Twins A ( Axel Dan Alexa )

Twins A ( Axel Dan Alexa )
Pantai


__ADS_3

Setelah dari apartemennya. Kenan meminta Beni membawanya ke pantai, karena ia ingin menenangkan emosinya. Untung saja tadi dia tidak lepas kendali dan memukul mantan kekasihnya itu.


Beni menepikan mobilnya di pinggir pantai. Ia meninggalkan tuannya di dalam mobil. Sedangkan dirinya pergi mencari minuman untuk tuannya.


Kenan keluar dari mobil. Ia berjalan menuju pinggiran pantai. Ia tidak memikirkan teriknya sinar matahari. Karena hatinya jauh lebih panas dari itu.


Wanita yang ia cintai tega mengkhianatinya, hanya karena ia tidak pernah menyentuhnya. Apa ia harus berbuat bejat dulu, baru wanita bisa bertahan dengannya.


Kenan menghela nafasnya. Sungguh ia tidak menyangka kalau cintanya akan kandas. Padahal ia sudah berusaha untuk menjaga hatinya untuk satu wanita. Tapi hati yang ia jaga malah mendua.


Beni kembali dengan membawa dua buah kelapa muda. Ia berharap setelah meminum air kelapa muda, pikiran tuannya bisa jauh lebih baik.


" Tuan, kelapa mudanya?"


Kenan mengambil kelapa muda yang diberikan asistennya itu.


" Ben"


" Iya tuan"


" Menurut mu kapan saya akan menikah?"


Mana saya tau tuan. Emang tuan pikir saya, peramal, yang bisa meramal masa depan.


Jangankan kapan tuan menikah, kapan saya menikah aja, saya nggak tau.


" Pasti kamu nggak tau kan?"


Udah tau nanya.


" Sudahlah nggak ada untungnya ngomong sama jomlo kek kamu. Ambil nih, saya mau ke toilet"


Untung tangan Beni sigap menangkap buah kelapa itu. Kalau tidak buah kelapa itu sudah jatuh menimpa kakinya.


Dasar bos gila!


Kenan mencari toilet yang ada di sekitar pantai. Ia melihat toilet tidak jauh dari tempatnya tadi. Ia pun bergegas menuju toilet. Karena ia sudah tidak tahan untuk buang air kecil.


Aaaaaaaa...


Kenan segera menangkap pinggang seorang gadis yang hampir jatuh karena dia tabrak tadi. Matanya dan juga mata gadis itu saling bertemu. Beberapa detik kemudian, Kenan dan gadis cantik itu pun tersadar.


" Kalau jalan pake mata dong!" kata Alexa sambil melepaskan tubuhnya.


" Heh, gadis tipis! dimana-mana jalan itu pake kaki. Bukan pake mata"


Alexa seperti pernah mendengar panggilan 'gadis tipis' itu. Ia menatap kembali lelaki yang ada di hadapannya. Alangkah kagetnya ia melihat siapa lelaki yang sedang berdiri di hadapannya itu.


Ck, ternyata om gunung es lagi.


" Kenapa setiap bertemu sama Om, saya selalu sial!"


" Enak aja!, yang ada gue yang selalu sial setiap ketemu sama Lo!"


" Dengar ya Om gunung es. Yang nabrak saya duluan itu kan Om. Jadi, yang selalu sial setiap ketemu sama Om, adalah saya. Dimana-mana kalau salah itu kudu minta maaf"

__ADS_1


" Kamu ingin saya minta maaf kek gimana? apa kamu ingin minta ganti rugi sama saya?" tanya Kenan pada Alexa.


" Ck, tidak semua masalah itu harus di selesaikan dengan uang"


Setelah mengatakan itu pada Kenan, Alexa segera pergi dari sana. Ia tidak ingin berlama-lama di sana.


Kenan menatap kepergian gadis cantik itu dengan senyum. Entah kenapa saat melihat gadis cantik itu ngomel-ngomel membuat ia gemas.Setelah Alexa jauh dari pandangannya, barulah Kenan masuk kedalam toilet.


Sedangkan Alexa masih saja mengomel-ngomel saat berjalan. Ia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Om gunung es.


" Lo kenapa? " tanya Alisha.


" Tau, kembali dari toilet udah komat-kamit aja"


" Gue lagi kesal"


" Kesal kenapa?"


