Twins A ( Axel Dan Alexa )

Twins A ( Axel Dan Alexa )
Mendadak lupa


__ADS_3

Indah sampai di alamat yang di kasih sama Alexa. Ia menatap gedung pencakar langit yang ada didepan matanya. Ini kali pertamanya dia melihat gedung pencakar langit dari jarak yang sangat dekat.


Dia meminta Abang ojol untuk menunggunya di parkiran. Karena dia malas mau cari ojol lagi.


" Bang tunggu sebentar, ya. Saya mau masuk dulu?"


" Baik Neng"


Indah masuk kedalam perusahaan gedung yang tinggi itu. Belum sempat dia masuk, pak satpam sudah mencegatnya.


" Maaf nona, ada keperluan apa?"


" Ini Pak, saya mau nganterin pesanan bapak Abimanyu"


" Pesanan CEO?"


" Iya Pak. Kalau bapak nggak percaya, bapak hubungi aja CEO nya"


" Sebentar ya nona, saya kasih tau sama petugas resepsionis dulu. Silakan nona tunggu di sana"


" Makasih Pak"


Indah duduk di kursi tunggu yang ada di sana. Sedangkan pak satpam memberitahu resepsionis untuk menelpon sekretaris bosnya.


Tidak butuh waktu lama, satpam itu kembali. Ia meminta Indah untuk mengikuti karyawan resepsionis. Karena bosnya meminta Indah datang ke ruangannya.


" Kenapa nggak mbak aja yang nganterin?" tanya Indah.


" Maaf nona, ini permintaan langsung dari CEO kami. Saya hanya bertugas mengantarkan nona. Silakan masuk"


" Ini apa mbak?"


" Nona tidak tau ini?"


" Tidak!. Ini pertama kali saya melihat dinding bisa terbuka sendiri"


Karyawan resepsionis tersenyum mendengar jawaban gadis cantik yang ada di sampingnya itu. Gadis itu terlihat sangat polos.


" Ini namanya lift"


" Oh, lift"


" Yuk masuk nona"


Indah agak ragu masuk kedalam lift. Ia berpikir, apakah nanti ia bisa bernafas di dalam benda yang berbentuk kotak itu.


" Nggak usah takut nona. Ini aman kok"


Indah masuk kedalam lift. Sebelum itu dia berdoa dulu. Karena ini kali pertamanya ia masuk kedalam benda berbentuk kotak itu.


Lift pun bergerak naik ke atas. Indah memegang tangan karyawan resepsionis. Ia takut kalau benda itu akan jatuh atau ambruk.


" Tenang nona, lift ini sangat kuat"


Satu demi satu lantai sudah dilewati. Sekarang mereka sudah berada di lantai dua puluh. Lift pun berhenti.


Ting.


Indah kaget mendengar bunyi pintu lift terbuka. Padahal tadi dia sudah melihat bagaimana lift itu terbuka. Tapi tetap saja membuat dia kaget.


" Kita udah sampai, mbak?"


" Sudah nona. Kita sekarang sudah berada di lantai dua puluh"


" Du.. dua puluh?"

__ADS_1


" Iya nona "


Indah tidak menyangka kalau dirinya sekarang berada di lantai dua puluh. Ia berjalan menghampiri jendela yang ada di sana.


Wanita cantik itu menelan ludahnya saat melihat ke luar jendela. Kakinya seketika gemetar.


" Jadi bener mbak, sekarang kita ada di lantai dua puluh?"


" Iya nona"


" Mari saya antar ke ruangan CEO"


" Hhmmm"


Indah mengikuti karyawan resepsionis. Ia takjub melihat ruangan yang ia lewati. Jadi seperti ini lha penampakan tempat kerja orang-orang yang bersekolah tinggi.


" Siang mbak Widi. Apa CEO ada didalam?"


" CEO sedang meeting. Ada apa?"


" Saya mengantarkan nona yang saya katakan ditelpon tadi"


" Oh iya, silakan masuk kedalam. Sebentar lagi CEO selesai meeting kok"


Widi membawa Indah masuk kedalam ruangan Abimanyu. " Silakan masuk nona"


" Makasih mbak"


Indah takjub melihat ruangan Abimanyu. Bahkan ruangan itu lebih bagus dari rumahnya.


" Saya tinggal dulu ya, nona?"


" Mbak mau kemana?" tanya Indah. Ia takut ditinggal sendirian di ruangan itu.


" Saya harus kembali bekerja nona"


" Nona duduk aja dulu di sana. Tunggu CEO datang"


" Baiklah"


Widi pun pergi meninggalkan ruangan itu. Sekarang tinggallah Indah di dalam ruangan nan mewah itu.


