oleh-oleh khas daerah sana ya"
" Paman nggak tau apa oleh-oleh khas disini"
" Paman tanya sama pekerja paman, atau langsung pergi ke toko oleh-oleh"
" Ntar paman tanyakan. Eca nggak sekolah?"
" Nih lagi di sekolah"
" Kalau lagi di sekolah, jangan main ponsel. Emang Eca nggak belajar?"
" Gurunya nggak datang. Jadi gurunya cuma kasih tugas aja"
" Kerjakan tugasnya jangan main ponsel terus"
" Udah selesai, tugas yang di kasih gurunya gampang-gampang. Oh iya sekarang paman lagi di mana?"
" Di kantor"
" Eca mau liat kantor paman yang di sana dong?"
" Boleh, bentar ya"
Nando menukar panggilannya ke video. Ia pun memperlihatkan ruangannya pada ke ponakannya.
" Wah ruangan paman bagus juga. Eh, itu siapa?"
" Mana?"
" Itu yang lagi menulis, sepertinya cewek. Dan kayaknya bukan Kak Jihan"
Nando segera memindahkan kamera ponselnya ke bagian depan. Dan sekarang Alexa hanya bisa melihat wajahnya saja.
" Siapa wanita itu paman? apa calon Tante, Eca?"
" Bukan, itu teman paman?"
" Nggak percaya. Pasti itu calon Tante, Eca"
" Eca belajar gih. Paman mau melanjutkan pekerjaan paman dulu"
" Paman belum menjawab pertanyaan Eca"
" Udah tadi, baik-baik belajarnya. Telponnya paman tutup dulu"
Sambungan telepon pun berakhir. Nando menyimpan kembali ponselnya. Keputusannya mematikan telpon sudah tepat. Karena kalau tidak, keponakannya pasti akan bertanya terus.
" Keponakannya ya?"
" Iya. Kamu tau toko oleh-oleh nggak?"
" Tau"
" Nanti bisa temenin aku ke sana nggak? ponakan aku minta dibelikan oleh-oleh"
__ADS_1
" Ntar aku temenin"
" Makasih ya"
" Sama-sama " kata Rania sambil tersenyum.
Deg.
Jantung Nando berdegup kencang dari biasanya. Senyuman Rania tadi mampu membuat getaran aneh di hatinya.
Apa ini? kenapa jantungku berdegup kencang saat melihat senyumannya.
" Nando"
" Ah iya"
" Kamu melamun?"
" Nggak"
" Terus kenapa kamu nggak denger pas aku panggil"
" Denger kok"
" Ya sudah, periksa nih tugas yang kamu kasih tadi"
" Ok, aku periksa dulu"
Nando memeriksa tugas yang ia berikan pada wanita cantik itu. Sedangkan Rania menunggu dengan harap-harap cemas.
" Bagus, jawaban kamu benar semua"
" Benarkah?"
" Benar. Karena kamu sudah mengerti, sekarang kita akan praktik langsung ke lapangan. Nanti akan ada klien yang datang. Aku ingin kamu yang menghandle klien ini"
" Aku?"
" Hhmm"
" Baiklah akan aku coba"
" Ok, sekarang kita akan menunggu kliennya datang"
Rania merasa gugup. Karena ini kali pertamanya ia mendapatkan pekerjaan seperti ini. Dan ia tidak tau apakah ia bisa melakukan tugas yang diberikan Nando padanya.
...***...
" Lo kenapa?" tanya Adele.
" Gue lagi memikirkan wanita yang ada di kantor paman gue"
" Paman Nando?"
" Hhmm"
" Kan Lo udah tau juga sama wanita itu. Dia Kak Jihan kan?"
" Bukan. Wanita ini lebih cantik dan juga anggun dari pada Kak Jihan"
" Benarkah?"
" Hhmm"
" Jangan-jangan dia kekasih paman Nando"
" Gue mikirnya juga gitu. Tapi paman bilang, wanita itu cuma temannya"
" Iya awalnya cuma teman. Setelah teman nanti jadi demen"
" Kayak Lo sama Farel"
" Kok jadi gue?"
" Ya kan kalian berdua juga gitu. Awalnya temenan, setelah itu jadian"
" Kita belum jadian Eca?"
" Ntar lagi juga jadian"
" Kenapa nggak Lo aja dulu yang jadian sama Kak Kevin?"
" Gue sama Kak Kevin itu cuma berteman"
" Awalnya memang dari pertemanan dulu. Setelah itu baru tumbuh benih-benih cinta"
" Jangan samain kisah gue sama Lo dan Farel. Kalau gue sama Kak Kevin itu murni temenan"
__ADS_1
" Sama ajalah itu. Lagian nggak ada yang akan marah juga kalau Lo pacaran sama Kak Kevin"
" Stop! jangan bahas masalah cinta lagi. Karena gue masih anak dibawah umur"
" Ck, padahal tuan elo daripada gue"
" Usia emang tuan gue. Tapi kalau pengalaman soal percintaan tuan Elo"
" Emang ada kek gitu?"
" Ada dong"
" Iya dah, gue ngalah"
Adele menyerah, karena berdebat dengan sahabatnya yang satu ini sudah dipastikan ia tidak akan pernah menang. Saudara kembarnya aja selalu kewalahan menghadapi Alexa. Apalagi dirinya.
" Eca"
" Hhmm"
" Gue merasa saudara kembar Lo suka sama Alisha?"
" Emang"
" Beneran?"
" Hhmm"
" Berarti tebakan gue nggak salah"
" Menurut gue merasa berdua cocok"
" Kenapa nggak kita jodohkan saja mereka berdua?"
" Gue sih mau-mau aja. Tapi gue takut Alisha nggak suka sama Axel"
" Iya juga sih. Kan perasaan nggak bisa di paksa"
" Itu Lo tau"
" Tapi menurut gue, Alisha tidak akan bisa menolak pesonanya Axel"
" Gue harap pesona Axel mempan sama Alisha"
" Kita berdoa aja. Oh iya, ntar malam Lo jadi jalan sama Kak Kevin?"
" Hhmm"
" Cuma gue yang malming di rumah aja"
" Kan ada Farel. Lo ajak aja dia jalan"
" Gue kan cewek. Masa gue yang ngajak"
" Nggak ada salahnya"
" Ya sih, tapi kan gue pengin diajak, bukan mengajak"
" Ntar gue suruh Farel ngajak Lo jalan"
" Jangan!"
" Kenapa?"
" Karena gue pengin dia sendiri yang ngajak gue. Tanpa disuruh "
" Berdoa aja supaya Farel ngajak Lo jalan ntar malam"
" Gue main ke rumah Alisha aja deh ntar malam"
" Alisha mau pergi nonton sama Axel"
" Lo serius?"
" Serius"
" Malang banget nasib gue, malming cuma sendirian aja di rumah"
" Cup..cup.. bontot nya gue. Jangan sedih ya. Gue yakin Farel akan ngajak Lo jalan"
" Gue tau Lo cuma mau nyenengin hati gue doang"
" Lo kan tau Farel, dia kan nggak pernah mau kalah dari Axel. Jadi kalau dia tau Axel mau pergi jalan. Pasti dia akan ngajak Lo juga"
" Lo benar juga"
Adele tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu. Akhirnya malming nanti dia tidak sendirian di rumah.
__ADS_1
To be continue.
Happy reading 😚😚