" Karena gunung es"


" Gunung es?" tanya Adele dan Alisha berbarengan.


" Hhhmm"


" Dimana gunung esnya?" tanya Adele.


" Di toilet"


" Emang muat tu gunung es di toilet?"


" Bukan gunung es beneran maksud gue Adele. Tapi Om gunung es"


" Omnya Aiden"


Uhuk.. uhuk..


Adele tersedak sama daging buah kelapa muda. Ia segera meminum air mineral untuk menghilangkan rasa sakit di tenggorokannya.


" Kok Lo nggak ngajak-ngajak gue sih ketemu sama Om ganteng itu. Gue kan juga pengin di sapa sama dia" kata Adele.


" Nggak usah. Yang ada Lo ntar kesal sama dia"


" Nggak apa-apa. Yang penting dia tampan"


" Dasar maniak cowok tampan"


" Itu bukan maniak. Tapi itu adalah kebutuhan mata gue"


" Dasar"


" Terus kemana Om tampan itu pergi?"


" Mana gue tau. Emang gue emak nya, Apa?"


" Ya siapa tau Lo kenal sama dia"

__ADS_1


" Gue nggak kenal sama dia. Dan nggak mau kenal juga"


" Yeah? gagal deh liat cowok bening"


" Udah sore nih. Kita pulang yuk?" ajak Alisha.


" Yuk. Kita juga mau jemput logo tadi" Kata Alexa.


Ketiga gadis cantik itu pun pergi dari sana. Karena mereka akan menjemput logo untuk toko online mereka besok.


Alexa melajukan mobilnya saat sahabatnya sudah duduk dengan baik. Mobil mewah itu melaju meninggalkan pantai.


...***...


Kevin baru selesai latihan. Pelatihan pertamanya berjalan dengan lancar. Ilmu dasar dari beladiri juga tidak terlalu susah untuknya.


" Duluan ya semuanya" pamit Kevin pada teman-temannya.


" Ok bro, hati-hati di jalan"


" Makasih"


Kevin melajukan mobilnya meninggalkan tempat latihannya. Ia ingin segera sampai di rumah, karena tubuhnya sudah lengket karena keringat.


Suasana jalan raya lumayan rame. Karena ini sudah jam pulang kantor. Jadi wajar banyak kendaraan yang berlalu-lalang. Mobil Kevin terus melaju membelah jalanan ibukota.


Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, Kevin pun sampai di rumah. Ia memasukkan mobilnya kedalam garasi.


" Dari mana aja kamu, Vin?" tanya sang mama saat Kevin sudah berada di dalam rumah.


" Habis latihan beladiri, Ma"


" Beladirinya?"


" Hhmmm"


" Sejak kapan kamu tertarik seni beladiri?"


" Sudah lama"


" Apa kamu melakukan itu semua demi putri tuan Darren?"


" Nggak! aku latihan beladiri untuk diriku sendiri"


" Jangan buang-buang waktu kamu untuk hal yang tidak penting seperti itu. Mending kamu pikirkan cara untuk mendekati putri tuan Darren"


" Kenapa sekarang mama yang pengen aku dekat sama Alexa? bukannya mama kemarin mama sangat membenci Alexa"


" Sekarang udah nggak lagi. Jadi mama pengin kamu segera mendekati gadis itu. Apa kamu nggak kasihan melihat mama sudah beberapa hari di rumah aja? dan lagi mama sudah lama juga nggak ketemu sama temen-temen sosialita mama"


" Mama bisa nggak berhenti berteman dengan orang-orang seperti itu. Mama itu dianggap teman sama mereka saat mereka hanya membutuhkan mama. Coba liat sekarang, di mana teman-teman sosialita mama. Mereka tidak ada yang datang satu pun untuk menghibur mama. Apa itu yang di namakan teman?"


Mona hanya diam. Ia tidak tau harus menjawab apa. Karena apa yang dikatakan putranya itu memang ada benarnya.


Setelah mengatakan itu pada mamanya, Kevin pergi ke kamarnya. Karena ia tidak ingin berdebat lagi dengan mamanya. Dan lagi tubuhnya sudah lengket karena keringat. Ia ingin segera membersihkan diri.

__ADS_1


To be continue.


Happy reading 😚😚


__ADS_2