Twins A ( Axel Dan Alexa )

Twins A ( Axel Dan Alexa )
Kepergian Dwipangga


__ADS_3

Pintu ruang ICU pun terbuka. Seorang lelaki berjas putih keluar dari sana. Vandy segera menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU.


" Bagaimana keadaan papa saya, Dok?"


" Maaf tuan, kami tidak bisa menyelamatkan tuan Dwipangga"


Diana tak kuasa menahan air matanya. Saat dokter mengatakan kalau suaminya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Suara tangis pun memenuhi lorong rumah sakit.


" Mama" teriak El.


Marko dengan sigap menangkap tubuh istrinya agar tidak terjatuh. Ia segera membawa sang istri ke ruang rawat yang tidak jauh dari sana.


Kenzo menahan tubuh sang Daddy agar tidak jatuh. Ia tau apa yang dirasakan sang Daddy. Ia pun bisa merasakan apa yang dirasakan Daddy-nya.


" Daddy, harus kuat"


" Iya sayang"


Vandy berusaha tersenyum. Apa yang dikatakan putranya memang benar. Ia harus kuat dan tegar. Karena mama dan juga adiknya membutuhkan dirinya.


" Bang, tolong Daddy mengurus jenazah kakek"


" Baik Daddy"


Tak berselang lama, suster keluar dengan mendorong brankar milik Dwipangga. Tangis Diana pun pecah saat melihat jenazah sang suami.


Anggun membantu mertuanya untuk mendekat ke brankar papa mertuanya. Ia membuka kain putih yang menutupi wajah sang papa mertua.


Diana menghapus air matanya. Ia takut air matanya mengenai wajah sang suami. Setelah itu ia mencium wajah suaminya.


" Sekarang papa sudah tidak merasakan sakit lagi"


Anggun yang mendengar ucapan sang mertua pun tak kuasa menahan air matanya. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya keluar tanpa permisi.


" Permisi nyonya, kami akan membawa jenazah ke mobil ambulans"


Diana membiarkan suster membawa brankar suaminya. Ia dan yang lainnya mengikuti suster di belakang.


Para dokter dan juga karyawan rumah sakit pun mengucapkan belasungkawa pada keluarga besar Anggun.


Siapa yang tidak mengenal Dwipangga. Dia orang nomor dua yang berpengaruh di Asia. Dan dia juga terkenal dengan kedermawanannya.


Orang-orang yang kebetulan sedang membesuk keluarga mereka yang lagi sakit juga ikut mengucapkan belasungkawa. Mereka turut mengantarkan jenazah Dwipangga ke mobil ambulans.


Jenazah Dwipangga di naikan ke atas mobil ambulans. Vandy dan Kenzo ikut mobil ambulans. Sedangkan yang lain dengan mobil mereka masing-masing.


Ambulans pun melaju meninggalkan rumah sakit terbesar di kota J. Diikuti sama mobil keluarga besar Vandy.


Bunyi ambulans pun menyita pengendara lain. Mereka memberikan jalan untuk mobil ambulans. Mobil ambulans pun melaju tanpa ada kendala.


...***...


Para kerabat dan juga tetangga sudah berdatangan. Mereka datang untuk mengucapkan belasungkawa dan juga mendoakan orang baik itu.


Fira dan Melodi menunggu di depan mansion. Mereka berdua tidak ikut ke rumah sakit. Karena yang mengurus keperluan di mansion tidak ada.


" Sebentar lagi ambulans nya datang Tante"

__ADS_1


" Iya Mel"


Tak berselang lama terdengar sirine ambulans. Bunyi sirine itu semakin mendekat. Itu tandanya mobil itu sudah memasuki area mansion.


Petugas rumah sakit menurunkan keranda Dwipangga. Isak tangis pun kembali terdengar di mansion itu.


Keranda Dwipangga di bawa masuk kedalam mansion. Para pelayat memberikan jalan untuk Vandy dan juga petugas rumah sakit. Jenazah Dwipangga diletakkan di tengah-tengah ruang keluarga.


Melodi dan Fira yang tadinya bisa menahan air mata mereka. Namun pas jenazah Dwipangga sudah di depan mereka. Keduanya pun tak bisa menahan air mata.


Alexa dan cucu yang lainnya mulai melantunkan surat Yasin untuk kakek mereka. Begitu juga dengan para pelayat yang ada di sana.


Berhubung sekarang sudah malam. Jadi jenazah Dwipangga akan dikebumikan esok hari. Karena ada sebagian dari kerabat mereka belum datang.


" Sayang, mending kalian istirahat" kata Kiran pada twins.


