
Guru BK segera menjemput Bella ke kelasnya. Ia juga tidak tau kenapa putri dari donatur sekolah itu dipanggil kepala sekolah.
Tok.
Tok.
Tok.
" Permisi Buk Erna"
Semua murid kaget melihat guru BK datang ke kelas mereka. Bahkan ada diantara murid laki-laki yang saling lirik satu sama lain. Karena biasanya emang siswa laki-laki yang selalu membuat onar.
" Silakan masuk Buk Ana"
" Saya kesini mau menjemput Bella untuk ikut saya ke kantor kepala sekolah"
" Bella, silakan ikut Buk Ana ke kantor kepala sekolah"
" Baik Buk"
" Maaf sudah menganggu waktu mengajarnya Buk Erna"
" Nggak apa-apa Buk"
" Saya permisi dulu"
" Silakan"
Bella mengikuti langkah kaki Buk Ana dari belakang. Ia bertanya dalam hatinya, kenapa ia di panggil kepala sekolah. Apa papanya datang ke sekolah ini.
" Buk"
" Ya"
" Kenapa kepala sekolah memanggil saya?"
" Ibuk juga nggak tau"
Tak berselang lama Bella dan Buk Ana pun sampai di depan ruangan kepala sekolah.
Tok.
Tok.
Tok.
" Masuk"
Ana kaget melihat dua orang yang sedang duduk di seberang kepala sekolah. Siapa yang tidak kenal dengan kedua orang besar itu. Seketika jiwa kepo-nya pun bangkit. Ia ingin tau kenapa orang terkaya itu datang ke sekolah Harapan Bangsa.
" Buk Ana. Apa kamu membawa Bella kesini?"
" I-iya Pak. Dia menunggu diluar"
" Suruh dia masuk"
" Baik Pak. Masuk Bel"
Kiran memperhatikan gadis yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
" Ada apa bapak manggil saya kesini?"
" Duduk dulu"
" Kalau tidak ada lagi, saya permisi dulu Pak" kata Ana.
" Silakan Buk"
__ADS_1
Ana pun keluar dari ruangan kepala sekolah. Ia tidak ingin berlama-lama di sana. Karena ia tau siapa dua yang ada di dalam ruangan tadi. Karena jiwa kepo-nya tadi, maka ia pun menguping di depan pintu.
" Apa kamu yang bernama Bella?" tanya Kiran.
" Iya, Tante siapa?"
" Saya orang tuanya Alisha"
" Orang tua?"
" Yeah"
Bella tertawa mendengar ucapan Kiran.
" Tante becanda? orang tua Alisha sudah lama meninggal? jadi bagaimana mungkin Tante orang tuanya?"
Kiran kaget mendengar ucapan Bella. Ia tidak menyangka kalau orang tua Alisha sudah meninggal. Dan putranya tidak ada memberitahu kalau orang tua gadis yang bernama Alisha itu sudah meninggal.
" Apa jangan-jangan Tante kesini mau minta sumbangan?"
Muklis kaget mendengar ucapan Bella. Ia tidak menyangka Bella akan bicara seperti itu. Apa dia tidak tau siapa wanita yang sudah direndahkannya itu.
Dasar bodoh! apa dia mau bikin orang tuanya bangkrut seketika.
Kiran tersenyum mendengar ucapan gadis yang mungkin seusia twins. Ia tidak menyangka gadis yang bernama Bella itu ternyata sangat congkak.
" Siapa nama orang tuamu Nak Bella?"
" Darwin Anderson "
" Ternyata dari keluarga Anderson"
" Iya. Tante pasti kagetkan mendengar nama orang tua saya"
" Wah, Saya tidak menyangka orang tua kamu sekaya itu?"
" Tentu saja. Dan papa saya juga donatur di sekolah ini"
" Tentu saja. Kalau tidak percaya, tanya saja sama Pak Muklis"
" Nanti akan saya tanyakan. Tapi sekarang saya mau tanya sama kamu. Kenapa Alisha bisa keluar dari sekolah ini?"
" Oh gadis kismin itu. Dia sudah berani mencari masalah denganku, dan kepala sekolah mengeluarkannya dari sekolah"
Kiran menatap tajam Muklis.
" Sa-saya tidak mengeluarkannya nyonya. Gadis itu yang ingin keluar dari sekolah ini"
Siapa wanita ini, kenapa kepala sekolah takut padanya.
" Kalau boleh tau, masalah apa yang sudah dibuat oleh Alisha?"