" Gila! ruangannya keren banget. Rumah gue mah kalah jauh sama ruangan ini"


Indah melihat-lihat barang-barang yang ada di sana. Dan ada juga piala yang di simpan rapi di lemari.


" Nih orang kerjaannya jual beli piala kali ya. Kok pialanya banyak banget"


Mata Indah tertuju pada foto besar yang ada di dinding tepat dibelakang kursi tinggi yang ada di hadapannya.


Mampus gue!


Indah harus segera melarikan diri dari sana. Ia tidak boleh tertangkap sama lelaki itu. Bisa-bisa dirinya dimasukkan kedalam penjara.


Gadis cantik itu segera berjalan menuju pintu. Saat tangannya akan menyentuh gagang pintu. Pintu ruangan itu sudah terbuka. Dan tampaklah sosok lelaki tampan. Wajah Indah memucat. Tamatlah riwayatnya sekarang.


Lelaki tampan itu juga kaget melihat seorang gadis asing berada di ruangannya. " Kamu siapa?, kenapa bisa ada di ruangan saya?"


Eh! apa dia tidak mengenali wajah ku?.


" Hallo! nona, kenapa anda bisa masuk kedalam ruangan saya?" tanya lelaki tampan itu lagi.


Syukurlah dia tidak mengenali wajah ku.


" Ah maaf tuan, saya kesini mau mengantarkan pesanan anda"

__ADS_1


" Pesanan?"


" I.. iya, pesanan kue anda"


" Jadi kamu kurir yang dibayar sama adik saya?"


" I..iya tuan"


" Lalu siapa yang mengizinkan anda masuk ke ruangan saya?"


" Mbak yang ada di luar, tuan. Dia bilang tunggu di dalam saja"


" Mungkin dia pikir kamu adik sepupu saya. Biasanya dia yang mengantarkan kue itu kesini"


" Kuenya saya letakkan di atas meja tuan. Kalau tidak ada lagi, saya permisi dulu"


" Silakan"


Lelaki tampan itu masih tidak ingat siapa gadis yang ada dihadapannya sekarang. Tanpa menunggu lama, Indah segera keluar dari ruangan itu.


Ia takut kalau tiba-tiba lelaki tampan itu ingat siapa dirinya. Namun baru beberapa langkah, Indah sudah menghentikan langkahnya.


" Maaf tuan, bisa saya pinjam mbaknya"


" Maksud kamu?"


" Saya tidak biasa masuk benda berbentuk kotak itu, tuan"


Sudut bibir pemuda tampan itu terangkat membentuk senyuman. Tapi Indah tidak bisa melihat senyum tipis itu.


" Widi"


" Iya Pak"


" Tolong antar nona ini ke lobi"


" Baik tuan. Mari nona"


" Terima kasih tuan" ucap Indah sambil membungkukkan badannya.


Abimanyu hanya membalas dengan menganggukan kepalanya.


Indah masih penasaran. Apa benar lelaki tampan itu lupa siapa dirinya. Ia pun memberanikan diri untuk bertanya.


" Tuan"


" Hhmmm"


" Apa anda beneran tidak kenal sama saya, tuan?"


Abimanyu mengerutkan keningnya. Ia bingung dengan pertanyaan gadis itu. Ia berpikir apa dia pernah bertemu dengan gadis itu.


" Emang kita pernah bertemu?"


" Tidak! mungkin saya salah orang. Permisi tuan"


Abimanyu menatap punggung gadis kurir itu. Punggung itu semakin menjauh dan sudah menghilang ke dalam lift. Abimanyu masih menatap ke arah lift. Ia masih kepikiran dengan pertanyaan gadis itu.


" Siapa sebenarnya gadis itu?. Kenapa dia bertanya seperti itu?"


Tidak mau pusing dengan siapa gadis itu, Abimanyu masuk kedalam ruangannya. Namun langkahnya terhenti, kala teringat kejadian waktu di lokasi yang akan menjadi toko kue adik sepupunya.


Abimanyu segera berlari menuju lift. Kenapa ia bisa lupa dengan wajah gadis yang selama ini dia cari. Ia tidak boleh kehilangan gadis itu lagi. Sudah lama dia mencari gadis itu, bahkan dia sudah pergi ke tempat anak-anak jalanan yang sering didatangi gadis itu. Tapi dia tidak pernah bertemu dengan sang gadis.


Gadis pencuri spion, gue nggak akan melepaskan Lo lagi.

__ADS_1


To be continue.


Happy reading 😚😚


__ADS_2