" Kita tidur di sini aja deh mommy. Lagipula kita belum tentu juga bisa tidur" kata Alexa.


" Ya udah tidur disini aja. Mommy minta bibik untuk bawakan selimut untuk kalian"


Kiran meminta bibik untuk membawakan beberapa selimut untuk twins dan yang lainnya. Setelah itu ia kembali berkumpul dengan keluarga yang lain.


" Daddy sejak kapan penyakit jantung kakek kambuh lagi?" tanya Kiran.


" Dua hari yang lalu sayang. Daddy juga udah bujuk kakek untuk ke rumah sakit. Tapi kakek selalu menolak"


" Kakek kalian keras kepala. Dia bilang tidak suka dengan bau rumah sakit" kata sang nenek.


Dwipangga memang selalu menolak setiap kali mau dibawa ke rumah sakit. Alasannya selalu sama, nggak suka bau rumah sakit. Sekarang lelaki itu tidak merasakan sakit lagi.


" Mama mau disini aja, nemenin papa kalian"


" Benar apa kata Vandy, Din. Kamu juga harus jaga kesehatan kamu" kata Kiara.


" Baiklah"


Anggun mengantarkan mama mertuanya ke kamarnya. Kamar mama mertua Anggun sudah pindah ke bawah. Karena itu permintaan mertuanya sendiri.


Diana berbaring di atas kasurnya. Dan lagi-lagi air matanya keluar tanpa seizinnya. Sekarang ia tidur sendiri di atas kasur yang besar itu. Biasanya ada suaminya yang mendampingi. Sekarang sang pujaan hati sudah tiada.


" Mama tidak tau bagaimana mama bertahan hidup tanpa ada papa kalian"


" Mama harus kuat. Mama nggak sendiri, mama masih punya kita semua. Jadi mama nggak boleh bicara seperti itu"


" Kamu benar sayang. Mama masih punya kalian semua"


" Sekarang mama istirahat ya, Anggun temenin disini"


Diana mengangguk. Walaupun ia tidak tau apakah nanti dirinya akan bisa tidur atau tidak.


Anggun menyelimuti tubuh sang mama dengan selimut. Setelah itu dia mengganti lampu kamar dengan lampu tidur. Tak lupa dia juga mengatur suhu AC agar mamanya tidak kedinginan.


Sungguh kematian sang papa mertua membuat semua keluarga sedih. Tapi itulah takdir yang tak mungkin bisa kita rubah. Karena setiap yang bernyawa, pasti akan mati.


...***...


Kenan sedang mencari pecinya. Tadi pas bangun tidur dia mendapatkan kabar duka dari kekasihnya. Kalau kakek buyut sang kekasih sudah berpulang ke Rahmatullah.

__ADS_1


" Masya Allah bujang lapuknya mama tampan sekali pakai peci sama sarung. Emang mau kemana?"


" Mau melayat, Ma"


" Melayat?. Siapa yang meninggal?"


" Kakek buyutnya Alexa"


" Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Kenapa kamu baru bilang sekarang?"


" Aku juga baru dapat kabarnya tadi, Ma"


" Pa!, papa!"


" Ada apa sih Ma, teriak-teriak "


" Cepat ganti baju, kita mau melayat"


" Melayat?"


" Emang siapa yang meninggal, Ma?"


" Tuan Dwipangga"


" Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Papa ganti baju dulu Ma. Sekalian manggil Arka"


" Mama juga mau ganti baju dulu. Kamu tunggu mama dan yang lain. Jangan pergi sendiri"


" Iya Ma"


Kenan duduk di sofa. Sambil menunggu orang tua dan kakaknya, ia menghubungi kekasihnya. Karena sekarang ini kekasihnya lagi sedih.


" Assalamualaikum, sayang"


" Wa'alaikum salam Oppa"


" Apa jenazah kakek buyut udah dimandikan?"


" Belum Oppa, mungkin sebentar lagi"


" Aku sama mama sebentar lagi nyampe di sana"


" Iya Oppa"


" Kamu jangan lupa sarapan. Karena nangis juga butuh tenaga"


" Oppa!"


" Maaf sayang, cuma becanda. Aku cuma pengen liat kamu tersenyum lagi. Ya udah aku tutup dulu telponnya. Sampe ketemu di sana"


" Ya Oppa"


Sambungan telepon pun berakhir. Kenan senang karena tadi sudah berhasil membuat kekasihnya tersenyum. Walaupun senyum jengkel. Tapi setidaknya kelinci kecilnya tidak sedih lagi.


To be continue.


Happy reading 😚😚

__ADS_1


__ADS_2