" Dia menarik kerah baju ku, dan mendorong aku hingga terjatuh. Tentu saja aku tidak terima, karena tubuhku yang lembut dan juga mulus ini jadi terluka"
Darren tertawa mendengar ucapan gadis kecil yang ada di hadapannya itu. Ia tidak tau darimana gadis itu punya tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
Bella terpesona melihat lelaki tampan yang ada di hadapannya. Kenapa ia tidak menyadari kalau ada lelaki tampan di ruangan itu.
" Jaga mata kau anak kecil. Kalau tidak, matamu itu bisa terlepas dari tempatnya" kata Darren.
Kiran tersenyum mendengar ucapan suaminya. Bisa-bisanya suaminya bicara seperti itu pada gadis kecil.
" Pasti ada sebabnya Alisha melakukan itu sama kamu? karena nggak mungkin dia menyerang kamu tiba-tiba?"
" Dia iri sama saya"
" Oh iya. Apa yang membuat dia iri dengan gadis seperti kamu?"
__ADS_1
" Maksud anda apa?!"
" Tidak ada yang menarik dari kamu, jadi untuk apa dia iri sama kamu. Pak Muklis, saya ingin melihat rekaman CCTV di sekolah ini. Tepatnya di waktu Alisha meninggalkan sekolah ini"
" CCTV?"
" Iya. Sekolah ini pasti punya CCTV kan?"
" Pu-punya nyonya"
Wajah Muklis berubah menjadi pucat. Kalau Ia menyerahkan rekaman CCTV itu, maka semua kejadian saat Alisha pergi dari sekolah itu akan terlihat jelas.
" Cepat ambil, saya mau liat rekamannya"
" Ba-baik nyonya"
Muklis segera mengambil rekaman CCTV kemarin. Setelah ini hidupnya akan tamat. Karena ia tau bagaimana pasutri itu menghancurkan musuh-musuhnya.
" I-ini nyonya"
" Dengan ini saya bisa tau kebenarannya. Tolong bawa laptop itu kesini"
Bugh..
Muklis berlutut di depan Kiran. Dia tidak ingin nyonya Narendra itu melihat rekaman CCTV itu. Karena di rekaman itu akan terlihat bagaimana ia memaki Alisha.
Bella kaget melihat kepala sekolah berlutut di depan wanita yang ia tidak tau itu siapa. Ia semakin penasaran dengan wanita itu. Apa wanita itu lebih kaya dari orang tuanya.
" Kenapa bapak berlutut di depan wanita itu?!"
" Diam Kau!"
" Gadis itu benar Pak Muklis, untuk apa kamu berlutut di depan saya. Karena itu tidak akan merubah keinginan saya. Cepat bawa laptop itu kesini"
Muklis pun mengambil laptop miliknya. Ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena setelah ini bisa dipastikan nasibnya akan tamat.
" Cepat putar rekamannya"
Muklis memasukkan kaset rekaman CCTV itu kedalam laptopnya. Kiran dan Darren fokus melihat layar segi empat itu.
Rekaman pertama memperlihatkan kejadian di taman. Dimana saat Bella menjatuhkan kotak bekal Alisha. Kejadian itu sontak membuat Kiran dan Darren kaget.
Beberapa detik kemudian pasutri itu tersenyum. Ya mereka tersenyum melihat bagaimana Alisha menghajar Bella. Gerakan gadis itu terlihat sangat cepat.
Rekaman itu terus memutarkan kejadian kemarin. Dan sekarang rekaman itu berada di ruangan kepala sekolah. Lagi-lagi Kiran melihat diskriminasi di sana.
Kiran menatap Muklis dengan penuh amarah. Sedangkan Muklis tidak berani mengangkat kepalanya.
" Wow, sungguh luar biasa! seorang kepala sekolah tega melakukan tindakan seperti ini pada seorang gadis"
Muklis hanya diam. Nasibnya sudah benar-benar tamat.
" Dan kau! masih banyak keluarga yang kaya, jauh di atas keluarga mu. Bagi saya, harta keluarga mu itu hanya sekecil debu. Cukup mudah bagi saya untuk menghancurkannya "
" Emang anda siapa? berani sekali ngomong harta keluarga ku sekecil debu"
" Apa kau yakin ingin tau siapa saya?"
" Tentu saja. Jangan-jangan anda hanya membual"
" Sebelum saya kasih tau siapa saya? kau hubungi orang tua mu dulu, dan suruh mereka datang kesini"
" Baiklah, setelah papaku datang kesini. Maka aku akan membuat Anda berlutut di hadapan saya"
" Kita lihat saja nanti, siapa yang akan berlutut" kata Kiran sambil tersenyum.
Bella segera menghubungi nomor orang tuanya. Dan meminta orang tuanya untuk datang ke sekolah.
__ADS_1
To be continue.
Happy Reading 😚😚